Posts

Showing posts with the label Dreams

I Don't Wanna Miss A Thing

Image
Someday when we meet (I'm sure we will), I don't wanna miss even a little thing of you I'll like your smile, I'll like your laugh I'll like your voice when you say my name I'll like everything about you My McBright's comet --------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perencana Yang Sok Berencana

Image
GWK Saya - dan beberapa teman lain - adalah perencana-perencana yang hebat. Tidak terhitung sudah berapa banyak rencana yang telah kami buat dan semuanya....GATOT alias gagal total. Selain karena rencana-rencana itu terlalu spektakuler (mungkin) untuk ukuran kami, ternyata mengambil cuti di waktu yang bersamaan untuk bepergian bagi kami itu sulit kalau tidak bisa dibilang mustahil. Seperti yang terjadi pada rencana perdana kami saat masih kuliah di Manado tahun 2006 yang lalu. "Ke Bali yuk" "Berlima" "Ambil cuti sama-sama" Dan sampai tahun 2011 kemarin rencana itu sama sekali tidak terrealisasikan. Tapi anehnya rencana yang timbul dari spontanitas malah berhasil kami realisasikan. Mungkin kami ini tipe manusia 'tiba masa tiba akal' karena sesuatu yang terencana malah hanya membuat kami berguling-guling di rencana itu.

Ordinary Man, Ordinary Me

Dan semua bla bla bla itu akan saya buang jika di hadapannya. Dia yang bahkan hanya kalian pandang dengan sebelah mata. Saya terlalu banyak bicara ini itu, bilang ini itu, sana sini, kesana kemari, tapi ada satu sudut kosong di balik semua bla bla bla itu yang selalu saya sediakan untuk dia yang bahkan tak seorang pun memandangnya. Dia yang biasa-biasa saja, dia yang apa adanya. Bukan dia yang hebat, bukan dia yang pintar, bukan dia yang tahu segala hal, tapi dia yang akan melindungi keluarganya meski hanya sebatas kemampuan yang dimilikinya. Dia yang benar-benar sangat biasa.

Edelweis

Image
Aku sering menghitungnya. Satu, dua, ah, kini sudah tahun ke tiga sejak aku mengenalmu. Rasanya waktu meloncat-loncat begitu saja, tapi ajaibnya kau masih selalu ada di sana. Bagaimana aku harus mengatakannya ya, Tuan pemilik segala yang aku kagumi? Hmm...mungkin dengan kalimat klise 'aku tak dapat hidup tanpamu'? Tapi masalahnya empat tahun yang lalu aku tetap dapat hidup meski aku belum mengenal mu. Ah, baiklah. Aku memang dapat hidup tanpamu, tapi aku tidak mau.

Saya dan Soe Hok Gie

Image
Sesuai judulnya, saya ingin bilang kalau tidak ada apa-apa antara saya dan Soe Hok Gie (iyalah). Dia lahir tahun 1942 dan meninggal tahun 1969 sementara saya lahir 46 tahun setelah dia lahir atau 19 tahun setelah dia meninggal. Dia tinggal di Jakarta, saya tinggal di Luwuk. Dia suka demo, saya tidak. Dia suka naik gunung, saya…iya, saya suka dengan alam. Dia cina, saya..iya…ada campurannya dikit dan masih mendapat jatah sepasang mata sipit. Halah. Saya suka orang seperti dia. Di buku Catatan Seorang Demonstran miliknya dia banyak mengobservasi sifat-sifat dan karakter teman-temannya dan membandingkan dengan dirinya sendiri. Dia pernah menulis, kalau dia adalah orang yang berpikiran liar, tidak monoton, tidak suka dengan sesuatu yang safe , tidak suka menjadi orang yang hidup di bawah naungan kemunafikan. Saya suka caranya yang terang-terangan menentang kebusukan-kebusukan yang ada, caranya mengkritik, buku-buku yang dibacanya, sikapnya yang berani, caranya memandang cinta dan ...

(Masih) Tentang Pierre Tendean (lagi) - Sebuah Cita-cita-Kosong-Setengah-Mati-Saya

Image
Jika platonic love -nya Gie adalah Rina, maka Pierre Tendean adalah cita-cita-kosong-setengah-mati saya :D Saya menyukai dia secara pribadi dan prinsip hidupnya, sama dengan Gie. Pierre sudah berencana untuk kembali bertugas di garis depan daripada menjadi seorang ajudan yang hanya duduk di belakang meja. Dia punya jiwa kepahlawanan tapi bukan pahlawan-pahlawan seperti di Tutur Tinular dan Pendekar Pemanah Rajawali ya! (khusus untuk teman-teman saya yang suka nonton dua acara TV itu). Ini dia beberapa fakta kecil tentang Kapten :)

Kolektor mimpi untuk resolusi 2012

Setiap orang pasti punya banyak mimpi-mimpi. Dan hanya orang hebatlah yang berani untuk mewujudkan mimpi-mimpinya itu. Sayangnya saya belum termasuk saah satu dari orang-orang hebat itu :)   Punya segudang mimpi yang sangat ingin saya wujudkan sebelum saya meninggal nanti. Melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain sekaligus menyenangkan untuk saya sendiri. Mimpi yang masih terus mengisi bagian-bagian terindah dalam imajinasi saya dan masih tetap menari-nari dengan bersemangat agar suatu saat saya akan mewujudkannya. Menjadi seorang guru relawan di pedalaman. Mimpi ini telah lama terbentuk secara kontinu di alam bawah sadar saya sejak saya masih bocah dulu. Sejak saya diberi ‘mainan’ berupa buku-buku bacaan dari perpustakaan sekolah tempat mama saya mengajar. Saya mulai menelan kisah-kisah bertemakan keadaan pendidikan di kampung-kampung terpencil dan perjuangan anak-anak kecil seusia saya – kala itu – dalam mencapai cita-cita mereka. Sejak saat itu entah kenapa saya s...

