Jembatan Merah : The Story Behind

Tadinya saya mau buat cerpen yang singkat aja tentang seorang mantan perwira yang mengalami amnesia dan lupa dengan kekasihnya sendiri. Tapi ternyata malah jadi melebar ke Jembatan Merah. Ya udah, sekalian aja dibahas tentang monumen yang satu ini.

Dulu waktu SMA kelas 1 saya pernah sekolah di Surabaya. Tapi mungkin karena masih abege, yang maunya serba mudah dan praktis, secara otomatis membuat saya tak tahan tinggal di perantauan dan secara otomatis – lebih karena keabegean saya dulu – saya cuek dengan kota yang penuh situs bersejarah yang satu ini. Saya tidak pernah ngeh kalau kantor pos yang dekat tugu pahlawan itu ternyata sudah sangat lama berdiri di sana, bekas peninggalakn kolonial Belanda. Juga bangunan-bangunan lainnya yang mengelilingi kantor pos Surabaya, dan tugu pahlwan yang tak jauh dari Jembatan Merah. Memang sih waktu itu saya pernah mikir, kok bangunan di tengah kota besar kaya gini gayanya kuno amat. Tidak dipugar atau dipercantik atau apa lah. Jadi kesannya malah horor alih-alih terpesona.


Tentang jembatan merah, ibu saya yang asli Surabaya sering cerita. Kata beliau, jembatan itu jadi merah karena tumpahan darah para pahlawan waktu terjadi pertempuran di Surabaya yang sekarang diperingati sebagai hari pahlawan setiap tanggal 10 Nopember. Beliau juga sering nyanyi lagu jembatan merah karya alm. Gesang yang legendaris itu, tapi di telinga saya lagunya malah mirip lagu film horor. Dasar masih anak kecil, saya mah percaya aja. Makanya pas lewat di jembatan merah, saya sama sekali gak berani menyentuh jembatan itu. Siapa sih yang mau menyentuh jembatan yang berwarna merah karena bekas darah? Belakangan ternyata ibu saya salah. Jembatan merah warnanya merah ya karena udah dicat merah, bukan karena darah para pahlawan yang mewarnainya. Ckckck...ada-ada aja.

Ternyata sejarah jembatan merah sudah bermula jauh lebih dulu daripada peristiwa pertempuran di Surabaya yang menewaskan AWS Mallaby. Beberapa artikel yang saya baca, jembatan merah sejak abad 17 sudah menjadi pusat niaga di Surabaya dan menjadi sarana penghubung paling vital menuju keresidenan Surabaya. Sejak 300 tahun yang lalu jembatan merah sudah menunjukkan potensi kawasan perdagangan hingga sekarang. Bahkan tahun 2004 lalu ketika saya masih di sana, telah dibangun Jembatan Merah Plaza II. Kini jembatan merah seolah-olah menjadi pusat dari kota Surabaya. Semua angkot mau kemana darimana pasti tempat ngetemnya di JMP. Bus-bus dan becak juga. Tak jauh dari Jembatan Merah ada lokasi yang disebut kampung cina. Selepas maghrib, jalanan yang siang harinya dilalui kendaraan berubah menjadi pusat jajanan khas china yang dipenuhi oleh banyak pengunjung.

Ahya, saya juga ingat. Angkot di Surabaya itu setiap jalur diberi kode dengan huruf. Pertama kali naik angkot dari rumah ke sekolah, saya diberi tahu nenek saya, kalau pergi naik angkot huruf R turun di JMP disambung angkot huruf M atau O dan turun pas di depan sekolah. Pulangnya naik angkot huruf M, turun di JMP lagi dan disambung angkot huruf R. Saya manggut-manggut aja, belum ngerti kalau ada angkot yang sama hurufnya tapi ternyata beda warnanya. Dan err...seperti yang sudah bisa ditebak, hari pertama sekolah saya nyasar dan pulang jam 8 malam -_____-“

Kejadiannya gini, saya sampai di sekolah dengan selamat. Tapi pas pulang, saya naik angkot huruf O (kan nenek saya bilang kalau dari JMP mau ke sekolah bisa naik angkot M atau O. Jadi saya pikir pulangnya juga bisa kaya gitu), tapi ternyata saya salah. Angkot huruf O gak balik ke JMP tapi entah kemana tujuannya dan membuat saya terdampar di pinggir jalan yang entah apa namanya jam 6 sore. Untung ada mbak-mbak penjual majalah yang nunjukin jalan pulang ke JMP.

Sampai di JMP, saya sudah teramat sangat lega. Pikir saya, yang penting udah di JMP, pasti bisa sampai ke rumah dengan selamat. Buru-buru saya nyari angkot huruf R. Tapi saya naiknya angkot huruf R warna coklat, bukannya huruf R warna hijau, hingga saya kembali nyasar. Saya udah mutar-mutar sampai ke kenjeran dan terpaksa diturunkan pak sopir di pasar Tambak arum dan pulang naik becak ke rumah. Hwaa...lelah dan takut rasanya.

Tapi akhirnya setelah setahun, saya memutuskan kalau saya masih terlalu kecil untuk merantau. Jadilah saya kembali ke Luwuk kota berair nan nyaman ini. Ternyata benar apa kata pepatah : meskipun hujan duit di negeri orang dan hujan batu di negeri sendiri, tak ada yang bisa mengalahkan rasa nyaman berada di rumah sendiri. Home sweet home. Baiti jannati. Tapi sekarang sih lagi ingin berpetualang, keliling dunia melihat banyak tempat :)

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)