Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

Kesabaran Dua Kali Pemilihan Umum

By Tuesday, August 28, 2012


“Dia tampan nek!” seruku tertahan, menunjuk ke sebuah foto hitam putih yang telah memudar di album foto besar yang sedang dipegang nenek “siapa namanya nek? Kerennyaaa...” mataku berbinar-binar, mengguncang-guncang tangan nenek.

Nenek tertawa – menertawai aku, cucunya yang sedang datang berlibur di rumah peristirahatannya di sebuah desa kecil berpuluh-puluh kilometer dari Yogyakarta. Kami berdua sedang melihat-lihat album foto lama milik nenek, ketika dia masih berusia awal dua puluhan. Kali ini nenek sedang berbaik hati menceritakan segala hal yang ada di dalam album foto itu. Hingga akhirnya aku menemukan foto seorang pemuda berwajah tampan, mengenakan seragam tentara yang gagah, menatap lurus ke depan dengan wajah berseri-seri. Aku tidak ingat kalau aku punya keluarga setampan itu.

Nenek menjawil rambutku, membuka halaman album selanjutnya dan memperlihatkan gambar pemuda itu lagi. Tapi kali ini dia tak sendiri, berfoto bersama nenek, kakek – aku masih ingat wajah kakek saat masih muda dulu, dan beberapa orang teman yang lain. Sebuah foto di depan rumah megah berarsitektur kuno yang sangat aku kenali. Rumah peristirahatan nenek sekarang ini.

“Namanya Lembayung. Kami biasanya memanggilnya Bayu” jawab nenek “dia teman baik kakekmu, teman baik nenek juga. Seorang perwira muda yang meninggal dalam pertempuran saat agresi militer Belanda yang kedua dulu. Di usia dua puluh tujuh tahun” nada suara nenek terdengar getir. Tangan keriputnya membelai foto Bayu “begitu tampan, begitu cerdas, begitu baik hati...semua orang yang baik hati seperti mudah saja untuk mati saat itu. Dia bahkan baru saja menikah, dua bulan.”

Aku tertegun, tak menyangka wajah setampan itu akan bernasib malang. “Terus istrinya gimana nek? Udah nikah lagi ya?”

Nenek menggeleng sembari tersenyum, membelai rambutku dan menutup album foto di tangannya. “Kemarilah, biar nenek bercerita kisah Bayu dan Embun. Dua orang sahabat nenek yang sangat nenek sayangi. Ayo, kita duduk di halaman belakang, biar Mbok Asih yang membawakan makan siang ke belakang” nenek berdiri dan menggamit lenganku. Aku menurut saja ketika nenek menarikku berjalan ke belakang rumah, tempat duduk favorit nenek setiap hari sambil memandangi hutan kecil yang membentang.
Kami duduk di gazebo, di atas sofa nyaman yang menghadap ke arah pemandangan hijau hutan kecil yang indah. Aku menarik nafas dalam-dalam. Udara di sini benar-benar segar.

***

Yogyakarta, awal tahun 1948

Dua orang pemuda, yang satu mengenakan kemeja rapi, sepatu mengkilap dan celana panjang yang licin. Satunya lagi mengenakan seragam militer. Mereka berjalan sambil berangkulan, tertawa-tawa sepanjang jalan.

“Lama tak ada kabar, ternyata kau sudah jadi seorang tentara ya?” temannya yang berpakaian rapi itu menepuk-nepuk bahu si tentara. “Hebat dirimu sekarang. Pasti banyak gadis-gadis yang mengejarmu. Kau sudah menikah?”

Tentara muda itu tersenyum sembari menggeleng “belum” jawabnya singkat. “Kau sendiri, Tomo? Aku dengar kau akhirnya menikahi Diah”

Pria berpakaian rapi yang bernama Sutomo itu tertawa, langkahnya terhenti di ujung jembatan. Tomo memanjat besi pembatas jembatan dan duduk di atasnya. Tentara itu melakukan hal yang sama. “Iya, kami menikah setahun yang lalu, di Semarang. Kau lihat bukan, Bayu? Aku tidak sepengecut yang kalian kira. Aku berani datang ke rumahnya untuk melamar segera setelah aku diterima bekerja di kantor pos”

Pandangan Lembayung menerawang ke sungai yang mengalir di depan mereka. “Bagaimana kabar Embun?” tanyanya pelan, seakan tidak sedang bertanya pada Tomo tapi lebih kepada dirinya sendiri.

