Posts

Showing posts with the label Life's questions

Tanyakan Pada Hati

Image
Ada kalanya kita ragu. Langkah kaki menjadi berat, perasaan menjadi tidak tenang. Bahkan tidak sering ketakutan melanda. Masihkah Allah menyertai? Ijinkanlah saya mengutip sebuah kalimat indah dari manusia paling mulia di dunia. Sebuah kalimat singkat yang mampu menghapus keraguan, menenangkan hati dan memberikan semangat dalam diri.

Teach Your Children Well

Image
Saya sebenarnya agak ngeri kalo liat ibu-ibu yang memarahi anaknya di depan orang banyak atau di tempat umum, sampai dibentak-bentak dan dipukuli. Bahkan ada yang anaknya nangis karena dipukuli malah terus dipukuli supaya dia mau diam. Gimana ceritanya? Anaknya nangis karena dipukuli masa mau diam dengan dipukuli? Ada-ada aja -______-“ Actually, saya bukan ahli pendidikan anak maupun psikolog anak. Tapi ya kalau bisa janganlah memarahi anak-anak kita di depan umum. Secara tidak langsung kita sudah menjatuhkan mental anak kita dan membuatnya menjadi orang yang penakut di depan umum. Yah, maksud saya, dia akan menjadi orang dengan kadar percaya diri yang rendah karena dia sudah sering direndahkan oleh orang tuanya sendiri di depan banyak orang. Memarahi seseorang itu haruslah secara sembunyi-sembunyi. Jika dilakukan di depan orang banyak, itu penghinaan namanya.

Love At The First Sight

Image
I absolutely disagree with this statement. There isn’t love at first sight because love needs process. You can’t say that you’re in love already without knowing who is he, what’s his job or is he still single? Dulu… jaman sinetron Tersanjung 1 (Tersanjung pertama loh ya. Bukan Tersanjung 6) saya masih percaya dengan ungkapan itu dan masih sering menjadikannya tema sentral cerpen-cerpen abal-abal saya. Tapi seiring berputarnya roda waktu (ce elah bahasanya) dengan kata lain semakin bertambahnya usia saya di muka bumi ini, ungkapan ‘cinta pada pandangan pertama’ itu malah terdengar…err… tidak masuk akal.

Buku Enam Puluh Ribu Kata

Image
Berpuluh ribu kata pun tak mampu untuk mendefinisikanmu. Semakin saya ingin mengenalmu, semakin saya tidak mengetahui apa-apa tentangmu. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau harapkan? Kau impikan? Kenapa semua terasa begitu gelap bagi saya? Kenapa saya tidak bisa menebak satu hal saja dari keinginanmu, tuan? Paling tidak saya bisa menerjemahkanmu dari mimpi-mimpimu itu. Kau seperti buku yang tertutup bagi saya. Saya tidak akan bisa mendefinisikanmu hanya melalui sampul bukumu, atau melalui sinopsis di sampul belakang bukumu. Tidak semudah itu menarik kesimpulan dari sebuah buku berisi enam puluh ribu kata hanya dengan memandang sampulnya. Kalau seandainya bisa, mungkin saya tidak akan pernah membeli buku The Last Ember karangan Daniel Levin karena isinya ternyata sangat membosankan.

Ordinary Man, Ordinary Me

Dan semua bla bla bla itu akan saya buang jika di hadapannya. Dia yang bahkan hanya kalian pandang dengan sebelah mata. Saya terlalu banyak bicara ini itu, bilang ini itu, sana sini, kesana kemari, tapi ada satu sudut kosong di balik semua bla bla bla itu yang selalu saya sediakan untuk dia yang bahkan tak seorang pun memandangnya. Dia yang biasa-biasa saja, dia yang apa adanya. Bukan dia yang hebat, bukan dia yang pintar, bukan dia yang tahu segala hal, tapi dia yang akan melindungi keluarganya meski hanya sebatas kemampuan yang dimilikinya. Dia yang benar-benar sangat biasa.

Itu Soal Lain...

