Chen

Aku mengenal Chen sudah lama sekali. Kami berkenalan saat usia kami masih tiga belas tahun, kelas dua SMP. Dia gadis yang sedikit pendiam ketika itu. Tapi sama seperti orang tionghoa lainnya, Chen gadis yang ulet dan rajin. Jangan bayangkan Chen berasal dari keluarga tionghoa yang berada meski memang banyak keluarganya yang telah sukses. Sama juga seperti banyak tionghoa di negeri ini, ayah Chen adalah seorang pedagang. Dia memiliki sebuah toko kecil di sudut pasar yang menjual rempah-rempah. Karena hanya toko itu satu-satunya penopang hidup keluarga, ibu Chen ikut berjualan makanan dan Chen berjualan kue keliling kampung setiap pulang sekolah.

Aku hafal suara Chen yang kekanakan itu setiap kali dia lewat di depan rumah meneriakkan jualannya. Rumahku berada di ujung kampung sehingga selalu menjadi persinggahan terakhir jualannya. Ayah dan aku suka sekali kue serabi buatan ibu Chen yang memang dimasak di tungku dan masih menggunakan cetakan tanah liat. Bau dan rasanya khas. Kadang kami bertiga duduk di teras rumah – aku, Chen dan ayah – saling berbagi cerita sebelum Chen pulang membawa keranjang serabi yang telah kosong. Ayah selalu memborong habis dagangan Chen.

Sejak saat itu aku dekat dengan Chen, juga Chen dan ayah.

Selama kami berteman, aku pernah punya beberapa orang pacar. Ah, aku tidak bisa menyebut mereka pacar karena kami tidak berpacaran – ayah melarangku. Beliau orang yang keras dalam mendidik anaknya yang hanya semata wayang ini. Tapi kedekatanku dengan mereka tidak pernah melebihi kedekatanku dengan Chen. Aku jauh lebih dekat dengan Chen daripada dengan mereka. Aku sendiri tidak tau harus menyebut apa hubunganku dengan Chen. Tidak jelas. Kami hanya sangat dekat sebagai sahabat, tapi aku menyayangi Chen melebihi aku menyayangi beberapa orang (sebut saja) pacarku itu.

“Bintang...kau ini belum mau menikah? Usiamu sudah dua puluh delapan, pekerjaan sudah ada, apalagi yang kau tunggu?” tanya ayah suatu hari.

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah lama aku tunggu. Pertanyaan yang menjadi isyarat kalau ayah telah mengijinkan aku untuk menikah.

“Bagaimana Chen menurut ayah?”

Ayah mengusap dagunya yang dihiasi janggut berwarna putih. Berpikir. “Dia gadis yang baik, rajin. Ayah masih sering liat dia membantu ayahnya berjualan di pasar.”

“Bukan itu maksudku. Bagaimana kalau Chen menjadi istriku?” tanyaku takut-takut.

Ayah diam sejenak. Beliau memandangiku dengan tajam. Aku menunggu dengan gugup. Cukup sebuah anggukan, maka setelah itu aku akan mengayuh sepedaku sekencang-kencangnya untuk menemui gadis tionghoa itu di pasar malam. Aku akan melamarnya. Aku akan mendatangi Koh Obet, ayah Chen dan meminta Chen darinya.

“Kalian berdua berpacaran?” tanya ayah mengakhiri diamnya.

Aku menggeleng “tidak” jawabku buru-buru karena aku tau ayah tidak akan menyukainya. “Tapi aku dan Chen sudah berteman lama. Dan dia setuju, maksudku, Chen tidak keberatan jika aku ingin menikahinya. Aku sudah mengenal Chen, ayah juga sudah mengenalnya.”

Ekspresi ayah berubah. Beliau menatapku dengan pandangan sedih seolah ada beban berat dari setiap kata yang akan dia ucapkan kemudian. “Kenapa harus Chen?” tanya ayah pelan sekali “tidak bisakah kau menikah dengan gadis lain?”

Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ayah katakan. Kenapa harus Chen? Memangnya kenapa dengan Chen?

“Dia gadis yang baik” kataku.

“Ayah tau...tapi...”

“Tapi?”

