Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

Cangkir kopi dan Mangkuk Gula

By Friday, March 04, 2011

Kau tahu Arya?
Seberapa kerasnya pun aku mencoba melupakanmu
Semua cerita tentangmu tak pernah bisa habis...

Bandara Soekarno Hatta,
Pagi yang mendung di bulan Nopember, pukul 7 lewat 30 menit.

Seperti biasa, bandara Seokarno Hatta selalu ramai entah di jam berapapun. Papan pengumuman digital tak henti-hentinya memberikan informasi penerbangan, manusia dari berbagai daerah dan negara bercampur baur, lalu lalang dengan barang bawaan masing-masing. Ada sekelompok turis wanita dengan tas ransel besar-besar lewat di depanku, salah satu dari mereka tersenyum yang kubalas dengan senyum juga. Mereka adalah backpacker, berjalan-jalan dari satu negara ke negara lain hanya dengan modal keberanian, melihat dunia hanya dengan modal mimpi-mimpi. Setelah para gadis-gadis pirang itu berlalu, aku melanjutkan jalanku menuju loket check-in.
Seorang pemuda berpakaian seragam biru terang tersenyum ramah menyambutku. Aku menyerahkan selembar tiket dan kartu identitas, kemudian mengeluarkan selembar uang untuk membayar airport tax. Setelah menaikkan koperku di atas ban berjalan, mengambil kembali tiket pesawatku dari tangan si pemuda, aku berjalan menuju coffe bean bandara yang masih tampak lengang.
Secangkir kopi susu hangat kesukaanku telah terhidang. Sambil mengucapkan terima kasih pada si pramusaji wanita yang mengantarkan kopiku, aku memegang pegangan cangkir dan menghirup aroma kopi yang wangi dan hangat.
Aku menyesap kopi susuku perlahan, membiarkan cairan kental itu mengaliri lidahku dan masuk ke tenggorokanku. Sedikit menenangkan kegalauanku di pagi ini. Ah, kopi memang selalu berhasil menyihir perasaanku. Sensasi menyesap kopi secara perlahan-lahan, sensasi saat rasa manis dan pahit bercampur di lidahku, semua sensasinya menyihirku. Kecuali satu hal, satu hal yang membuatku tiba-tiba harus meletakkan cangkir kopi yang sedang kupegang di atas meja, demi menghilangkan bayangan itu. Bayangan aku dan dia selama sebulan terakhir saat sedang menikmati sore yang santai ditemani secangkir kopi di hadapan kami, saling berbagi banyak hal setelah sekian tahun terpisahkan jarak. Dia seorang coffe maker yang handal, kopi buatannya selalu menciptakan sebuah sensasi yang tidak pernah kutemukan di kopi manapun yang pernah aku minum. Sensasi rasa yang terus melekat di benak meskipun tetes terakhir dari kopinya telah habis. Sensasi rasa yang justru membuatku tak pernah bisa melupakannya.
***

