Untittled


Kami mungkin nanti akan selalu menyukai tempat yang sama untuk menyendiri, untuk paling tidak berpura-pura lupa bahwa hidup selalu punya masalah yang harus diselesaikan. Sementara saja, memberi jeda pada tumpukan memori di kepala agar berhenti bergerak. Tanpa sedikit pun berharap takdir akan mempertemukan kami lagi di tempat ini.

Aku tau itu dia, bahkan tanpa melihatnya. Hanya dia orang yang mau datang ke tempat ini ketika matahari belum sepenuhnya terbit, masih dibalut kabut dan angin yang menghadirkan gigil. Aku merapatkan jaketku, melindungi dada yang tiba-tiba berdesir pelan. Sangat pelan, tapi entah kenapa itu adalah desiran yang paling aku rindukan.

“Kamu akhirnya menyerah” ucapnya, telah berdiri di sampingku, sama-sama mengedarkan pandang ke hamparan padang rumput luas di depan kami.

“Kamu yang lebih dulu menyerah” ucapku ketus.

“Perempuan itu sangat mencintaiku. Aku tidak berpikir untuk menyerah, tapi perempuan itu terlalu rapuh untuk aku tinggalkan.”

“Lelaki itu pun mencintai aku, sangat” kataku tak mau kalah “sejak aku mengenalnya, aku telah berpikir untuk menyerah...”

Dia tertawa “kamu tidak pernah berpikir untuk menyerah, aku tau itu. Jangan berbohong di hadapanku. Aku mengenalmu sama seperti aku mengenal diriku sendiri.”

Aku tersenyum tipis, mengalihkan pandanganku dari pemandangan di depan sana ke arahnya. Ke matanya yang kecil, senyumnya yang hangat, dulu aku selalu mengatakan kalau dia itu manis. Seperti sesendok krim yang aku tuangkan ke cangkir kopiku.

Dia memandangiku. “Kadang aku masih merindukanmu...”

Aku menunduk, menyembunyikan rona yang tiba-tiba muncul pada wajahku yang pucat karena dibelai angin pagi.

“Sampai sekarang aku masih tidak mengerti, kenapa dulu kau membiarkan aku menyerah?”

Aku menggeleng pelan “tadinya aku tidak akan membiarkanmu menyerah begitu saja” aku menarik nafas panjang “tapi aku takut kamu benar-benar ingin menyerah dan mengacuhkan aku...”

“Jika kamu menahanku, aku akan berhenti. Selalu.” Potongnya “hanya kamu, iya, hanya kamu orang yang mampu menahanku selama itu bahkan tanpa kau memegangiku. Kamu pikir kenapa aku butuh waktu lama sampai akhirnya aku menyerah?”

“Aku sudah berusaha menahanmu dulu, tapi kamu tetap ingin pergi...”

“Kapan?” potongnya lagi. Dia tampak mulai kesal “kamu tidak pernah melakukan hal itu, sekali pun.”

“Karena memang kamu tidak perlu tau kapan aku melakukannya.” Aku tersenyum padanya.

Dia mengalihkan pandangannya dariku dan menarik nafas panjang. “Takdir memang lucu” dia tertawa “membuat kita sebegini rupa, berjarak padahal aku ada di sampingmu. Aku mencintaimu, ya, kamu tau, aku juga tau kamu mencintaiku. Tapi apa yang telah dilakukannya? Kita menjalani hidup dengan orang yang berbeda. Dicintai begitu rupa oleh orang yang berbeda. Apa karena kita terlalu saling mencintai, karena itu kita hanya bisa berdiri bersisian sebagai orang asing?”

Aku tersenyum, menggedikkan bahuku, “mungkin. Tapi menurutku takdir hanya tidak ingin kita mencintai orang yang salah, kemudian menyodorkan pada kita orang yang tepat untuk kita cintai. Seperti yang selalu diulang-ulang oleh banyak orang, Tuhan lebih tau mana yang tepat untuk kita. Bukan begitu?”

Dia tertawa “dan sayangnya, cinta yang salah itu, ah...kasihan sekali kita harus menyalahkan cinta, jika dia memang salah, kenapa dia tidak segera pergi, lenyap, menghilang, ketika kita telah dipertemukan dengan cinta yang tepat untuk kita?”

“Aku tidak tau...tidak ingin tau. Semakin aku ingin tau, maka aku akan semakin merasa sakit. Lebih baik aku berpura-pura rasa sakit itu tidak pernah ada. Berpura-pura adalah obat terbaik bagiku.”

Dia diam dan kembali memandangiku lagi. Lebih dalam dari sebelumnya. Lebih dalam dari yang pernah dia lakukan dulu. Udara terasa semakin hangat. Dan aku merasa sesak, entah karena jaket tebalku atau karena pandangan matanya itu. Semuanya terasa tidak nyaman. Aku merasa tidak baik-baik saja, sebenarnya sejak aku memutuskan untuk datang ke tempat ini. Aku tidak merasa baik-baik saja karena aku sadar, sampai kapan pun, entah sampai kapan, siapa pun orang yang ada di sisiku, sebesar apa dia mencintaiku, sebesar apa dia menyayangiku dan memenuhi segala keinginanku, aku tidak akan pernah bisa melupakan laki-laki dengan raut wajah manis yang ada di sisiku ini. Kami pernah begitu saling jatuh cinta, kemudian memutuskan untuk menyerah, tapi akhirnya menyerah untuk menyerah. Kami masih saling berharap tanpa menunjukkan kalau harapan itu masih ada dan masih sangat kami inginkan.

“Jaga dirimu baik-baik” ucapnya “untuk aku, atau paling tidak untuk lelaki yang mencintaimu dengan sangat itu.”

“Kamu juga” kataku kaku “untuk perempuanmu, untuk wanita yang telah banyak berkorban untukmu. Jangan lagi merindukan aku kadang-kadang...”

Dia tertawa, tertahan. “sebenarnya lebih sering dari kadang-kadang”

Aku ikut tertawa, tertahan. aku berharap, nanti-nanti, jika aku ingin ke tempat melarikan diriku lagi, aku tidak harus bertemu dengannya agar aku tidak perlu terus berpura-pura kalau aku baik-baik saja.

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)