“Astaga, kau masih memikirkannya? Sudah sepuluh tahun yang lalu sejak kita lulus dari sekolah, Bayu! Sadarlah! Jika memang sejak dulu kau menyukainya, kenapa kau tidak melakukan hal yang seperti aku lakukan? Langsung datang melamarnya setelah kau berhasil menjadi tentara?”

Bayu menggeleng “kau benar. Lupakan pertanyaanku yang tadi. Sudah sepuluh tahun lewat, mana mungkin Embun masih mengingatku. Mungkin saja dia sudah menikah dengan seorang anak pejabat, bisa saja dengan pejabat itu sendiri. Atau parahnya, bisa saja dia menikah dengan kompeni dan sekarang sudah hidup mewah di Eropa sana”

Tomo tertawa, mengeluarkan pipa kayu mengkilap dari saku bajunya dan mulai menyalakannya “ternyata ada orang yang jauh lebih pengecut dari aku” katanya di sela-sela isapan pipanya “Bayu yang tampan dan cerdas ternyata tak bisa berkutik di depan seorang Embun. Ayolah, jangan pesimis seperti itu. Diah dan Embun masih berteman baik, mereka masih saling berkirim surat. Aku rasa Diah tahu dimana Embun sekarang tinggal. Biar aku tanyakan padanya”

Bayu turun dari pembatas jembatan, berdiri di depan Tomo. “Lupakan saja. Dua bulan lagi aku akan menikah – jangan memandangiku seperti itu. Iya, benar, aku diperkenalkan pada anak seorang atasanku dan kami sudah berencana akan menikah dua bulan lagi. Tapi ini bukan perjodohan seperti yang selalu kita tertawakan itu. Kau dan Diah harus datang ke pernikahanku nanti”

Wajah Tomo terlipat. Dia melepas pipa dari mulutnya dan ikut turun dari pembatas jembatan. “Kau bahkan baru bilang sekarang kalau kau akan menikah dengan anak seorang pejabat militer. Bukan main. Baiklah, kami pasti datang. Kau kirimkan saja undangannnya ke alamatku. Sejak dulu rumahku tak pernah berpindah, kau saja yang menghilang dan tau-tau sudah hebat seperti ini. Aku pulang dulu. Sering-seringlah datang ke rumah”

Bayu mengangguk, dia dan Tomo berpisah saat itu juga. Keduanya hanya saling melambaikan tangan sebelum akhirnya berjalan menempuh arah masing-masing.

Embun? Gumam Bayu dalam hati. Dimana dia sekarang? Jadi Diah masih berkirim surat dengannya? Bayu berhenti sejenak dan memandang ke arah jalan yang dilalui Tomo setelah mereka berpisah tadi. Tidak ada lagi sahabatnya di sana. Cepat sekali Tomo berjalan. Keluh Bayu.

***

“EM, apa kau tidak merasa kalau Bayu menyukaimu?” bisik Diah pada Embun saat mereka berdua sedang berjalan pulang dari sekolah menuju rumah. Tak jauh di belakang mereka berjalan pula Bayu dan Tomo.
“Hmm...?” Embun bergumam “tidak tuh. Biasa saja”

Diah mendengus kesal “kamu memang benar-benar tidak peka” nada suara Diah terdengar prihatin “apa kau tidak sadar kalau Bayu sering diam-diam melihatmu saat di kelas? Saat kau sedang makan, saat kau sedang berbicara denganku... bahkan saat kau sakit Bayu tetap memandangi kursimu yang kosong”

Embun tertawa, menjawil rambut panjang Diah yang dikepang dua “kamu ada-ada saja. Mana mungkin Bayu menyukaiku? Aku ini hanya anak seorang petani, sementara dia? Ayahnya itu orang terpandang di kampung ini, Yah! Pejabat!”

“Yang suka kamu kan Bayu, Em. Bukan ayahnya” keluh Diah, tak mengerti apa yang ada di pikiran sahabatnya itu.

