Tentang Pertanyaan "Kapan...?"


Ada beberapa pertanyaan di dunia ini yang jawabannya hanya dimiliki oleh Allah. Misalnya pertanyaan kapan kita akan meninggal atau pertanyaan 'kapan menikah?'. Pertanyaan yang kedua ini yang sesungguhnya agak terdengar membosankan karena sudah berkali-kali saya mendengarnya. Seharusnya sih pertanyaan seperti itu disertai dengan kalimat solusi semacam 'tante punya calon buat kamu loh. Tau kan jubirpres Julian Pasha? Mau tidak tante kenalin sama dia?' *kemudian digeplak Mbak Mega*

Bagi sebagian orang pertanyaan itu mungkin hanya sekedar basa-basi karena lama tidak bertemu (tapi sekalinya ketemu langsung menanyakan hal yang jawabannya sudah saya hafal di luar kepala -___-). Tapi ada yang mengangaggapnya cukup serius dan penasaran siapa orang yang akan jadi suami saya nanti, seperti apa orangnya *ini kalimatnya vulgar amat sik*. Saya juga penasaran kalii. Yang pasti, he must be special. Haha. Tentu saja dia harus orang yang istimewa karena hanya orang yang istimewa yang mampu bertahan di sisi saya dengan segala macam kekurangan yang saya miliki *uhukk...*

Sejujurnya bukan tidak suka dengan pertanyaan itu. Saya justru terharu karena mereka yang bertanya begitu peduli pada saya. Tapi sesungguhnya itu pertanyaan yang cukup men-jleb-kan (halah) karena bukan keinginan diri untuk menundanya. Allah masih ingin kita (setiap orang yang mendapat pertanyaan yang sama) memperbaiki diri. Allah masih ingin mengajarkan tentang makna sabar kepada kita karena tentu saja Allah lebih tau kapan saat yang tepat itu.

Yang terpenting adalah bukan 'kapan' tetapi 'bagaimana' cara kita mengisi ruang kosong di sisi. Apakah akan kita isi dengan hal yang sia-sia ataukah akan kita isi dengan hal yang bermanfaat yang akan membantu memudahkan langkah kita kelak. Ya, tabungan kebaikan dan manfaat hari ini bisa jadi baru akan dicairkan oleh Allah bertahun-tahun kemudian.

Sedikit catatan bagi kita, jodoh memang pasti. Tapi apa kita akan bertemu dengannya di dunia atau di akhirat kelak, itu yang belum pasti. Jadi kenapa kita begitu cemas memikirkannya sementara kematian yang pasti datangnya kadang kita lupa? Bukankah kematian jauh lebih pasti dan kita harus bersiap-siap menyambut kedatangannya alih-alih bersiap-siap menyambut jodoh yang belum pasti bertemu di dunia?

Toh kalau jodoh tidak akan kemana kan? :p
Pasti tidak akan kemana. Bukankah namanya telah ditulis di sisi nama kita lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan semesta? Jadi apa yang harus kita cemaskan? Kalau memang Allah menuliskan jodoh kita nanti secerdas Ali, sekeren Umar, sedermawan Abu Bakar atau sesabar Utsman (yang ini mah tidak ada yang bakal nolak), apalagi yang harus kita khawatirkan? Mau dia lahirnya di Turki, sekolah di Jerman dan bekerja di Jepang, pasti nanti tetap akan bertemu - dipertemukan oleh Allah lebih tepatnya. Tidak peduli sejauh apapun, seberat apapun perjuangannya dan semelelahkan apapun perjalanannya, Allah pasti akan menggerakkan dua hati itu bersama-sama untuk tidak akan pernah menyerah. Pasti. Percaya saja sama Allah :)

One day someone will walk into your life and make you see why it never worked out with anyone else (anonim)

Nanti akan ada orang yang membuat kita paham, kenapa Allah membuat semuanya gagal. Kenapa Allah membiarkan kita berkali-kali kecewa. Ya, itu hanya demi mempersiapkan diri kita untuk bertemu dengan orang yang tepat. Klise? Tidak klise menurut saya. Hanya saja kita terlalu sering bertemu dengan orang yang belum tepat sehingga kisah tentang pangeran berkuda putih menjadi terlalu klise bagi kita.

Jadi biarkan Allah menuntun kita di jalan yang sama dengan jalan yang ditempuh oleh seseorang yang namanya telah dituliskan Allah di sisi nama kita hingga kita akan bertemu dengannya di jalan itu. Bukan karena pada akhirnya kita telah menjadi cukup pantas untuk dia dan dia menjadi cukup pantas untuk kita. Bukan. Tapi karena memang pada titik itulah Allah menetapkan pertemuan kita dengannya.

Karena menikah bukan soal pantas dan tidak pantas di mata manusia. Allah lebih mengetahui. Allah lebih memahami :)

Kantor, 11.11 PM
Kebiasaan kalo silaturahim kemana-mana dalam rangka idul fitri pertanyaan itu pasti selalu ada.

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)