Posts

Showing posts with the label Matryoshka

Tu Me Manques

Tentang bagian yang hilang, bukan terlewatkan Tentang separuh yang pergi, bukan ditinggalkan Seperti serpih dandelion yang melayang 'Tu me manques' ucapmu Terdengar ringan saja, melayang di udara dan terbang dibawa angin Tapi tiba-tiba saya tersadar, saya bahkan dua kali lipat dari itu Saya, menanti kamu pulang di ujung jalan sana tanpa menyadari harus selama itu Kemudian hanya untuk menjadi bodoh berkali-kali Tu Me Manques Saya hanya mencoba menikmati setiap detik kepulanganmu, Sebelum kamu kembali beranjak pergi. Lagi.

Do I Regret?

Image
At the very first time I decided to take the chance my heart said : if you couldn’t make it, never ever cry! I don’t know why I felt I can’t make it. Those all too good to be true. Even I can’t make it, I kept trying and hope for the best. Stubborn. Yes, I am. And I keep my promise to not cry over this failure. Many months ago... Rain always be the moment I waited the most all day. While the raindrops fall on earth, I immediately make a dialogue in my mind with God. Dear Allah, for this time, even everything too perfect to be true, let me run into it. Let me make him a part of my life's story and let him be the closing part in every words I want to write. Please allow me. There’s nothing impossible for You.

Travel Together, Grow Together

Image
“Saya mau ke Yogya. Sudah booking tiketnya, PP. Berangkat dari Makassar pulangnya lewat Jakarta” Nyatanya saya di Yogya tidak sampe 6 jam, itu pun lama di staisun Tugu menunggu kereta yang akan membawa saya ke Bandung. Iss...benar-benar mengecewakan! Yogya itu semacam...hmm...apa ya? Epidemi? Virus? *saya tau tidak nyambung*. Setelah dulu yang ada di kepala saya hanya Bali, Bali dan Bali kini Yogya berhasil menggeser Bali yang  berada di klasemen teratas tempat-tempat di Indonesia yang sangat ingin saya kunjungi. Kenapa Yogya? Iya, kenapa Yogya? Saya sendiri pun bingung kenapa Yogya yang harus saya jatuhi cinta kali ini. Kenapa bukan Belitung? Kenapa bukan Papua? Kenapa bukan Bandung? Lantas kenapa Yogya? Sometimes we don’t need any reason to fall in love.

Officially 24 : A Bunch Of Thank You And Sorry

Image
nulisdanmimpi.wordpress.com Hari ini usia saya tepat 24 tahun. Ah, sudahlah. Tak ada gunanya menyembunyikan usia. Toh dia hanya sebuah angka yang tak akan berpengaruh apa-apa pada tingkat kedewasaan kita. 24. Dulu, waktu SMA, mendengar sepupu saya telah berusia 24, saya bergidik. Tua amat . Begitu ucap saya dalam hati. Dan sekarang? Saya 24 dan saya merasa masih muda sekaligus merasa tua. Sekali lagi, bukankah usia hanya deretan angka?

Kado Terbaik

Image
Dua puluh sekian Bulan depan usia saya akan bertambah satu garis lagi di dunia, dan berkurang satu garis lagi di akhirat. Mungkin untuk ukuran dunia saya tetap saja masih terlalu muda, tapi saya tau tidak ada usia yang terlalu muda untuk ukuran akhirat. Kita bisa mati kapan saja bukan? Dua puluh sekian Masih banyak hal yang ingin saya tambahkan ke dalam buku catatan amal kehidupan saya dan masih banyak catatan amal keburukan saya yang ingin saya hapus. Tentang kebaikan yang tidak pernah saya lakukan dan tentang keburukan yang sering saya amalkan. Semoga masih ada waktu...semoga. Saya tidak ingin pergi melaut tanpa kapal.

