Posts

Showing posts with the label Curhat

Papa

Image
Mungkin, selama saya mulai suka menulis, ini pertama kalinya saya menulis tentang orang tua saya. Entah karena saya merasa saya bukan orang yang pandai menulis rayuan gombal untuk mereka. Bagi saya, tulisan seindah apapun, seromantis apapun, sama sekali tidak bisa melukiskan perasaan saya tentang mereka. Dan inilah pertama kalinya saya mencoba menulis tentang seorang pria yang sampai kapanpun akan selalu ada di urutan pertama doa saya. Bismillah... Saya memandangi arloji putih yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Sudah jam lima sore. Pergi tidak ya? Saya mengetuk-ngetuk layar handphone dengan jari, baru beberapa detik yang lalu papa menelepon, bertanya apa saya jadi datang berkunjung ke tempatnya atau tidak. Ya, kemarin entah kenapa tiba-tiba saya menelepon papa, bertanya kabarnya dan dengan spontan saya bilang kalau saya ingin berkunjung ke tempatnya. Tapi sekarang saya malah ragu untuk datang. Saya khawatir kami akan lebih banyak diam. Saya khawatir kami tidak...

Paris, Je T'Aime

Image
Itulah kenapa di antara semua tokoh cerpen saya, Jean (cerpen Simponi Terakhir Di Paris) adalah yang paling favorit dan membuat saya jatuh cinta kepadanya :') Saya suka orang yang mengetahui hal-hal kecil yang kadang tidak dipedulikan oleh orang lain, persis seperti Jean. Saya juga menyukai orang yang berpikiran terbuka, yang tidak terpaku hanya pada satu hal yang dia yakini saja. Bukan, bukan liberalisme. Tapi penerimaan terhadap sesuatu yang tidak biasa, tidak umum, daripada yang telah kita terima atau kita miliki. Mungkin Jean menjadi semacam antitesis bagi saya yang tidak suka dikritik dan kaku. Jean mau menerima hal-hal yang mungkin menurut sebagian orang tidak umum. Dia spesial dan memang dia adalah tokoh cerpen saya yang paling spesial.

Seperti SpongeBob dan Patrick

Image
Persahabatan tidak dimulai seperti hujan yang membutuhkan awan Atau seperti Isaac Newton yang membutuhkan sebutir apel Pun tidak seperti Adam Smith dengan teori ekonomi klasiknya dan Keynes dengan teori ekonomi moneternya Persahabatan itu lebih seperti SpongeBob dan Patrick Yang sesungguhnya mereka berdua bahkan tidak paham mengapa ingin selalu bersama Persahabatan itu bukan simbiosis mutualisme, apalagi simbiosis parasitisme Persahabatan itu seperti Rasulullah dan Abu Bakar Atau seperti Salman Al Farisi dan Abu Darda bersahabat karena iman kepada Allah

Tentang Cinta Yang Diam & Menunggu

Image
Sesungguhnya sekeras apapun kita berusaha untuk menjaga hati kita, kadang kita tak menyangka ada celah yang terbuka dan membiarkan rasa itu menyelinap ke dalam sana. Atau rasa itu sendiri yang berusaha kerasa menggerus hati kita semili demi semili sampai akhirnya dia berhasil membuat jalan untuk masuk ke dalam sana. Kita semua berada di luar kuasa untuk mencegahnya. Tak ada cinta sebelum pernikahan, meskipun saya sendiri tak tahu bagaimana kita bisa memutuskan untuk menikah jika cinta itu tidak ada di sana. Ah, baiklah. Mungkin cinta itu memang belum ada, tapi keinginan untuk mencinta itu telah ada, paling tidak dia telah menyapa saat nadzar terjadi atau saat ta’aruf dijalani. Keinginan untuk bersama dengannya telah ada, meski kita masih belum tahu, apa bisa kita mencintainya?

