Hamil!

Diawali dengan kisah membeli test pack bagian pertama :
Saya : kalau penjaga apotiknya cowok, kakak yang masuk beli test pack, saya tunggu di luar. Kalo penjaga apotiknya cewek, biar saya yang masuk *sambil mikir dimana apotik yang penjaganya cowok*
Suami : tidak mau ah, nanti masuk ke apotiknya sama-sama saja.
Saya : kakak, muka saya ini masih imut, tidak keliatan kalo sudah nikah. Muka saya ini muka anak-anak, ntar penjaga apotiknya pikir kita belum nikah.

Akhirnya minta tolong teman belikan test pack. Setelah perdebatan yang tidak jelas. Hasilnya negatif lagi. Hih!

Beberapa bulan kemudian, memutuskan beli test pack sama-sama. Tidak enak juga kalo harus nitip sama teman lagi.
Saya : mbak, ada test pack? *ngomongnya sok santai tapi pelan*
Mbak penjaga apotik : ada. Mau yang biasa apa yang mahal?
Saya : yang biasa berapa? Yang mahal berapa?
Mbak penjaga apotik : yang biasa 2.500, yang mahal 25.000
Saya : yang 2.500 aja deh mbak. Mau mahal atau murah kalo hamil ya pasti dua garis *istri perhitungan*
Dan alhamdulillah, hasilnya positif.

Pergi ke dokter kandungan, di-usg, liat janinnya yang bentuknya baru mirip kacang, ada rasa haru menyusup. Ada makhluk hidup yang sedang tumbuh dalam diri saya, yang nanti akan memanggil saya 'ibuk'. Maha Besar Allah. Tidak henti-henti saya memuji-Nya dalam hati. Inilah hasil dari proses penciptaan manusia yang diulang-ulang pada beberapa ayat Alquran. Saya merinding, sungguh kita manusia teramat kecil pada mulanya. Foto hasil usg terus-menerus saya pandang. "Kita akan bertemu nak, insyaallah..."

Kemudian datanglah masa-masa penuh sengsara itu. Tidur tidak enak, bangun tidak enak, duduk tidak enak, berdiri tidak enak, makan tidak enak, lapar apalagi. Berat badan sampai turun, mau ngapa-ngapain rasanya lemas. Rutinitas saya hanya makan-muntah-makan-muntah. Bahkan mau bernafas saja rasanya capek. Semua makanan mendadak jadi tidak enak, air putih rasanya pahit, cuma mampu makan tapi tidak mampu diolah jadi energi. Berasa jadi penderita anoreksia, eh, bulimia. Apalah namanya.

Setelah dua bulan penderitaan dan saya sembuh, nafsu makan naik dua kali lipat. Lemak mulai menumpuk dimana-mana. Belum lagi kalo bercermin, saya merasa seperti ibu-ibu banget. Tiap internetan, yang dibuka forum ibu-ibu hamil. Mulai cemas kenapa saya belum merasa tendangan dari calon bayi padahal usia kehamilan sudah 15 minggu. Selalu membaca kandungan makanan dalam kemasan yang saya beli. Mulai selektif memilih camilan, dan entah kenapa jadi suka masak (meskipun masakan saya tidak ada enak-enaknya). Pokoknya citra ibuk-ibuk mendadak melekat dalam diri saya.

Sekarang sudah tujuh bulan lewat, perut sudah semakin membesar, tendangan terasa dimana-mana. Kaki, siku, bahkan mungkin kepalanya dia jedotin ke perut. Kadang tendangannya terasa sakit, seperti dicubit gorila. Kecemasan selanjutnya setelah kecemasan-menanti-tendangan-perdananya adalah posisi janin. Memasuki bulan ke tujuh saya merasa posisi kepalanya masih di atas. Saya banyak-banyakin sujud, suami ngotot minta saya senam hamil dikit-dikit lewat youtube yang hanya saya lirik sekilas kemudian kembali main Cooking Dash #eh

Sampai bulan ke enam, kami belum juga mengetahui jenis kelamin calon bayi. Ditutupin sama kakinya, kata dokter. Begitu di-usg pada bulan ke tujuh, alhamdulillah, ternyata posisi kepalanya sudah di bawah, siap-siap mau keluar kayanya. Gerakannya lumayan aktif, keliatan juga jemari mungilnya yang menggapai-gapai sampai saya tidak sadar ikut menjulurkan tangan saya ke arah layar untuk menggapainya. Kata dokter semuanya normal, berat badannya normal, alhamdulillah, anggota tubuhnya lengkap, alhamdulillah, dan terakhir....lagi-lagi jenis kelaminnya masih unknown. Masih ditutupin! Dokter sampe lama liatinnya dan masih belum bisa memastikan.

Terserah, jenis kelaminnya apa bukan jadi masalah. Yang penting dia sehat sampai lahiran nanti. Aamiin...

Di usia kandungan yang sekarang, katanya anak harus banyak diajak ngobrol. Sambil elus-elus perut saya mikir, mau diajak ngobrol apa ni anak. Kayanya tidak ada topik yang pas deh. Beda jaman. Akhirnya ujung-ujungnya ngomong gini ke anak : nanti kalo sudah lahir kita traveling yaa. Hihi...

Well, ada sedikit rasa tegang menanti kelahiran yang insyallah masih dua bulan lagi. Tapi ada banyak rasa tidak sabar dan bahagia menyambut kedatangannya. Semoga kelak dia menjadi anak yang, tidak perlu muluk-muluk, minimal jadi pengusaha sholeh yang masuk daftar orang terkaya versi majalah Forbes atau jadi pemimpin Negara yang sholeh dan amanah. Halah

Jadi apa pun kamu nanti, nak, jadilah hamba yang selalu mengingat Tuhannya. Jadilah muslim yang mengikuti Rasulnya. Jadilah anak yang sholeh kesayangan ibuk kelak :)

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)