“Iya, tapi sama saja. Keluarga Bayu pasti tidak akan setuju dia menyukai seorang anak petani sepertiku”

“Memangnya kenapa kalau anak petani? Mereka juga kan makan beras hasil dari sawah ayahmu” Diah masih protes, masih terus ngotot “lihat saja si Tomo. Meski orangnya menjengkelkan, tapi dia mau berteman dengan siapa saja, tidak pandang pekerjaan orang tuamu.”

Embun hanya tertawa, dia merangkul Diah dan menariknya agar berjalan lebih cepat karena Bayu dan Tomo hampir menyusul mereka dari arah belakang. Sambil berjalan itulah, Embun berbisik di telinga sahabatnya itu. “Baiklah, aku punya sebuah rahasia dan kau harus bersumpah tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun!”

“Tentu saja!” ucap Diah penuh semangat “apa itu?”

Embun mengawasi Bayu dan Tomo terlebih dahulu, memastikan mereka masih jauh dan tak dapat mendengar apa yang akan dikatakannya. Setelah dirasanya aman, dia melambatkan jalannya dan kembali berbisik kepada Diah “aku menyukai Bayu. Dia orang yang sangat baik dan cerdas. Sayang dia terlalu pendiam dan pemalu, aku ragu untuk menyapanya lebih dulu”

Diah terkesiap, langkahnya terhenti dengan tiba-tiba dan memandangi Embun lekat-lekat. “Astaga...kau...”

“Hei, jalannya cepat sedikit dong” tiba-tiba suara cempreng Tomo terdengar di belakang mereka. Padahal jalanan masih luas, tapi dia dan Bayu memaksa untuk lewat di jalan tempat Diah dan Embun sedang berdiri.

Serta merta Embun menarik tangan Diah dan mengajaknya lari. Semoga saja Bayu tidak mendengar apa yang tadi aku katakan. Desisnya dalam hati.

***

Dahi Bayu berkerut, pandangannya terus menerus dia arahkan pada perempuan yang sedang menyapu halaman rumah yang akan dikunjunginya itu. Perempuan itu sepertinya tidak sadar kalau dia sedang diperhatikan sejak tadi dari luar pagar rumah majikannya, asyik saja menyapu daun yang berserakan sambil sesekali bersenandung.

Tiba-tiba seorang gadis berkulit putih, berwajah cantik keluar dari dalam rumah, membawa sebuah buku tebal. Dia tersenyum ke arah Bayu yang masih berdiri terpaku di luar pagar rumah sambil melambai. Bergegas dia turun dari teras dan berjalan ke arah perempuan yang sedang menyapu. “Hey! Apa yang kamu lakukan sejak tadi? Kenapa pintu pagarnya tidak kamu buka?” bentak gadis itu kasar pada si perempuan. Padahal jelas sekali perempuan itu lebih tua dari dirinya. Buku yang ada di tangannya dia pukulkan ke bahu perempuan itu. “Cepat buka pintu pagarnya sana!” perintahnya ketus.

Bayu tertegun melihat adegan di depannya. Siapa sangka orang yang akan dinikahinya sebulan lagi itu bisa bersikap amat kasar kepada pembantunya?

Perempuan itu melepas sapu di tangannya dan mengangguk. Setelah itu dia berlari ke arah pagar, membuka kunci pintu pagar dan mempersilahkan tamu majikannya itu masuk. Pandangan mereka saling bertemu, lama. Bayu tampak salah tingkah, tapi kakinya tak kuasa dia langkahkan melewati perempuan yang baru saja membukakannya pintu. Suasana terasa canggung.

“Kak Bayu, ada apa?” gadis yang tadi marah-marah itu mendekati mereka berdua. Wajahnya heran melihat Bayu yang tiba-tiba berubah kaku dan salah tingkah di hadapan pembantu rumahnya. “Ayo kita masuk” dia menggamit lengan Bayu. Mereka berdua berjalanan bersisian menuju rumah, diikuti pandangan dari pembantunya. Sebutir air bening jatuh di pipi perempuan itu.