I Don't Wanna Miss A Thing

Image
Someday when we meet (I'm sure we will), I don't wanna miss even a little thing of you I'll like your smile, I'll like your laugh I'll like your voice when you say my name I'll like everything about you My McBright's comet --------------------------------------------------------------------------------------------------------

Teach Your Children Well

Image
Saya sebenarnya agak ngeri kalo liat ibu-ibu yang memarahi anaknya di depan orang banyak atau di tempat umum, sampai dibentak-bentak dan dipukuli. Bahkan ada yang anaknya nangis karena dipukuli malah terus dipukuli supaya dia mau diam. Gimana ceritanya? Anaknya nangis karena dipukuli masa mau diam dengan dipukuli? Ada-ada aja -______-“ Actually, saya bukan ahli pendidikan anak maupun psikolog anak. Tapi ya kalau bisa janganlah memarahi anak-anak kita di depan umum. Secara tidak langsung kita sudah menjatuhkan mental anak kita dan membuatnya menjadi orang yang penakut di depan umum. Yah, maksud saya, dia akan menjadi orang dengan kadar percaya diri yang rendah karena dia sudah sering direndahkan oleh orang tuanya sendiri di depan banyak orang. Memarahi seseorang itu haruslah secara sembunyi-sembunyi. Jika dilakukan di depan orang banyak, itu penghinaan namanya.

Seberapa sensitif kah kita?

Image
Kalau kata Oom Mario, orang yang sensitif itu bagus karena dia juga akan sensitif dengan keadaan sekitarnya. Saya termasuk orang yang punya daya sensitivitas yang lumayan tinggi. Sensitif kalau ada orang salah ngomong sama saya, sensitif kalau saya salah ngomong sama orang dan sederet sensitivitas lainnya yang sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Jadi, seberapa sensitifnya kita? Coba kita tanyakan pada diri kita sendiri. Cobalah menengok apa yang sedang terjadi dengan hati kita. Masih jernihkah atau telah menghitam karena dipenuhi titik-titik dosa? Apakah kita masih sensitif melihat anak-anak kecil kurus berjalan di tepi jalan memanggul karung dan mengais-ngais sampah?

Letter to Allah

Image
Surat untukmu, Allah Aku lelah bercerita banyak kepada makhluk-makhlukMu yang lainnya. Dan hanya kepadaMu aku tak ingin lelah Allah, Apakah perubahan selalu memaksa diri kita untuk jadi berbeda? Untuk mengganti sudut pandang kita dan memahami hal dari cara yang tak biasa? Apakah perbedaan adalah hal yg absolut dalam sebuah perubahan? Kenapa tiba-tiba semuanya terasa asing? Bahkan matahari pun terlihat berbeda dari sini.

Little Pieces

Image
1st Piece : Tidak ada orang bodoh. Yg ada hanyalah orang yg tidak tahu (Ni Pollock) 2nd piece : Masih tentang Robert Wagner dari Panorama atau Jean Claude Van Damme atau apapun julukannya di masa itu. Bisa tak dipesan satu yg seperti dia? Yg ramah, low profile, sederhana dan tenang?   3rd piece : Selalu dan akan selalu suka dengan sejarah. Sangat ingin mempelajari perilaku sosial mereka kala itu.

Let It Be...

When I find myself in times of trouble, Mother Mary comes to me Speaking words of wisdom, let it be And in my hour of darkness she is standing right in front of me Speaking words of wisdom, let it be Let it be, let it be, let it be, let it be Whisper words of wisdom, let it be

Buku Enam Puluh Ribu Kata

Image
Berpuluh ribu kata pun tak mampu untuk mendefinisikanmu. Semakin saya ingin mengenalmu, semakin saya tidak mengetahui apa-apa tentangmu. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau harapkan? Kau impikan? Kenapa semua terasa begitu gelap bagi saya? Kenapa saya tidak bisa menebak satu hal saja dari keinginanmu, tuan? Paling tidak saya bisa menerjemahkanmu dari mimpi-mimpimu itu. Kau seperti buku yang tertutup bagi saya. Saya tidak akan bisa mendefinisikanmu hanya melalui sampul bukumu, atau melalui sinopsis di sampul belakang bukumu. Tidak semudah itu menarik kesimpulan dari sebuah buku berisi enam puluh ribu kata hanya dengan memandang sampulnya. Kalau seandainya bisa, mungkin saya tidak akan pernah membeli buku The Last Ember karangan Daniel Levin karena isinya ternyata sangat membosankan.