“Apa yang kau lakukan dengan kopi ini?” tanyaku sambil mengangkat cangkir kopi di hadapannya. Rasa kopi yang dibuatnya tetap spesial, bahkan setelah bertahun-tahun aku tak pernah lagi mencicipi kopi buatannya. “Kau tak pernah kehilangan sentuhan rasa-mu” pujiku lantas menyesap kopi itu lagi.
Dia hanya tersenyum, kemudian menggeleng “tak ada, aku hanya membuat kopi seperti biasa” katanya.
“Lagi-lagi kau tak mau berbagi denganku resep rahasiamu” candaku.
“Kalau kuberitahu resep rahasiaku, kau tak akan mau lagi jauh-jauh datang ke coffee shop milikku hanya untuk meminum secangkir kopi susu yang bisa kau buat di rumahmu”. Dia membalasnya dengan candaan. Alis matanya yang tebal sedikit terangkat ketika dia melemparkan seulas senyum kepadaku.
Kalimatnya mungkin biasa saja, tapi wajahku terasa hangat dan kurasa sedikit merona. Dia benar, aku rela jauh-jauh dari ujung timur Indonesia hanya untuk menikmati secangkir kopi susu buatannya.
“Jadi, sampai kapan kau akan ada di Jakarta?” tanyanya.
“Diklatku sebulan di sini” jawabku, sambil memainkan sendok gula di depanku.
“Hanya sebulan?! Ya ampun Dis! 7 tahun kita tak berjumpa, dan kau hanya sebulan di Jakarta?” keluhnya. Ekspresi wajah kecewa tampak nyata di wajahnya.
Aku mengangguk “tentu saja. Menurutmu? Aku bahkan nyaris tak punya waktu untuk menginjakkan kaki lagi di kota ini kalau saja tidak ada diklat di sini”
“Kenapa juga kau  mau bekerja di perusahaan itu? kau tahu kan wilayah kerjanya bukan di Jakarta?”
Sekali lagi aku mengangguk “tahu kok. Tahu banget” jawabku santai. Tentu saja aku tahu, lowongan pekerjaan itu bukan di Jakarta dan itu sangat membantuku. Aku tak ingin lagi tinggal di kota ini setelah dia memutuskan untuk menikah dengan wanita yang dicintainya. Tidak akan selama dia masih tetap tersenyum sambil membuatkan kopi untukku, atau selama dia masih rela hujan-hujanan menjemputku di kampus. Tidak akan, karena dia berarti terlalu banyak untukku. Lowongan kerja itu akan membebaskanku dari belenggu menyedihkan ini, akan menjauhkanku dari dia, dan – semoga saja – akan membuatku melupakan dia.
Sayangnya aku salah perhitungan. Salah besar. Kemajuan teknologi membuatku tak bisa benar-benar jauh darinya. Dia terus menghubungiku lewat email, chatting, Facebook, twitter, apapun bentuknya. Dia tak pernah absen mengecek keadaanku, menanyakan kabarku, pekerjaanku, teman-teman baruku, semuanya. Aku tak bisa menolak dengan semua perhatiannya itu meskipun aku sadar betul perhatiannya itu bukan cinta, bukan apa-apa. Aku hanya dianggap adik olehnya. Hanya itu. Dia menyayangiku sebagai adik lebih karena keluarga kami berdua sangat dekat. Kami sudah saling mengenal bahkan sebelum kami mengenal huruf-huruf latin. Dia sudah menjadi bagian dari hidupku di awal, dan aku selalu menginginkan dia menjadi bagian hidupku di akhir.

***

“Dis, aku punya kejutan” katanya pelan padaku yang sedang menyesap vanilla coffee buatannya. Dia juga ikut mengangkat cangkir kopi dan meminumnya. Dari balik cangkir kopinya aku bisa melihat matanya yang berbinar-binar. Dia bahkan menyesap kopinya sambil tersenyum.
Aku meletakkan cangkirku, “aku juga punya kejutan” sahutku.
“Kalau begitu kau saja yang duluan”
Aku menggeleng “tidak, kamu saja” tolakku.
Dia berdehem “baiklah. Kejutanku adalah... aku akan melamar Maiza. Dia sudah setuju untuk menikah denganku!” katanya penuh semangat.
Dadaku berdetak kencang, jauh lebih kencang daripada saat aku mendengar dia sudah berpacaran dengan Maiza. Aku duduk kaku memandang wajahnya yang berseri-seri. Aku ingin sekali berteriak dan menangis, marah-marah atau bahkan memaki Maiza. Tapi dari lidah keluku hanya sebuah kalimat singkat yang mampu aku keluarkan “Oh ya? Selamat ya!”
“Dan apa kejutanmu?” tanyanya.
Aku mengalihkan pandanganku pada cangkir kopi berwarna krem dengan gambar bunga-bunga biru di sekelilingnya. Tadinya aku akan bilang kalau aku baru saja diterima bekerja di Perusahaan yang sama dengan tempatnya bekerja. Tapi mana mungkin, setelah mendengar rencana masa depannya dengan Maiza.
Setelah lulus kuliah beberapa bulan yang lalu, aku mengirimkan lamaran kerja di beberapa Perusahaan dan ada dua perusahaan yang mau menerima lamaranku. Salah satunya adalah perusahaan tempatnya bekerja dan satunya lagi adalah perusahaan nasional.
“Eh, kejutanku... kejutanku itu, aku diterima di perusahaan nasional” seruku memaksa. Nada suaraku jelas sekali terdengar tertekan, tapi aku tak begitu peduli. “Aku mungkin akan ditempatkan di luar Jakarta. Pasti asyik, aku bisa bepergian ke kota-kota kecil”
Dia diam, menyesap kopi hitam biasa miliknya. “Kenapa kau tak cerita dulu padaku? Itu kan keputusan penting!”
Keputusanmu untuk menikah juga keputusan penting, dan kau sama sekali tak cerita padaku juga. Gerutuku dalam hati.
“Aku hanya ingin membuat kejutan, kok” jawabku kalem. Aku menghabiskan vanilla coffee yang tinggal seperempat itu, kemudian beranjak dari sofa coffee shop. “Aku pulang dulu ya!”

