Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon


It's been a long time since I posted something on my blog. Omoo....feels like I've transformed to
emak-emak who needs nine day a week and thirty five hour a day.

Sehingga untuk memperingati dua tahun pernikahan yang sudah lewat sebulan (hakhakhak) saya memutuskan sedikit meluangkan waktu untuk melakukan hal yang sangat saya sukai selain menyikat kamar mandi di malam hari, menulis.

Dua tahun, pernikahan kami baru seumur pohon jeruk nipis yang ditanam di depan rumah. Untuk ukuran rata-rata jangka waktu kredit kendaraan bisa dipastikan belum lunas, apalagi kalau mau kredit rumah. Tapi ada loh yang pacaran sampai tujuh tahun dan putus di pertigaan jalan. Nanggung amat yak. Nambah tiga tahun lagi bisa lunasin kredit rumah, dapat rumah minimalis cantik, tipe empat-lima lah, dicat warna broken white, kasih taman kecil di depan. Uwes....uwes....
Ta' gendong kemana-mana
Now it's all make sense...

Sekarang jadi masuk akal kenapa setelah jadi ibu-ibu banyak cewek-cewek yang tidak sempat perawatan (ih, emang situ sering perawatan?) karena jangankan perawatan, mau mandi dan makan saja harus ekstra kilat. Baru makan sesendok, Ayyub sudah teriak, bukan menangis, tapi berteriak, literally. Jadi sekarang, kecuali makan di kantor, saya lebih banyak menelan makanan alih-alih mengunyah makanan. Konstipasi, yes.

No... no...bukan karena riweuhnya jadi ibu makanya saya jadi ingin liburan, tapi saya benar-benar jenuh terkurung dalam kantor, dan kau-tau-apa, kadang jadi pekerja kantoran plus jadi ibu bisa bikin cewek-cewek rawan stres. Di rumah yang dipikirkan kantor, di kantor yang dipikirkan rumah. Err...lebih banyak mikir anak di rumah sih. Rasanya jadi ibu yang durhaka ninggalin anak main sendiri di rumah. Huks. Jadi ketika akhirnya saya bisa liburan, rasanya senang sekali ya Allah....mau sujud syukur pas tiket sudah masuk ke email saya. I'm officially a full time mother for a week. Yay!

Elo...elo. Akhirnya jadi pingin nulis lagi, kali ini pengalaman saya menjadi ibu-ibu yang (maunya) idealis. Jadi ibu-ibu yang mematuhi norma-norma mengurus bayi dengan benar sesuai buku pedoman Kesehatan Ibu Anak serta mendengarkan dengan saksama nasihat para konselor laktasi dan mengaplikasikannya dengan sepenuh hati pada Ayyub.

Pada akhirnya semua artikel, nasihat, pendapat, dan pedoman menjadi ibu-ibu yang sesuai GBHN akan buyar ketika dihadapkan pada kenyataan yang berbeda jauh dengan ekspektasi.

Awal lahiran, biasalah, namanya juga ibu-ibu newbie, semuanya ingin sempurna. Dari hamil semua sudah disiapkan dan diputuskan bagaimana nanti setelah melahirkan. Bersikeras tidak mau pakai diaper sekali pakai, dan mati-matian tidak mau kasih ASIP ke anak pakai dot. Tapi sayang, kenyataan tidak seindah tayangan tutorial memberi ASIP pada bayi di YouTube.


Jadi setelah melahirkan saya minta Ayyub di IMD yang akhirnya tidak dilakukan karena urusan jahit menjahit ternyata memakan waktu yang lumayan lama, di situ kekecewaan saya bermula. Semakin kecewa ketika bidannya menyuruh suami membelikan Ayyub sufor karena ASI saya belum keluar (disusui langsung ke saya pun belum. Gimana coba ceritanya ketahuan ASI saya sudah keluar atau belum? Huhhh...) padahal baru juga tiga jam Ayyub lahir. Lagian bayi baru lahir kan bisa bertahan sampai 72 jam tanpa ASI. Aakkkk....kalau ingat saat itu rasanya pingin ngamuk. Sayang saya tidak bisa gerak-gerak. Hiks...

Akhirnya saya tetap maksa, sambil dikasih sufor sambil saya coba menyusui daannn...tuh kan. Ayyub menyusu dengan semangat. Masa saya harus guling-guling dulu supaya anak saya jangan dikasih sufor? Idealisme saya hancur lebur di hari pertama jadi ibu.

