Cerita Jalan-jalan Ayyub : Lombok

Ta' gendong kemana-mana
Now it's all make sense...

Sekarang jadi masuk akal kenapa setelah jadi ibu-ibu banyak cewek-cewek yang tidak sempat perawatan (ih, emang situ sering perawatan?) karena jangankan perawatan, mau mandi dan makan saja harus ekstra kilat. Baru makan sesendok, Ayyub sudah teriak, bukan menangis, tapi berteriak, literally. Jadi sekarang, kecuali makan di kantor, saya lebih banyak menelan makanan alih-alih mengunyah makanan. Konstipasi, yes.

No... no...bukan karena riweuhnya jadi ibu makanya saya jadi ingin liburan, tapi saya benar-benar jenuh terkurung dalam kantor, dan kau-tau-apa, kadang jadi pekerja kantoran plus jadi ibu bisa bikin cewek-cewek rawan stres. Di rumah yang dipikirkan kantor, di kantor yang dipikirkan rumah. Err...lebih banyak mikir anak di rumah sih. Rasanya jadi ibu yang durhaka ninggalin anak main sendiri di rumah. Huks. Jadi ketika akhirnya saya bisa liburan, rasanya senang sekali ya Allah....mau sujud syukur pas tiket sudah masuk ke email saya. I'm officially a full time mother for a week. Yay!


Jadi ibu yang perfeksionis sekaligus pemalas, memang bukan kombinasi yang cocok. Sebelum berangkat traveling yang dipikirkan dari A sampai Z mulai dari makanan bayi, baju, mainan, teether, bla bla bla. Tapi begitu mau berangkat buyar semuanya. Untuk mengangkut semua perlengkapan Ayyub ternyata tidak cukup hanya dengan satu koper besar plus tas bayi besar. Saya menyerah, hanya membawa barang-barang yang kira-kira perlu sekali sementara barang lainnya bisa dicari subtitusinya di tempat liburan nanti.

And reality hits me so hard.
Bawa anak traveling itu subhanallah capek dan ribetnya. Yang biasanya saya kalau lagi nunggu pesawat bisa sambil duduk-duduk santai baca buku atau main HP sambil ngopi, leyeh-leyeh, sekarang harus gendong Ayyub jalan-jalan kalau dia mulai bosan duduk terus, mulai bosan sama mainannya, menangis karena lapar atau haus, atau kalau dia mulai ngantuk. Pokoknya dia harus digendong bawa jalan-jalan. Soal digendong ini banyak loh ibu-ibu yang bilang anak jangan kebiasaan digendong, nanti dia minta digendong terus. Memang sih, Ayyub kalau lagi rewel dibujuknya ya dengan cara digendong, dan saya memang sengaja membiasakan Ayyub digendong oleh saya atau papanya. Saya anggap momen menggendong Ayyub untuk mempererat bonding saya dengan dia. Lagipula kita hanya akan menggendong dia kemana-mana sebentar saja. Ketika dia sudah besar mungkin dia tidak akan suka lagi digendong atau dipeluk. Jadi saya benar-benar memanfaatkan momen peluk-gendong Ayyub ini. Ketika Ayyub melingkarkan tangan kecilnya di leher saya atau menempelkan tangan mungilnya erat-erat di bahu saya, that was a precious moment. It feels like he need me more than anything.
Hug me!

Jadi meski tangan pegal nggendong Ayyub, saya menikmatinya. Kadang pakai gendongan sih, jadi tidak pegal-pegal amat :D

Di dalam pesawat saya masih kesulitan membendung rasa ingin tau Ayyub yang suka pegang apa saja terus dicicipin. Mulai dari seat belt, majalah, kartu petunjuk keselamatan sampai meja lipat di depan dia. Ihh...itu kan kotor. Sepanjang perjalanan saya yang histeris larang dia pegang ini itu. Saya memang belum bisa bersahabat dengan detergen yang jargonnya berani kotor itu baik. Itu penuh kuman nak, kumaann...

Tapi Ayyub anteng dibawa jalan kemana saja saat di Lombok maupun di Surabaya. Prinsipnya Ayyub memang jalan-jalan setiap saat. Yang penting jalan-jalan, Ayyub sampai lupa minta susu. Mukanya serius banget kalau liat keluar jendela mobil. Naga-naganya besar nanti Ayyub kaya mamaknya, suka duduk dekat jendela trus bengong liat keluar jendela sampai mobil berhenti. Haha.

Well, NTB layak mendapat predikat negeri seribu masjid dan wisata halal. Ibaratnya Bali rasa muslim. Di tengah hutan sekali pun pasti ada masjid minimal mushala. Bahkan di tempat wisata yang ada puranya pun ada mushala beberapa. Gampang sekali nyari tempat sholat yang nyaman di sana. Lombok benar-benar pas jadi wajah pariwisata Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Tapi sayang juga sih masih bisa liat almost-naked-people di pantai-pantai. Kenapa tidak sekalian buat perda yang mewajibkan wisatawan yang berkunjung ke Lombok agar berpakaian sopan. Iran saja bisa bikin peraturan buat wisatawan asing yang mau masuk ke Negara mereka agar memakai baju sopan dan penutup rambut. Cuma contoh loh, not talked about syiah.

