Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

Jane Eyre

By Saturday, June 01, 2013


"You would rather drive me to madness then break some mere human law"
"I must respect myself"
"Listen to me. Listen. I could bend you with my finger and my thumb. A mere reed you feel in my hands. But whatever I do with this cage, I cannot get at you, and it is your soul that I want. Why can't you come of your own free will?"


Membaca beberapa resensi buku Jane Eyre karya Charlotte Bronte, sebuah karya sastra klasik Inggris, sepertinya inti dari bukunya adalah tentang feminisme. Tapi tidak dengan filmnya. Tuan Rochester membuat isu feminisme di film itu terbang entah kemana :D

Jane, gadis muda cerdas yang juga keras dan baru berusia 19 tahun. Dia menjadi guru privat dari anak asuh Tuan Rochester. Tuan Rochester adalah pemilik Thornfield Hall yang jika digambarkan dengan susunan kata-kata dia adalah tipe pria-yang-seharusnya-paling-menyebalkan-di-dunia. Dia arogan, egois, moody, bertemperamen tinggi, sinis dan entahlah apa sifat tidak ingin melukai perempuan meski dia sendiri terluka adalah tipe yang menyebalkan atau tidak.

Mereka berdua saling jatuh cinta. Hal yang selalu terjadi antara guru privat ataupun pengasuh anak dengan ayahnya. Sampai disini saya berpikir untuk melamar pekerjaan sebagai pengasuh atau guru privat dari seorang anak yang tidak lagi memiliki ibu tapi memiliki seorang ayah yang dewasa, sedikit arogan, tapi sebenarnya baik hati. Err...bercanda tentu saja *sungkem Mrs. Rochester*

Kemudian Tuan Rochester melamar Jane (saya suka kalimat lamaran dari pria arogan ini. Untuk ukuran pria egois dan sinis dia termasuk romantis).

"I offer you my hand, my heart. Jane, I ask you to pass through life at my side. You are my equal and my likeness. Will you marry me?"
"Are you mocking me?"
"You doubt me."
"Entirely."

Sayangnya pernikahan itu tidak terjadi karena Tuan Rochester ternyata masih memiliki seorang istri. Dia telah menikah 15 tahun yang lalu tapi dia sama sekali tidak mencintai istrinya itu. Meskipun begitu Tuan Rochester tidak pernah meninggalkan istrinya yang telah menjadi gila hingga akhirnya dia jatuh cinta pada Jane.

Klimaks film ini tentu saja ketika Tuan Rochester meminta Jane untuk jangan pergi dan tetap hidup dengannya meski tanpa menikah. Jane - yang meskipun sangat mencintai Tuan Rochester - menolak. Dia merasa tetap harus menghormati dirinya sendiri. Hidup tanpa menikah dengan seorang pria yang telah menikah adalah hal yang tabu. Tuan Rochester memohon sambil menangis. Mencintai orang yang tepat di waktu yang tidak tepat, begitu mungkin gambaran keadaan mereka berdua. Bagaimana mungkin mereka harus berpisah sementara mereka saling mencintai hanya karena sebuah batasan moral yang dibuat oleh manusia?

Dan Jane kemudian pergi meninggalkan Tuan Rochester. Meskipun begitu, siapa sih yang bisa melupakan seorang pria yang memohon padamu sambil menangis agar kau tidak pergi dan kau pun juga mencintainya? Yep. Jane kembali lagi ke Thornfield Hall.

Saya tau ini spoiler. Tapi endingnya benar-benar ditutup dengan sangat manis. Tuan Rochester yang buta karena kebakaran yang menimpa rumahnya masih bisa mengenal tangan milik Jane.

Rochester: Who's there? This hand. Jane Eyre. Jane Eyre.
Jane Eyre: Edward, I'm come back to you. Fairfax Rochester with nothing to say.
Rochester: You're altogether a human being Jane.
Jane Eyre: I conscientiously believe so.
Rochester: I dream.
Jane Eyre: Awaken then.

Bukan film yang highly recommended, tapi film yang cukup recommended bagi para vintage lover :p

Rumah, hujan

You Might Also Like

0 komentar