MengASIhi

Source

Breastfeeding is bestfeeding. ~Author Unknown

Ketika seorang ibu tidak bosan-bosan mengulang hal yang sama tentang anaknya, dia sedang rindu.

Ayyub memang belum menyapih, tapi dua tahun berharga yang baru saja kami lewati terlalu membekas untuk dilepas. Keinginan menceritakannya kembali dalam sebuah tulisan terus menerus mengganggu saya. Dan sambil menunggu masker putih telur ini kering, saya ingin mematri kembali sedikit hal yang bisa saya ingat dengan menyulamnya menjadi sebuah hiasan kenangan yang bisa ditengok kembali kapan-kapan jika rindu itu datang.


Hal paling pertama yang saya ingat tentang perjalanan mengASIhi ini adalah menangis. Iya pakek banget. Saya menangis karena tiga hari lagi saya masuk kantor dan tidak ada stok ASIP untuk Ayyub. Ketika ibu-ibu lain stok ASIPnya sudah satu kulkas penuh menjelang masuk kantor, saya sebotol pun belum punya. Seandainya bisa ngemis, mungkin saya sudah ngemis-ngemis ASIP di forum ibu-ibu menyusui. Dan kalau tidak ingat cicilan rasanya saya ingin resign saja biar tidak usah pakai acara pumping pumping segala.

Saya keasyikan menyusui langsung dan selalu berpikir pumping-nya nanti-nanti saja hingga nanti-nanti itu berubah menjadi 'ya Allah tiga hari lagi masuk kantor!!!'. Panik, tentu saja. Untung punya suami yang mendadak jadi Mario Tegar dan bilang saya pasti bisa nyetok ASIP beberapa botol sebelum mulai ngantor. Dan dimulailah jadwal pumping yang nggilani itu demi mengejar stok minimal ASIP untuk dua hari ngantor.

(AIMI justru menyarankan ibu-ibu agar di awal-awal kelahiran bayinya lebih fokus pada menyusui langsung dan membangun bonding dengan anak. Lupakan dulu sejenak urusan pumping. Yep, itu juga pemikiran awal saya selain karena masih malas pumping jugak meskipun berakhir dengan kepanikan)

Nekatnya lagi, saya memutuskan untuk pumping dengan jadwal kejar tayang. Bukan karena saya ngefans sama sinteron stripping, bukan juga karena ASI saya mengandung enzim  lipase yang tinggi, tapi ASIP segar kualitasnya lebih baik dari ASIP yang dibekukan. Pumping kejar tayang ini hanya istilah yang digunakan untuk ibu-ibu yang tidak membekukan ASIPnya dan hanya disimpan di kulkas bawah. ASIP beku mampu bertahan hingga dua tahun, tapi ASIP yang hanya didinginkan paling lama hanya bertahan satu pekan. Biasanya sistem kejar tayang ini untuk ibu-ibu yang ASI-nya mengandung enzim lipase yang tinggi sehingga ASIP tidak bisa dibekukan.

Padahal dengan hasil pumping yang pas-pasan saya seharusnya menyetok ASIP beku banyak-banyak. Biar nanti kalau tidak sempat pumping punya stok buat Ayyub di rumah. Untunglah saya agak keras kepala. Selama hampir dua tahun pumping, belum pernah saya melewatkan jadwal pumping saya satu kali pun. Bahkan ketika ada acara kantor seharian, saya rela mengganti waktu makan siang saya buat pumping. Kurang Xena apa saya coba.

Tapi pada suatu ketika hasil pumping saya menurun drastis. Yang biasanya sekali pumping bisa dapat dua botol, ini hanya bisa sebotol saja. Sampai perih tidak pernah hasilnya lebih dari sebotol dan itu berlangsung selama dua pekan. Saat itu usia Ayyub sudah delapan belas bulan lebih. Saya cemas dia bingung puting karena minum ASIP dari dot. Tapi ternyata Ayyub tidak bingung puting. Dia bisa membedakan mana dot dan mana nipple. Dia juga ngerti kapan harus minum di dot dan kapan bisa menyusu langsung. Jujur saya sangat bersyukur. Karena di grup AIMI, jangankan curhat soal dot, menyebut kata dot saja kita bisa kena semprot. Wkwk. Masalah dot memang beresiko tinggi. Biasanya bayi yang sudah kenal dot daya hisapnya melemah dan bisa berakibat menurunnya kuantitas ASIP dan berujung pada gagal mengASIhi selama dua tahun.

