Pasir part II

Nauva langsung duduk dan menunduk, persis di hadapannya telah duduk sejak tadi Alif, yang sebenarnya sedikit tak percaya Nauva kini telah ada di hadapannya. “Aku tak pernah berpikir kita harus bertemu lagi” ujar Nauva pelan, nyaris tak terdengar kalau saja pantai sore itu ramai. Dia masih menunduk, memainkan dua buah sepatu birunya di pasir pantai.
“Well, sama sepertiku. Aku tak berniat menunggumu di sini sejak tadi. Tapi kau tiba-tiba telah ada di hadapanku. Kita bahkan tidak janjian bukan? Apa yang membuat kita berdua ada di sini di waktu yang sama?”
Nauva menggeleng, mencoba mengangkat sedikit wajahnya dan melihat dahi Alif yang berkerut seperti biasa. Seperti biasanya saat sepuluh tahun yang lalu. “Aku juga tak tahu. Aku hanya ingin kembali duduk di sini. Tak tahu kalau kau ada”
Alif tersenyum, memperbaiki posisi duduknya, dan menyapu pasir yang melekat di celananya. Tubuhnya membungkuk, dia mengatupkan kedua tangannya sambil menatap sepatu Nauva. “Kau masih suka dengan warna biru?” Tanya Alif sambil lalu.

Setelah itu mereka berdua diam, diam yang menyakitkan. Tak ada seorang pun yang berani mengangkat wajah dan mengeluarkan sebuah kalimat. Hening. Nauva merasa sedikit merinding dengan suasana seperti ini. Dia berusaha mencairkan perasaannya yang campur aduk itu dengan memandangi sisi lain pantai, menyaksikan beberapa anak kecil yang bermain pasir.
“Apa karena candaan sepuluh tahun lalu, kita berdua ada di sini?” Tanya Nauva dengan mata masih menerawang lebih kepada dirinya sendiri.
“Kita tahu candaan itu tak akan terjadi kan?” sela Alif. “Kita tahu sekali kalau kita berdua tak mungkin akan menikah kan?” tegas Alif. “Jadi untuk apa kita di sini hanya karena candaan kita sendiri?”
“’Jika sepuluh tahun lagi masing-masing dari kita belum ada yang menikah, mau tidak mau, suka tidak suka, bagaimana kalau kita menikah? Bukankah waktu sepuluh tahun telah cukup membuktikan kalau kita pada akhirnya tetap harus bersama?’ Itu kalimat yang kau ucapkan sepuluh tahun yang lalu saat kita tak jadi menikah” kata Nauva masih dengan intonasi suara yang rendah. “Padahal kita tahu kalau hal itu tak akan terjadi. Tidak akan ada kesempatan kedua untuk kita”
Alif tertawa “Kau bahkan masih ingat tiap kata dari kalimat yang aku ucapkan sepuluh tahun lalu sambil bercanda itu”.
“Aku bahkan sangat mengingat ekspresi wajahmu, Lif” sela Nauva “Dan anehnya sepuluh tahun terakhir ini kita masih sering ‘dipaksa’ mengais kembali hal-hal yang menyakitkan itu. Kenapa kau harus selalu kembali padaku setiap kali kau gagal? Kau tahu itu sia-sia kan? Dan kenapa aku harus selalu kembali padamu setiap kali aku gagal? Padahal aku tahu itu sia-sia kan? Apa yang membuat kita berdua begitu bodoh selama sepuluh tahun terakhir ini? Apa yang membuat kita berdua mau mengalami masa kelam yang sama secara berulang-ulang?”
Alif tak menjawab. Dia tahu mereka berdua telah tahu jawabannya. Alif memainkan jemarinya dan masih menatap sepatu Nauva. “Jadi, kapan kau akan menikah?”
“Minggu depan, Lif” jawab Nauva. Kemudian Nauva berdiri, membersihkan pasir di rok panjangnya dan berjalan menjauhi Alif.
“Va,” panggil Alif. Alif bangkit dari tempat duduknya dan berdiri mematung memandang Nauva yang berhenti berjalan setelah mendengar panggilan Alif. Jarak mereka lima belas meter. Sesaat mereka berdua hanya diam. Nauva menunggu Alif bersuara. Tapi Alif masih diam selama beberapa saat. Nauva membalikkan badannya hendak pergi. Kecewa. Alif tak sanggup mengatakan sesuatu.
“Apa jika kali ini kau gagal lagi, kau akan kembali padaku?” Tanya Alif pada akhirnya. Nauva kembali berbalik kemudian tersenyum, nyaris tertawa. Setelah itu dia menggeleng “tentu saja tidak. Aku tak mau menjadi orang bodoh seperti sepuluh tahun terakhir ini. Kau juga jangan sampai gagal lagi kali ini. Karena jika kau gagal, aku tak akan ada lagi untuk menjadi si-tempat-kembali-mu-yang-bodoh”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu tadi, mereka berdua saling melempar senyum. Setelah itu Nauva kembali melangkahkan kakinya meninggalkan pantai itu.
“Kau ada di sini karena candaan sepuluh tahun lalu itu kan, Va?” Tanya Alif setengah berteriak karena Nauva semakin jauh.
Nauva berhenti, tapi tak berbalik memandang Alif. Dia hanya mengangguk.

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)