Togean : Special Place Ever!

Lama tidak menulis sesuatu meski bukan hal-hal penting. Ada rindu mendengar detak ketukan jemari di atas keyboard. Pun rindu mendengar dengung halus dari dasar laptop. Semenjak laptop rusak, jadi malas ngapa-ngapain, termasuk menyelesaikan serial drama korea It's Ok It's Love yang baru ditonton 4 episode (eh!). Beruntung sekarang lagi jaman smartphone yang bisa dipake blogging-an dimana pun. Bersulang untuk pengembang smartphone dan pembuat aplikasi blogger di Android!

Saya sedang jatuh cinta, yang ke dua kalinya, pada satu tempat yang sama : Kepulauan Togean.

Sebagai seorang tra-ker; traveler namun kere, untuk sementara pergi-pergi jauh-jauh belum bisa dijadikan agenda dalam waktu dekat. Iya, kalo dulu-dulu sik jadi solo traveler ayuk-ayuk aja. Sekarang prosedur memperoleh surat ijin traveling agak-agak sulit. Sudah ada yang sering mencereweti hobi traveling saya. Maksudnya cerewet tanda perhatian gitu loh. Masa iya sudah nikah terus kalo diajak jalan-jalan ke Thailand lagi langsung ngangguk-ngangguk? Dipanggil Ummu Sulaiman-nya kapan? (Curhat alert).


Akhirnya setelah menimbang-nimbang biaya traveling yang tidak-bisa-tidak-harus-dilaksanakan karena sudah setahun saya tidak traveling, saya memutuskan untuk traveling ke tempat yang paling dekat dengan Luwuk. Togean! (Setelah mencoret opsi Wakatobi karena mahalnya biaya tiket pesawat kesana meski masih sama-sama di Sulawesi dan melupakan opsi Lombok untuk sejenak karena harga tiket pesawat ke Jawa memang selalu nggilani).

Ini ke dua kalinya saya ke Togean (dan mungkin masih akan ada yang ke tiga kalinya karena saya masih belum mengunjungi pulau Katupat dan pulau Papan. Insyaallah!), bedanya kali ini saya menginap di pulau Kadiriri, bukan Poyalisa seperti waktu pertama kali saya ke sana. Bersama suami dan dua orang teman kantor kami memakai jasa paket wisata Bungtsu Tour & Travel (dear Ebi, saya so promosi ngana pe paket wisata e. Saya tau kalo saya ka Togean lagi diskon 50%). Alasannya sih tidak mau ribet. Apalagi di internet informasi tentang Togean masih minim, terutama untuk booking resort di sana. Yasud, berhubung yang punya Travel teman sendiri.

Setelah 4 jam naik mobil Luwuk-Ampana (itu teman suami yang bawa mobil kayanya bisa ikut NASCAR. Luwuk-Ampana cuma 4 jam mamen), menyeberang naik kapal kayu selama 4 jam menuju Wakai dan dilanjutkan dengan naik boat ke Kadidiri selama kurang lebih 30 menit. Tibalah kami di Kadidiri Paradise yang punya diving school yang mahalnya minta ampun. Berhubung budget traveling saya ngepas dan waktu menginap yang tidak lama, untuk sementara mendapatkan-lisensi-menyelam belum bisa saya coret dari daftar saya.

Sampai di Kadidiri, tidak tunggu lama, semua langsung lompat ke air. Padahal hari pertama belum niat nyebur, tapi apa daya liat air laut yang setenang itu. Tenang tapi menghanyutkan karena ternyata setelah nyebur arus di dalam air lumayan bikin capek untuk berenang balik ke dermaga.

Pegawai di Kadiriri resort ternyata ada beberapa yang bule. Mereka sudah lancar bahasa Indonesia. Malah waktu kami bilang kalau kami dari Luwuk dia langsung bilang 'Luwuk? Tek lama'. Haha. Mereka ternyata hanya pegawai sementara yang menyiasati biaya traveling dengan menjadi pekerja di resort-resort yang ada. Hal ini sudah biasa, dimana mereka ingin mengambil lisensi diving dan dive master agar bisa mengajar diving di tempat lain, dan itu makan waktu berbulan-bulan. Jadi mereka bekerja di resort agar mendapat tempat tinggal dan makan gratis sekaligus digaji untuk membayar biaya kursus diving mereka. Pekerjaan mereka juga ringan, hanya membantu mencuci piring dan membersihkan resort. Baru kali ini saya makan piringnya dibereskan dan diangkatkan sama orang bule. Hihi.