Tapi setelah saya pikir-pikir, ternyata hasil pumping saya menurun karena lagi bulan puasa dan saya kelaparan. Wkwk. Puasa memang tidak menurunkan produksi ASI, tapi lapar kadang bikin mood jadi jelek dan berpengaruh pada hasil pumping. Padahal puasa tahun sebelumnya tidak begitu, tapi entahlah. Mungkin dibarengi sedikit rasa jenuh dengan aktivitas pumping yang honestly, menguras tenaga.

Setelah bulan puasa lewat, hasil pumping normal lagi. Tapi seiring berjalannya waktu, hasilnya kembali menurun. Hal itu normal karena Ayyub semakin besar, bahkan satu pekan sebelum usianya dua tahun dia sudah menolak ASIP sama sekali dan lebih suka menyusu langsung. Kini setelah Ayyub benar-benar berhenti minum ASIP, saya harus merelakan empat botol ASIP saya dibuang sia-sia karena sudah kadaluarsa. Selesai sudah segala kegiatan yang saya akrabi selama dua tahun ini. Kegiatan yang bikin saya harus melewatkan tiap jam makan siang, yang bikin saya terantuk-antuk mengantuk sambil pegang pompa ASI di malam hari, membuat saya harus tidur paling akhir dan bangun paling awal. It's worth it. Ayyub jadi bayi yang Alhamdulillah jarang sakit, bahkan saat tumbuh gigi sekali pun dia tidak pakai acara demam. Sayang kamu tidak gendats nak, jadi orang-orang kadang kasih saran supaya Ayyub minum susu formula biar gendats. Mamak hanya bisa kasih senyum Sensodyne.

Inti dari curhatan panjang yang lebih banyak bagian tidak pentingnya ini adalah : jika kamu bertekad menyusui hingga usia dua tahun, percaya dirilah. Percaya kalau ASImu itu cukup meski mungkin tidak sebanyak ASI ibu-ibu lain. Setiap bayi berbeda, kebutuhan ASInya pun berbeda. Dan keras kepalalah. Karena kalau ingat gimana capeknya pumping, apalagi saya lebih banyak pumping dengan tangan, kalau tidak pake kekerasan kepala, mungkin saya sudah menyerah pada godaan iklan susu formula yang berlebihan itu. Dan terakhir, jangan pumping dengan perut lapar. Serius.

Setelah ini, saya ingin berterima kasih kepada botol-botol ASIP, pompa manual, pompa elektrik, sabun cuci botol, sikat botol, dan botol dot Ayyub yang telah melengkapi perjalan spiritual ini. Kalau saja mereka bisa diajak bicara, mungkin saya akan membuat farewel party di dapur sebelum mengepak mereka kembali ke dalam dus untuk insyaallah digunakan lagi buat adik Ayyub nanti. Nanti...mamak mau bernafas lega duluuu.

Akhir paragraf, tanpa bermaksud mengerdilkan peran ibu-ibu yang memilih memberi anak mereka susu formula (apa pun pilihan seorang ibu, saya yakin mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak mereka) ASI adalah cairan emas yang menjadi asupan terbaik yang bisa diberikan seorang ibu kepada anaknya.

Menyusui adalah sebuah interaksi alamiah yang memang mengakar di diri setiap perempuan yang bergelar ibu dengan anaknya dan mengisap adalah ketrampilan paling purba manusia yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap bayi yang baru lahir.

Bagaimana pun, ASI atau susu formula, yang paling penting adalah bagaimana kita mewarnai kertas putih bersih yang belum bertuliskan apa pun di atasnya itu.

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau pun Majusi.

(H.R Muslim)

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)