“Jasmin, siapa nama pembantumu itu?” tanya Bayu setelah mereka berdua berada di dalam rumah. Dari sela-sela tirai jendela yang tersingkap Bayu masih dapat melihat perempuan yang tadi kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Dia pembantu rumah yang baru kak. Namanya Embun” jawab Jasmin.

Bayu terhenyak. Dia benar, pandangannya tidak salah, memori di kepalanya masih menyimpan dengan jelas bagaimana wajah Embun meski sudah sepuluh tahun mereka tak pernah lagi bertemu. Rambut ikalnya, wajah yang selalu murung itu...semua tentang Embun masih terekam jelas di setiap lembar pikirannya. Kenapa, Embun? Tanya Bayu dalam hati. Kenapa kau bisa seperti ini?

***

“Aku menunda pernikahanku dengan Jasmin” Bayu menarik nafas dengan berat, mengatupkan kedua tangan di atas lututnya “aku bertemu Embun...dia sekarang bekerja di rumah calon istriku itu”

Tomo terperangah, pandangannya jelas sekali tidak percaya. Embun adalah seorang gadis yang cerdas, dia punya banyak kesempatan untuk hidup lebih baik. “Tidak mungkin...” desis Tomo.

“Awalnya aku tak percaya, Tom” kata Bayu “tapi dialah orang yang aku temui di rumah Jasmin itu. Dialah orang yang setiap hari dibentak-bentak oleh Jasmin dan ibunya seperti seorang budak saja. Dialah orang yang dipaksa oleh Jasmin untuk mengelap sepatuku yang dia tumpahi air meski aku sudah menolak. Embun benar-benar tak ada harganya di mata Jasmin dan aku heran kenapa dia masih mau bertahan tetap tinggal di sana” Bayu menutup wajahnya dengan kedua tangan setelah dia menyelesaikan kalimatnya itu “aku seperti ingin menangis setiap kali melihat Embun diperlakukan seperti itu. Dan dia masih tak mau berbicara padaku meski aku sudah berusaha untuk mengajaknya berbicara setiap kali aku datang kesana.”

“Sebenarnya...” Tomo membuka suara “sebenarnya Embun juga menyukaimu sejak dulu. Diah sudah menceritakan padaku semuanya. Tapi tiga bulan terakhir mereka tak lagi saling berkirim surat. Aku dan Diah tidak tau dimana dia lagi sekarang”.

Bayu terhenyak “kau tidak sedang berbohong padaku kan?” tanyanya pada Tomo. Tangannya mencengkeram kedua bahu Tomo. Tomo mengangguk “dia dan Diah adalah sahabat baik sejak dulu. Dia sendiri yang bilang kalau dia menyukaimu. Kau harus membatalkan pernikahanmu dengan Jasmin dan menikahi Embun kalau kau tidak ingin menyesal”.

Bayu melepas cengkeramannya dari bahu Tomo “kau benar, Tom!” serunya “aku harus bilang pada Embun sekarang!” serta merta dia berlari meninggalkan Tomo sendirian.

***

“Aku tidak akan membiarkan kau diperlakukan seperti itu lagi, Em” ucap Bayu di telinga Embun. Tangannya yang kukuh merangkul Embun dengan erat, memaksa perempuan itu untuk tidak melawan dan membiarkan dirinya menuntun tubuh Embun yang semakin kurus agar berlindung ke dalam pelukannya.

Embun menyerah, dia tidak akan lagi melawan dan terus berpura-pura tak peduli di hadapan Bayu. Air mata yang selama ini dia tahan setiap kali melihat Bayu di rumah majikannya kini dia tumpahkan semuanya di dada Bayu. Embun menangis sesenggukan, mencengkeram lengan Bayu yang tengah memeluknya.

“Aku takut, Bayu” isak Embun “aku takut kalau selama ini aku hanya bermimpi kau peduli padaku. Aku tidak ada apa-apanya dibanding Jasmin. Aku malu padamu, kau punya segalanya dan kau bisa memiliki apa saja yang kau inginkan. Aku merasa tidak pantas, Bayu”

Bayu mempererat pelukannya pada Embun, membelai rambut ikal perempuan itu agar tenang “aku telah membatalkan pernikahanku dengan Jasmin. Aku ingin menikahimu, aku tidak pernah menginginkan orang lain, Em. Tadinya aku pikir aku tidak akan melihatmu lagi. Aku pikir kau telah menikah dengan seorang pria yang telah membawamu ke Eropa dan memisahkan aku darimu” Bayu melepas pelukannya dan membantu Embun menyeka air matanya.