Image
Ada banyak wanita-wanita para pejuang yang kehilangan suami, anak dan saudara mereka. Sebuah resiko yang dengan yakin mereka ambil ketika menikah dengan seorang pejuang, mengijinkan anak mereka menjadi pejuang, ataupun memiliki saudara seorang pejuang. Resiko terberat telah mereka ketahui. Hidup atau mati. Tapi toh mereka tidak takut, hanya karena segenggam cinta yang mereka punya di hati mereka untuk para pria-pria pejuang itu. Luar biasa hebatnya kekuatan segenggam cinta para wanita-wanita itu. Apa kita cukup berani untuk mengambil resiko seperti mereka? Saya rasa tidak jika rasionalitas kita yang berbicara.

Definisi Kesempurnaan

Image
Pendar matari di pagi hari itu selalu membingungkan saya. Kadang saya merindukannya. Ketika saya duduk di tepi jendela bermandikan sinarnya sambil minum secangkir susu atau kopi, atau sambil membaca buku yang baru saya beli. Entah kenapa momen seperti itu selalu memberi kehangatan dalam diri saya. Tapi kadang saya tidak menyukainya yang bersinar terlalu terik, ketika saya merindukan mendung membelai langit. Jika saya lebih memilih deretan awan kelabu itu, bisa dipastikan saya hanya sedang ingin tetap berada di pembaringan dengan belaian sejuknya.

Saya dan Soe Hok Gie

Image
Sesuai judulnya, saya ingin bilang kalau tidak ada apa-apa antara saya dan Soe Hok Gie (iyalah). Dia lahir tahun 1942 dan meninggal tahun 1969 sementara saya lahir 46 tahun setelah dia lahir atau 19 tahun setelah dia meninggal. Dia tinggal di Jakarta, saya tinggal di Luwuk. Dia suka demo, saya tidak. Dia suka naik gunung, saya…iya, saya suka dengan alam. Dia cina, saya..iya…ada campurannya dikit dan masih mendapat jatah sepasang mata sipit. Halah. Saya suka orang seperti dia. Di buku Catatan Seorang Demonstran miliknya dia banyak mengobservasi sifat-sifat dan karakter teman-temannya dan membandingkan dengan dirinya sendiri. Dia pernah menulis, kalau dia adalah orang yang berpikiran liar, tidak monoton, tidak suka dengan sesuatu yang safe , tidak suka menjadi orang yang hidup di bawah naungan kemunafikan. Saya suka caranya yang terang-terangan menentang kebusukan-kebusukan yang ada, caranya mengkritik, buku-buku yang dibacanya, sikapnya yang berani, caranya memandang cinta dan ...

(Masih) Tentang Pierre Tendean (lagi) - Sebuah Cita-cita-Kosong-Setengah-Mati-Saya

Image
Jika platonic love -nya Gie adalah Rina, maka Pierre Tendean adalah cita-cita-kosong-setengah-mati saya :D Saya menyukai dia secara pribadi dan prinsip hidupnya, sama dengan Gie. Pierre sudah berencana untuk kembali bertugas di garis depan daripada menjadi seorang ajudan yang hanya duduk di belakang meja. Dia punya jiwa kepahlawanan tapi bukan pahlawan-pahlawan seperti di Tutur Tinular dan Pendekar Pemanah Rajawali ya! (khusus untuk teman-teman saya yang suka nonton dua acara TV itu). Ini dia beberapa fakta kecil tentang Kapten :)

Kolektor mimpi untuk resolusi 2012

Setiap orang pasti punya banyak mimpi-mimpi. Dan hanya orang hebatlah yang berani untuk mewujudkan mimpi-mimpinya itu. Sayangnya saya belum termasuk saah satu dari orang-orang hebat itu :)   Punya segudang mimpi yang sangat ingin saya wujudkan sebelum saya meninggal nanti. Melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain sekaligus menyenangkan untuk saya sendiri. Mimpi yang masih terus mengisi bagian-bagian terindah dalam imajinasi saya dan masih tetap menari-nari dengan bersemangat agar suatu saat saya akan mewujudkannya. Menjadi seorang guru relawan di pedalaman. Mimpi ini telah lama terbentuk secara kontinu di alam bawah sadar saya sejak saya masih bocah dulu. Sejak saya diberi ‘mainan’ berupa buku-buku bacaan dari perpustakaan sekolah tempat mama saya mengajar. Saya mulai menelan kisah-kisah bertemakan keadaan pendidikan di kampung-kampung terpencil dan perjuangan anak-anak kecil seusia saya – kala itu – dalam mencapai cita-cita mereka. Sejak saat itu entah kenapa saya s...

