Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

MY 2010 : BACK TO 60'S

By Tuesday, January 04, 2011

2010 – rasanya baru sebentar saya melewati tahun 2009 dan kini tahun 2010 pun telah beranjak. Tidak terlalu banyak hal yang menarik yang terjadi di tahun ini sehingga saya tidak begitu ingat hal-hal istimewa apa yang telah saya lewati sepanjang tahun 2010 kemarin. Hmm.. tidak juga. Enam bulan terakhir di tahun 2010 saya banyak mengenal hal-hal baru yang cukup merubah total pandangan hidup saya selama ini.

John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, Ringo Starr
Sedikit membahas hal yang ringan, di tahun 2010 kemarin untuk pertama kalinya saya nonton film hitam putih. Biasanya sih saya paling malaaaasss nonton film-film jadul, apalagi masih hitam putih. Kebetulan film yang saya nonton itu adalah film pertama The Beatles, tahun 1964 yang judulnya A Hard Day’s Night. Karena saya memang sudah suka The Beatles sejak SMP, makanya saya sengaja begadang nonton film itu di Metro TV. Dari dulu saya sukanya Paul McCartney, tapi begitu melihat John Lennon di film itu – saya suka gayanya dan leluconnya yang sarkastik – serta merta saya mendeklarasikan kalau I’m totally John Lennon. Hehe.. sorry to say Paul :p

Pierre Tendean
Kemudian, masih bicara soal jadul, saya tiba-tiba tertarik untuk mengenal lebih jauh salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur di usia yang masih sangat muda, 26 tahun – Kapten (Anumerta) Pierre Andreas Tendean. Awalnya sih saya lagi buat cerpen dengan setting jadul, tahun 50-an, dan kemudian tiba-tiba terpikir gimana kisah Pahlawan Revolusi yang mati muda itu. siapa kira-kira kekasihnya? Kenapa dia harus ikut terbunuh padahal dia hanya ajudan Jenderal Nasution? Maka mulailah saya browsing di internet mencari tahu bagaimana latar belakang beliau, entah itu biografi, info-info dari para saksi sejarah, keluarga dan para pengagum beliau.

Setidaknya dari membaca banyak kisah-kisah tentang beliau saya jadi tahu mengapa beliau pantas mendapat gelar Pahlawan. Prestasinya semasa masih di ATEKAD hingga bertugas di daerah Sumatra cukup membuktikan mengapa beliau menjadi rebutan tiga Jenderal untuk dijadikan ajudan. Beliau memang punya jiwa pahlawan. Di saat anak muda seusianya bersenang-senang, beliau lebih memilih mengorbankan dirinya untuk negara.

Dr. Julian Aldrin Pasha
Dan kemudian, muncul berita di sebuah media cetak tentang surat pembaca yang memprotes iring-iringan kendaraan Presiden setiap pagi yang selalu membuat macet jalanan. Sebuah stasiun televisi membahas kabar ini dengan mengundang juru bicara presiden secara langsung. Saya yang memang sejak awal sudah menjadi pihak yang apatis dengan pemerintahan Presiden SBY, memandang juru bicara Presiden yang sedang berusaha menjernihkan permasalahan itu dengan sedikit sinis. yang saya ingat nama juru bicaranya itu Pak Julian. Beliau bicaranya tenang, terarah, dan selalu tersenyum. Jleb! Berkat penjelasan Pak Julian itu saya jadi ‘maklum’ dan ‘mengerti’ dengan kemacetan yang ditimbulkan iring-iringan kendaraan Pak SBY . Pak Julian menjelaskannya dengan perlahan dan sabar, berbeda dengan Jubir Pak SBY sebelumnya, Andi Mallarangeng yang selalu bicara ceplas ceplos dan terkesan buru-buru. So, saya suka dengan gaya jubir Presiden yang baru ini.

Dan di penghujung tahun 2010 seluruh Indonesia disatukan oleh pesta sepak bola Asia Tenggara, Piala AFF. Penampilan hebat di awal babak penyisihanlah yang membuat seluruh Indonesia bersatu mendukung Tim Nasional Indonesia. Saya yang awal-awalnya hanya kenal Firman Utina, Bambang Pamungkas, dan Cristian Gonzales (di kompetisi liga Indonesia) kini mengenal banyak pemain-pemain bola Indonesia lain yang ternyata hebat-hebat juga. Sebut saja Okto, Arif Suyono, Hamka Hamzah, Bustomi, dll. Setiap hari di layar kaca baik itu program berita maupun infotainment yang dibahas hanyalah tentang piala AFF dan nyaris membuat saya bosan. Meskipun pada akhirnya tim kami kalah di final melawan Malaysia, TimNas telah membangkitkan respek kami terhadap persepak bolaan negeri kami sendiri – di luar kekeras kepalaan Nurdin halid untuk melepas jabatan ketua PSSI-nya. Siapa sangka saya jadi pendukung Arif Suyono, padahal selama ini pemain sepak bola favorit saya adalah Xabi Alonso dan Oezil dan Gerrard :p

Piala AFF tahun ini benar-benar membalikkan fakta bahwa sepak bola Indonesia hanya milik kaum Adam saja (mengingat kebanyakan pertandingan sepak bola di sini berakhir dengan kerusuhan). Kini suporter Indonesia yang hadir di GBK bukan hanya para pria, melainkan para gadis, ibu-ibu, dan anak-anak. Dari rakyat kecil sampai Presiden hadir di GBK untuk menyaksikan TimNas kami berlaga. Para pemain TimNas menjadi selebriti dadakan yang dielu-elukan seluruh rakyat. Sisi positifnya tentu saja, persatuan bangsa. Negatifnya, saya mikir, banyak yang hadir di GBK jauh sebelum waktu maghrib tiba. Lah, mereka sholat dimana yah pas maghrib? Sia-sia dong TimNas main bagus kalau suporternya aja lupa sholat.

Well, sekarang saya sedang menatap bulan Januari 2011. Ada setumpuk resolusi yang harus saya wujudkan di tahun ini. Rencana-rencana untuk masa depan saya, visi saya, misi saya. 2010 memang saya lewati ‘biasa saja’ dan tak ada hal istimewa di dalamnya. Semoga 2011 apa yang sudah saya cita-citakan sejak dulu dapat saya wujudkan sedikit demi sedikit. :p

You Might Also Like

2 komentar

  1. Good job...numpang harapan dong dinda...
    semoga pergantian kalender memicu semangat2 kita untuk tetap eksis di....dunia maya....:)

    ReplyDelete
  2. Yah, jangan cuma eksis di dunia maya, dunia nyata juga dong. Biar bisa menguasai dunia :p

    ReplyDelete