“Bagaimana mungkin aku akan menikah dengan orang lain dan pergi dari sini?”

***

“Jadi mereka berdua menikah, Nek?” aku menyela, tak sabaran mendengarkan akhir cerita Bayu dan Embun.

“Kamu memang tidak sabaran, persis kakekmu” sahut nenek, merapatkan jaketnya karena angin berhembus cukup kencang “tentu saja. Apa yang nenek bilang tadi? Bayu meninggal dua bulan sesudah pernikahan yang sangat mengharukan itu. Terlalu banyak air mata, nenek sendiri heran bagaimana mungkin orang yang akan menikah begitu banyak menangis di hari pernikahannya?”

“Bagaimana dengan Jasmin?”

Nenek mengangkat bahunya “entahlah. Nenek hanya mendengar kalau Bayu dipindahkan ke Maguwo, dicopot jabatannya sebagai komandan – dan dia sama sekali tak peduli – kemudian mereka berdua menikah di sana.”

“Waaww....” ucapku kagum “Bayu keren nek” pujiku “rela kehilangan semuanya demi orang yang dicintainya. Dan dia tampan...” wajahku penuh kekaguman.

***

Akhir bulan Oktober 1948
Maguwo

Diah dan Embun saling berpelukan lama, melepas rindu setelah sekian tahun tak pernah lagi bertemu dan hanya dapat saling berkirim surat.

“Kamu tambah cantik, Yah” puji Embun, mengusap-usap lengan Diah “aku tidak percaya kamu akhirnya menikah dengan Tomo, si ceroboh itu” kemudian mereka berdua tertawa bersama-sama.

“Biarpun dia ceroboh, tapi dia seorang suami yang sangat baik” ucap Diah sembari tersenyum bahagia “sangat bertanggung jawab”.

Desas desus bahwa Belanda akan kembali menyerang Indonesia sudah santer terdengar. Kabar akan diadakan penyerangan oleh Belanda pada TNI yang ada di Sumatera dan Jawa telah menyebar dari mulut ke mulut meski belum ada seorang pun yang berani memastikan. Pernikahan Embun dan Bayu nyaris ditunda kalau saja Bayu tak memaksa agar mereka berdua dapat segera menikah.

“Kamu juga tambah cantik, Em” puji Diah, memerhatikan Embun yang meski berpakaian seadanya dan berhias seadanya tetap terlihat cantik di hari pernikahannya ini. Dia hanya mengenakan baju terusan panjang dan hanya lipstik yang menjadi riasan di wajahnya.

“Bayu harus kembali bertugas” ucap Embun dengan wajah murung “dia ditugaskan ayah Jasmin berjaga di lapangan terbang Maguwo”.

“Loh, memangnya kenapa?”

“Aku cemas, Yah” bisik Embun “perasaanku tidak enak, aku mendengar desas-desus itu, semua orang bicara soal perang...perundingan Renville atau apalah...”

“Sudah, sudah. Tenanglah, Em. Bayu akan baik-baik saja. Dia tentara yang cakap, hebat, kau tidak perlu khawatir padanya”

“Tapi tetap saja...” protes Embun.

“Sudah” potong Diah “ayo kita keluar. Sebentar lagi pernikahanmu akan dimulai” Diah menarik tangan Embun dan mengajaknya keluar dari kamar. Memaksa Embun agar tersenyum dan tidak terlihat sedih lagi.
Bayu mengenakan kemeja terbaiknya meski sudah terlihat lusuh. Hanya ada beberapa orang yang hadir, beberapa teman dekat dan tak seorang pun keluarga Bayu yang hadir. Sejak Bayu memutuskan tidak jadi menikah dengan Jasmin dan lebih memilih Embun, seluruh keluarga Bayu yang terbilang cukup terpandang langsung memusuhinya. Bahkan ayah dan ibunya tak mau lagi menerima Bayu di rumah mereka. Di Maguwo mereka terpaksa menumpang di rumah salah seorang tentara teman Bayu. Mereka harus memulai segalanya dari dasar lagi.

