Dola oto

Dola oto alias D.O adalah sebutan anak-anak PA untuk aktivitas menunggu kendaraan yang lewat di pinggir jalan supaya bisa ditebengi gratis. Biasanya sih yang ditebengi itu mobil pick up atau truk. Syukur-syukur kalo ada Pajero atau Fortuner yang mau ditebengi gratis.
Di atas mobil yang melaju kencang

Pekan kemarin untuk pertama kalinya saya ikut D.O dengan teman-teman anak KPALH Gravitasi. Kali ini saya nebeng ikut mendaki ke bukit Country di Salodik. Jadilah dari Desa Bunga ke Salodik kami menunggu mobil lewat untuk ditumpangi.

Ditunggu lama...belum ada satu pun mobil pick up atau truk yang lewat. Berkali-kali saya nanya ke Rini (teman yang membawa saya ikut mendaki), serius nih ada truk yang mau lewat? Klo tidak ada gimana? Kalo naik truk sampah gimana? Kalo truknya penuh gimana? *kemudian dijejelin sepatu*

Ternyata tidak lama ada mobil pick up yang lewat. Langsung kami semua mengambil barang-barang dan berlari ke arah mobil yang berhenti kemudian manjat bak mobil. Iya, serius manjat. Awalnya tidak pede karena saya pake rok, tapi ternyata tidak susah manjat bak mobil pick up. Setelah duduk rapi di bak belakang mobil,  rapiin rok dan duduk elegan, mobilnya langsung melaju kencang dan gaya duduk elegan saya sukses berantakan.

Rasanya DO? Seruuuu....keren. Ternyata enak juga naik di bak belakang mobil yang melaju kencang ditemani pemadangan hijau sepanjang jalan Luwuk-Salodik. Hwuaa...ini pertama kalinya saya benar-benar merasakan yang namanya ngegembel. Haha. Malah sempat diteriakin 'kayuuu...kayuuu' sama orang di pinggir jalan.

Sayang Luwuk-Salodik jaraknya dekat. Sampai di hutan pinus kami turun dan melanjutkan perjalanan ke tempat kemping yang mereka namai 'kandang sapi' (padahal saya curiga itu lahan milik orang) dengan jalan kaki sekitar tujuh kilo (kalau saya tidak salah ingat sih jaraknya) melewati hutan pinus dan padang ilalang yang luas dan keren bukan main. Jalan kakinya sekitar dua jam lebih karena ditambah nyasar dan berjalan dalam gelap.



Tepat saat isya sampailah di kandang-sapi-lahan-milik-orang tempat kami akan bermalam sebelum besok mendaki ke atas bukit. Yang laki-laki mulai sibuk mendirikan tenda, yang cewek sibuk menyiapkan makan malam (cewek hanya bertiga termasuk saya), sementara saya sibuk dengan barang bawaan sendiri yang super berat dan meraba-raba dalam gelap karena malu pakai senter murah meriah yang saya beli di All Swalayan yang diketawain Rini gara-gara lampu senternya warna kuning sementara senter dan head lamp yang lain keren-keren.

Setelah tenda sudah berdiri, setelah ganti baju dan sholat, saya (ceritanya) ikut bantu menyiapkan makan malam. Tapi mendadak hujan turun super deras semalaman. Maka malam itu saya puasa, basah, kedinginan,  tenda kemasukan air, tapi tetap tidur lelap saking capeknya meskipun tidur di atas air, kaos kaki dan rok basah, jaket lembab, punggung sakit dan kaki kaku beku kedinginan. Malam yang sempurna. Padahal saya berharap bisa tidur di luar tenda sambil melihat langit yang lagi keren-kerennya tapi yasudahlahyah. Kapan-kapan dicoba lagi insyaaLlah :D

