Posts

Showing posts with the label Puisi

Untuk Yang Memutuskan Kalah

Untuk yang memutuskan kalah, Terima kasih Untuk pengajaran yang berharga Bahwa bertahan bukan jawaban Pun pergi bukan tujuan Untuk kamu yang kalah, Jangan berlari mengejar musim Atau melambat mengekor angin Pikirlah dan ingat-ingatlah Ada satu hati yang koyak Yang kau tinggalkan di antara jarak Mungkin dia yang menahan kakimu bergerak Kamu yang akhirnya kalah, Puaskah menebas ombak, Melarung kenang, Melucuti tawa Kamu yang memilih kalah, Sekali lagi terima kasih Tanpa ada cerita semua terasa retih Mungkin kemenangan itu memang tidak pernah ada Sejak semula Sejak bermula Hanya sebuah cerita basa basi 12.07 AM

Kamu?

Aku suka senja, kamu? Ketika orang-orang melerai lelah Setelah diburu jenuh Menghembus nafas lega Sehari lagi telah tamat Aku suka senja, kamu? Mencicipi sepotong Semburat jingga di pelupuk langit Dan seteguk wajahmu Serta menyesap pandangmu dari dua bola mata, yang hitam, yang pekat Aku suka senja, kamu? Untuk terus mengagumi Penghujung hari yang penuh kasih Menyelimuti diri Dengan aroma asiri Aku tidak pernah tidak menyukai senja, kamu? Membenam risau Melarung cemas Melontar sesak Aku suka kamu, kamu? 11.20 PM

Kepada Hati

Image
Saya tidak tau bagaimana kamu bisa belajar sekuat dan setegar itu Sedang raga sepertinya tak mampu menahannya Hati, luka itu sangat besar kan? Tidak mengapa jika kamu ingin menangis karena rasanya sakit. Sungguh tidak mengapa. Tapi tak setetes pun kamu menangis, tak sedikit pun kamu mengeluh. Hati, mari sini, saya akan membantumu membalut luka itu Maaf, mungkin saya tidak bisa membalut lukamu selembut yang dia lakukan dulu Bukankah dia penyebab luka itu dan kini dia pergi?

Kepada Tuan Selamat Pagi

Image
Hal yang paling saya sukai dari pagi hari adalah mendengar kamu mengucapkan selamat pagi kepada saya. Kemudian kamu akan bertanya bagaimana hari saya kemarin. Dan saya akan menjawab, baik. Hari saya kemarin baik-baik saja. Tapi tanpa kamu, rasanya tidak akan ada hal yang luar biasa yang bisa terjadi. Kamu tertawa dari seberang sana. Meski hanya dari suara tertawamu, saya bisa melihat dagumu yang tertarik ke bawah, atau matamu yang menyipit saat tertawa. Saya bahkan bisa menghidu aroma mint dari pasta gigi yang sering kamu pakai.

Kamu tau kan, kota penuh sesak itu tidak mengijinkan kita bersama?

Image
Bukankah kamu meninggalkan saya dulu ketika kita berjumpa di kota penuh sesak itu? Melihat kamu berdiri diam saja di sana, di antara hiruk pikuk bandara di pagi hari, saya tau itulah saatnya kamu harus meninggalkan saya. Saya ingin bilang, tidak bisakah kamu melupakan saja kota itu? Ah, tapi apalah hak saya melarang kamu? Saya hanya bisa tersenyum dan menyemangatimu. Saya ikut senang kamu kembali ke tempat dimana kamu seharusnya berada.

Hujan Dan Kota Kamu Dan Kota Saya

Image
miraclekidx.blogspot.com Hujan, dimanapun selalu sama selalu menawarkan potongan-potongan puzzle yang tertinggal Dengarlah bunyinya ketika membelai bumi...terdengar tidak asing bukan? Seperti suara di masa silam. Suara tawa dan tangis, suara marah dan bahagia.

Untuk Kamu (Yang Entah Siapa)

Image
Saya berdoa Ya, tentu saja saya berdoa Agar doa itu menjadi benang merah yg menautkan saya dan kamu... Kita Pada pertemuan ke berapa saya dan kamu akan sama-sama menyadari, Kalau salah satu dari kita adalah penyebab mengapa salah satu yang lainnya ada Pertemuan pertama? Kedua? Ketiga? Atau saya dan kamu malah tak akan pernah menyadarinya hingga semesta menjadi sebal dan merasa perlu membantu saya dan kamu untuk saling menemukan Ah...maksud saya kita

Rumah

Image
Ketika kita tertawa untuk hal yang sama dan menangis untuk hal yang sama, itu adalah rumah bagiku Ketika kita nonton sepak bola bersama, meski mendukung tim yang berbeda, saling memanas-manasi, saling membanggakan tim yang didukung, itu adalah rumah bagiku

Akan

Image
Aku menyukaimu sebanyak aku menyukai kampung halamanku. Sebanyak aku menyukai butir hujan yang jatuh ke atas tanah Sebanyak aku menyukai bintang yang bertaburan bagai pasir di langit Akan... Aku tak berani membayangkan seperti apa sosokmu kelak ketika bertemu denganku Tapi sedikit banyak aku berharap, Kau pria hebat yang pendiam dengan senyum yang tersembunyi di balik wajah dingin dan kaku Aku menyukai kecerdasan dan aku akan menyukai kehidupanmu bahkan meski itu berarti aku harus menyukai hidupmu yang serba teratur penuh protokol

Tak Ada Satu Tanpa Dua

Image
Allah tak pernah menciptakan satu tanpa dua Seperti menciptakan kamu tanpa aku Atau menciptakan hatiku tanpa mencintai kamu Ada begitu banyak alasan Seratus, seribu bahkan sejuta Bahwa bukan kita, tapi tetap saja aku dan kamu Tapi aku punya satu alasan Satu saja Untuk mengubah aku dan kamu menjadi kita Agar aku bisa melihat senyuman polos itu Atau wajah lugu yang lucu itu Atau...? Ternyata banyak juga ya alasanku :p

Indah Itu...

Image
Indah itu ketika kau tertawa karena leluconmu sendiri Sementara aku tidak Atau saat kau marah-marah, sementara aku tertawa Karena gaya marahmu sangat lucu Kita memang penuh dengan paradoks ya? Apa karena itu kita akhirnya hanya bisa jadi sahabat? Maksudku, sahabat sehidup semati, sahabat dari pagi sampai pagi lagi

Maaf Aku Terlambat

Maaf aku terlambat Ketika kemuning itu telah menjadi gulita Aku tahu kau masih akan berdiri di sana Memunggungi masa lalu, Dan membiarkannya tersapu bersama debu di jalanan Jika memang aku punya kesempatan itu Hanya satu hal yg menggelayut di puncakku Adakah rasa itu masih sama? Adakah rasa itu masih kau simpan dgn baik? Adakah kau merawatnya? Karena aku pun begitu, selalu begitu

Santri-santriku

Seorang gadis cantik berusia lima tahun Rambutnya berombak sebahu Pipinya tembam, bibirnya mungil Kalau dia tertawa, giginya yg mungil seputih susu berderetan kelihatan Bola matanya amat hitam Sepekat malam yang paling hitam Kulitnya amat putih, Seputih susu Karena itu kuberi dia nama Haura Haura at-thahirah