Ordinary Man, Ordinary Me

Dan semua bla bla bla itu akan saya buang jika di hadapannya. Dia yang bahkan hanya kalian pandang dengan sebelah mata. Saya terlalu banyak bicara ini itu, bilang ini itu, sana sini, kesana kemari, tapi ada satu sudut kosong di balik semua bla bla bla itu yang selalu saya sediakan untuk dia yang bahkan tak seorang pun memandangnya. Dia yang biasa-biasa saja, dia yang apa adanya. Bukan dia yang hebat, bukan dia yang pintar, bukan dia yang tahu segala hal, tapi dia yang akan melindungi keluarganya meski hanya sebatas kemampuan yang dimilikinya. Dia yang benar-benar sangat biasa.

Definisi Kesempurnaan

Image
Pendar matari di pagi hari itu selalu membingungkan saya. Kadang saya merindukannya. Ketika saya duduk di tepi jendela bermandikan sinarnya sambil minum secangkir susu atau kopi, atau sambil membaca buku yang baru saya beli. Entah kenapa momen seperti itu selalu memberi kehangatan dalam diri saya. Tapi kadang saya tidak menyukainya yang bersinar terlalu terik, ketika saya merindukan mendung membelai langit. Jika saya lebih memilih deretan awan kelabu itu, bisa dipastikan saya hanya sedang ingin tetap berada di pembaringan dengan belaian sejuknya.

Saya dan Soe Hok Gie

Image
Sesuai judulnya, saya ingin bilang kalau tidak ada apa-apa antara saya dan Soe Hok Gie (iyalah). Dia lahir tahun 1942 dan meninggal tahun 1969 sementara saya lahir 46 tahun setelah dia lahir atau 19 tahun setelah dia meninggal. Dia tinggal di Jakarta, saya tinggal di Luwuk. Dia suka demo, saya tidak. Dia suka naik gunung, saya…iya, saya suka dengan alam. Dia cina, saya..iya…ada campurannya dikit dan masih mendapat jatah sepasang mata sipit. Halah. Saya suka orang seperti dia. Di buku Catatan Seorang Demonstran miliknya dia banyak mengobservasi sifat-sifat dan karakter teman-temannya dan membandingkan dengan dirinya sendiri. Dia pernah menulis, kalau dia adalah orang yang berpikiran liar, tidak monoton, tidak suka dengan sesuatu yang safe , tidak suka menjadi orang yang hidup di bawah naungan kemunafikan. Saya suka caranya yang terang-terangan menentang kebusukan-kebusukan yang ada, caranya mengkritik, buku-buku yang dibacanya, sikapnya yang berani, caranya memandang cinta dan ...

(Masih) Tentang Pierre Tendean (lagi) - Sebuah Cita-cita-Kosong-Setengah-Mati-Saya

Image
Jika platonic love -nya Gie adalah Rina, maka Pierre Tendean adalah cita-cita-kosong-setengah-mati saya :D Saya menyukai dia secara pribadi dan prinsip hidupnya, sama dengan Gie. Pierre sudah berencana untuk kembali bertugas di garis depan daripada menjadi seorang ajudan yang hanya duduk di belakang meja. Dia punya jiwa kepahlawanan tapi bukan pahlawan-pahlawan seperti di Tutur Tinular dan Pendekar Pemanah Rajawali ya! (khusus untuk teman-teman saya yang suka nonton dua acara TV itu). Ini dia beberapa fakta kecil tentang Kapten :)