Paginya setelah saya minum sekotak susu Ultra coklat low fat, kami bersiap pergi mendaki dan sepanjang pendakian perut saya sakit gara-gara hanya minum susu dan belum makan apapun sejak kemarin. Ternyata tidak jauh, hanya mendaki sekitar setengah sampai satu jam saja. Tinggi bukit Country 600 dpl. Sampai di atas, setelah banyak kali berhenti untuk menarik nafas, saya tersenyum senang. Pemandangannya keren masya Allah.  Meskipun anginnya kencang, matahari bersinar cukup terik, saya benar-benar tidak keberatan berlama-lama di atas bukit dan mengambil beberapa gambar sambil tentu saja menikmati 'gambar' asli hasil karya Sang Pencipta. Sayang saya datang saat musim kemarau sehingga banyak ilalang yang menutupi bukit tampak kecoklatan dan kering meranggas. Tapi keindahannya tetap tidak hilang. Berpadu dengan gunung yang tampak kebiruan dari jauh, lautan, hijaunya ilalang di bukit yang berundak-undak, saya tau saya tidak akan menyesali petualangan kali ini. Sangat. Semua rasa capek terbayar lunas saat saya berada di atas meski belum melampaui ekspektasi saya. Perjalanan kali ini benar-benar worth it.




Ini orang yang bertanggung jawab mengajak saya kesini :D

Setelah sejam di atas, kami pun kembali ke tenda. Berjalan pelan menuruni bukit sambil memenuhi pikiran saya tentang apa dan bagaimana. Setiap perjalanan memang selalu memberi satu nilai tambah dalam sudut pandang saya. Dan saya menyukainya. Saya suka melihat segala hal dari banyak sudut pandang. Bukankah perspektif yang berbeda bisa memberi hasil yang berbeda?

Di tempat kemah, kepala chef kami, Rini mulai meracik makan siang dengan cara memerintahkan adik-adik junior melakukan ini itu. Haha. Saya baru sadar kalo sejak awal saya dan Rini selalu dipanggil kakak. Awalnya saya kira mereka semua lebih tua dari saya. Ternyata usia mereka ada yang masih belasan dan awal dua puluhan. Mukanya keliatan lebih tua sih *big grin*. Awalnya saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya makan nasi keras campur sayur campur ikan kaleng campur mie kuah dan semuanya tanpa garam gara-gara yang bertugas bawa garam lupa membawanya. Tapi namanya lapar plus suasana di tengah hutan yang mendukung, maka saya pun makan dengan lahap. Hanya saja saya belum sanggup minum air sungai langsung tanpa dimasak. Jadilah saya menahan haus sampai balik ke Salodik meski godaaan meminum air sungai itu selalu ada -__-
Pulangnya nge-sandal jepit

Jam 4 sore kami pulang. Kembali melewati pemandangan indah padang ilalang dan hutan pinus. Kali ini jalannya santai saja. Menjelang maghrib kami tiba di Salodik dan nebeng duduk di depan pos polisi menunggu mobil atau truk yang lewat untuk menumpang balik ke Luwuk. Sayangnya kali ini kami kurang beruntung karena harus menunggu lama. Badan saya sakit semua, dari pinggang sampe kaki serasa dianestesi, capek, ngantuk dan kedinginan meski sudah pake jaket tebal (bayangkan saja udara malam di Salodik. Siang saja dinginnya minta ampun apalagi malam).

Alhamdulillah ada juga truk yang mau balik ke Luwuk. Kali ini bukan lagi pick up, tapi harus manjat bak truk. Haha. Sepertinya saya sudah expert dalam hal DO karena bisa memanjat bak truk tanpa kesulitan meskipun pake rok. Dan kali ini lebih seru karena bisa menikmati pemandangan langit malam. Bintang-bintangnya keren. Allah memang luar biasa indahnya.

Sampai di Luwuk dapat kabar Liverpool menang lawan MU dan menduduki puncak klasemen sementara. Ah, benar-benar akhir pekan yang sempurna.
*tarik selimut*
*besoknya nyari tukang pijat*



16.43 pm
Kantor
Bahwa kecewa hanyalah rasa dan dia tidak akan terasa jika kita tidak ingin merasakannya :)

Comments

  1. Nice...
    Yg paling menyenangkan pas baca aditya dkk dibilang kelihatan tua.:D hhaha

    ReplyDelete
  2. mantap perjalanannya, Ka Ai mestinya yang bawa garam

    ReplyDelete
  3. waaaw,. habis baca ceritanya jadi pengen k country lagi !!

    ReplyDelete
  4. Ingin baca ini lagi lagi dan lagi tak henti2nyaaa hahahahah ingin ksini lg pas bulan purnama kyaknyaa assooyyy

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)