***

“Kenapa kamu tak pernah cerita padaku?” sentakku “kau kan bisa cerita lewat telepon, email, chatting atau apalah padaku! Kau selalu menanyakan kabarku setiap hari, tapi tak pernah sekalipun kau mau menceritakan tentang kabarmu. Bagaimana mungkin aku baru mendengar kabar perceraianmu dengan Maiza lima bulan setelahnya?”
Dia diam menunduk. Telapak tangannya memeluk cangkir kopi krem berbunga-bunga biru yang isinya tinggal setengah itu. Senyum di wajahnya lenyap, dan aku tahu pertahanannya mulai roboh di hadapanku.
“Tak ada yang perlu kau ketahui” jawabnya sambil membuang muka, memandangi pelayan-pelayan kafenya yang lalu lalang mengantarkan pesanan pelanggan. Saat itu sore kami yang pertama di bulan Oktober, untuk pertama kalinya kami bertemu setelah 7 tahun kami terpisah jarak. Tujuh tahun yang berat dalam hidupnya – juga hidupku. Kami berdua bergelut dengan masalah kami masing-masing.
Aku mendengar kabar perceraiannya itu dari sepupunya, saat aku iseng menelepon Kayla, sepupunya hanya untuk bertanya kabar dan bertegur sapa. Siapa sangka Kayla malah menangis menceritakan kemelut di rumah tangga milik sepupunya itu. Mereka telah bercerai lima bulan yang lalu, membuatnya terpukul. Pertahanan terakhir rumah tangga mereka, anaknya, ikut dibawa Maiza meninggalkannya.
Sejujurnya aku akan bahagia mendengar kabar tragis itu. Aku akui aku memang egois, aku seharusnya senang dengan perceraian mereka berdua. Tapi dia membuatku melupakan keegoisanku, dia adalah pengecualian dari sifat-sifat burukku. Tanpa sadar aku ikut menangis membayangkan derita yang dialaminya. Akhirnya aku tahu apa yang membuatnya menjadi berbeda lima bulan terakhir ini.
“Kenapa dia meninggalkanmu?” tanyaku pelan namum tegas.
Dia mengusap wajahnya, sekali lagi menggeleng. “Ini masalah rumah tanggaku. Kau tak perlu mengetahuinya” katanya kaku, setengah membentak.
Dia tak pernah membentakku seperti sebelumnya. Entah apa yang Maiza telah lakukan padanya, tapi yang jelas saat aku meninggalkannya duduk sendirian di dalam kafenya, kulihat air matanya mengalir. Ternyata pertemuan pertama kami setelah berpisah selama tujuh tahun tidak berjalan dengan baik. Ahya, pertemuan kami sebelum-sebelumnya pun tidak pernah berjalan dengan baik jika ada nama Maiza di dalam sana.
***