Karena masih punya tekad jadi ibu-ibu idealis, saya tidak mau Ayyub pakai diaper meski tanpa alasan yang jelas. Takut ruam popok lah, takut kulitnya iritasi lah, padahal belum pernah dicoba. Meski saya kewalahan harus ganti celana Ayyub hampir tiap jam bahkan di malam hari, saya bergeming tidak akan memakaikan Ayyub diaper sampai paling tidak usianya tiga bulan. Awalnya masih oke, meskipun pernah Ayyub menghabiskan semua persediaan kain dan celananya dalam sehari sehingga ibu mertua dan ipar saya kewalahan mengeringkan celana dan kain yang masih basah dengan disetrika dan Ayyub terpaksa memakai gurita sebagai ganti celananya (aibmu ini nak. ROTFL).

Sampai kemudian semua berubah sejak...ada yang kasih Ayyub hadiah diaper. Awal-awalnya masih gengsi meski mulai melirik-lirik ke arah tumpukan diaper di lemari hingga akhirnya saya menyerah. Ayyub mulai pakai diaper di usia sebulan setengah dan rasanya...ternyata legaaa. Haha. Saya tidak perlu lagi ganti celana Ayyub setiap jam dan baju saya tidak basah lagi kena pipis sama eeknya Ayyub.

Balik ke masalah dot, sampai sekarang saya masih nyari-nyari media pemberian ASIP yang user-friendly. Sendok sudah gagal sejak awal, spuit malah mau dikunyah sama Ayyub, pipet oke tapi lama, Ayyub jadi tidak sabaran karena dikasih ASIP sedikit-sedikit. Gelas? Hell No! Begitu protes suami saya yang dapat tugas melatih Ayyub minum ASIP. Berselancar di internet, ketemu Med*la soft cup feeder. Tapi mahal sist....

Akhirnya balik ke botol dot pertama milik Ayyub yang sudah boncel-boncel dan harganya dua puluh ribu perak saja kakak. Sampai sekarang masih takut ganti dot, takut Ayyub keenakan pakai nipple baru yang lebih nyaman daripada dot-dua-puluh-ribu miliknya dan jadi bingung puting. Alhamdulillah sampai usia empat bulan ini Ayyub masih nyaman ngedot di botol murahan plus menyusu langsung ke saya tanpa ada hambatan. Semoga sampai dua tahun ya nak! Hwaiting! (Pssttt....Ayyub, Morin*ga mahal loh. Mau Mama potong jatah beli Pampers Baby Dry buat beli susu?)

Sebenarnya salah saya juga sik. Dari masih cuti suami sudah bilang supaya Ayyub dilatih minum pakai sendok, tapi saya nyantai saja. Pikir saya, kalau Ayyub sudah lapar pasti dia mau minum ASIP pakai media apa pun. Ternyata saya salah besar. Ayyub menolak minum ASIP pakai media apa pun. Bahkan dot. Awal dikasih dot dia cuma bengong tidak mau ngisap. Jadilah saya yang mulai panik begitu sisa cuti tinggal sedikit sampai stres dan nangis-nangis tiap liat Ayyub yang lagi tidur lelap.

Tapi saya masih bertekad jadi ibu-ibu idealis saat Ayyub mulai makan MPASI. Pokoknya Ayyub tidak boleh makan bubur instan, harus MPASI homemade. Kali ini idealisme saya harus kokoh meskipun mama sudah mulai menyarankan dikasih makan biskuit bayi kalau Ayyub sudah lima bulan. Padahal standar WHO bayi baru boleh makan di usia enam bulan. Maakkk...jadi ibu-ibu idealis (kadang) melelahkan 
Akhirnya punya kesempatan juga menuliskan peristiwa paling fenomenal dalam hidup saya :D

Nama saya Ayyub kakaak. Bukan Yusuf atau Ya'kub ^^

Setiap perempuan yang mengandung, terutama yang kandungannya memasuki trimester ke-3 pasti punya perasaan seperti ini : antara tidak sabaran dan takut. 

Jujur, kadar takut saya sedikit lebih banyak dibanding kadar tidak sabaran melihat bayi saya. Bagaimana tidak takut kalau saya sudah baca dan lihat gambar yang tulisannya gini : tubuh manusia hanya dapat menahan rasa sakit hingga 45 del (unit), tapi pada saat melahirkan rasa sakit yang dirasakan oleh seorang ibu mencapai 57 del (unit) rasa sakit. Rasa sakit sebesar itu hampir setara dengan rasa nyeri yang ditimbulkan akibat patah tulang pada 20 titik dalam waktu bersamaan.


Nah, gimana coba itu rasa cenat cenutnya kalau 20 tulang patah bersamaan? Makanya menjelang HPL saya makin giat baca-baca artikel soal proses melahirkan, mulai dari pengalaman pertama melahirkan para ibu-ibu di blog mereka, grup facebook gentle birth, tips dan trik melahirkan untuk mengurangi rasa sakit...dan semua yang saya baca itu sirna ketika saya sudah terbaring di atas meja bersalin dengan pembukaan lengkap. Mbuh. Gimana mau mikir kalau perut saya sakitnya gitu amat.
Bawaan ibuk-ibuk masa kini :D

Pejuang ASI?


