Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

Kak Nadia

By Friday, August 03, 2012


Melihat sosok Kak Nadia kalian pasti tidak akan menyangka apa yang sesungguhnya ada di benaknya itu, termasuk aku. Kak Nadia adalah seorang perempuan yang luar biasa cerdas, karirnya cemerlang sebagai seorang konsultan, dia cantik tentu saja dan pandai membawa diri. Bagiku Kak Nadia adalah sosok perempuan yang sempurna. Dan seharusnya dia mendapatkan seorang pria yang sempurna juga, bukan? Tetapi sepertinya definisi kesempurnaan bagi Kak Nadia sedikit berbeda dengan orang kebanyakan.

“Kenapa sih Kak, nolak yang itu?” tanyaku suatu hari pada Kak Nadia. Kami berdua sedang mengobrol di kamarnya, aku menginap karena Kak Nadia janji mau mengajarkan cara mendesain baju sendiri. Lihat! Kak Nadia itu serba bisa, tidak ada hal yang tidak bisa dikerjakannya.

Aku hanya penasaran saja, kenapa Kak Nadia menolak seorang pria yang ditawarkan murobbiyah Kak Nadia kepadanya. Aku memang selalu menjadi tempat curhat Kak Nadia karena menurut Kak Nadia aku orang yang paling berkompeten untuk menjaga rahasia. Memang sih, aku paling males kalo ngomongin masalah orang lain makanya aku paling malas kalo diajak rumpi – dengan cara itu aku menjaga rahasia Kak Nadia.

“Dia kan tampan kak” godaku.

“Hey, kamu ngintip ya?” Kak Nadia pura-pura marah. Alisnya yang tebal bertautan, semakin terlihat cantik saja.

“Hihi…dikit kak…dikiiit. Trus kenapa kakak nolak? Jangan kebanyak nolak loh kak! Dia orang ke-3 yang kakak tolak kan?”

Kak Nadia hanya mengangkat bahunya.

“Kakak nyari orang yang seperti apa sih? Dia itu kan tampan, mapan, sholeh, hafalan Alqurannya banyak, baik, rajin, bertanggung jawab”

“Tapi dia tidak berhasil menarik simpati kakak” potong Kak Nadia “sederhana saja. Jika memang dia jodoh kita, maka Allah akan menggerakkan hati kita untuk menerimanya bukan?”

“Bukannya kakak nyari yang lebih mapan dari kakak ya?” tanyaku dengan wajah polos “tidak sengaja dengar sih kak. Ada yang bilang kakak nyari calon sumi yang lebih kaya dari kakak”

Kak Nadia tersenyum “biarkan saja mereka bilang apa Kay. Kau kan tau bagaimana kakak, kakak bukan orang yang mudah terkesan dengan segenap prestasi mentereng sekalipun. Bagi kakak ada hal-hal lain yang jauh lebih menarik hati kakak, meski sebenarnya kakak belum mampu mendefinisikan hal-hal seperti apa itu. Kau akan paham dengan sendirinya jika kau seumuran kakak, ketika kau telah menjadi dewasa, jadi jauh lebih tenang dan tidak meledak-ledak”

“Begitu ya kak? Tapi kakak kan sudah 27 tahun, kata Ibu kakak sudah ketuaan, harus nikah…hihi…”

Kak Nadia mencubit lenganku “sudah, sudah, jadi belajar desain gamis tidak nih?”

“Eh, iya kak. Jadi…jadi”
***
Kak Nadia menolak lagi, untuk kesekian kalinya.

Aku duduk di sisi Kak Nadia yang sedang menangis karena merasa amat tersinggung dengan perkataan murobbiyahnya. Sebenarnya kak Nadia paham, mungkin murobbiyahnya sudah capek terus menerus menerima perkataan ‘tidak’ dari dirinya, mungkin juga beliau sedang punya masalah pribadi sehingga tidak sengaja mengatakan hal itu, atau mungkin juga beliau ingin bersikap sedikit keras pada Kak Nadia. Ada banyak kemungkinan, tapi kak Nadia masih merasa sulit menerimanya.

“Kamu mau calon suami yang seperti apa Nadia? Bisa tidak kamu menghargai sedikit saja perasaan mereka yang kamu tolak itu? Apa betul kamu menginginkan seorang laki-laki yang kaya raya?”

“Astaghfirullah…bukan begitu kak” Kak Nadia tersentak mendengar kalimat dari murobbiyahnya yang cukup menusuk itu.

“Lantas?”

“Saya hanya belum merasa…saya belum merasa dia orang yang tepat untuk saya” jawab Kak Nadia pelan.

