Posts

Jika Kau Tidak Melihat Ke Belakang, Kau Tidak Akan Tahu Apa Yang Tertinggal

Itu kalimat yang aku temukan di buku harian tua milikku.Masa-masa saat aku masih jadi abege labil, SMP-SMA. Kebetulan kemarin aku baru pindahan kamar, kamarku yang baru sudah selesai. Warnanya biru – sesuai keinginanku, dan lebih luas dari kamar-kamarku sebelumnya. Ada kamar mandi sendiri lagi, jadi tidak perlu rebutan kamar mandi dengan adik-adikku yang cerewet minta ampun kalau aku mandi sedikit lebih lama dari mereka. Saat pindahan itulah, aku membongkar-bongkar lemari tempat aku menyimpan semua buku-buku milikku jaman aku SMP-SMA. Di dalam sana masih ada beberapa buah buku harian, buku cetak, buku tulis sekolah, soal-soal ujian, foto kopian materi, semuanya masih aku simpan meskipun tidak dengan rapi. Aku memang punya kebiasaan menyimpan kertas-kertas apapun itu selama masih berhubungan dengan sekolahku. Aku merasa tidak nyaman harus membuangnya. Aku rasa pasti suatu saat aku akan membutuhkannya lagi, karena di sanalah ilmu pengetahuan yang aku dapatkan di sekolah ku ‘ikat’. Sepe...

Antara Pierre Tendean dan Hiruk Pikuk Jalanan Di Depan Kantor

Image
Kamis, 21 Oktober 2010 Di dalam kantor UPC Hasanuddin pukul 09.43, disertai suara hiruk pikuk jalanan depan kantor Kalau diingat-ingat, aku sudah lupa kapan terakhir kali aku mengisi blog ini. Benar-benar seorang penulis yang parah, jika kehilagan ide dan mood maka aku akan berhenti menulis sampai berbulan-bulan lamanya. Dan itu yang aku rasakan tahun kemarin, hanya ada beberapa cerpen yang berhasil aku tulis, itu pun cerita yang lumayan payah untuk dibaca orang lain. Jadi, let’s start with something new...

Pasir part II

Nauva langsung duduk dan menunduk, persis di hadapannya telah duduk sejak tadi Alif, yang sebenarnya sedikit tak percaya Nauva kini telah ada di hadapannya. “Aku tak pernah berpikir kita harus bertemu lagi” ujar Nauva pelan, nyaris tak terdengar kalau saja pantai sore itu ramai. Dia masih menunduk, memainkan dua buah sepatu birunya di pasir pantai. “Well, sama sepertiku. Aku tak berniat menunggumu di sini sejak tadi. Tapi kau tiba-tiba telah ada di hadapanku. Kita bahkan tidak janjian bukan? Apa yang membuat kita berdua ada di sini di waktu yang sama?” Nauva menggeleng, mencoba mengangkat sedikit wajahnya dan melihat dahi Alif yang berkerut seperti biasa. Seperti biasanya saat sepuluh tahun yang lalu. “Aku juga tak tahu. Aku hanya ingin kembali duduk di sini. Tak tahu kalau kau ada” Alif tersenyum, memperbaiki posisi duduknya, dan menyapu pasir yang melekat di celananya. Tubuhnya membungkuk, dia mengatupkan kedua tangannya sambil menatap sepatu Nauva. “Kau masih suka dengan warna bi...

Santri-santriku

Seorang gadis cantik berusia lima tahun Rambutnya berombak sebahu Pipinya tembam, bibirnya mungil Kalau dia tertawa, giginya yg mungil seputih susu berderetan kelihatan Bola matanya amat hitam Sepekat malam yang paling hitam Kulitnya amat putih, Seputih susu Karena itu kuberi dia nama Haura Haura at-thahirah

Situs jejaring sosial (baca : Facebook)

Tidak. Saya tidak akan membahas facebook dari pandangan ulama, artis, mahasiswa atau dari para wanita karier. Saya akan membahasnya melalui sudut pandang saya dengan gaya bahasa saya sendiri. Pertama mengenal facebook, saya diundang -istilah kerennya diinvite- oleh salah seorang teman kuliah saya. Karena saat itu saya sedang mengalami yang namanya syndrominternetansampepuaspadapemakaianawal saya pun mendaftar di situs jejaring sosial itu. Meskipun pada saat itu saya masih asyik ber-friendster ria. Pada pengisian data, saya merasa si FB terlalu banyak bertanya dan terlalu banyak ingin tahu mengenai saya (dikarenakan FB juga menanyakan pandangan politik saya, alamat rumah sampai nomor telepon). Tapi saya mengisi data saya seadanya saja. Masih sama sekali belum tertarik ber-FB ria. Sampai beberapa bulan kemudian saya masih asyik menulis di bulletin boardnya Friendster, tiba-tiba FB menjadi sangat "merakyat". Saya yang juga memiliki jiwa ke-merakyat-an akhirnya mau tidak mau i...

Untuk seseorang yang belum saya kenal

Bismillahirrahmanirrahim Mungkin terlalu dini saya menulis semua hal ini Karena kamu sama sekali belum saya kenal Baik nama, rupa, maupun sifatmu Tapi saya selalu percaya pada janji ALLAH. Sang Maha Penepat Janji :) Saya yakin, Kau bukan orang yang sibuk menghabiskan waktumu dengan sia-sia Bukan orang yang senang duduk berkumpul di pub atau diskotik Tapi kau sibuk dengan menuntut ilmu agama, majelis-majelis ilmu, dan meniti jalan dakwah

Pasir

PASIR Nakhwah berlari-lari kecil sepanjang pantai itu. Tapi tak lama kemudian langkahnya menjadi lebar dan cepat. Dia berlari sekencang-kencangnya. Tak peduli pada angin yg menerpa seluruh tubuhnya. Pada angin yang mengibarkan jilbab birunya. Pada angin yang menghempas di rok panjangnya. Dia juga tak peduli pada ombak yang menghantam kakinya, pada pasir yang menyelimuti tubuhnya, pada air laut yang mulai membasahi sebagian wajahnya. Nakhwah jatuh tersungkur, sebongkah karang menahan lajunya. Sakit. Amat sakit. Pasir itu seketika menjadi merah oleh darah yg mengalir dari kakinya. Tubuhnya kini telah sempurna dibalut pasir. Ombak kembali menghantam tubuh yang terjatuh itu. Yang tak punya daya lagi untuk bangkit. Yang tak punya kuasa lagi untuk berdiri. Tubuh Nakhwah ditutup ombak.