Diah yang sejak tadi memaksa Embun agar tersenyum dan terlihat tegar justru menangis paling awal. Dia tak dapat membendung air matanya melihat kondisi kedua orang sahabatnya yang kini menjadi orang terasing.

“Bayu sangat menyukai Embun” ucap Tomo suatu hari setelah dirinya dan Diah menikah dan sedang duduk bersantai di depan rumah baru mereka “bahkan aku rasa sampai hari ini”

Diah terperanjat “benarkah itu? Karena Embun pun sebenarnya sangat menyukai Bayu, sejak dulu”
Kedua suami-istri itu saling berpandangan, antara takjub dan tak percaya.

“Kalau saja aku tahu dimana Bayu sekarang” keluh Tomo

“Embun pun selalu mengirimiku surat dengan alamat yang berganti-ganti” Diah ikut mengeluh

“Tak ada yang bisa kita lakukan” ucap Tomo pada akhirnya “biarkan nasib yang mempertemukan mereka berdua lagi. Kita hanya bisa duduk sebagai penonton dan berdoa semoga Tuhan berbaik hati mau mempertemukan mereka lagi di kesempatan yang lain”.

Diah masih menangis, beberapa orang teman mereka yang hadir juga ikut menangis meski tak begitu tau bagaimana sesungguhnya kisah Bayu dan Embun. Embun selalu menuliskan nama Bayu di setiap suratnya yang dia kirimkan kepada Diah. Dia menuliskan harapan-harapannya, selalu mendoakan semoga Bayu baik-baik saja, berharap suatu saat dia dapat bertemu Bayu kembali. Doa-doa kecil yang terus menerus dipanjatkannya tanpa henti selama ini.

Embun berjalan pelan dan duduk di sisi Bayu, menatap wajah pria yang sangat dicintainya itu dengan sangat lama. Di depan seorang penghulu dan pamannya – satu-satunya keluarga Embun yang hadir – Bayu mengucapkan ijab-qabul. Saat itulah tanpa sadar air matanya kembali mengalir, kali ini dengan sangat deras. Bayu kini telah menjadi suaminya.

Maka jangan harap kau akan melihat tawa di rumah sederhana itu. Alih-alih bahagia, seisi rumah menangis. Di tahun-tahun yang penuh ketidak pastian ini, segalanya bisa jadi sangat mengharukan. Telah banyak orang-orang yang mereka kenal meninggal karena perang. Keluarga Embun pun telah habis – hanya dia satu-satunya anggota keluarga yang selamat dari penyerangan di desanya.

Pernikahan paling mengharukan yang pernah dilihatnya, begitu kata Diah.

***

“Coba kalau nenek tidak menangis duluan, pasti semua tamu tidak akan ikut-ikutan nangis nek” aku nyengir. Nenek mencubit pipiku (lagi) kemudian tersenyum.

“Kalau kau ada di sana, kau pasti ikut menangis sayang. Lihatlah dua orang itu! Mereka berdua telah saling jatuh cinta sejak lama, tak pernah berpikir untuk mencintai orang lain, dan pada akhirnya Tuhan berbaik hati untuk mempertemukan mereka sepuluh tahun kemudian! Sepuluh tahun sayang. Itu berarti dua kali pemilihan umum, dua kali pembangunan lima tahun, dan jika kau sudah menikah mungkin kau telah mempunyai lima orang anak setiap dua tahun. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk tetap menjadi setia tanpa kepastian seperti yang dialami Bayu dan Embun. Tapi mereka berdua berhasil membuktikannya, tidak ada kesetiaan yang sia-sia”.

Astaga, nenek bahkan berceloteh soal pemilu dan pembangunan lima tahun. Benar-benar produk lama.

“Terus..terus nek?” aku meminta nenek melanjutkan ceritanya sebelum beliau kembali mengisahkan pengalamannya hidup di bawah kepemimpinan presiden yang berbeda-beda.