Useless

Karena terkadang kau terlalu marah sampai tak tahu harus mengatakan apa lagi dan memilih diam... Kau bahkan terlalu marah untuk menangis dan memilih diam... Terlalu banyak serpihan-serpihan beling yang bertebaran, lupa dibersihkan atau memang sengaja ditebar entahlah ada satu dua yang melukai, tidak berdarah tapi cukup perih menusuk Dan karena kau bukan anak kecil lagi yang harus menangis karena sebuah luka kecil kau memilih diam

Leaving On A Jet Plane

Image
All my bags are packed I'm ready to go I'm standin' here outside your door I hate to wake you up to say goodbye But the dawn is breaking It's early morn The taxi's waiting, He's blowin' his horn Already I'm so lonesome I could die So kiss me and smile for me Tell me that you'll wait for me Hold me like you'll never let me go Cause I’m leaving on a jet plane Don't know when I'll be back again Oh babe, I hate to go There's so many times I’ve let you down So many times I’ve played around I tell you now, they don't mean a thing Every place I go, I’ll think of you Every song I sing, I’ll sing for you When I come back, I’ll bring your wedding ring

Seperti SpongeBob dan Patrick

Image
Persahabatan tidak dimulai seperti hujan yang membutuhkan awan Atau seperti Isaac Newton yang membutuhkan sebutir apel Pun tidak seperti Adam Smith dengan teori ekonomi klasiknya dan Keynes dengan teori ekonomi moneternya Persahabatan itu lebih seperti SpongeBob dan Patrick Yang sesungguhnya mereka berdua bahkan tidak paham mengapa ingin selalu bersama Persahabatan itu bukan simbiosis mutualisme, apalagi simbiosis parasitisme Persahabatan itu seperti Rasulullah dan Abu Bakar Atau seperti Salman Al Farisi dan Abu Darda bersahabat karena iman kepada Allah

Ini Hanya Masalah Selera Kok

Image
Tiap orang punya selera masing-masing (hal yang telah saya ulang-ulang di setiap tulisan dalam blog saya), termasuk selera dalam memilih pasangan. Standarnya sih sudah ada, dari hadits Nabi yang memerintahkan kita untuk mencari pasangan karena agama dan akhlaknya. Tapi aplikasinya kan bisa saja beda-beda. Termasuk…ya…masalah menentukan kriteria pasangan itu. Saya termasuk orang yang tidak terlalu kaku dalam menentukan kriteria. Maksudnya tidak harus pintar lah, tidak harus keren lah, pokoknya tidak ada standar tertentu. Mau dia pendiam, serius, pelawak, pemarah, jutek, terserah dah. Yang penting dia itu memang jodoh saya. Selera saya termasuk relatif dan bisa saja bertolak belakang dengan orang lain. Meskipun begitu, ada nih sedikit tipe-tipe saya. Standar lah...Tapi sekali lagi, ini tidak mutlak.

Tentang Cinta Yang Diam & Menunggu

Image
Sesungguhnya sekeras apapun kita berusaha untuk menjaga hati kita, kadang kita tak menyangka ada celah yang terbuka dan membiarkan rasa itu menyelinap ke dalam sana. Atau rasa itu sendiri yang berusaha kerasa menggerus hati kita semili demi semili sampai akhirnya dia berhasil membuat jalan untuk masuk ke dalam sana. Kita semua berada di luar kuasa untuk mencegahnya. Tak ada cinta sebelum pernikahan, meskipun saya sendiri tak tahu bagaimana kita bisa memutuskan untuk menikah jika cinta itu tidak ada di sana. Ah, baiklah. Mungkin cinta itu memang belum ada, tapi keinginan untuk mencinta itu telah ada, paling tidak dia telah menyapa saat nadzar terjadi atau saat ta’aruf dijalani. Keinginan untuk bersama dengannya telah ada, meski kita masih belum tahu, apa bisa kita mencintainya?

