Luwuk Sore Ini

Debu beterbangan menutupi pandangan, mobil di depan saya sempurna menyapu seluruh debu yang mengendap di atas aspal. Saya tahu datang ke tempat ini di sore hari bukanlah waktu yang tepat. Masih banyak truk-truk besar lalu lalang di sepanjang teluk ini, menguarkan debu ke segala arah. Belum lagi ditambah kegiatan bongkar muat kontainer di pelabuhan yang terletak di ujung jalan. Memang sore bukan waktu yang tepat untuk datang berkunjung.

Tapi saya suka duduk di tepi teluk ini pada sore hari. Sore adalah waktu terbaik untuk memandangi kapal-kapal yang berlabuh, deretan atap rumah yang berundak dari tepi pantai hingga di kaki perbukitan dengan warnanya yang menggelitik mata saya, sore juga waktu terbaik untuk memandangi kubah berwarna keemasan masjid terbesar di kota ini, melihat perpaduan warna emas bercampur birunya langit dan hijaunya gunung. Yah, mau bagaimana lagi. Sore adalah waktu terbaik untuk mengagumi kecantikan kota ini dari sisi teluk ini.

Saya ditemani sepiring pisang goreng dan segelas jus nangka, semacam menu wajib saya setiap kali datang berkunjung ke sini sendirian. Iya, tidak ada yang lebih menyenangkan selain duduk diam sambil memanjakan mata, mengistirahatkan pikiran, mendengarkan alunan musik yang lembut, juga menuliskan sesuatu. Menulis tentang betapa saya sangat mencintai kota kecil ini beserta sorenya.

Saya tidak pernah bosan bercerita tentang kota ini. Tentang tata kotanya yang unik, tentang hal-hal menarik yang saya temui di sini, tentang penghuninya, tentang orang-orang spesial yang tinggal di kota ini, tentang sampahnya, tentang kafe remang-remangnya, saya tidak bilang semua hal tentang kota adalah indah, beberapa harus diakui memiliki kekurangan parah. Tapi bagaimanapun cinta tetap cinta. Dan cinta selalu tentang menjadi lebih baik.

Semoga nanti kota ini tetap dengan kesederhanaannya. Semoga.

Truk masih lalu lalang di belakang tempat saya duduk, masih menghamburkan debu ke udara. Saya tidak begitu peduli lagi. Saya mengaduk jus nangkanya dan menghirup pelan. Terlalu manis. Esnya sudah meleleh, pisang gorengnya mulai layu. Saya terlalu lama membiarkan mereka menemani saya memanjakan mata. Anak-anak kecil berkejaran di sepanjang kafe. Saya ingat, saat masih SD saya sering bermain kesini. Tanpa deretan kafe di sepanjang jalan yang baru mulai berdiri saat saya sudah SMP tentu saja. Main di mata air, berlarian di tangga melengkung kantor DPR atau berkejaran di tanah lapang yang sekarang telah berdiri sebuah panggung pertunjukan di tengahnya. Dulu jalanannya belum diaspal, masih berupa tanah timbunan bercampur dengan batu. Setiap sore sepulang dari les atau pulang sekolah lokasi kami bermain adalah halaman masjid dan tepi pantai yang baru saja ditimbun ini. Pulang ke rumah dengan baju penuh debu dan bersimbah keringat, tertawa senang, ingus kemana-mana (kalau sedang musim flu. Sepertinya dulu musim selalu berhubungan dengan penyakit. Musim flu, musim batuk, musim diare. Haha), rambut acak-acakan dan sebuah teguran keras dari orang tua karena baju kami yang telah berubah warna menjadi kecoklatan.

Saya senang masih mengingat hal-hal sederhana namun membahagiakan itu. Nanti-nanti, jika penyakit pikun saya belum parah, saya akan mengulang-ulangnya kepada cucu saya. Agar mereka tau kota kecil inilah cinta pertama neneknya. Semoga sempat.

Jalanan mulai ramai. Semakin sore sepertinya makin banyak pengendara yang berada di atas jalanan. Jus saya telah sempurna mencair dan pisang goreng saya semakin layu. Masjid mulai bersuara, tanda sudah saatnya saya pulang karena sore akan segera berakhir. Ah, apa saya tidak bilang kalau Luwuk di malam hari pun tak kalah indahnya? Nanti-nanti akan saya ceritakan lagi bagaimana eloknya kota kecil ini di malam hari. Nanti. Semoga sempat.

Lalong
4.54 PM
Masih ditemani Adhitia Sofyan dan Endah N Rhesa.

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)