“Pagi itu, tanggal 19 Desember 1948. Pagi yang tak akan pernah kami lupakan, apalagi Embun...”

***

Adzan subuh berkumandang, membangunkan Embun dari tidurnya. Tangannya meraba sisi lain tempat tidur, hendak membangunkan Bayu, sang suami. Tapi tidak ada siapa-siapa disana. Dia tidur sendirian saja. Embun lupa kalau tadi malam Bayu pamit karena mendapat panggilan darurat. Tadi malam – menjelang tengah malam – radio-radio di Jakarta mengabarkan kalau besok pagi wakil tinggi mahkota Belanda akan menyampaikan pidato penting. Menurut Bayu isi pidato itu pasti berkaitan dengan perjanjian Renville antara Belanda dan Indonesia. Apalagi sejak berbulan-bulan lalu rencana penyerangan Belanda pada TNI di daerah Sumatera dan Jawa sudah mulai terdengar meski hanya samar-samar.

Embun sama sekali tak mengerti.

Tengah malam, seorang teman Bayu mengetuk pintu rumah mereka. Dia mengajak Bayu ke markas mereka di lapangan terbang untuk membicarakan sesuatu. Bayu pamit pergi dan berjanji akan kembali keesokan harinya setelah subuh.

Embun bangkit dari tempat tidur dan merapikannya. Dia kemudian berjalan ke belakang rumah, menuju pancuran air di sisi luar rumah hendak berwudhu. Udara di luar sangat dingin, membuatnya merinding. Perlahan dia membuka sumbat pancuran dan mulai berwudhu sambil sesekali melihat ke arah pagar depan rumah yang hanya berjarak beberapa meter dari pancuran airnya. Bayu belum pulang.

Setelah dia sholat subuh, Embun pergi ke dapur dan menjerang air untuk menyeduh teh milik Bayu. Setelah itu dia menanak nasi, membuatkan sarapan untuk suaminya. Matahari perlahan telah terbit, tapi Bayu belum juga pulang.

Pukul 05.35 pagi, Bayu telah bersiap, bukan untuk pulang tapi untuk menghadapi serangan dari Belanda. Belanda telah mengumumkan, mereka tidak lagi terikat dengan perjanjian Renville dan telah bersiap untuk menyerang.

Tanpa sengaja jemari Embun menyentuh kuali yang panas, menjatuhkan kuali berisi nasi yang sedang di tanaknya di atas tanah dan berserakan kemana-mana. Bergegas dia mengangkat kuali yang terjatuh itu, menyelematkan butiran-butiran beras setengah matang yang masih bersih. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Dia berlari menuju pancuran air dan membasuh wajahnya dengan air dingin.

05.45 pagi, lapangan terbang Maguwo dihujani dengan bom dan mitraliur oleh empat belas pesawat milik Belanda. Hanya ada 150 tentara TNI yang berjaga dengan persenjataan sedanya. Dalam sekejap lapangan terbang Maguwo jatuh di tangan Belanda. Bayu menjadi salah satu tentara yang tewas dalam pertempuran itu.

06.45 pagi, penduduk desa Maguwo berlari menyelamatkan diri, membawa harta dan ternak seadanya. Embun masih di depan rumahnya, cemas menanti Bayu yang tak pulang-pulang juga.

“Lari...Embun...lari...Belanda menyerang” teriak tetangganya pada Embun yang masih berdiri saja di depan rumah. Mereka semua lari kocar-kacir ke segala arah menyelamatkan diri. Embun meremas kain yang dipakainya. Terus bergumam memanggil nama Bayu.

***

“Jadi Embun tidak ikut lari nek?” tanyaku sambil bergidik membayangkan kekejaman Belanda. Hujan bom oleh empat belas pesawat di sebuah lapangan terbang kecil? Sebuah keajaiban jika Bayu masih selamat.

“Embun diselamatkan oleh seorang tetangga. Dia dibawa dengan paksa, terus meronta bersikeras ingin menunggu Bayu di depan rumahnya. Tak mau percaya dengan kabar kalau Belanda telah menyerang lapangan terbang dan menghujaninya dengan bom. Tetangga itu terpaksa membuat Embun pingsan agar bisa dibawa pergi. Perempuan bodoh...”