Love At The First Sight

Image
I absolutely disagree with this statement. There isn’t love at first sight because love needs process. You can’t say that you’re in love already without knowing who is he, what’s his job or is he still single? Dulu… jaman sinetron Tersanjung 1 (Tersanjung pertama loh ya. Bukan Tersanjung 6) saya masih percaya dengan ungkapan itu dan masih sering menjadikannya tema sentral cerpen-cerpen abal-abal saya. Tapi seiring berputarnya roda waktu (ce elah bahasanya) dengan kata lain semakin bertambahnya usia saya di muka bumi ini, ungkapan ‘cinta pada pandangan pertama’ itu malah terdengar…err… tidak masuk akal.

Ordinary Man, Ordinary Me

Dan semua bla bla bla itu akan saya buang jika di hadapannya. Dia yang bahkan hanya kalian pandang dengan sebelah mata. Saya terlalu banyak bicara ini itu, bilang ini itu, sana sini, kesana kemari, tapi ada satu sudut kosong di balik semua bla bla bla itu yang selalu saya sediakan untuk dia yang bahkan tak seorang pun memandangnya. Dia yang biasa-biasa saja, dia yang apa adanya. Bukan dia yang hebat, bukan dia yang pintar, bukan dia yang tahu segala hal, tapi dia yang akan melindungi keluarganya meski hanya sebatas kemampuan yang dimilikinya. Dia yang benar-benar sangat biasa.

Have I Told You Lately

Have I told you lately that I love you? Have I told you there's no one else above you? Fill my heart with gladness Take away all my sadness Ease my troubles that's what you do

Edelweis

Image
Aku sering menghitungnya. Satu, dua, ah, kini sudah tahun ke tiga sejak aku mengenalmu. Rasanya waktu meloncat-loncat begitu saja, tapi ajaibnya kau masih selalu ada di sana. Bagaimana aku harus mengatakannya ya, Tuan pemilik segala yang aku kagumi? Hmm...mungkin dengan kalimat klise 'aku tak dapat hidup tanpamu'? Tapi masalahnya empat tahun yang lalu aku tetap dapat hidup meski aku belum mengenal mu. Ah, baiklah. Aku memang dapat hidup tanpamu, tapi aku tidak mau.

My Favorite Book Ever!

Image
Pertama saya hanya ingin bilang kalau saya tergila-gila pada semua tulisan Pak Pram (Pramoedya Ananta Toer). Sayang beberapa bukunya sudah out of print. Dan saya senewen setiap kali membaca buku-buku Andrea Hirata (sakit gila nomer berapa ini? Obsesif kompulsif). Terakhir, saya selalu tidak bisa menolak buku-buku milik Tere Liye dan pasrah saja digulung misteri oleh buku-buku Dan Brown. Yah, tanpa bisa saya pungkiri, saya adalah pecinta-buku-fiksi-alias-novel. Ini semua buku-buku favorit saya setidaknya sampai saat ini (21 Januari 2012). Kalau belakangan saya punya buku favorit baru, InsyaaLlah akan saya tambahkan di daftar. Tapi sejauh ini, sejak saya mulai bisa membaca umur 3 tahun, baru buku-buku di bawah ini yang membuat saya seperti ingin menyanyikan lagu Indonesia Raya di negeri antah berantah Russia. Sederhananya, mengharukan. Entah itu karena alur ceritanya yang memang menyedihkan atau karena kejeniusan penulisnya yang membuat saya terharu.

