Posts

Saya Suka...

Saya suka Bau tanah saat hujan rapat-rapat menyentuhnya Dan tangan-tangan mungil yang menadah rahmah dari Tuhan itu Saya suka Mengintip butiran pasir bintang yang berserakan Sambil sok membaca rasi Mengeja peta langit Dan menggambarkan kita disana Saya suka Pasir pantai yang berserakan di kaki Duduk di ujung buih memandang matari Di depan hamparan kaca biru berkilauan Kita saja – sebuah manifestasi seluruh sisa hidup kita

Tentang Inuyasha

Image
Inuyasha adalah anime favorit saya dari jaman Esempe (iyalah. Secara dia muncul ke permukaan tipi pas saya masih Esempe) padahal awalnya saya tidak doyan anime kelahi-kelahi seperti itu. Dulunya cuma suka anime sebangsa Sailor Moon (dengan kekuatan bulan, aku akan menghukum mu! *pakai gaya Ami, sailor Merkurius), Card captor Sakura...pokoknya anime yang tokoh utamanya itu imut-imut cantik seperti saya *kabur duluan sebelum dilempar. Tumben tidak bertengkar :p Eh, tidak tau kesamber ape, saya tiba-tiba suka mantengin Inuyasha di Indosiar. Mungkin karena ada Miroku dan Sesshomaru (maksudnya karena gambar mereka berdua bagus :p), atau karena ceritanya seru (pingin cekek Inuyasha yang masing ngarep sama Kikyo di depan-depan Kagome. Dan pingin cubit-cubit Miroku dan Sango yang gengsian minta ampun), atau mungkin juga karena soundtrack-nya keren-keren. Ada lagunya BoA, Ayumi Hamasaki, Do As Infinity, de el el.

A Thousand Years

Image
Tadi tidak sengaja nonton Inbox di TV. Serius, tidak sengaja! Saya tidak bisa melawan kehendak teman-teman kantor lain yang lebih senang nonton Inbox atau Dahsyat dibanding nonton acara berita. Kalau saya yang menguasai remote TV sih pasti langsung saya ganti ke channel berita. Tapi begitu mata saya tidak mengawasi, maka bisa dipastikan channel-nya akan berganti tanpa sepengetahuan saya. Dan tadi pagi tidak sengaja saya nonton Inbox pas Gading nembak Gisella (bah, bahasa apa ini? Nembak? Memangnya Inbox itu lapangan tembak apa?).

Tentu Saja Tidak

Image
Dia tertawa – maksudku betul-betul tertawa. Aku tersenyum kecut di sampingnya. Agak jauh, tidak begitu tepat jika dikatakan sedang duduk di sampingnya. Tapi biarlah, aku suka terdengar dekat dengannya. Duduk di sampingnya. Hmm…merdu sekali terdengar di telingaku. “Jadi ternyata aku menyukaimu dan kau juga menyukai aku?” dia mengulang pertanyaan yang sama. Seharusnya tidak perlu. Keberadaan kami berdua saat ini adalah seluruh kesimpulan dari semua hal itu. Dan sekarang dia yang selalu pendiam tiba-tiba berubah menjadi sangat cerewet. Aku menelan ludah. Pahit rasanya. “Aneh ya” katanya lagi “kita tidak pernah benar-benar tau selama….hmm…10 bulan mungkin kalau ternyata kita punya rasa yang sama. Aneh saja karena setiap hari kita bertemu dan kita hanya bersikap biasa-biasa saja. Tidak ada rona merah di wajahmu atau aku yang salah tingkah di depanmu. Aku bahkan tak akan percaya jika kita tidak berada di sini saat ini. Tuhan memang selalu punya cara tak tertebak untuk menunjukka...

Seperti SpongeBob dan Patrick

Image
Persahabatan tidak dimulai seperti hujan yang membutuhkan awan Atau seperti Isaac Newton yang membutuhkan sebutir apel Pun tidak seperti Adam Smith dengan teori ekonomi klasiknya dan Keynes dengan teori ekonomi moneternya Persahabatan itu lebih seperti SpongeBob dan Patrick Yang sesungguhnya mereka berdua bahkan tidak paham mengapa ingin selalu bersama Persahabatan itu bukan simbiosis mutualisme, apalagi simbiosis parasitisme Persahabatan itu seperti Rasulullah dan Abu Bakar Atau seperti Salman Al Farisi dan Abu Darda bersahabat karena iman kepada Allah

Ini Hanya Masalah Selera Kok

Image
Tiap orang punya selera masing-masing (hal yang telah saya ulang-ulang di setiap tulisan dalam blog saya), termasuk selera dalam memilih pasangan. Standarnya sih sudah ada, dari hadits Nabi yang memerintahkan kita untuk mencari pasangan karena agama dan akhlaknya. Tapi aplikasinya kan bisa saja beda-beda. Termasuk…ya…masalah menentukan kriteria pasangan itu. Saya termasuk orang yang tidak terlalu kaku dalam menentukan kriteria. Maksudnya tidak harus pintar lah, tidak harus keren lah, pokoknya tidak ada standar tertentu. Mau dia pendiam, serius, pelawak, pemarah, jutek, terserah dah. Yang penting dia itu memang jodoh saya. Selera saya termasuk relatif dan bisa saja bertolak belakang dengan orang lain. Meskipun begitu, ada nih sedikit tipe-tipe saya. Standar lah...Tapi sekali lagi, ini tidak mutlak.

Tentang Cinta Yang Diam & Menunggu

Image
Sesungguhnya sekeras apapun kita berusaha untuk menjaga hati kita, kadang kita tak menyangka ada celah yang terbuka dan membiarkan rasa itu menyelinap ke dalam sana. Atau rasa itu sendiri yang berusaha kerasa menggerus hati kita semili demi semili sampai akhirnya dia berhasil membuat jalan untuk masuk ke dalam sana. Kita semua berada di luar kuasa untuk mencegahnya. Tak ada cinta sebelum pernikahan, meskipun saya sendiri tak tahu bagaimana kita bisa memutuskan untuk menikah jika cinta itu tidak ada di sana. Ah, baiklah. Mungkin cinta itu memang belum ada, tapi keinginan untuk mencinta itu telah ada, paling tidak dia telah menyapa saat nadzar terjadi atau saat ta’aruf dijalani. Keinginan untuk bersama dengannya telah ada, meski kita masih belum tahu, apa bisa kita mencintainya?