Situs jejaring sosial (baca : Facebook)

Tidak. Saya tidak akan membahas facebook dari pandangan ulama, artis, mahasiswa atau dari para wanita karier. Saya akan membahasnya melalui sudut pandang saya dengan gaya bahasa saya sendiri.
Pertama mengenal facebook, saya diundang -istilah kerennya diinvite- oleh salah seorang teman kuliah saya. Karena saat itu saya sedang mengalami yang namanya syndrominternetansampepuaspadapemakaianawal saya pun mendaftar di situs jejaring sosial itu. Meskipun pada saat itu saya masih asyik ber-friendster ria.
Pada pengisian data, saya merasa si FB terlalu banyak bertanya dan terlalu banyak ingin tahu mengenai saya (dikarenakan FB juga menanyakan pandangan politik saya, alamat rumah sampai nomor telepon). Tapi saya mengisi data saya seadanya saja. Masih sama sekali belum tertarik ber-FB ria.
Sampai beberapa bulan kemudian saya masih asyik menulis di bulletin boardnya Friendster, tiba-tiba FB menjadi sangat "merakyat". Saya yang juga memiliki jiwa ke-merakyat-an akhirnya mau tidak mau ikut berenang di dunia FB.

Awalnya saya membaca status-status di FB masih dalam taraf wajar-wajar saja. Ada yang lagi makan, ada yang lagi jalan, ada yang lagi kerja. Semua status mereka nyaris tentang aktivitas yang tengah mereka kerjakan. Meskipun sebenarnya saya sempat berpikir, untuk apa mereka atau saya menulis aktivitas kami? Kami kan bukan artis yang segala tingkah laku kami harus diketahui orang lain?
Hingga tiba dimana FB menjadi ajang curhat skala internasional. Ada yang lagi jatuh cinta, sedih, marah, gembira, kesal. Bermacam-macam orang dengan bermacam-macam rasa. Sampai tahap itu saya kembali berpikir, dua tahun lalu jika kita ingin mengetahui siapa yang jadian dengan siapa, kita butuh waktu paling tidak beberapa hari untuk mengumpulkan informasi, meneliti dan menyimpulkan. Kini tidak lagi. Mereka sendiri yang mengumumkan di FB kalau mereka telah 'jadian'. Tanpa sungkan. Tanpa malu-malu. Ada juga yang tanpa rasa risih menulis di statusnya kalau dia sedang jatuh cinta, kalau dia sedang memendam rasa, kalau dia sedang kecewa pada pacar, sahabat, bahkan orang tuanya. Inalillah,,,
Kesemuanya itu menjadikan FB seperti sebuah pusat informasi. Apapun yang Anda inginkan ada disini. Tak perlu beranjak dari tempat duduk Anda untuk mengatakan kalau Anda sedang merindukan pacar Anda. Tak perlu beranjak dari kursi Anda untuk menunjukkan perhatian kita kepada si 'dia'. Cukup tulis di wall-nya. "Cepat bobo ya! Jangan tidur larut. Ntar sakit lagi". Dan si 'dia' akan membalas kiriman wall-nya dengan nada penuh canda "iyaa. Aku udah mau tidur nih. Kamu juga tidur ya. Udah malam. Bubbye. Sampai jumpa besok"
Karena itu jangan marah kalau besok paginya sahabat kita tak menanyakan kabar kita. Karena kita baru saja menulis status kita di FB "bangun pagi dengan perasaan bahagia. Sekarang sarapan dulu ah." Jangan tersinggung pula jika ada teman kita yang berlaku kurang sopan kepada kita hanya karena beberapa jam sebelumnya kita baru saja meng-upload foto-foto kita bersama teman-teman yang sedang mandi di pantai dengan pakaian minim! Astaghfirullah,,,
Sekarang untuk mengetahui isi hati seseorang kita tak perlu lagi kesana-kemari bertanya. Cukup buka profilnya. Dan kita akan tahu siapa orang yang tengah 'ditaksir'nya hanya dengan melihat foto siapa yang sering dia komentari dengan nada penuh candaan dan pujian. Betapa FB benar-benar telah menelanjangi rahasia kita sekarang.
Bahkan FB pun bisa menjadi ajang riya' yang tidak disengaja. Seseorang yang menulis di statusnya "bangun untuk sholat malam" mungkin tidak sadar kalau dia baru saja mengurangi pahala sholat malamnya. Bukankah ibadah yang tersembunyi amat disukai oleh ALLAH? Tidak perlu kan orang lain tau kalau kita mau bertahajud, kita sedang berpuasa sunnah, atau kita sedang ngaji? Untuk apa? Apa manfaatnya bagi kita dan mereka? Bukankah hanya ALLAH yang akan memberi kita pahala? Kenapa kita tidak banggakan amalan-amalan sunnah kita kepada para malaikat saja? Kenapa harus kita banggakan pada sesama manusia? Jika ada yang beralasan agar orang lain termotivasi, maka saya akan tersenyum. Coba saja hitung orang yang termotivasi setelah membaca status kita itu. Tapi akan lain cerita jika kita menulis di status kita sebuah potongan ayat atau hadits yang menganjurkan untuk memperbanyak amalan sunnah. Dan bandingkan mana yang lebih memotivasi.
Biarkan saja FB menjadi situs jejaring sosial seperti situs-situs lainnya. Murni hanya untuk tetap menjaga komunikasi kita dengan saudara-saudara maupun teman-teman jauh kita. Hanya untuk saling memberi nasihat. Hanya untuk saling berbagi pengalaman tapi tidak harus sampai saling berbagi perasaan.
Barakallahu.....

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)