Posts

Showing posts from 2016

Bertamu Dia

Image
It's been a long time since I posted something on my blog. Omoo....feels like I've transformed to emak-emak who needs nine day a week and thirty five hour a day.

Sehingga untuk memperingati dua tahun pernikahan yang sudah lewat sebulan (hakhakhak) saya memutuskan sedikit meluangkan waktu untuk melakukan hal yang sangat saya sukai selain menyikat kamar mandi di malam hari, menulis.

Dua tahun, pernikahan kami baru seumur pohon jeruk nipis yang ditanam di depan rumah. Untuk ukuran rata-rata jangka waktu kredit kendaraan bisa dipastikan belum lunas, apalagi kalau mau kredit rumah. Tapi ada loh yang pacaran sampai tujuh tahun dan putus di pertigaan jalan. Nanggung amat yak. Nambah tiga tahun lagi bisa lunasin kredit rumah, dapat rumah minimalis cantik, tipe empat-lima lah, dicat warna broken white, kasih taman kecil di depan. Uwes....uwes....

Cerita Jalan-jalan Ayyub : Lombok

Image
Now it's all make sense...
Sekarang jadi masuk akal kenapa setelah jadi ibu-ibu banyak cewek-cewek yang tidak sempat perawatan (ih, emang situ sering perawatan?) karena jangankan perawatan, mau mandi dan makan saja harus ekstra kilat. Baru makan sesendok, Ayyub sudah teriak, bukan menangis, tapi berteriak, literally. Jadi sekarang, kecuali makan di kantor, saya lebih banyak menelan makanan alih-alih mengunyah makanan. Konstipasi, yes.
No... no...bukan karena riweuhnya jadi ibu makanya saya jadi ingin liburan, tapi saya benar-benar jenuh terkurung dalam kantor, dan kau-tau-apa, kadang jadi pekerja kantoran plus jadi ibu bisa bikin cewek-cewek rawan stres. Di rumah yang dipikirkan kantor, di kantor yang dipikirkan rumah. Err...lebih banyak mikir anak di rumah sih. Rasanya jadi ibu yang durhaka ninggalin anak main sendiri di rumah. Huks. Jadi ketika akhirnya saya bisa liburan, rasanya senang sekali ya Allah....mau sujud syukur pas tiket sudah masuk ke email saya. I'm officially a …

(Maunya Jadi) Ibu-Ibu Idealis

Elo...elo. Akhirnya jadi pingin nulis lagi, kali ini pengalaman saya menjadi ibu-ibu yang (maunya) idealis. Jadi ibu-ibu yang mematuhi norma-norma mengurus bayi dengan benar sesuai buku pedoman Kesehatan Ibu Anak serta mendengarkan dengan saksama nasihat para konselor laktasi dan mengaplikasikannya dengan sepenuh hati pada Ayyub.
Pada akhirnya semua artikel, nasihat, pendapat, dan pedoman menjadi ibu-ibu yang sesuai GBHN akan buyar ketika dihadapkan pada kenyataan yang berbeda jauh dengan ekspektasi.
Awal lahiran, biasalah, namanya juga ibu-ibu newbie, semuanya ingin sempurna. Dari hamil semua sudah disiapkan dan diputuskan bagaimana nanti setelah melahirkan. Bersikeras tidak mau pakai diaper sekali pakai, dan mati-matian tidak mau kasih ASIP ke anak pakai dot. Tapi sayang, kenyataan tidak seindah tayangan tutorial memberi ASIP pada bayi di YouTube.

Jadi setelah melahirkan saya minta Ayyub di IMD yang akhirnya tidak dilakukan karena urusan jahit menjahit ternyata memakan waktu yang l…

How I Met My Baby

Image
Akhirnya punya kesempatan juga menuliskan peristiwa paling fenomenal dalam hidup saya :D

Setiap perempuan yang mengandung, terutama yang kandungannya memasuki trimester ke-3 pasti punya perasaan seperti ini : antara tidak sabaran dan takut. 

Jujur, kadar takut saya sedikit lebih banyak dibanding kadar tidak sabaran melihat bayi saya. Bagaimana tidak takut kalau saya sudah baca dan lihat gambar yang tulisannya gini : tubuh manusia hanya dapat menahan rasa sakit hingga 45 del (unit), tapi pada saat melahirkan rasa sakit yang dirasakan oleh seorang ibu mencapai 57 del (unit) rasa sakit. Rasa sakit sebesar itu hampir setara dengan rasa nyeri yang ditimbulkan akibat patah tulang pada 20 titik dalam waktu bersamaan.

Nah, gimana coba itu rasa cenat cenutnya kalau 20 tulang patah bersamaan? Makanya menjelang HPL saya makin giat baca-baca artikel soal proses melahirkan, mulai dari pengalaman pertama melahirkan para ibu-ibu di blog mereka, grup facebook gentle birth, tips dan trik melahirkan untuk…

Pejuang ASI

Image
Bawaan ibuk-ibuk masa kini :D
Pejuang ASI?

Ya! Karena ternyata memberikan ASI eksklusif (tanpa teror sufor) itu butuh banyaaaakkkk perjuangan dan pengorbanan. Rasanya kalau tidak ingat pengeluaran bulanan untuk beli sufor sementara ASI gratisan manfaat ASI buat Ayyub, saya sudah ingin menyerah sejak saya harus begadang menyusui Ayyub dan saat hari-hari awal saya mulai kembali bekerja setelah cuti panjang.