Posts

Showing posts from November, 2009

Pasir part II

Nauva langsung duduk dan menunduk, persis di hadapannya telah duduk sejak tadi Alif, yang sebenarnya sedikit tak percaya Nauva kini telah ada di hadapannya. “Aku tak pernah berpikir kita harus bertemu lagi” ujar Nauva pelan, nyaris tak terdengar kalau saja pantai sore itu ramai. Dia masih menunduk, memainkan dua buah sepatu birunya di pasir pantai.
“Well, sama sepertiku. Aku tak berniat menunggumu di sini sejak tadi. Tapi kau tiba-tiba telah ada di hadapanku. Kita bahkan tidak janjian bukan? Apa yang membuat kita berdua ada di sini di waktu yang sama?”
Nauva menggeleng, mencoba mengangkat sedikit wajahnya dan melihat dahi Alif yang berkerut seperti biasa. Seperti biasanya saat sepuluh tahun yang lalu. “Aku juga tak tahu. Aku hanya ingin kembali duduk di sini. Tak tahu kalau kau ada”
Alif tersenyum, memperbaiki posisi duduknya, dan menyapu pasir yang melekat di celananya. Tubuhnya membungkuk, dia mengatupkan kedua tangannya sambil menatap sepatu Nauva. “Kau masih suka dengan warna biru…

Santri-santriku

Seorang gadis cantik berusia lima tahun
Rambutnya berombak sebahu
Pipinya tembam, bibirnya mungil
Kalau dia tertawa, giginya yg mungil seputih susu berderetan kelihatan
Bola matanya amat hitam
Sepekat malam yang paling hitam
Kulitnya amat putih,
Seputih susu
Karena itu kuberi dia nama Haura
Haura at-thahirah

Situs jejaring sosial (baca : Facebook)

Tidak. Saya tidak akan membahas facebook dari pandangan ulama, artis, mahasiswa atau dari para wanita karier. Saya akan membahasnya melalui sudut pandang saya dengan gaya bahasa saya sendiri.
Pertama mengenal facebook, saya diundang -istilah kerennya diinvite- oleh salah seorang teman kuliah saya. Karena saat itu saya sedang mengalami yang namanya syndrominternetansampepuaspadapemakaianawal saya pun mendaftar di situs jejaring sosial itu. Meskipun pada saat itu saya masih asyik ber-friendster ria.
Pada pengisian data, saya merasa si FB terlalu banyak bertanya dan terlalu banyak ingin tahu mengenai saya (dikarenakan FB juga menanyakan pandangan politik saya, alamat rumah sampai nomor telepon). Tapi saya mengisi data saya seadanya saja. Masih sama sekali belum tertarik ber-FB ria.
Sampai beberapa bulan kemudian saya masih asyik menulis di bulletin boardnya Friendster, tiba-tiba FB menjadi sangat "merakyat". Saya yang juga memiliki jiwa ke-merakyat-an akhirnya mau tidak mau iku…