Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

Saat Menjelang Adzan

By Wednesday, August 10, 2011 , ,


“Jangan menurunkan standar. Pokoknya kita harus menikah dengan seseorang yang tarbiyah!”

Begitu mungkin sekelumit percakapan saya dengan teman-teman akhwat saat sedang ngumpul di sekret. Paling tidak kira-kira begitulah redaksinya. Kebiasaan kalo lagi tidak ada kerjaan, biasanya sih pas lagi nunggu adzan sholat. Banyak hal yang kami bahas dan entah mengapa topiknya selalu saja menyentuh masalah yang satu ini : pernikahan. Ntahlah. Mungki bagi kami, pernikahan adalah sebuah sisi kehidupan yang masih sangat misterius, sering membuat kami penasaran, seolah-olah dia berada di dimensi lain dan tak terjangkau oleh kami. Mungkin kami sama penasarannya dengan para ilmuwan yang ingin tahu kemana semua benda dan bahkan cahaya yang dihisap oleh blackhole.

Untunglah untuk masalah pernikahan, begitu banyak saksi hidup yang telah mengalaminya dan menuturkannya kepada kami dengan cerita yang beragam dan justru membuat kami lebih sering berspekulasi. Apakah pernikahan itu menarik? Menakutkan? Membosankan? Menyenangkan?

Kembali ke kutipan kalimat yang diucapkan teman akhwat di atas. Saat itu kami sedang membicarakan kira-kira type laki-laki seperti apa yang akan menjadi pendamping hidup kami. Dibuka dengan sebuah standar mutlak bagi mereka : dia haruslah seorang yang tarbiyah.

Err…sebenarnya saya tidak begitu setuju dengan standar yang satu ini. No hard feeling. Ini murni hasil pemikiran saya secara pribadi dengan melihat realitas yang ada. Okelah, mungkin untuk hal ini pengalaman saya sangat sedikit sekali. Tapi setidaknya saya bisa melihat, mendengar, dan memberi penilaian. Begini loh…

Saya setuju kalau standar kita dalam memilih calon pendamping hidup kita nanti adalah agama. Itu mutlak. Tapi tingkat keimanan seseorang tidak harus ditentukan dengan tarbiyah kan? maksud saya bukan dengan tarbiyah secara formal. Memang, tarbiyah bisa memberi semacam garansi kepada keimanan dan akhlak seseorang dan mungkin itulah yang diharapkan oleh teman-teman saya. Tapi saya tidak ingin seperti itu.

Saya kagum – mungkin juga pemikiran saya dipengaruhi oleh yang satu ini – dengan orang yang ditarbiyah oleh kehidupan. Dia ditarbiyah langsung oleh Allah lewat jalan hidupnya yang berliku, cobaan yang beragam, dan dia tetap dalam keimanannya. Dia memang tidak ditarbiyah secara formal, dia tidak hafal banyak ayat di dalam Alquran, tapi dia punya keinginan belajar yang sangat besar. Meski hanya sedikit saja ayat dalam Alquran yang dia hafal, tapi dia selalu berusaha keras untuk mengamalkannya. Tidakkah itu sudah lebih dari cukup untuk saya? Tidakkah justru dia yang terlalu mewah untuk saya? Bukankah dengan pribadi sepertinya, yang belum tersentuh oleh dunia dakwah, dia bisa menjadi salah satu pemegang amanah dakwah yang paling militan insyaaLlah?

Begitulah kira-kira ciri pendamping hidup yang saya inginkan di kemudian hari. Seseorang yang berpotensi untuk diarahkan dan dibina. Sulit menemukan orang seperti itu? Memang, saya akui itu. tapi justru disitulah nilai plusnya. Bukankah seorang wanita yang spesial untuk seorang laki-laki yang spesial? Orang seperti dia hanya akan ada satu di antara sejuta dan saya akan menunggunya sampai dia menemukan saya. (Hey, McBright’s comet, you hear that? I’m waiting)

Stop ngelanturnya.

Kembali ke teman saya.

Teman saya itu cantik, cerdas, istiqomah insyaaLlah. Wajar sih kalau dia berharap pasangan hidupnya seseorang yang baik seperti janji yang langsung diberikan oleh Allah. Kalau saya? Belum saatnya saya berharap seseorang dengan tingkat kemewahan seperti itu. saya  hanya ingin seseorang yang akan tumbuh bersama saya. Yang imannya akan meningkat bersama-sama dengan saya. I want we grow up together. Sehingga saya bisa menghargai setiap langkah yang saya lalui dalam perjalanan hidup saya dengan dia untuk meraih surga-Nya. Aamiin.

Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu dan untukku.

Terima kasih untuk percakapan menjelang isya itu, ukhti :)

You Might Also Like

0 komentar