Di Kadiriri kenalan sama sepasang suami istri dari Manado, 3 orang ibu-ibu bule dari Kanada dan seorang ibu-ibu dari Manado teman ibu-ibu bule tadi yang jadi translator mereka. Ya, meski ada seorang ibu bule yang tidak butuh translator karena sempat dengar dia protes waktu kami mau tour snorkling keesokan harinya dan hanya dikasih kapal lambat untuk berkeliling ke spot snorkling. She pointed at the another boat with double machines and said 'ini jo!'. Wkwkwk

Kami bersepuluh akhirnya naik kapal yang lebih keren setelah ibu-ibu itu sedikit berdebat dengan pengelola resort dan mulai mengungkit-ungkit kenapa mereka tidak disediakan sup saat makan malam. Well, yang namanya ibu-ibu memang jago menghubungkan segala sesuatu yang tidak ada hubungannya. Dari urusan kapal merembet sampai urusan sup dan urusan 'I didn't have water in my room even to wash my a*s'.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah stingless jelly fish lake. Masyaallah...saya bisa berenang di sana seharian sambil pegang ubur-ubur. Meski tempatnya agak seram, airnya warna hijau dan dalam (yang bikin suami saya takut tiba-tiba ada buaya besar yang muncul dari dasar danau dan melahap kami. Dear kakak, jangan terlalu banyak nonton NatGeo napa).

Selesai dari danau ubur-ubur tanpa sengat, snorkling lagi ke pantai Karina. Tidak pakai lama, begitu kapal berhenti semua langsung menyebar ke segala arah. Kecuali beberapa orang yang masih sibuk foto-foto (kamu! Iya, kamu maksud saya kakaak...). Saya sendiri langsung pasang snorkle dan berkeliling. No poto poto (kecuali diajak dan dipaksa. Eaa).

Terumbu karangnya keren. Airnya jernih. Dan saya melihat banyak ikan-ikan yang belum pernah saya liat sebelumnya. Termasuk anak ikan pari dan ikan karang yang berjalan. Kalau dipikir-pikir dulu waktu kecil takut sama laut yang agak dalam. Tapi sekarang malah ketagihan snorkling setelah diajak snorkling ke Bunaken waktu masih kuliah dulu.

Tujuan terakhir adalah pulau Taipi, pulau yang berada tepat di depan pulau Kadiriri. Sama kerennya. Biota laut memang berlimpah. Selalu saja ada hal baru yang saya temukan setiap kali snorkling.

Pulang dari Taipi langsung beberes. Kami harus ke Wakai untuk naik feri dan menyeberang balik ke Ampana. Untuk kemudian langsung balik ke Luwuk karena besoknya adalah hari senin...hari senin...hari senin *bergema*

Di perjalanan pulang menuju Luwuk kami singgah di Sabo untuk makan dan nemu rumah makan yang punya kuah asam terenak sejagat raya! I'm not kidding. It has the best kuah asam ever! Saya belum pernah nemu kuah asam yang asam dan pedasnya pas. Kuahnya juga kental. Dan semua yang makan sepakat dengan saya. Sampai akhirnya suami saya bilang 'dek, kalo nanti ngidam jangan sampe ngidam kuah asam di sini ya. Jauh soalnya. Masa kakak harus berjam-jam ke Ampana cuma buat beli kuah asam?'. Dan saya ngakak sambil mengangguk. Ide bagus!

Dalam perjalanan pulang saya memikirkan sesuatu. Kini saya tau kenapa Togean selalu terlihat lebih keren dari semua tempat yang pernah saya datangi. Yes, it's not about the place you have traveled. It's about whom you traveled with. Kenapa Togean begitu spesial buat saya? Karena saya pernah kesana dengan keluarga saya. Lengkap bertujuh. Papa, mama, dan 4 orang adik laki-laki saya. Kami yang sebelumnya jarang sekali berkumpul untuk bepergian. Dan kini saya pergi bersama suami saya. Traveling pertama saya bersama suami. Saya rasa Togean akan selalu jadi tempat yang spesial. Semoga masih ada kesempatan yang ke tiga biar hattrick. Haha

8.10 AM
BTN Kilo 5.

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)