Posts

Showing posts from June, 2014

Perempuan Semilyar Mimpi

Image
Perempuan ini percaya, Pramoedya Ananta Toer adalah jodohnya kalau saja dia tidak lahir enam puluh tiga tahun setelah Pak Pram lahir. Jatuh cinta pada kopi dan hujan, yang jika keduanya dikombinasikan maka akan membuat jemarinya tidak berhenti untuk mengalirkan kata-kata di kepalanya ke atas halaman word di laptopnya. Tapi baginya tidak akan pernah sempurna tanpa ada dia. Secangkir kopi, hujan, dan dia. Dia yang saat ini entah berada dimana.

Pergi

"Aku hanya ingin bertanya, kenapa untuk dia, kau mau berusaha sekeras itu. Kenapa untuk dia, kau mau berjuang dan berkorban sebanyak itu? Sementara untukku tidak. Kau tidak mengorbankan apa pun, kau bahkan tidak mau berusaha sedikit pun. Jadi kenapa? Apa kau bisa menjawab pertanyaanku?"
Dia memandangiku, kemudian membuang pandangannya jauh ke deretan atap rumah berwarna-warni di bawah sana.
Aku menunggu. Bukan menunggu jawaban darinya tapi menunggu dia menyerah untuk tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Karena sebenarnya aku juga takut mendengar jawaban darinya. Takut rasa sakit itu masih ada.
Menit-menit berlalu, dia masih diam.

Cerita Senja Kemarin

Image
Hari ini kembali menghabiskan sore berkeliling tak tentu arah bersama sepeda motor butut kesayangan saya. Sepeda motor berwarna biru yang sudah cedera di sana sini.
Jadi mau kemana kita?
Daftar putar nomor 1 Adhitia Sofyan – Bandaged
In you all I wanted, In you everything In to you I believe, everything will fall down in the end
Saya memutuskan berkendara menuju bandara, kemudian berputar dan berkendara menuju desa Bunga. Agak jauh sebenarnya untuk ukuran orang yang hanya ingin menghabiskan senja sambil bepergian tak tentu arah. Sedikit menyesal kenapa tidak membawa jaket karena ternyata angin berhembus cukup kencang.

Kadang saya spontan saja sepulang kantor singgah duduk di tepi pantai kilo 5 hingga menjelang maghrib atau jika ada orang lain yang datang dan mulai berisik mengganggu ketentraman saya sendirian, atau duduk di lalong tanpa melakukan apapun, hanya memesan pisang goreng dan segelas jus kemudian duduk memandangi bentangan gunung di seberang laut sana. Itu saja. Atau saya sin…

Cangkir Kopi Kedua

Image
Adukan terakhir di gelas kopiku baru saja aku selesaikan. Dari sendok mungil yang aku angkat masih tersisa beberapa tetes yang enggan beranjak. Segerombolan gadis yang duduk dua meja di depanku tertawa, mengalihkan pandangan beberapa orang pria dari lawan bicara mereka. Pakaian mereka ketat seadanya dengan riasan wajah yang mencolok. Pantas saja semua pria di tempat ini menoleh begitu ada kesempatan atau mencuri-curi pandang ke arah gadis-gadis itu. Semua pria kecuali yang kini sedang duduk di hadapanku.
Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatuku ke atas lantai ubin berwarna kelabu sembari memandang sekeliling kedai kopi yang seluruh mejanya penuh. Tepat di meja di depanku empat orang pria dengan asap mengepul di tengah-tengah mereka sedang bercakap-cakap seru. Entahlah tentang apa. Sepertinya mereka berempat, yang masih mengenakan kemeja rapi, bekerja di kantor yang sama. Bisa jadi mereka sedang membahas masalah pekerjaan atau bisa jadi mereka sedang membahas gerombolan gadis yang masih …

Luwuk Sore Ini

Image
Debu beterbangan menutupi pandangan, mobil di depan saya sempurna menyapu seluruh debu yang mengendap di atas aspal. Saya tahu datang ke tempat ini di sore hari bukanlah waktu yang tepat. Masih banyak truk-truk besar lalu lalang di sepanjang teluk ini, menguarkan debu ke segala arah. Belum lagi ditambah kegiatan bongkar muat kontainer di pelabuhan yang terletak di ujung jalan. Memang sore bukan waktu yang tepat untuk datang berkunjung.
Tapi saya suka duduk di tepi teluk ini pada sore hari. Sore adalah waktu terbaik untuk memandangi kapal-kapal yang berlabuh, deretan atap rumah yang berundak dari tepi pantai hingga di kaki perbukitan dengan warnanya yang menggelitik mata saya, sore juga waktu terbaik untuk memandangi kubah berwarna keemasan masjid terbesar di kota ini, melihat perpaduan warna emas bercampur birunya langit dan hijaunya gunung. Yah, mau bagaimana lagi. Sore adalah waktu terbaik untuk mengagumi kecantikan kota ini dari sisi teluk ini.