Posts

Country Road

“Sudah tiga tahun, Tu. Sudah saatnya aku melepaskan dia” ucap Sarah sambil tertunduk, menyembunyikan sinar matanya dari pandangan Restu yang tengah berdiri di depannya. Dia tak ingin laki-laki itu melihat sesungguhnya berat bagi Sarah untuk mengatakan hal itu. “Sudah tiga tahun…” “Tiga tahun? Jadi waktu kau jadikan alasan untuk melupakannya dan membiarkan dia pergi begitu saja? Hanya karena sudah tiga tahun?” “Kau tak mengerti kekuatan waktu. Kau tak mengerti bahwa tak ada hal di dunia ini yang dapat membantuku untuk benar-benar melupakannya kecuali waktu. Kau pikir tiga tahun itu waktu yang singkat? Kau pikir mudah bagiku ketika pada akhirnya aku harus mengakui di dalam hatiku kalau aku jatuh cinta pada orang lain? Dan orang lain itu adalah kau?”

Saat Menjelang Adzan

“Jangan menurunkan standar. Pokoknya kita harus menikah dengan seseorang yang tarbiyah!” Begitu mungkin sekelumit percakapan saya dengan teman-teman akhwat saat sedang ngumpul di sekret. Paling tidak kira-kira begitulah redaksinya. Kebiasaan kalo lagi tidak ada kerjaan, biasanya sih pas lagi nunggu adzan sholat. Banyak hal yang kami bahas dan entah mengapa topiknya selalu saja menyentuh masalah yang satu ini : pernikahan. Ntahlah. Mungki bagi kami, pernikahan adalah sebuah sisi kehidupan yang masih sangat misterius, sering membuat kami penasaran, seolah-olah dia berada di dimensi lain dan tak terjangkau oleh kami. Mungkin kami sama penasarannya dengan para ilmuwan yang ingin tahu kemana semua benda dan bahkan cahaya yang dihisap oleh blackhole.

First Step : Bali

Image
Dari jaman masih SD dulu saya punya semacam obsesi tersendiri dengan Bali. Tidak tau kenapa. Mungkin karena waktu kecil suka dengan lagu Denpasarmoon-nya Maribeth atau sering nonton di TVRI tentang keindahan Bali, saya jadi punya semacam tekad harus liburan ke sana lebih dulu suatu saat baru kemudian saya akan berpetualang ke tempat-tempat indah lainnya. Dan bulan Mei kemarin saya benar-benar datang ke sana :p Setelah sempat tertunda berkali-kali, saya dan seorang teman saya akhirnya sepakat akan berangkat ke Bali tahun ini meski hanya berdua saja. Padahal awalnya kami merencanakannya berlima tapi karena kesibukan kami masing-masing, hanya kami berdua yang bisa pergi. Saya dan Ramla – teman saya itu berjanji ketemu di Manado dan berangkat sama-sama dengan Lion Air ke Denpasar.

An Answer

Aku tak suka dia memunggungiku dan bersikap seolah-olah aku ini tidak ada. “Naz, aku pergi” kataku pelan, sangat pelan malah, aku sengaja sehingga dia tak perlu mendengar kata perpisahan dari mulutku. Tapi nyatanya kulihat dia mengangkat punggungnya – mengiyakan – tanpa sedikitpun membalikkan pandangannya kepadaku. Aku tahu Inaz tak benar-benar sedang menonton siaran berita di TV yang ada di depannya. Aku tahu dia hanya memandang kosong para narasumber yang sibuk komat-kamit mengomentari keadaan negara tanpa sedikitpun mengerti apa yang mereka katakan. Setidaknya, dua tahun menjadi istrinya telah membuatku paling tidak mengenal kebiasaannya. Aku menelan ludah, mengusap sedikit mataku yang entah kenapa tiba-tiba berair. Ah, aku tak suka perpisahan sekalipun aku sendiri yang menginginkan perpisahan ini. Selalu ada air mata di sana, memaksaku mengangkat wajahku ke langit-langit rumah agar air mataku tak segera mengalir ke wajahku. Langit-langit rumah kami – dulunya. Inaz mengenc...

Cangkir kopi dan Mangkuk Gula

Image
Kau tahu Arya? Seberapa kerasnya pun aku mencoba melupakanmu Semua cerita tentangmu tak pernah bisa habis... Bandara Soekarno Hatta, Pagi yang mendung di bulan Nopember, pukul 7 lewat 30 menit. Seperti biasa, bandara Seokarno Hatta selalu ramai entah di jam berapapun. Papan pengumuman digital tak henti-hentinya memberikan informasi penerbangan, manusia dari berbagai daerah dan negara bercampur baur, lalu lalang dengan barang bawaan masing-masing. Ada sekelompok turis wanita dengan tas ransel besar-besar lewat di depanku, salah satu dari mereka tersenyum yang kubalas dengan senyum juga. Mereka adalah backpacker , berjalan-jalan dari satu negara ke negara lain hanya dengan modal keberanian, melihat dunia hanya dengan modal mimpi-mimpi. Setelah para gadis-gadis pirang itu berlalu, aku melanjutkan jalanku menuju loket check-in.

Menikah, Pilihan Atau Keharusan?

Menikah, sebuah pilihan atau keharusan? Apa yang diharapkan setiap wanita selepas sekolah? Rata-rata jawaban mereka adalah bekerja. Kenapa bekerja? Agar bisa segera menikah. Ya,menikah! Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran setiap gadis mengapa mereka begitu berkeinginan untuk menikah. Seolah-olah menikah adalah satu-satunya tujuan hidup mereka. Tidak adakah seorang wanita yang berpikir bagaimana jika nantinya pernikahan mereka bermasalah? Bagaimana jika ternyata mereka tak sepaham dengan suami-suami mereka kelak? Bagaimana jika ternyata pernikahan itu membelenggu mereka? Apakah mereka harus bercerai? Atau diam saja dengan ketidak sepahaman yang mereka alami? Harus bagaimana? Mereka tak punya alasan yang cukup kuat untuk mengajukan cerai tanpa dikatakan sebagai wanita durhaka. Tidak ada orang ketiga, suami mereka berlaku baik pada mereka, tapi mereka terpenjara oleh pola pikir suami mereka yang mungkin terlalu monoton, membosankan, tidak ada inovasi dan lain sebaga...

Matryoshka (Bag. 2)

Moskow, penghujung musim dingin Aku menangis. Seharusnya aku menangis. Tapi tidak di hadapan ‘wanita penting’ yang kini berdiri di depanku. Aku yang mengundangnya kemari, di depan Kathedral st. Basil. Sudah saatnya aku mengalah dan membuang sifat egoisku. Mrs. Petrovsky memang benar, jangan menghancurkan kebahagiaan wanita lain seperti sahabatnya sendiri yang menghancurkan kebahagiaannya. Tapi keputusanku ini bukan karena kisah Mrs. Petrovsky, bukan juga karena aku merasa bersalah atau karena aku tak ingin mengkhianati wanita yang belum sepenuhnya aku kenal ini. Juga bukan karena aku tak membutuhkan Pak Tegar lagi, karena ternyata saat aku mengambil keputusan ini justru rasa butuh itu semakin besar dan nyaris membuatku mengurungkan niatku untuk menyelesaikan semuanya sebelum aku kembali ke Indonesia. Semua itu lebih karena aku menyerah, aku putus asa. Aku tak punya energi lagi untuk mempertahankannya, aku lelah dan ingin berhenti saja.