My Memorable Books

Image
1. Sengketa Pohon Mangga Buku ini saya baca pas kelas 3 atau 4 SD (lupa-lupa ingat). Kenapa punya kenangan tersendiri? Karena ini buku pertama yang saya baca waktu saya kanak-kanak dengan banyak sekali humor yang diselipkan di dalam ceritanya dan konflik yang merata. Ada lagi buku yang tidak- happy-ending pertama yang saya baca -- ini kalimatnya susah amat sih -___-". Judul bukunya lupa. Bukit Putih atau Lembah Putih atau apa gitu. Ceritanya teman dari tokoh utamanya meninggal dunia gara-gara tetanus. Sejak saat itu saya jadi sangat berhati-hati sama barang-barang yang sudah karatan. 2. Sejarah Khadijah Alqubra Tidak ada yang spesial dari buku ini sebenarnya. Apalagi isi dari buku ini kurang dapat dipertanggung jawabkan karena begitu memuja muji ahlul bait. Tidak ada yang salah dari memuji mereka tentu saja, tapi mengingat itu adalah ciri khas Syi'ah, bisa jadi ini salah satu buku yang ditulis oleh golongan mereka. Hal yang membuat buku ini jadi berkesan karena ...

Itu Soal Lain...

Image
Ada banyak wanita-wanita para pejuang yang kehilangan suami, anak dan saudara mereka. Sebuah resiko yang dengan yakin mereka ambil ketika menikah dengan seorang pejuang, mengijinkan anak mereka menjadi pejuang, ataupun memiliki saudara seorang pejuang. Resiko terberat telah mereka ketahui. Hidup atau mati. Tapi toh mereka tidak takut, hanya karena segenggam cinta yang mereka punya di hati mereka untuk para pria-pria pejuang itu. Luar biasa hebatnya kekuatan segenggam cinta para wanita-wanita itu. Apa kita cukup berani untuk mengambil resiko seperti mereka? Saya rasa tidak jika rasionalitas kita yang berbicara.

Indah Itu...

Image
Indah itu ketika kau tertawa karena leluconmu sendiri Sementara aku tidak Atau saat kau marah-marah, sementara aku tertawa Karena gaya marahmu sangat lucu Kita memang penuh dengan paradoks ya? Apa karena itu kita akhirnya hanya bisa jadi sahabat? Maksudku, sahabat sehidup semati, sahabat dari pagi sampai pagi lagi

Definisi Kesempurnaan

Image
Pendar matari di pagi hari itu selalu membingungkan saya. Kadang saya merindukannya. Ketika saya duduk di tepi jendela bermandikan sinarnya sambil minum secangkir susu atau kopi, atau sambil membaca buku yang baru saya beli. Entah kenapa momen seperti itu selalu memberi kehangatan dalam diri saya. Tapi kadang saya tidak menyukainya yang bersinar terlalu terik, ketika saya merindukan mendung membelai langit. Jika saya lebih memilih deretan awan kelabu itu, bisa dipastikan saya hanya sedang ingin tetap berada di pembaringan dengan belaian sejuknya.

Saya dan Soe Hok Gie

Image
Sesuai judulnya, saya ingin bilang kalau tidak ada apa-apa antara saya dan Soe Hok Gie (iyalah). Dia lahir tahun 1942 dan meninggal tahun 1969 sementara saya lahir 46 tahun setelah dia lahir atau 19 tahun setelah dia meninggal. Dia tinggal di Jakarta, saya tinggal di Luwuk. Dia suka demo, saya tidak. Dia suka naik gunung, saya…iya, saya suka dengan alam. Dia cina, saya..iya…ada campurannya dikit dan masih mendapat jatah sepasang mata sipit. Halah. Saya suka orang seperti dia. Di buku Catatan Seorang Demonstran miliknya dia banyak mengobservasi sifat-sifat dan karakter teman-temannya dan membandingkan dengan dirinya sendiri. Dia pernah menulis, kalau dia adalah orang yang berpikiran liar, tidak monoton, tidak suka dengan sesuatu yang safe , tidak suka menjadi orang yang hidup di bawah naungan kemunafikan. Saya suka caranya yang terang-terangan menentang kebusukan-kebusukan yang ada, caranya mengkritik, buku-buku yang dibacanya, sikapnya yang berani, caranya memandang cinta dan ...