“Perempuan malang nek” koreksiku “bukan bodoh.”

“Ya...kau benar. Perempuan malang. Saat dia sadarkan diri, dia sudah berada di hutan bersama beberapa warga kampung yang lain. Bersembunyi.”

“Lalu bagaimana kabar Embun sekarang? Apa dia juga selamat dari serangan itu?”

Nenek mengangguk pelan “kami bertemu tujuh tahun kemudian, 1955 di Yogyakarta. Saat itu ayahmu sudah lahir, keadaan sudah lebih tenang.”

“Dia...menikah lagi nek?” tanyaku takut. Aku takut mendapatkan jawaban ‘ya’ dari nenek dan kecewa. Kisah Embun dan Bayu terlalu indah untuk dirusak dan aku terlanjur kagum pada keduanya.

“Tidak” jawab nenek singkat. Aku bernafas lega.

“Sampai saat ini dia tetap tidak menikah lagi, Nek?”

“Menurutmu bagaimana sayang? Apa dia sebaiknya menikah lagi atau tidak?”

Aku berpikir sejenak “hmm...itu semua hak Embun untuk menikah lagi atau tidak. Tapi jika dia tidak ingin merusak kisahnya dengan Bayu yang indah itu, sebaiknya dia tidak menikah lagi”

Nejek tertawa pelan, matanya tampak berkaca-kaca. “Kau benar. Embun memutuskan untuk menjaga kisahnya dengan Bayu tetap seperti itu, tanpa dirusak oleh kehadiran orang lain. Pernikahannya yang hanya dua bulan itu dia pertahankan selama enam puluh tahun kemudian. Dia telah menjadi seorang pengusaha yang sukses tapi tetap memilih untuk hidup sendiri sampai akhir hayatnya” air mata nenek mengalir pelan di antara keriput di wajahnya “kadang kesetiaan pun sebenarnya dapat menyengsarakan...jika dia dimiliki oleh orang yang salah. Embun bersikeras tak akan menikah lagi, memberikan banyak bantuan pada para veteran perang, membantu banyak sekali anak muda yang ingin menjadi tentara seperti suaminya...termasuk ayahmu...”

“Ohh...” aku baru menyadari sesuatu “jadi Embun itu yang sering ayah ceritakan ya? Yang orangnya baik banget itu ya nek? Yang rajin sekali berkunjung waktu ayah masih di asrama, suka sekali melihat para perwira latihan itu?”

Nenek mengangguk “kau benar. Embun yang itu”

“Tapi kan beliau baru saja meninggal lima tahun yang lalu...”

“Kau benar lagi, sayang” nenek mengusap air mata di pipinya.
“Aku mau seperti Embun nek” bisikku, sudah duduk di samping nenek dan memeluknya “yang hanya jatuh cinta pada seorang pria seumur hidupnya. Tapi pria itu harus seperti Bayu. Yang setia, tampan, berani...”

Nenek tertawa dan lagi-lagi mencubit pipiku. “Kau tidak akan lagi menemukan orang seperti Bayu sayang. Dia hanya ada di antara sepuluh ribu juta pria di dunia ini. Cintailah orang yang kau cintai, siapapun dia, seperti Embun mencintai Bayu. Nanti kau pasti akan mengerti, cinta benar-benar tak butuh alasan. Cinta tak butuh wajah tampan dan keberanian. Cinta itu tidak pernah rasional”

Diam-diam aku meraih selembar potret hitam putih dari kantong jaketku. Foto Lembayung dan Embun yang diam-diam aku ambil tadi dari album foto nenek. Jika nanti suatu saat aku mengeluh soal orang yang tidak tepat yang selalu aku temui dalam hidupku, maka aku akan memandang wajah mereka berdua. Kesabaran dua kali pemilihan umum, kata nenek.

10.23 AM
27 Agustus 2012
Kantor, UPS Pelita

You Might Also Like

2 komentar

  1. Suka bangeeet... kisahnya sangat mengharukan..
    'tak ada kesetiaan yang sia-sia' kata2nya maniss banget..
    salam kenal mba Devy !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga :)
      Makasih sudah mampir.

      Delete