(Maunya Jadi) Ibu-Ibu Idealis

Elo...elo. Akhirnya jadi pingin nulis lagi, kali ini pengalaman saya menjadi ibu-ibu yang (maunya) idealis. Jadi ibu-ibu yang mematuhi norma-norma mengurus bayi dengan benar sesuai buku pedoman Kesehatan Ibu Anak serta mendengarkan dengan saksama nasihat para konselor laktasi dan mengaplikasikannya dengan sepenuh hati pada Ayyub.

Pada akhirnya semua artikel, nasihat, pendapat, dan pedoman menjadi ibu-ibu yang sesuai GBHN akan buyar ketika dihadapkan pada kenyataan yang berbeda jauh dengan ekspektasi.

Awal lahiran, biasalah, namanya juga ibu-ibu newbie, semuanya ingin sempurna. Dari hamil semua sudah disiapkan dan diputuskan bagaimana nanti setelah melahirkan. Bersikeras tidak mau pakai diaper sekali pakai, dan mati-matian tidak mau kasih ASIP ke anak pakai dot. Tapi sayang, kenyataan tidak seindah tayangan tutorial memberi ASIP pada bayi di YouTube.


Jadi setelah melahirkan saya minta Ayyub di IMD yang akhirnya tidak dilakukan karena urusan jahit menjahit ternyata memakan waktu yang lumayan lama, di situ kekecewaan saya bermula. Semakin kecewa ketika bidannya menyuruh suami membelikan Ayyub sufor karena ASI saya belum keluar (disusui langsung ke saya pun belum. Gimana coba ceritanya ketahuan ASI saya sudah keluar atau belum? Huhhh...) padahal baru juga tiga jam Ayyub lahir. Lagian bayi baru lahir kan bisa bertahan sampai 72 jam tanpa ASI. Aakkkk....kalau ingat saat itu rasanya pingin ngamuk. Sayang saya tidak bisa gerak-gerak. Hiks...

Akhirnya saya tetap maksa, sambil dikasih sufor sambil saya coba menyusui daannn...tuh kan. Ayyub menyusu dengan semangat. Masa saya harus guling-guling dulu supaya anak saya jangan dikasih sufor? Idealisme saya hancur lebur di hari pertama jadi ibu.

Karena masih punya tekad jadi ibu-ibu idealis, saya tidak mau Ayyub pakai diaper meski tanpa alasan yang jelas. Takut ruam popok lah, takut kulitnya iritasi lah, padahal belum pernah dicoba. Meski saya kewalahan harus ganti celana Ayyub hampir tiap jam bahkan di malam hari, saya bergeming tidak akan memakaikan Ayyub diaper sampai paling tidak usianya tiga bulan. Awalnya masih oke, meskipun pernah Ayyub menghabiskan semua persediaan kain dan celananya dalam sehari sehingga ibu mertua dan ipar saya kewalahan mengeringkan celana dan kain yang masih basah dengan disetrika dan Ayyub terpaksa memakai gurita sebagai ganti celananya (aibmu ini nak. ROTFL).

Sampai kemudian semua berubah sejak...ada yang kasih Ayyub hadiah diaper. Awal-awalnya masih gengsi meski mulai melirik-lirik ke arah tumpukan diaper di lemari hingga akhirnya saya menyerah. Ayyub mulai pakai diaper di usia sebulan setengah dan rasanya...ternyata legaaa. Haha. Saya tidak perlu lagi ganti celana Ayyub setiap jam dan baju saya tidak basah lagi kena pipis sama eeknya Ayyub.

Balik ke masalah dot, sampai sekarang saya masih nyari-nyari media pemberian ASIP yang user-friendly. Sendok sudah gagal sejak awal, spuit malah mau dikunyah sama Ayyub, pipet oke tapi lama, Ayyub jadi tidak sabaran karena dikasih ASIP sedikit-sedikit. Gelas? Hell No! Begitu protes suami saya yang dapat tugas melatih Ayyub minum ASIP. Berselancar di internet, ketemu Med*la soft cup feeder. Tapi mahal sist....

Akhirnya balik ke botol dot pertama milik Ayyub yang sudah boncel-boncel dan harganya dua puluh ribu perak saja kakak. Sampai sekarang masih takut ganti dot, takut Ayyub keenakan pakai nipple baru yang lebih nyaman daripada dot-dua-puluh-ribu miliknya dan jadi bingung puting. Alhamdulillah sampai usia empat bulan ini Ayyub masih nyaman ngedot di botol murahan plus menyusu langsung ke saya tanpa ada hambatan. Semoga sampai dua tahun ya nak! Hwaiting! (Pssttt....Ayyub, Morin*ga mahal loh. Mau Mama potong jatah beli Pampers Baby Dry buat beli susu?)

Sebenarnya salah saya juga sik. Dari masih cuti suami sudah bilang supaya Ayyub dilatih minum pakai sendok, tapi saya nyantai saja. Pikir saya, kalau Ayyub sudah lapar pasti dia mau minum ASIP pakai media apa pun. Ternyata saya salah besar. Ayyub menolak minum ASIP pakai media apa pun. Bahkan dot. Awal dikasih dot dia cuma bengong tidak mau ngisap. Jadilah saya yang mulai panik begitu sisa cuti tinggal sedikit sampai stres dan nangis-nangis tiap liat Ayyub yang lagi tidur lelap.

Tapi saya masih bertekad jadi ibu-ibu idealis saat Ayyub mulai makan MPASI. Pokoknya Ayyub tidak boleh makan bubur instan, harus MPASI homemade. Kali ini idealisme saya harus kokoh meskipun mama sudah mulai menyarankan dikasih makan biskuit bayi kalau Ayyub sudah lima bulan. Padahal standar WHO bayi baru boleh makan di usia enam bulan. Maakkk...jadi ibu-ibu idealis (kadang) melelahkan 

Comments

  1. Sy pernah baca spy bayi tdk bingung puting klo ngedot maka yg ngasi dot jagan ibunya.. ayahnya ato tantenya ato neneknya ato pengasuhnya..ibunya khusus menyusui aja...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)