Kolektor mimpi untuk resolusi 2012

Setiap orang pasti punya banyak mimpi-mimpi. Dan hanya orang hebatlah yang berani untuk mewujudkan mimpi-mimpinya itu. Sayangnya saya belum termasuk saah satu dari orang-orang hebat itu :)   Punya segudang mimpi yang sangat ingin saya wujudkan sebelum saya meninggal nanti. Melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain sekaligus menyenangkan untuk saya sendiri. Mimpi yang masih terus mengisi bagian-bagian terindah dalam imajinasi saya dan masih tetap menari-nari dengan bersemangat agar suatu saat saya akan mewujudkannya. Menjadi seorang guru relawan di pedalaman. Mimpi ini telah lama terbentuk secara kontinu di alam bawah sadar saya sejak saya masih bocah dulu. Sejak saya diberi ‘mainan’ berupa buku-buku bacaan dari perpustakaan sekolah tempat mama saya mengajar. Saya mulai menelan kisah-kisah bertemakan keadaan pendidikan di kampung-kampung terpencil dan perjuangan anak-anak kecil seusia saya – kala itu – dalam mencapai cita-cita mereka. Sejak saat itu entah kenapa saya s...

Maaf Aku Terlambat

Maaf aku terlambat Ketika kemuning itu telah menjadi gulita Aku tahu kau masih akan berdiri di sana Memunggungi masa lalu, Dan membiarkannya tersapu bersama debu di jalanan Jika memang aku punya kesempatan itu Hanya satu hal yg menggelayut di puncakku Adakah rasa itu masih sama? Adakah rasa itu masih kau simpan dgn baik? Adakah kau merawatnya? Karena aku pun begitu, selalu begitu

Sebuah Surat (Yang Terlambat) Untuknya

Image
Setiap orang berubah, aku berubah, dia berubah, kau berubah…semuanya butuh perubahan untuk menyesuaikan diri. Tapi bukan berarti perubahan itu membuat kita saling menjauh bukan? Perubahan tidak akan mengubah bagaimana rasanya tersenyum ketika kamu menceritakan hal lucu. Dan perubahan juga tidak akan membuat aku merubah caraku marah ketika dirimu lupa memberi kabar kalau hari itu kau harus pulang larut. Tidak akan ada yang dapat merubah itu semua sayang. Meski pada akhirnya kehidupan kita berubah, tapi yakinlah apa yang ada di dalam hati ini tidak berubah. Aku tetap akan selalu membuatkan masakan yang enak buatmu ketika kamu kembali ke rumah kita meski itu harus melalui berkali-kali percobaan dengan hasil masakan yang mengenaskan di percobaan awal, aku akan tetap menyiapkan baju kerjamu setiap pagi, menyetrikanya dan memberikan sedikit pewangi di bajumu agar kau selalu ingat kalau kau punya seorang istri di rumah yang selalu cemas menanti kepulanganmu. Aku juga akan tetap mengir...

Curhatan Abad Ini

Allah, apa yang sedang dia lakukan disana? Pertanyaan seperti itu selalu terbersit di benak saya jika saya memikirkan seperti apa rupa suami saya kelak. Apa dia akan berdoa sama seperti yang saya minta kepadaMu? Apa dia juga sangat berharap agar segera dipertemukan dengan saya? Apa dia juga berdoa dengan penuh harap sama seperti ketika saya berdoa padaMu? Allah, kadang di hati ini timbul rindu yang teramat sangat pada sosok seseorang yang entah siapa Bisakah hamba memprediksi seperti apa dia? Apa dia akan sejalan dengan hamba nanti? Apa dia cerdas dan humoris? Mampu membuat hamba tertawa dan kagum dengan wawasannya? Apa dia punya visi dan misi yang jelas dalam hidupnya? Apa dia punya target-target yang jelas untuk hidupnya?

"Letters to Juliet"

What If? Bagaimana Jika? I don't know how your story ended But if what you felt then was a true love Then it's never too late If it was true then Why wouldn't it be true now You need only the courage to follow your heart I don't know what a love like Juliet's feels like A love to leave loved ones for A love to cross oceans for But I'd like to believe if I ever were to feel it That I'd have the courage to seize it.