Posts

Showing posts from April, 2012

Saya Suka...

Saya suka Bau tanah saat hujan rapat-rapat menyentuhnya Dan tangan-tangan mungil yang menadah rahmah dari Tuhan itu
Saya suka Mengintip butiran pasir bintang yang berserakan Sambil sok membaca rasi Mengeja peta langit Dan menggambarkan kita disana
Saya suka Pasir pantai yang berserakan di kaki Duduk di ujung buih memandang matari Di depan hamparan kaca biru berkilauan Kita saja – sebuah manifestasi seluruh sisa hidup kita

Tentang Inuyasha

Image
Inuyasha adalah anime favorit saya dari jaman Esempe (iyalah. Secara dia muncul ke permukaan tipi pas saya masih Esempe) padahal awalnya saya tidak doyan anime kelahi-kelahi seperti itu. Dulunya cuma suka anime sebangsa Sailor Moon (dengan kekuatan bulan, aku akan menghukum mu! *pakai gaya Ami, sailor Merkurius), Card captor Sakura...pokoknya anime yang tokoh utamanya itu imut-imut cantik seperti saya *kabur duluan sebelum dilempar.
Eh, tidak tau kesamber ape, saya tiba-tiba suka mantengin Inuyasha di Indosiar. Mungkin karena ada Miroku dan Sesshomaru (maksudnya karena gambar mereka berdua bagus :p), atau karena ceritanya seru (pingin cekek Inuyasha yang masing ngarep sama Kikyo di depan-depan Kagome. Dan pingin cubit-cubit Miroku dan Sango yang gengsian minta ampun), atau mungkin juga karena soundtrack-nya keren-keren. Ada lagunya BoA, Ayumi Hamasaki, Do As Infinity, de el el.

A Thousand Years

Image
Tadi tidak sengaja nonton Inbox di TV. Serius, tidak sengaja! Saya tidak bisa melawan kehendak teman-teman kantor lain yang lebih senang nonton Inbox atau Dahsyat dibanding nonton acara berita. Kalau saya yang menguasai remote TV sih pasti langsung saya ganti ke channel berita. Tapi begitu mata saya tidak mengawasi, maka bisa dipastikan channel-nya akan berganti tanpa sepengetahuan saya.

Dan tadi pagi tidak sengaja saya nonton Inbox pas Gading nembak Gisella (bah, bahasa apa ini? Nembak? Memangnya Inbox itu lapangan tembak apa?).

Tentu Saja Tidak

Image
Dia tertawa – maksudku betul-betul tertawa. Aku tersenyum kecut di sampingnya. Agak jauh, tidak begitu tepat jika dikatakan sedang duduk di sampingnya. Tapi biarlah, aku suka terdengar dekat dengannya. Duduk di sampingnya. Hmm…merdu sekali terdengar di telingaku.

“Jadi ternyata aku menyukaimu dan kau juga menyukai aku?” dia mengulang pertanyaan yang sama. Seharusnya tidak perlu. Keberadaan kami berdua saat ini adalah seluruh kesimpulan dari semua hal itu. Dan sekarang dia yang selalu pendiam tiba-tiba berubah menjadi sangat cerewet. Aku menelan ludah. Pahit rasanya.
“Aneh ya” katanya lagi “kita tidak pernah benar-benar tau selama….hmm…10 bulan mungkin kalau ternyata kita punya rasa yang sama. Aneh saja karena setiap hari kita bertemu dan kita hanya bersikap biasa-biasa saja. Tidak ada rona merah di wajahmu atau aku yang salah tingkah di depanmu. Aku bahkan tak akan percaya jika kita tidak berada di sini saat ini. Tuhan memang selalu punya cara tak tertebak untuk menunjukkan isi hati m…

Seperti SpongeBob dan Patrick

Image
Persahabatan tidak dimulai seperti hujan yang membutuhkan awan
Atau seperti Isaac Newton yang membutuhkan sebutir apel
Pun tidak seperti Adam Smith dengan teori ekonomi klasiknya dan Keynes dengan teori ekonomi moneternya

Persahabatan itu lebih seperti SpongeBob dan Patrick
Yang sesungguhnya mereka berdua bahkan tidak paham mengapa ingin selalu bersama
Persahabatan itu bukan simbiosis mutualisme, apalagi simbiosis parasitisme
Persahabatan itu seperti Rasulullah dan Abu Bakar
Atau seperti Salman Al Farisi dan Abu Darda
bersahabat karena iman kepada Allah