Curhatan Abad Ini

Allah, apa yang sedang dia lakukan disana? Pertanyaan seperti itu selalu terbersit di benak saya jika saya memikirkan seperti apa rupa suami saya kelak. Apa dia akan berdoa sama seperti yang saya minta kepadaMu? Apa dia juga sangat berharap agar segera dipertemukan dengan saya? Apa dia juga berdoa dengan penuh harap sama seperti ketika saya berdoa padaMu? Allah, kadang di hati ini timbul rindu yang teramat sangat pada sosok seseorang yang entah siapa Bisakah hamba memprediksi seperti apa dia? Apa dia akan sejalan dengan hamba nanti? Apa dia cerdas dan humoris? Mampu membuat hamba tertawa dan kagum dengan wawasannya? Apa dia punya visi dan misi yang jelas dalam hidupnya? Apa dia punya target-target yang jelas untuk hidupnya?

Third Step : Kota Pahlawan, Kota Kembang, Ibu Kota

Image
Akhirnyaaa…. Setelah berjuang selama 18 hari di diklat Pengelolaan Gadai Syariah di Surabaya dan deg-degan menunggu ijin cuti yang belum keluar, saya dapat bernafas lega. Rencana perjalanan Suarayaba – Bandung – Jakarta terlaksana juga. Dan untuk pertama kalinya saya akan naik kereta api! Yay! *ndeso Selesai penutupan diklat, saya dan dua orang teman berangkat ke stasiun Gubeng dengan taksi. Kalau dilihat sih suasana stasiun KA itu standar saja. Banyak porter lalu lalang, petugas keamanan, calon penumpang…tapi setidaknya tidak ada desak-desakan seperti yang sering saya lihat di berita di TV-TV. Mungkin karena arus balik hari raya idul adha telah selesai. Dengan menyeret koper besar dan bawaan seabrek, plus dua buah dus yang dibantu dibawakan sama Mas Arif (terima kasih Mas Arif, udah mau jadi porter untuk saya dan Ibu Ida :p) kami bertiga menunggu kereta di ruang tunggu sambil melihat pengamen elit di dalam stasiun. Kenapa saya bilang pengamen elit? Karena para pengamen itu mengg...

THING SO CALLED ‘DRAMA AKHIR PEKAN’

Image
Pernah merasa sangat-sangat melodramatis sampai-sampai dirimu merasa menjadi pemeran utama di sinetron kejar tayang ‘Putri Yang Ditukar’? Atau merasa sangat-sangat galau entah kenapa dan membuat kamu lari ke pantai dan ingin menangis persis seperti di serial-serial Korea/Jepang dengan latar pantai indah nan luas, deburan ombak, camar, plus angin yang bertiup kencang dan membuat rambut panjang indahmu berkibar. Pernah? Well , saya tidak sampai segitunya juga sih. Tapi entah kenapa pekan kemarin saya merasa sangat-sangat galau dan menuliskan status #galau maupun #penggalauan di BBM saya dan secara otomatis merendahkan status BBM saya di titik nadir padahal sebelumnya saya menuliskan status yang cukup keren : ‘ngantuk tiada tara tapi mata dengan sekuat tenaga tak mau terpejam’.

Saat Menjelang Adzan

“Jangan menurunkan standar. Pokoknya kita harus menikah dengan seseorang yang tarbiyah!” Begitu mungkin sekelumit percakapan saya dengan teman-teman akhwat saat sedang ngumpul di sekret. Paling tidak kira-kira begitulah redaksinya. Kebiasaan kalo lagi tidak ada kerjaan, biasanya sih pas lagi nunggu adzan sholat. Banyak hal yang kami bahas dan entah mengapa topiknya selalu saja menyentuh masalah yang satu ini : pernikahan. Ntahlah. Mungki bagi kami, pernikahan adalah sebuah sisi kehidupan yang masih sangat misterius, sering membuat kami penasaran, seolah-olah dia berada di dimensi lain dan tak terjangkau oleh kami. Mungkin kami sama penasarannya dengan para ilmuwan yang ingin tahu kemana semua benda dan bahkan cahaya yang dihisap oleh blackhole.

Syair itu adalah ini....

Tadi pagi aku iseng buka lagi grup FB Kapten Anumerta Pierre Tendean. Dan tanpa sengaja mataku menangkap sebuah lirik lagu yang dituliskan seorang anggota grup di wall yang entah kenapa membuatku berseru dalam hati : Hey! Dia menyebut mata lembut yang selalu aku sebutkan untuk setiap karakter cowok dalam cerpen-cerpenku. Mata lembut yang membuat dada setiap cewek tersentak melihatnya. Err..tidak juga. Di cerpen-cerpenku aku menulis mata yang ‘teduh’ bukan ‘lembut’. Tapi, who cares ? Menurutku kurang lebih artinya sama. Syair lagu itu adalah Nyanyian Kasmaran milik Om Ebiet G. Ade

Santri-santriku

Seorang gadis cantik berusia lima tahun Rambutnya berombak sebahu Pipinya tembam, bibirnya mungil Kalau dia tertawa, giginya yg mungil seputih susu berderetan kelihatan Bola matanya amat hitam Sepekat malam yang paling hitam Kulitnya amat putih, Seputih susu Karena itu kuberi dia nama Haura Haura at-thahirah