“Sulit mengajakmu jalan-jalan jika hanya di akhir minggu seperti ini” katanya sambil menyerahkan sebongkah permen kapas berwarna merah jambu yang masih terbungkus plastik ke tanganku.
“Kita berdua kan hanya punya waktu di akhir minggu” sahutku sambil menyantap bagian besar permen kapas.
“Ayo” ajaknya.
Dia mengajakku menuju karosel karatan yang sedang berputar pelan, tak jauh dari tempat kami mengantri permen kapas. Patung-patung berbentuk hewan di atas karosel terlihat kusam dan tua. Beberapa bahkan guratan cat di wajahnya telah pudar dan membuatku sulit mengidentifikasikan hewan apa itu. putaran karoselnya pun tampak malas-malasan dan setengah hati seolah-olah patung-patung hewan yang sudah menua itulah yang menggerakkannya. Tanpa menunggu persetujuanku, dia menuju loket pembelian tiket karosel.
“Hey, aku tak mau naik itu!” seruku, menunjuk karosel yang masih berputar. Di atasnya beberapa orang anak dan orang tuanya sedang tertawa-tawa menaiki patung kuda, sapi, gajah, harimau dan unta. Setidaknya hanya lima ekor hewan itu yang nampak segar.
“Ayolah” bujuknya “dulu kau selalu suka naik karosel”
“Iya! Tapi itu dua puluh tahun yang lalu, Ar!” seruku penuh penekanan pada kata dua puluh tahun yang lalu. Aku masih menggeleng keras.
Dia tetap tak peduli, setelah karosel berhenti berputar dan pintu besi kecil tempat naik ke karosel dibuka, dia berjalan santai naik ke atas karosel dan berdiri di sisi patung kuda hitam sambil berpegangan di surai patung. Dia tertawa-tawa dan melambai ke arahku.
Aku gusar, tapi ada bagian dari diriku yang ingin mengulang masa-masa kecil kami yang menyenangkan. Sambil melihat ke arah kiri dan kanan sejenak, memastikan tak ada orang dewasa berwajah menyebalkan yang akan menertawaiku jika aku naik ke karosel, aku berlari kecil masuk ke pagar besi pembatas karosel.
Dia tertawa-tawa menyambutku yang langsung duduk di atas patung harimau tua berwarna coklat di sebelah patung kudanya. Aku bernafas lega, hanya ada beberapa anak kecil yang ikut naik. Karoselnya tidak begitu penuh. Beberapa saat kemudian karosel itu kembali berputar malas-malasan.
Aku tertawa senang, mengenang masa kecilku yang kuhabiskan di atas karosel bersamanya setiap kali ada pasar malam. “memalukan, tapi menyenangkan” seruku ketika ada beberapa anak kecil yang menunjuk-nunjuk kami berdua.
Dia tak tertawa, hanya berdiri diam memandangi patung kuda di sebelahnya. “Maiza meninggalkanku, Dis” ucapnya pelan di antara suara musik karosel.
Tawaku ikut hilang bersama kalimatnya itu.
“Dia mencintai orang lain” lanjutnya, perih. “Lima tahun pernikahan kami sama sekali tak berarti buatnya”
Aku menunduk, tak sanggup melihat wajahnya. Sepanjang sisa putaran karosel, kami berdua hanya menundukdiam.

***

Dua minggu sebelum aku meninggalkan Jakarta.
Kami kembali duduk di coffee shop miliknya, di sisi sebuah jendela yang menghadap langsung ke jalanan di luar sana. Dari kaca jendela gelap itu aku bisa melihat kendaraan dan pejalan kaki yang berlalu-lalang. Aku menunggu dia membawakan kopi untukku, kopi madu, karyanya yang baru lagi. Dari balik meja kasir kulihat dia datang mendekat membawa nampan yang di atasnya diletakkan dua cangkir kopi berwarna krem dengan bunga-bunga biru, juga sepiring bagelan, cemilan favoritku.
“Silahkan, Nona. Kopi madu khas kafe kami” katanya sambil meletakkan nampan di atas meja di depanku.
Aku tertawa “kamu nggak bangkrut yah, tiap sore traktir aku kopi?” tanyaku sambil meraih bagelan dan menggigitnya.
Dia menggeleng “tentu saja tidak. Aku punya pos biaya khusus untuk kunjungan sahabat baik”
Selanjutnya kamu berdua larut dalam kopi madu hangat buatannya. Kami diam selama beberapa saat.
“Tujuh tahun benar-benar telah mendewasakanmu” katanya kepadaku setelah menyesap kopi untuk yang ke tiga kalinya.
“Kaulah yang mendewasakanku” sahutku, kembali memainkan sendok gula di hadapan kami.
“Tidak Disa. Kau dewasa dengan sendirinya.” Dia menolak pernyataanku “aku akui, justru tujuh tahun milikku yang telah aku lewati bersama Maiza membuatku tak bisa berpikir dewasa. Aku ingin mengulang semuanya dari awal lagi...”
Aku menatap wajah lelahnya dengan seksama, memperhatikan guratan-guratan di wajahnya yang dulu tak aku jumpai. Yah, kami berdua memang sudah tua, sudah cukup dewasa untuk menerima banyak hal dalam hidup kami. Dia sudah cukup dewasa menerima perceraiannya dan aku sudah cukup dewasa untuk tahu kapan aku harus berhenti bersabar dan mengatakan semuanya kepadanya.
“Aku akan menolongmu mengulangnya dari awal lagi jika kau mengijinkan” kataku “aku akan selalu menolongmu. Aku akan selalu menjadi tempatmu kembali”
Dia tersenyum, mengangkat kembali cangkir kopinya dan menyesapnya hingga tandas. Kemudian dia meletakkan cangkir kopinya di sebelah cangkir kopiku. “Kita punya banyak kesamaan. Kita bahkan senang pada cangkir yang sama. Warna krem dengan gambar bunga berwarna biru” katanya dengan sedikit tawa getir.
Aku mendorong cangkir kopinya menjauh dari cangkirku, meletakkannya kembali di depan dia yang tersenyum getir. “Tak perlu kesamaan untuk membuat kita bersama” bisikku. Aku juga mendorong mangkuk gula ke sisi cangkirnya “berbeda pun tak bisa membuatku tak berada di sampingmu”
Dia diam, mengamati mangkuk gula yang kini ada di sisi cangkirnya. “Kau bukan mangkuk gula bagiku, Dis” koreksinya, mendorong mangkuk gula itu menjauh “kau adalah wadah bagi kopi milikku. Kau benar, kau selalu menjadi tempat untukku kembali.”
Sulit untuk tidak menangis di saat seperti ini. Dia mulai bisa berdamai dengan kenyataan, kenyataan bahwa akulah wadah kopinya, bukan Maiza atau yang lain. Aku berusaha keras menyembunyikan kristal di mataku yang hendak mengalir menjadi air mata.
“Dis, apa kau masih bersedia menjadi tempatku kembali? Menjadi tempat terakhirku kembali?”
Aku mendorong cangkir kopiku pelan di sebelah mangkuk gula, memperhatikan tiga benda itu berjejer rapi sejajar membentuk pagar porselen. “Apa ijin dariku itu perlu?” tanyaku tanpa memandang wajahnya “mau tidak mau, suka atau tidak suka, kau tetap akan kembali padaku kan? Kau pikir selama tujuh tahun ini apa yang sedang aku lakukan? Aku menunggumu untuk kembali, selama tujuh tahun ini aku selalu menjadi tempatmu untuk kembali”
Entahlah, aku tak begitu tahu persis apa yang kami berdua rasakan. Yang jelas, sore itu ada semacam janji yang tak tertulis di antara kami berdua, kami memang adalah pasangan kopi dan wadahnya. Secara tidak resmi, kami telah saling mengungkapkan cinta.

