Posts

Showing posts with the label Pierre Tendean

Army's Spouse Part II (Separated By Duty, United In Love)

Image
Kalo dibilang niat ya memang niat bener sampai saya bela-belain buat bagian keduanya. Lantas kenapa? Apa manfaatnya? Apa pentingnya mengeksplorasi kehidupan para istri-istri prajurit ini? Because their husbands serve our country! #eaaa Jawaban khas garis besar haluan negara ini mah Begini, kadang kalau lagi nonton berita terus ada berita luar negeri, di negara-negara konflik yang ada peace keeping force- nya, saya selalu mikir. Apa sih yang membuat mereka begitu ringan saja meninggalkan istri dan keluarga mereka di tanah air hanya untuk menjaga keselamatan bangsa lain? Manusiawi tentu saja kalau kita akan lebih mengkhawatirkan keadaan keluarga kita sendiri bukan? Tapi mereka berjalan dengan kepala tegak menuju belahan dunia lain dan mungkin tidak akan kembali lagi *backsound Dear John-nya Taylof Swift*

Army's Spouse

Image
Semalam saya baca-baca artikel suka duka jadi istri tentara (jangan tanya kenapa saya baca artikel-artikel itu) dan menemukan lebih banyak dukanya daripada sukanya. Duh... Ternyata jadi istri tentara itu harus ikut aturan dari kantor sang suami. Hii...menakutken. Potongan rambut diatur, tidak boleh menginap di luar asrama lama-lama – di rumah orang tua sendiri sekalipun, di absen tiap pagi, belum lagi dengan kegiatan ibu-ibu Persit yang tentu saja memerlukan perhatian. Apalagi kalau ditinggal suami yang pergi bertugas atau sekolah lagi. Sengsaranyo... Dan dengar-dengar Ibu-ibu Persit harus bisa main volli #eaaa Ada Ibu Persit yang curhat, selama 16 tahun pernikahan mereka, hanya 6 tahun dia merasakan kebersamaan dengan suaminya. Duh…ternyata kalau mau jadi istri tentara memang harus kuat mental persis suaminya yah? Apa tidak bisa gitu si istri ikut kemanapun suaminya bertugas? Malah ada yang cerita baru 4 bulan menikah suaminya sudah harus bertugas ke daerah lain. Pa...

Pierre Tendean (Lagi-lagi)

Image
Pierre Tendean Lagi... cerita tentangnya tak akan pernah habis, selalu. Iseng-iseng mencari tweet-tweet tentang Kapten dan nemu sebuah akun yang lagi membahas tentang beliau. Sebenarnya tweetnya itu sudah lama, bulan Oktober tahun lalu. Tapi kebetulan sekali hari ini tweet tentang Pierre dilanjutkan lagi. Ini nih akun twitternya @abiebesman  

Saya dan Tahun 60-an

Image
Ada semacam rasa suka yang tak terkatakan antara saya dan masa itu. Secara kebetulan (meski saya tidak percaya dengan yang namanya kebetulan, tapi untuk saat ini saya menyebutnya kebetulan saja) saya menyukai tokoh-tokoh tahun 60-an mulai dari John Lennon (1940-1980), Pierre Tendean (1939-1965) dan Soe Hok Gie (1942-1969). Saya menyukai masa-masa itu meski saya tahu kondisi di Indonesia belum stabil dan tahun 60-an sama sekali tidak dapat dipisahkan dengan PKI. Di jaman yang serba modern, mudah dan praktis seperti sekarang ini, saya malah merasa tidak nyaman meski saya sendiri memanfaatkan semua kemudahan itu. Tapi ya, saya lebih suka jaman dulu ketika orang masih saling berkirim surat untuk berkomunikasi. Ada sisi romantis di dalamnya. Maksud saya, menulis surat itu tidak semudah mengirim email, chatting atau wall di facebook. Untuk menulis surat kita perlu membeli kertas, pena dan amplop. Kemudian menulis isi surat dengan tangan sampai pegal. Setelah surat selesai, kita mas...

(Masih) Tentang Pierre Tendean (lagi) - Sebuah Cita-cita-Kosong-Setengah-Mati-Saya

Image
Jika platonic love -nya Gie adalah Rina, maka Pierre Tendean adalah cita-cita-kosong-setengah-mati saya :D Saya menyukai dia secara pribadi dan prinsip hidupnya, sama dengan Gie. Pierre sudah berencana untuk kembali bertugas di garis depan daripada menjadi seorang ajudan yang hanya duduk di belakang meja. Dia punya jiwa kepahlawanan tapi bukan pahlawan-pahlawan seperti di Tutur Tinular dan Pendekar Pemanah Rajawali ya! (khusus untuk teman-teman saya yang suka nonton dua acara TV itu). Ini dia beberapa fakta kecil tentang Kapten :)

Kolektor mimpi untuk resolusi 2012

Setiap orang pasti punya banyak mimpi-mimpi. Dan hanya orang hebatlah yang berani untuk mewujudkan mimpi-mimpinya itu. Sayangnya saya belum termasuk saah satu dari orang-orang hebat itu :)   Punya segudang mimpi yang sangat ingin saya wujudkan sebelum saya meninggal nanti. Melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain sekaligus menyenangkan untuk saya sendiri. Mimpi yang masih terus mengisi bagian-bagian terindah dalam imajinasi saya dan masih tetap menari-nari dengan bersemangat agar suatu saat saya akan mewujudkannya. Menjadi seorang guru relawan di pedalaman. Mimpi ini telah lama terbentuk secara kontinu di alam bawah sadar saya sejak saya masih bocah dulu. Sejak saya diberi ‘mainan’ berupa buku-buku bacaan dari perpustakaan sekolah tempat mama saya mengajar. Saya mulai menelan kisah-kisah bertemakan keadaan pendidikan di kampung-kampung terpencil dan perjuangan anak-anak kecil seusia saya – kala itu – dalam mencapai cita-cita mereka. Sejak saat itu entah kenapa saya s...

Third Step : Kota Pahlawan, Kota Kembang, Ibu Kota

Image
Akhirnyaaa…. Setelah berjuang selama 18 hari di diklat Pengelolaan Gadai Syariah di Surabaya dan deg-degan menunggu ijin cuti yang belum keluar, saya dapat bernafas lega. Rencana perjalanan Suarayaba – Bandung – Jakarta terlaksana juga. Dan untuk pertama kalinya saya akan naik kereta api! Yay! *ndeso Selesai penutupan diklat, saya dan dua orang teman berangkat ke stasiun Gubeng dengan taksi. Kalau dilihat sih suasana stasiun KA itu standar saja. Banyak porter lalu lalang, petugas keamanan, calon penumpang…tapi setidaknya tidak ada desak-desakan seperti yang sering saya lihat di berita di TV-TV. Mungkin karena arus balik hari raya idul adha telah selesai. Dengan menyeret koper besar dan bawaan seabrek, plus dua buah dus yang dibantu dibawakan sama Mas Arif (terima kasih Mas Arif, udah mau jadi porter untuk saya dan Ibu Ida :p) kami bertiga menunggu kereta di ruang tunggu sambil melihat pengamen elit di dalam stasiun. Kenapa saya bilang pengamen elit? Karena para pengamen itu mengg...