Posts

Showing posts with the label Resensi

Before Sunset

Image
Pas kemarin googling-googling, saya nemu sebuah kisah tentang latar belakang trilogi Before ini. Ternyata film yang dibuat setiap 9 tahun sekali ini adalah proyek seumur hidup dari sutradaranya, Richard Linklater. Film pertama, Before Sunrise merupakan kisah dari sang sutradara itu sendiri ketika itu dia bertemu seorang gadis bernama Amy dan kemudian mereka menghabiskan satu hari bersama. Sayangnya Richard mendengar kabar kalau Amy telah meninggal karena kecelakaan bertahun-tahun setelah Before Sunrise rilis. Duh, sebuah film yang didekasikan untuk seorang gadis yang hanya bersamanya sehari. Isn’t it romantic? Jujur, ekspektasi saya pada sekuelnya, Before Sunset benar-benar tinggi entah mengapa. Dan setelah menonton sekuelnya, saya memang lebih suka film kedua ini! :D Hmm... kenapa ya? Mungkin karena saya lebih menyukai usia-usia di akhir 20-an atau di awal-awal 30-an. Usia dimana kita bisa saja telah menjadi dewasa dalam segala hal (meskipun saya tidak yakin kita akan dewas...

Daftar Nomor Sepuluh : Spending My Holiday With A Stranger

Image
Before Sunrise, Before Sunset Tau apa hal yang saya sukai dari bepergian? Pada satu tempat dan satu waktu, kita bisa saja bertemu dengan sebuah kesempatan yang akan mengubah seluruh sisa hidup kita setelahnya. Dan kesempatan itu akan terasa semakin berharga karena kitalah yang menemukannya, kita keluar dari cangkang kita dan bepergian untuk mencari kesempatan itu. Bukan hanya berdiam diri di suatu tempat menunggu kesempatan itu datang menghampiri. Well, Before Sunrise made that chance such a beautiful thing that we had to catch it no matter what. Begin with a little conversation between Jesse and Celine on the train, they decided to take that chance. Spending a whole day in Vienna together before Jesse going back to America and Celine go back to Paris on the next day. What I loved the most about the movie is, they talked to each other. Had a great conversation in the whole movie without getting bored! Pada dasarnya saya memang menyukai film-film yang mengandalkan kekuata...

Gravity : It's Time To Go Home

Image
Inner space is so much more interesting, because outer space is so empty - Theodore Sturgeon Bukan karena faktor Sandra Bullock sehingga saya akhirnya memutuskan menonton Gravity meskipun saya pernah membuat semacam janji tidak resmi pada diri saya sendiri untuk menonton semua film-film Sandra Bullock. Saya mulai menyukai dia sejak film Miss Congeniality bertahun-tahun silam (atau sejak While You Were Sleeping? Ah, saya lupa. Lagipula itu film jaman saya SD -,-“) dan makin menyukainya di film The Proposal dan The Lake House, serta tentu saja di film yang membuatnya meraih piala berbentuk patung pria ramping itu, The Blind Side. Hanya karena berbagai review positif yang saya baca mendorong saya untuk menontonnya, dengan format 3D tentu saja karena semua review merekomendasikan untuk menonton film ini dengan format tersebut. Oke. Saya menunda untuk nonton Insidious Chapter 2 dan memilih Gravity. Hampa. Ruang angkasa hampa membuat saya ikut merasa hampa *halah* Ah, pembukaan ...

Barfi!

Image
Jika ingin mencintai dengan cara yang sederhana, mencintailah seperti Barfi. Meskipun saya tidak setuju dengan cinta pada pandangan pertama, tapi Barfi jatuh cinta dengan sederhananya pada Shruti sejak pertama kali dia melihatnya. Barfi seorang yang bisu dan tuli, terkenal di seantero Darjeeling karena keisengan dan kebaikan hatinya. Orang tuanya sebenarnya memberinya nama Murphy. Tapi jika ada yang bertanya siapa namanya, dia akan menjawab Barfi.

Jane Eyre

Image
"You would rather drive me to madness then break some mere human law" "I must respect myself" "Listen to me. Listen. I could bend you with my finger and my thumb. A mere reed you feel in my hands. But whatever I do with this cage, I cannot get at you, and it is your soul that I want. Why can't you come of your own free will?" Membaca beberapa resensi buku Jane Eyre karya Charlotte Bronte, sebuah karya sastra klasik Inggris, sepertinya inti dari bukunya adalah tentang feminisme. Tapi tidak dengan filmnya. Tuan Rochester membuat isu feminisme di film itu terbang entah kemana :D

SUNNY

Image
Sebenarnya saya bukan orang yang suka nonton film, kadang-kadang saja kalo lagi tidak ada kerjaan dan dapat rekomendasi film bagus dari teman. Tapi karena film yang satu ini memang sangat keren, makanya saya bela-belain menulis review-nya. Ada banyak film bagus yang pernah saya nonton, tapi hanya sedikit dari film bagus itu yang benar-benar wajib untuk saya rekomendasikan. Salah satunya adalah film berjudul SUNNY ini. Sebagai orang yang tidak begitu menyukai film Korea (saya lebih suka film-film Thailand), saat menontonnya saya tidak begitu berharap lebih dengan film ini. Temanya sederhana saja : persahabatan. Sebuah tema yang mungkin tidak akan dilirik oleh produser sinetron-sinetron di Indonesia yang lebih suka dengan tema-tema spektakuler semacam rebutan harta, pembunuhan, lupa ingatan dan balas dendam. Tapi justru karena tema yang sederhana itulah film ini menjadi sangat mengena buat saya. Bukankah Leonardo Da Vinci pernah bilang, simplicity is the ultimate sophistication. ...

Hugo, A Beautifull Movie

Image
"I'd imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine. I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason, too." -Hugo Cabret-

Bangkok Traffic Love Story

Image
Ini salah satu film favorit saya dan sebenarnya resensi ini sudah lama saya tulis, sekitar setahun yang lalu. Tapi hingga saat ini, film ini masih tetap menjadi salah satu film favorit saya. Bangkok Traffic (Love) Story Kisah tentang komet McBright Paman itu seperti komet McBright yang lewat di kehidupan Li, begitupun Li bagi Paman. Komet itu hanya akan lewat sekali di bumi dan hanya akan kita jumpai sekali dalam seumur hidup kita. Menghadirkan rasa yang berbeda saat kita melihatnya, penuh kejutan, bercahaya, namun jika sedikit saja kita melewatkannya, maka kita tak akan pernah dapat menjumpainya lagi.