Dan...highlight traveling kali ini adalah Kuta-nya Lombok yang masyaallah ini beneran ada pantai kaya gini? Baru liat pantai yang warna airnya toska gelap, dikelilingi gunung, saya liatnya jadi seperti melihat foto-foto pantai yang ada di instagram yang pakai efek lukisan. Pantai Kuta-nya Lombok itu seperti lukisan dengan warna-warna pastel. Pasirnya warna broken white, airnya warna toska, gunungnya warna hijau pastel, langitnya biru pastel dan err...serba pastel-lah pokoknya.
Kuta-nya Lombok lebih keren daripada Kuta-nya Bali somehow

Meskipun untuk menuju ke sana perjalannya lumayan jauh...jauuhh...jauuhh. Saya tinggal di Lembar, Lombok Barat...ya, Lombok paling ujung lah pokoknya. Jadi kalau mau kemana-mana itu saya harus tertidur dulu dalam mobil dan setelah saya bangun masih belum sampai juga. Ayyub? Dia tidak tidur dong, masih bengong liat ke luar jendela. Pokoknya tempat wisata di Lombok itu dari penghujung ke penghujung. Yang dekat dari Lembar itu cuma ke gili Nanggu yang cuma dua puluh menit naik perahu.

Bicara soal Gili Nanggu, saya sempat snorkling sama suami ke sana. Tapi datangnya pagi-pagi biar belum penuh pantainya. Menjelang siang pengunjung di Gili Nanggu mulai berjubel dan snorkling jadi tidak asyik lagi karena nyaris tabrak-tabrakan dengan pengunjung lain. Pertama kalinya saya berenang bareng ikan-ikan besar ya cuma di sana. Ikan-ikan besar yang biasanya cuma saya liat di boks-boks styrofoam restoran ikan bakar berenang bebas di sini. Peraturannya memang dilarang mancing sih, jadi meski tinggi airnya hanya sepinggang, ikan-ikan sebesar Ayyub masih berenang-renang santai di sana dan saya yang heboh sendiri ngejar-ngejar mereka kasih makan roti tapi dicuekin. Wkwkwk. Cuma ikan-ikan kecil warna-warni yang mau makan roti tawar saya.
Gili Nanggu. Abaikan.

Ahya, saya mau kasih beberapa tips traveling bersama bayi dari pengalaman saya yang baru sedikit ini. Bolehlah buat antisipasi karena mau tips bagaimana pun dari ibu-ibu mana pun intinya sih tetap kembali ke masing-masing ibu mau traveling kaya gimana. Mau yang totalitas atau minimalis :D

Pertama, tidak perlu bawa banyak baju bayi. Karena Ayyub itu suka keringetan, jadi saya bawa buanyak baju buat ganti dan menuh-menuhin koper. Padahal niatnya mau cuci baju sendiri nanti. Akhirnya banyak baju yang tidak terpakai karena begitu ada baju yang kotor saya langsung cuci setiap pagi sebelum jalan-jalan dan bajunya sudah kering ketika saya pulang. Bawa saja detergen sachet biar praktis. Kayanya sih cuci baju sendiri selama traveling bawa bayi adalah sebuah keharusan. Selain laundry kadang butuh lebih dari sehari, kita juga tidak tau bagaimana kondisi baju-baju bayi kita saat di laundry yang mungkin campur sama pakaian orang lain.

Ke dua, untuk bayi MPASI, pilihlah yang terbaik untuk bayi menurut kita sebagai ibunya. Kalau tetap ingin kasih MPASI homemade menu lengkap, wajib bawa slow cooker/kompor listrik, peralatan makan, chopper/saringan, dan pisau.Bawa juga beras, kacang-kacangan atau gasol buat jaga-jaga seandainya di sana kita tidak sempat belanja bahan makanan segar di pasar atau supermarket. Atau kalau tidak mau repot sesekali berikan bubur instan. Sesekali saja kalau benar-benar kepepet. Tapi selama masih bisa dihindari, hindarilah bubur instan ibu-ibu. Sekarang juga banyak kok yang jualan MPASI homemade online di kota-kota besar. Googling saja.

Ke tiga, bawa gendongan bayi yang bisa dua posisi, posisi tidur dan posisi duduk. Kalau Ayyub ngantuk dan ingin berbaring tapi mamaknya masih harus jalan-jalan, saya gendong Ayyub dengan posisi tiduran. Saya tidak bawa stroller. Selain ribet kalau mau naik pesawat, belum punya stroller juga sih. Haha. Lebih suka gendong Ayyub kemana-mana, sekalian buat membentuk otot lengan saya *alesan :p

Terakhir, bawa banyak topi bayi. Selain bisa buat gaya, berguna kalau mau jalan-jalan ke pantai yang panas dan naik pesawat yang dingiiin.

Begitulah beberapa tips yang menurut saya penting. Sebagai newbie dalam dunia mamak-mamak traveler rasanya belum bisa kasih tips banyak-banyak. Nanti tipsnya ditambah kalau mamaknya dapat suntikan dana dari suami buat jalan-jalan lagi #eaa #eaa. Tapi travelingnya nanti-nanti deh, tunggu Ayyub umur setahun biar sudah bisa makan table food. Karena sesungguhnya traveling bawa bayi itu ribetnya mikirin MPASI dia yang, bahkan masak di rumah sendiri pun saya masih ribet kemana-mana *hiks

11.48 PM
Mendung kelabu

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)