Pejuang ASI

Bawaan ibuk-ibuk masa kini :D

Pejuang ASI?


Ya! Karena ternyata memberikan ASI eksklusif (tanpa teror sufor) itu butuh banyaaaakkkk perjuangan dan pengorbanan. Rasanya kalau tidak ingat pengeluaran bulanan untuk beli sufor sementara ASI gratisan manfaat ASI buat Ayyub, saya sudah ingin menyerah sejak saya harus begadang menyusui Ayyub dan saat hari-hari awal saya mulai kembali bekerja setelah cuti panjang.


Sesungguhnya menjadi working mom dengan ASI eksklusif itu butuh perjuangan dan pengorbanan ekstra dibanding stay-at-home mom. Makanya jangan menyepelekan kekuatan ibu-ibu pekerja yang harus bangun pagi-pagiiii sekali sebelum bayinya bangun untuk memerah ASI untuk stok ASIP bayinya, rela bolak-balik rumah-kantor di jam istirahat hanya agar bisa menyusui langsung bayinya, bahkan melewatkan makan siang (jangan heran ibu-ibu ini cepat banget langsingnya. Blessing in disguise), memerah ASI di kantor sambil kerja (Yes! We are super-multi-tasking women!), bahkan sampai tidak punya waktu untuk ngeblog. Halah.


Saya sendiri memberlakukan sistem ASIP kejar tayang untuk Ayyub. Jadi ASIP yang saya perah hari itu harus diminum hari itu juga atau maksimal untuk keesokan harinya. Saya tidak pernah menyetok ASIP banyak-banyak dan disimpan di freezer. Alasannya? Karena saya orangnya pemalas. Wkwk. Apalagi saya harus memerah selama minimal satu jam setiap sesi memerah karena hasil perahan saya tidak begitu banyak dibanding menyusui Ayyub langsung. Jadinya saya harus mengumpulkan tetes demi tetes ASI dan paling maksimal saya hanya bisa dapat 100 ml. Hiks...Hayati lelah bang.


Perjuangan dan pengorbanan lainnya adalah ketika kita harus mengalahkan ego kita sendiri. Yap. Menyusui akan menyita seluruh me-time kita. Tanpa sisa. Bahkan untuk makan dan mandi pun kita tidak bisa sesantai dulu. Apalagi untuk nongkrong di warung kopi sesorean. Beuh. Ibuk macam apa itu hah? Gampar Hayati bang! Gampar!


Memberi ASI untuk bayi kita adalah sebuah pilihan yang tentu saja penuh dengan konsekuensinya. Saya memutuskan untuk memberi Ayyub ASI eksklusif, maka saya harus mengikhlaskan banyak waktu saya tersita olehnya, banyak pekerjaan saya terbengkalai, banyak hobi saya yang terlupakan, dan semua perhatian saya hanya untuknya. Pilihan untuk memberi ASI bisa jadi memang mudah pada awalnya, tetapi sepanjang jalan perjuangan benar-benar banyak godaan untuk berpaling dari pilihan itu. Siapa yang tidak tergoda melihat mommy-mommy lain bisa bebas kemana-mana dengan bayinya hanya dengan bekal sebotol sufor sementara saya harus berpikir ribuan kali untuk membawa Ayyub jalan-jalan keluar karena takut harus menyusui dia di tempat umum. Siapa juga yang tidak tergoda untuk tidak perlu bangun pagi-pagi sekali dan memerah ASI sambil terkantuk-kantuk dan cukup menyediakan bayi kita sekaleng sufor? Banyaakkk sekali godaan di luar sana bagi para pejuang ASI, semoga saja kita tetap istiqomah hingga bayi kita berusia 24 bulan. Mengutip kalimat dari presiden Amerika, Barrack Obama : Yes we can! :p

Comments

  1. Semangat, Kadev, pasti bisa ayo semangaaaaat. Titip cium buat Ayyub. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)