***

3 hari sebelum aku pulang.
“Jadi kau mau kemana besok? Jalan-jalan kemana?” tanyanya melalui telepon.
“Hmm... kepulauan seribu!” seruku, setengah melonjak dari atas sofa di kamar hotel.
“Kepulauan seribu? Mau snorkelling ya? Bukannya kamu tidak bisa berenang?”
Aku mencak-mencak, “enak aja. Tujuh tahun di Papua aku hidup dengan lautan. Bagaimana mungkin aku tidak bisa berenang?”
Dari seberang dia tertawa “Hehe.. baiklah, baiklah. Kita akan ke kepulauan seribu. Biar aku yang siapkan semuanya, kau tunggu saja di dermaga besok pagi jam 7 tepat”
“Okeee...” teriakku di telepon.
“Sampai jumpa besok, cangkir kopi” candanya, kemudian kami berdua menutup telepon.
Jam 7 tepat aku sudah berdiri di dermaga, di depan sebuah kapal yang akan membawa kami ke kepulauan seribu. Penampilanku benar-benar seperti wisatawan. Sebuah kamre tergantung di leherku, aku mengenakan topi lebar dan kaca mata hitam, kemeja lengan panjang yang lengannya aku gulung hingga ke siku, juga celana jeans lusuh favoritku bersama sepatu kets. Tapi dia belum ada di sana, sudah berkali-kali coba aku hubungi teleponnya, tapi tak pernah aktif. Setelah setengah jam aku menunggu dan dia belum datang juga, aku mulai cemas. Apalagi kapal-kapal yang menuju kepulauan seribu mulai berangkat satu persatu.
Aku duduk di atas beton di sisi dermaga, tempat kapal-kapal kecil menambatkan jangkar mereka, memandangi satu persatu orang yang datang ke arahku. Tak ada sosoknya, dia bahkan tak mengirimiku pesan singkat kalau dia akan datang terlambat. Sejam, dua jam, dia belum juga datang. Aku memutuskan untuk kembali ke hotel karena matahari sudah mulai terik. Dia benar-benar tak datang.

