Posts

Catatan Akhir Seperempat Abad

Image
Rasanya baru kemarin label seperempat abad gaduh mengetuk di depan pintu. Sekarang dia sudah pergi, membawa hal-hal yang harus saya lepaskan, menitipkan hal-hal yang harus saya rawat dan memberikan sebuah hadiah termanis yang pernah saya terima : ketukan di depan pintu yang lain dari Tuan yang selalu datang tepat waktu.

Untittled

Image
Kami mungkin nanti akan selalu menyukai tempat yang sama untuk menyendiri, untuk paling tidak berpura-pura lupa bahwa hidup selalu punya masalah yang harus diselesaikan. Sementara saja, memberi jeda pada tumpukan memori di kepala agar berhenti bergerak. Tanpa sedikit pun berharap takdir akan mempertemukan kami lagi di tempat ini. Aku tau itu dia, bahkan tanpa melihatnya. Hanya dia orang yang mau datang ke tempat ini ketika matahari belum sepenuhnya terbit, masih dibalut kabut dan angin yang menghadirkan gigil. Aku merapatkan jaketku, melindungi dada yang tiba-tiba berdesir pelan. Sangat pelan, tapi entah kenapa itu adalah desiran yang paling aku rindukan.

Saya, Kamu, Kita

Image
Bagi sebagian orang waktu seakan terbang, Yang lainnya menganggap dia sedang berlari. Bagi saya, waktu menjadi sangat relatif. Kadang dia berjalan, kadang juga dia berlari.

Autumn

Image
Sepatu boot-ku menjejak setapak demi setapak jalanan yang telah diselimuti oleh dedaunan berwarna oranye kemerahan ini. Musim gugur ternyata tiba lebih awal daripada prediksi seluruh pembawa acara ramalan cuaca di televisi. Dan kali ini angin musim gugur jauh lebih mampu menghadirkan gigil daripada tahun-tahun sebelumnya. Sudah berapa tahun? Tanyaku dalam hati, tersenyum, kemudian senyum itu terasa sakit. Sudah berapa tahun aku mengenalnya? Apakah usia perkenalan kami jauh lebih tua daripada mantel yang aku kenakan? Mantel yang kubeli di hari pertama aku menginjakkan kaki di Tokyo. Sudah berapa tahun sejak aku tidak ingin beranjak dari sisinya sedikit pun?

Dua Puluh Delapan September

Image
Saya pikir saya tidak perlu lagi menjawab pertanyaan yang sama dari orang-orang yang berbeda. Saya salah ternyata. "So, what did you see from him?" Hmmm....so what kind of answers do you like to hear? Mungkin karena saya melihatnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Saya tidak sempat melihat 'ketampanan', 'pekerjaan', 'kecerdasan', yang saya lihat adalah 'penghormatan', 'penghargaan', dan 'penerimaan'. Beuh...jawabannya... :))) Tapi itu jawaban paling jujur yang bisa saya berikan. "Kenapa terlalu cepat?" Tidak ada yang terlalu cepat, hanya saja masa perkenalannya yang diselenggarakan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, tujuh belas Agustus sembilan belas empat lima, atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta. #eaaa Yah tidak mungkin lah saya harus jelaskan lagi di sini apa dan bagaimana konsep ta'aruf itu. Tentu saja singkat mengingat kami ba...

Lima Belas September

Image
Dulu saya selalu berpikir Setiap kali menemani teman saya memilih gaun Memilih undangan Sibuk menuliskan daftar nama tamu Memikirkan menu Kapan saya akan mengalami kesibukan seperti dia? Kapan saya akan memilih kartu undangan saya sendiri? Memerhatikan setiap detil dari gaun dan dekorasi? Mengingat-ingat semua teman dan sahabat yang saya ingin mereka hadir? Memasukkan makanan kesukaan saya di daftar menu?

Pulang

Image
Saya tau, suatu saat saya akan pulang Menetap dalam sebuah rumah yang akan saya sebut keluarga Saya tau, suatu saat saya harus pulang Berlindung di balik atap, bersembunyi di balik pintu Pada sebuah rumah yang akan menyebut saya keluarga Pulang Tidakkah saya sudah terlalu lama dan terlalu jauh bepergian? Saya baru menyadarinya, rumah saya berada di tempat dimana saya memulai semuanya Pulang, Saya nyaris melupakan kata itu Terlalu berlama-lama di tempat dimana saya tidak seharusnya berada