Ternyata Bukan Tentang Saya

Ternyata memang bukan
Saya hanya salah mengartikan konspirasi semesta yang tak seberapa
Saya salah, menulis baris rumus demi rumus yang ternyata tak menghasilkan apapun
Saya salah, menyangka diammu adalah setuju meski butuh waktu
Ternyata diammu untuk yang lain, untuk bintang mungil yang berkelip jauh di sana
Bukan di sini.

Bukan tentang kita, tidak akan pernah
Karena keyakinanmu telah terbungkus pada orang yang berbeda
Saya salah mengartikan, menyangka setiap tetes hujan yang turun adalah kesempatan untuk saya
kesempatan untuk saya meminta padaNya
Membisikkan namamu, dan berharap yang terbaik

Namamu, haruskah saya berhenti membisikkannya pada Dia?
Karena ternyata saya salah, saya hanya berada di depan pintu dan tak pernah masuk ke dalam
Berdiri diam mematung seperti arca
Bodoh dan menyedihkan
Mana mungkin saya berani mengetuk pintu sementara ada orang lain yang duduk dengan anggunnya di dalam sana.
Tadinya saya berharap yang terbaik, berharap belum ada siapapun di balik pintu itu.
Berharap sehelai baju hangat yang sama bisa saya jadikan alasan
Ternyata saya berlebihan
Saya memang terlalu berlebihan.

Sekali lagi saya harus tau kapan harus berhenti :)

11.22 PM
Kamar
Keingintahuan yang terlampau besar kadang menyengsarakan
Tanpa sengaja menemukan blog itu
Sederet kalimat indah yang menjadi alarm, sudah saatnya saya harus mundur

Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga ada yg salah dan ga ada yg bodoh ko, saat kt bicara tntang rasa, krn itu anugerah utk kt walaupun tak sprti apa yg kt inginkan.. Paling tdk jadikan ia pnghargaan abadi atas pilihan2 hidup yg tlah kt buat ok :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)