Pergi

"Aku hanya ingin bertanya, kenapa untuk dia, kau mau berusaha sekeras itu. Kenapa untuk dia, kau mau berjuang dan berkorban sebanyak itu? Sementara untukku tidak. Kau tidak mengorbankan apa pun, kau bahkan tidak mau berusaha sedikit pun. Jadi kenapa? Apa kau bisa menjawab pertanyaanku?"

Dia memandangiku, kemudian membuang pandangannya jauh ke deretan atap rumah berwarna-warni di bawah sana.

Aku menunggu. Bukan menunggu jawaban darinya tapi menunggu dia menyerah untuk tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Karena sebenarnya aku juga takut mendengar jawaban darinya. Takut rasa sakit itu masih ada.

Menit-menit berlalu, dia masih diam.

Angin di penghujung bulan Juni membelai kami. Aku merapatkan jaketku, segera menyesap kopi yang terhidang sejak tadi agar aku merasa lebih hangat. Bertemu di tempat seperti ini pada musim hujan yang enggan beranjak meski musimnya telah lama berlalu sepertinya bukan ide yang bagus. Aku menggigil secara sembunyi-sembunyi. Menggigil karena kedinginan, juga menggigil karena takut dia memberi jawaban yang akan menyakitiku lebih banyak, lebih sakit dari kepergiannya yang tanpa kata itu.

"Kau tidak perlu menjawabnya" kataku pada akhirnya ketika dia masih tetap diam. Ada sedikit rasa lega dalam nada suaraku. "Aku tidak membutuhkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu." aku hanya ingin membuatmu merasa bersalah. Lanjutku dalam hati. Ya, membuat dia merasa bersalah telah pergi begitu saja dariku, tanpa perlawanan, tanpa keinginan untuk tinggal sedikit lebih lama.

Apa salahnya? Aku hanya ingin dia bertahan, berusaha sedikit lebih keras, berjuang sedikit lebih lama. Dan dia memilih untuk tidak melakukan itu semua. Memilih melakukan itu semua untuk perempuan lain.

"Aku pulang" kataku singkat, meraih semua barang-barangku dan berjalan menjauhi meja tempatnya duduk. Dia masih memandangi deretan atap berwarna-warni di bawah sana.

"Karena kau...sebelum mengenal kau aku tidak pernah tau apa itu ikhlas" ucapnya tiba-tiba. Langkah kakiku terhenti. Punggung kami saling bertatapan. Hanya punggung.

Aku diam...menunggu dia melanjutkan ucapannya.

"Ya...dulu ikhlas hanya utopia bagiku. Seekor semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di tengah malam gelap gulita. Hanya itu yang aku tau tentang ikhlas. Tapi setelah kamu, semuanya terasa nyata bagiku. Terima kasih..."

Dia kembali diam. Yang aku dengar hanya denting gelas kaca yang beradu dengan tatakan kaca di bawahnya.

Aku menyerah. Tidak ada yang bisa diperbaiki di sini. Memang sudah seharusnya sejak dulu musim penghujan beranjak, membiarkannya terganti oleh kemarau. Tapi dia masih enggan. Rasa sakit itu ternyata masih ada.

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)