Ya! Karena ternyata memberikan ASI eksklusif (tanpa teror sufor) itu butuh banyaaaakkkk perjuangan dan pengorbanan. Rasanya kalau tidak ingat pengeluaran bulanan untuk beli sufor sementara ASI gratisan manfaat ASI buat Ayyub, saya sudah ingin menyerah sejak saya harus begadang menyusui Ayyub dan saat hari-hari awal saya mulai kembali bekerja setelah cuti panjang.

Diawali dengan kisah membeli test pack bagian pertama :
Saya : kalau penjaga apotiknya cowok, kakak yang masuk beli test pack, saya tunggu di luar. Kalo penjaga apotiknya cewek, biar saya yang masuk *sambil mikir dimana apotik yang penjaganya cowok*
Suami : tidak mau ah, nanti masuk ke apotiknya sama-sama saja.
Saya : kakak, muka saya ini masih imut, tidak keliatan kalo sudah nikah. Muka saya ini muka anak-anak, ntar penjaga apotiknya pikir kita belum nikah.

Akhirnya minta tolong teman belikan test pack. Setelah perdebatan yang tidak jelas. Hasilnya negatif lagi. Hih!

Beberapa bulan kemudian, memutuskan beli test pack sama-sama. Tidak enak juga kalo harus nitip sama teman lagi.
Saya : mbak, ada test pack? *ngomongnya sok santai tapi pelan*
Mbak penjaga apotik : ada. Mau yang biasa apa yang mahal?
Saya : yang biasa berapa? Yang mahal berapa?
Mbak penjaga apotik : yang biasa 2.500, yang mahal 25.000
Saya : yang 2.500 aja deh mbak. Mau mahal atau murah kalo hamil ya pasti dua garis *istri perhitungan*
Dan alhamdulillah, hasilnya positif.

Pergi ke dokter kandungan, di-usg, liat janinnya yang bentuknya baru mirip kacang, ada rasa haru menyusup. Ada makhluk hidup yang sedang tumbuh dalam diri saya, yang nanti akan memanggil saya 'ibuk'. Maha Besar Allah. Tidak henti-henti saya memuji-Nya dalam hati. Inilah hasil dari proses penciptaan manusia yang diulang-ulang pada beberapa ayat Alquran. Saya merinding, sungguh kita manusia teramat kecil pada mulanya. Foto hasil usg terus-menerus saya pandang. "Kita akan bertemu nak, insyaallah..."

Kemudian datanglah masa-masa penuh sengsara itu. Tidur tidak enak, bangun tidak enak, duduk tidak enak, berdiri tidak enak, makan tidak enak, lapar apalagi. Berat badan sampai turun, mau ngapa-ngapain rasanya lemas. Rutinitas saya hanya makan-muntah-makan-muntah. Bahkan mau bernafas saja rasanya capek. Semua makanan mendadak jadi tidak enak, air putih rasanya pahit, cuma mampu makan tapi tidak mampu diolah jadi energi. Berasa jadi penderita anoreksia, eh, bulimia. Apalah namanya.

Setelah dua bulan penderitaan dan saya sembuh, nafsu makan naik dua kali lipat. Lemak mulai menumpuk dimana-mana. Belum lagi kalo bercermin, saya merasa seperti ibu-ibu banget. Tiap internetan, yang dibuka forum ibu-ibu hamil. Mulai cemas kenapa saya belum merasa tendangan dari calon bayi padahal usia kehamilan sudah 15 minggu. Selalu membaca kandungan makanan dalam kemasan yang saya beli. Mulai selektif memilih camilan, dan entah kenapa jadi suka masak (meskipun masakan saya tidak ada enak-enaknya). Pokoknya citra ibuk-ibuk mendadak melekat dalam diri saya.

Sekarang sudah tujuh bulan lewat, perut sudah semakin membesar, tendangan terasa dimana-mana. Kaki, siku, bahkan mungkin kepalanya dia jedotin ke perut. Kadang tendangannya terasa sakit, seperti dicubit gorila. Kecemasan selanjutnya setelah kecemasan-menanti-tendangan-perdananya adalah posisi janin. Memasuki bulan ke tujuh saya merasa posisi kepalanya masih di atas. Saya banyak-banyakin sujud, suami ngotot minta saya senam hamil dikit-dikit lewat youtube yang hanya saya lirik sekilas kemudian kembali main Cooking Dash #eh

Sampai bulan ke enam, kami belum juga mengetahui jenis kelamin calon bayi. Ditutupin sama kakinya, kata dokter. Begitu di-usg pada bulan ke tujuh, alhamdulillah, ternyata posisi kepalanya sudah di bawah, siap-siap mau keluar kayanya. Gerakannya lumayan aktif, keliatan juga jemari mungilnya yang menggapai-gapai sampai saya tidak sadar ikut menjulurkan tangan saya ke arah layar untuk menggapainya. Kata dokter semuanya normal, berat badannya normal, alhamdulillah, anggota tubuhnya lengkap, alhamdulillah, dan terakhir....lagi-lagi jenis kelaminnya masih unknown. Masih ditutupin! Dokter sampe lama liatinnya dan masih belum bisa memastikan.