“Jika ada seorang pria yang baik agama dan akhlaknya datang untuk melamar, maka terimalah. Jika tidak  maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” murobbiyahnya menyebut sebuah hadits “apa itu tidak cukup jadi hujjah bagimu agar menerima pinangan mereka?”

“Tapi saya…”

“Jangan terlalu memperturutkan masalah perasaan, Nadia. Itulah kenapa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin selain untuk kaumnya sendiri. Karena mereka selalu larut dengan perasaan sendiri, lupa bahwa kebaikan belum tentu harus sesuai dengan apa yang perasaan mereka inginkan. Jika kau memang merasa mereka belum pantas untukmu…”

“Saya tidak bilang begitu kak” sentak Nadia “saya tidak bilang mereka tidak pantas untuk saya, hanya saja saya masih merasa amat berat untuk menerima mereka”

“Itu sama saja” murobbiyahnya mulai gusar “baiklah kalau kau tetap menolak, semoga kau memang mendapatkan seseorang yang sesuai dengan keinginanmu”

Kak Nadia masih menangis sesenggukan, aku berusaha menenangkan dengan menepuk-nepuk bahunya “sudahlah kak, yang penting kan bukan kata orang. Kak Nadia sendiri yang bilang” ucapku “aku tahu kak Nadia tidak pernah mempermasalahkan materi”

Kak Nadia masih duduk memeluk lututnya dan menangis. Aku paham bagaimana terlukanya hati Kak Nadia meskipun aku masih belum paham orang yang seperti apa yang diinginkan Kak Nadia. Aku juga berharap dia mendapatkan seseorang yang tepat yang entah seperti apa.

***
Aku lupa kapan terakhir kak Nadia tersenyum dengan sangat sumringah seperti hari ini. Wajah pualamnya bercahaya saat dia duduk di kursi kebesaran pengantin perempuan. Ya, hari ini kak Nadia menikah. Kalian tahu? Dia mementahkan semua kata orang tentang dirinya karena laki-laki yang dia nikahi benar-benar seorang pria biasa. Bukan ustadz dengan hafalan Alquran yang banyak, bukan juga seorang pria dengan harta melimpah. Bukan. Dia hanya seorang penjaga toko buku di sebuah los pasar yang sempit, yang bahkan baru mulai untuk belajar agama lebih intensif. Aku tidak tahu bagaimana akhirnya Kak Nadia bisa ta’aruf dengan suaminya itu. Yang jelas suaminya datang tanpa membawa apapun, hanya membawa keyakinan dan tekad kuat untuk memperbaiki hidupnya.

Tapi sempat Kak Nadia berkata padaku saat aku datang mengunjunginya sehari sebelum dia menikah. Kami tidak sempat berbicara banyak karena Kak Nadia sangat sibuk mengurusi semuanya.

“Kau tahu Kay, kenapa Kakak menerimanya?”

Aku menggeleng, Kak Nadia sibuk melipat baju dan merapikan barang-barang di kamarnya.

“Karena dia bilang pada kakak kalau dia tidak punya apa-apa untuk dia pamerkan kepada kedua orang tua kakak. Yang dia punya hanyalah keberanian untuk maju dan datang untuk melamar.”

"Aku sadar diri, sebenarnya aku tidak pantas untukmu. Kau punya semua kelebihan yang diinginkan setiap perempuan. Kalau saja Allah tidak menanamkan keberanian dalam dadaku untuk melamarmu, mungkin aku tidak akan pernah melakukannya. Keberanian yang entah darimana datangnya, serta sebuah kepasrahan pada Allah yang akan mengurus semua urusan kita."

Tadinya aku berpikir, seorang pria sempurna untuk Kak nadia adalah seseorang dengan keindahan dunia dan akhiratnya. Seorang yang sholeh, cerdas, kaya raya, mulia akhlaknya… tapi aku salah, pandangan Kak Nadia tentang kesempurnaan berbeda denganku. Bagi Kak Nadia, kesempurnaan ada justru saat kita benar-benar merasa pasrah pada Allah atas semua kekurangan-kekurangan kita, seperti yang ditunjukkan suami kak Nadia itu. Dia tahu tak ada satu pun hal yang dapat dia banggakan, dan dia menyerahkan semua urusannya kepada Allah.

Kak Nadia semakin cantik, dan aku tahu, suaminya juga pasti tampan.

11.20 AM
3 Agustus 2012
Sambil jualan LM *Dipilih! Dipilih! Dipilih!*

You Might Also Like

0 komentar