Maaf Aku Terlambat

Maaf aku terlambat Ketika kemuning itu telah menjadi gulita Aku tahu kau masih akan berdiri di sana Memunggungi masa lalu, Dan membiarkannya tersapu bersama debu di jalanan Jika memang aku punya kesempatan itu Hanya satu hal yg menggelayut di puncakku Adakah rasa itu masih sama? Adakah rasa itu masih kau simpan dgn baik? Adakah kau merawatnya? Karena aku pun begitu, selalu begitu

Curhatan Abad Ini

Allah, apa yang sedang dia lakukan disana? Pertanyaan seperti itu selalu terbersit di benak saya jika saya memikirkan seperti apa rupa suami saya kelak. Apa dia akan berdoa sama seperti yang saya minta kepadaMu? Apa dia juga sangat berharap agar segera dipertemukan dengan saya? Apa dia juga berdoa dengan penuh harap sama seperti ketika saya berdoa padaMu? Allah, kadang di hati ini timbul rindu yang teramat sangat pada sosok seseorang yang entah siapa Bisakah hamba memprediksi seperti apa dia? Apa dia akan sejalan dengan hamba nanti? Apa dia cerdas dan humoris? Mampu membuat hamba tertawa dan kagum dengan wawasannya? Apa dia punya visi dan misi yang jelas dalam hidupnya? Apa dia punya target-target yang jelas untuk hidupnya?

Pembahasan Pendek yang Terlupa

Surprised aja nemu tulisan ini di salah satu folder 'hasil karya sendiri' milik saya di dalam laptop. Kapan ya saya jadi sebijak ini? Sampai lupa karena apa saya menulis hal ini. *** Tak ada hal yang pasti di dunia ini kecuali kematian. Apapun yang kita lakukan hari ini, dengan tujuan yang kita tetapkan untuk hari esok, kita bisa saja seratus persen salah dalam memprediksinya. Kita hanya planner , bukan decision maker . Karena itu, setiap merencanakan sesuatu, bersiaplah untuk gagal. Namun satu hal yang pasti selain kematian, kita hidup dari sebuah rumus sebab-akibat. Tak akan ada akibat jika tak ada sebab. Tak akan ada hal besar, jika tak ada hal-hal kecil. Partikel-pertikel kecil itulah yang membentuk kehidupan kita, secara sadar atau tidak.

Syair itu adalah ini....

Tadi pagi aku iseng buka lagi grup FB Kapten Anumerta Pierre Tendean. Dan tanpa sengaja mataku menangkap sebuah lirik lagu yang dituliskan seorang anggota grup di wall yang entah kenapa membuatku berseru dalam hati : Hey! Dia menyebut mata lembut yang selalu aku sebutkan untuk setiap karakter cowok dalam cerpen-cerpenku. Mata lembut yang membuat dada setiap cewek tersentak melihatnya. Err..tidak juga. Di cerpen-cerpenku aku menulis mata yang ‘teduh’ bukan ‘lembut’. Tapi, who cares ? Menurutku kurang lebih artinya sama. Syair lagu itu adalah Nyanyian Kasmaran milik Om Ebiet G. Ade

Untuk seseorang yang belum saya kenal

Bismillahirrahmanirrahim Mungkin terlalu dini saya menulis semua hal ini Karena kamu sama sekali belum saya kenal Baik nama, rupa, maupun sifatmu Tapi saya selalu percaya pada janji ALLAH. Sang Maha Penepat Janji :) Saya yakin, Kau bukan orang yang sibuk menghabiskan waktumu dengan sia-sia Bukan orang yang senang duduk berkumpul di pub atau diskotik Tapi kau sibuk dengan menuntut ilmu agama, majelis-majelis ilmu, dan meniti jalan dakwah

Jika ada yang bertanya pada saya

Jika ada yang bertanya pada saya. Jika ada yang bertanya pada saya apa itu kehidupan? Maka saya akan menjawab bahwa kehidupan adalah kematian, karena kematianlah yang dapat memberi tanda bahwa sesuatu itu hidup atau tidak. kita hidup untuk mati. Tapi tidak dengan sia-sia, ALLAH menciptakan kita bukan tanpa makna. Jadi hidup adalah pencarian makna yang akan berakhir dengan kematian dan melanjutkannya dengan perhitungan makna hidup seperti apa yang kita jalani.