***

“Aku minta maaf, Dis” katanya lemah. Kami berdua berdiri kaku di lobby hotel. Malam itu juga dia datang ke hotel tempatku menginap, setelah selama sehari penuh menghilang tanpa kabar. “Tadi malam Maiza datang menemuiku, membawa Raffi di pelukannya. Dia... memintaku untuk kembali”
Aku memandanginya, berharap apa yang diucapkannya itu hanya sebuah kebohongan saja. Tapi rasa takut yang luar biasa telah lebih dulu menyerangku. Tanganku kukepalkan untuk menahannya agar tidak bergetar.
“Kami mendiskusikannya seharian, tentang masa depan kami, masa depan Raffi...”
“Lalu?” potongku, ada amarah yang coba aku selipkan di pertanyaanku itu. tapi lagi-lagi aku tak sanggup. Dia adalah pengecualian bagi semua sifat-sifat burukku.
“Kami mungkin akan mengurus kembali pernikahan kami. Maksudku, kami memiliki Raffi, aku tak mungkin membiarkan Maiza merawat Raffi sendirian.”
“Kau masih mencintai Maiza?” tanyaku dengan dahi yang berdenyut, tak peduli pada alasannya tentang Raffi.
Dengan raut wajah yang paling aku benci seumur hidupku, dia mengangguk. Dan semuanya berjalan sangat cepat. Aku berlari meninggalkannya di lobby hotel, masuk ke kamarku dan menangis sekeras yang aku bisa.
***

Suara seorang wanita dari interkom yang meminta penumpang pesawat Lion Air yang hendak berangkat menuju Makassar agar masuk ke ruang tunggu mengagetkan lamunan panjangku. Buru-buru kuhabiskan kopi milikku dan beranjak dari coffee bean bandara menuju ruang tunggu.
Sambil membaca-baca majalah yang kubeli dari pedagang asongan di luar bandara tadi, aku duduk di kursi tunggu menunggu penerbanganku yang dijadwalkan akan berangkat 15 menit lagi. Beberapa orang dengan tujuan yang sama mulai memenuhi kursi tunggu bandara. Suasana ruang tunggu menjadi riuh karena begitu banyaknya penumpang yang akan menuju Makassar.
Seseorang  yang membawa ransel besar duduk di sampingku, menghimpit pundakku dengan ransel besarnya. Sebenarnya aku ingin protes pada pria itu, tapi aku terlalu tak bersemangat untuk marah-marah kali ini. Aku membiarkan pria itu meletakkan ransel besarnya dengan seenaknya di sampingku. Kenapa juga tadi tidak dia simpan di bagasi saja? Gerutuku dalam hati.
“Apa aku masih bisa minta maaf?” tanya orang itu dari balik ranselnya.
Aku melirik orang-orang di sekitarku, memastikan kalau dia memang sedang bicara denganku. “Maaf?” sahutku memastikan.
Dari balik ransel besar itu menyembullah kepala Arya.
“Arya?” tanyaku tak percaya, aku luar biasa terkejut. “Kamu ngapain....”
“Tadinya aku mau menyusul kamu ke Papua” potongnya “aku pikir kau sudah balik ke sana sejak beberapa hari yang lalu”
“Tapi ngapain kamu ke Pap...”
“Menemuimu” potongnya lagi. Dia mengeluarkan sesuatu dari ransel besarnya. Sebuah cangkir kopi kosong berwarna krem dan bergambar bunga berwarna biru. “Ini untukmu”
Dia menyerahkan cangkir kopi itu kepadaku. Aku menerima cangkir kopinya dengan pandangan heran. “Maiza?”
“Dia bukan tempatku kembali, Disa. Kau tahu itu”
“Kau...”
“Aku menyadari kalau aku tak bisa menjadi wadah bagi kopinya. Dan lagi dia sudah menyerahkan Raffi ke dalam perawatanku dan ibuku. Maiza tak mau lagi mengurus Raffi. Kau harus berkenalan dengan Raffi, Dis. Kau pasti akan menyukainya”
Wajahku berubah dari heran menjadi tersenyum bahagia. Aku memandangi cangkir porselen di tanganku. “Ini, berikan pada Raffi. Bilang hadiah dariku. Pulang dari Papua nanti aku akan mengunjunginya”
Arya meraih cangkir itu, memasukkannya kembali ke dalam ransel miliknya.
“Jadi?” tanyaku.
“Jadi apa?”
“Kau menyusulku ke sini untuk apa?” desakku “tidak mungkin kan hanya untuk menyerahkan cangkir kopi itu”
“Yah, kupikir...”
“Pikir apa?” potongku.
Kami berdua saling berpandangan, lantas tertawa bersama-sama.
“Aku akan selalu menjadi tempatmu kembali” kataku pelan di sela-sela suara berisik para penumpang pesawat.

You Might Also Like

0 komentar