Terserah, jenis kelaminnya apa bukan jadi masalah. Yang penting dia sehat sampai lahiran nanti. Aamiin...

Di usia kandungan yang sekarang, katanya anak harus banyak diajak ngobrol. Sambil elus-elus perut saya mikir, mau diajak ngobrol apa ni anak. Kayanya tidak ada topik yang pas deh. Beda jaman. Akhirnya ujung-ujungnya ngomong gini ke anak : nanti kalo sudah lahir kita traveling yaa. Hihi...

Well, ada sedikit rasa tegang menanti kelahiran yang insyallah masih dua bulan lagi. Tapi ada banyak rasa tidak sabar dan bahagia menyambut kedatangannya. Semoga kelak dia menjadi anak yang, tidak perlu muluk-muluk, minimal jadi pengusaha sholeh yang masuk daftar orang terkaya versi majalah Forbes atau jadi pemimpin Negara yang sholeh dan amanah. Halah

Jadi apa pun kamu nanti, nak, jadilah hamba yang selalu mengingat Tuhannya. Jadilah muslim yang mengikuti Rasulnya. Jadilah anak yang sholeh kesayangan ibuk kelak :)

Jumat, 24 Oktober 2014, ba'da ashar
Sebuah hari istimewa untuk seluruh sisa usia saya. Memperoleh kesempatan mulia menjadi seorang istri.

Untuk Tuan pemilik genggaman tangan ini,

Sudah setahun kita hidup bersama, setahun lebih dua bulan sejak saya pertama bertemu denganmu. Kalau mengingat hari itu, pertemuan pertama kita, rasanya saya ingin tertawa. Siapa sangka pernikahan itu benar-benar terjadi, mengubah kamu - orang yang sama sekali tidak berani memandang saya pada pertemuan hari itu - menjadi suami saya. Padahal semuanya saya lalui tanpa prasangka apa pun, bahkan tanpa ekspektasi apa pun.

Allah benar-benar penuh keajaiban ya?

Bahwa pernikahan tidak harus melulu di awali dengan cinta a la roman picisan remaja, saya percaya. Asalkan Allah menjadi alasan kita untuk menikah, Dia-lah yang akan menumbuhkan rasa cinta itu dengan perlahan, penuh kehati-hatian, dengan diam-diam.

Bahwa pernikahan tidak harus saling mengenal lama, bisa jadi. Berapa lama kita saling kenal? Hanya dalam hitungan hari. Berapa kali kita bertemu? Hanya dua kali. Yah, sedikit cemas di awal, menerka-nerka, menebak-nebak, bisakah bertahan? Bisakah saling menerima nantinya?

Tapi Allah memang penuh keajaiban. Semuanya berjalan dengan ajaib. Dimulai dari saling mengenal lebih dekat, kemudian saling menerima. Begitu saja. Perlahan, hati-hati dan diam-diam. Tiba-tiba saya ingin mempertahankanmu lebih lama, sangat lama, seluruh sisa usia saya kalau bisa.

Setahun. Memang belum lama, semuanya baru saja berawal. Bayi yang mungil baru akan kita miliki beberapa bulan lagi insyaallah. Masih banyak hal yang akan dan harus kita lalui, mungkin dengan sedikit emosi dan air mata. Siapa yang tau apa yang akan terjadi nanti?

Tapi Tuan, semua itu tidak akan mengubah kita kan? Kita akan tetap saling menertawakan kekonyolan kita, kau akan tetap mengalah jika saya marah, menghabiskan segelas jus nangka berdua, merapikan kacamata dan remote televisi dari tempat tidur jika saya jatuh tertidur ketika sedang menonton televisi, mengantarkan makan siang untuk saya, bahkan mencucikan baju dan merapikan kamar ketika saya jatuh sakit dan tidak bisa melakukan apa pun.

Tuan, mari menjadi orang tua yang baik bersama. Tapi sebelumnya, terima kasih sudah menjadi suami yang baik untuk saya.

24 Oktober 2015
Semoga kita bersama hingga di surga-Nya.