Ayah menggeleng pelan kemudian beranjak dari kursi malas kesayangannya. Beliau masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.

Kalau saja masih ada ibu yang bisa melembutkan ayah yang keras kepala...

Aku menatap kosong pintu kamar ayah yang tertutup rapat.

Tanganku bergetar memegang setang sepeda. Aku seperti tidak akan sanggup menemui Chen malam ini. Tapi aku begitu merindukan gadis itu.
***
Chen telah berdiri di depan pagar rumahku, membawa keranjang anyaman bambu juga sebotol air. Saat itu kami sebentar lagi SMA.

“Kamu yakin mau ikut aku melaut malam ini?” tanyaku sambil memandangi Chen, menyangsikan.

“Iya. Memangnya kenapa? Aku juga dulu sering ikut memancing kok...”

“Tapi ini melaut, bukan memancing. Menjaring ikan semalaman. Kamu mampu? Badan kamu kurus gitu. Nanti kalau masuk angin gimana? Kamu bisa berenang? Kita hanya naik sampan loh. Belum lagi kalau ada ombak...”

Wajah Chen berubah cemberut. Tapi aku suka melihatnya. Aku juga suka setiap kali dia mengenakan cheongsam biru kesukaannya pada perayaan imlek. Dia tidak terlihat lagi seperti Chen yang kurus dan seorang gadis penjual kue. Chen mendadak tampak seperti dewi-dewi cina yang pernah aku lihat di acara televisi.
***
Chen memasukkan kakinya ke dalam air, menimbulkan sedikit bunyi kecipak dan sampan yang bergoyang. “Tuh kan..Cuma mancing ikan.” Chen mencibir melihat aku yang mengeluarkan kail. “Padahal aku sudah bawa keranjang besar buat diisi ikan.”

Aku tak menjawab, sibuk mengeluarkan umpan dan mengaitkannya di kail. Aku duduk membelakangi Chen, melempar kail ke dalam laut.

“Bintang...” panggil Chen.

“Hmmm?”

“Bintangnya bagus. Hihi...” Chen tertawa. Aku tak menanggapi.

“Bintang...”

“Ya?”

Chen tak melanjutkan ucapannya. Hanya terdengar bunyi kecipak air dan perahu yang kembali bergoyang.

“Jangan banyak gerak, Chen. Nanti ikan-ikannya lari...”

“Harus ya kamu mancing ikan malam-malam kaya gini?”

Aku tak menjawab.

“Bintang...” panggil Chen lagi.

“Yaa....” aku mulai kesal “kamu jangan manggil-manggil terus dong. Aku tidak konsen nih...”

“Lulus SMA nanti kamu jadi ke Jakarta?” nada suara Chen terdengar ganjil “kamu yakin mau pergi?”

Aku berbalik, memandang Chen yang menunduk memandangi air. Poninya menjuntai menutupi sebagian wajahnya.

“Chen...” panggilku.

Dia tidak mengangkat wajahnya. “Aku juga ingin ikut denganmu, kuliah. Tapi...” dia diam. Kemudian jemarinya yang kurus dan panjang itu mengusap kedua matanya.

Aku menunggu...

Tapi Chen tak melanjutkan ucapannya sampai aku mengayuh kembali sampan ke pantai.

“Tunggu aku ikat perahunya, Chen” seruku ketika Chen sudah berjalan pergi “biar aku antar kamu pulang.”

“Tidak usah” Chen tersenyum, dia melambai padaku.
***
“Lama sekali kau...” Chen tersenyum menyambut kedatanganku. Pelabuhan tampak ramai, semua orang sibuk dengan urusannya. Aku masih mengenal beberapa wajah mereka. Bapak-bapak yang mengangkut ikan di gerobak, sejak aku meninggalkan kampung nelayan ini beliau masih tetap berprofesi sebagai pengangkut ikan dari kapal nelayan ke pasar. Juga ibu-ibu yang berjualan minuman di ujung dermaga, pelanggannya rata-rata adalah nelayan dan buruh pengangkut ikan. Tapi lebih banyak lagi wajah-wajah baru di pelabuhan, para remaja tanggung yang mungkin ketika dulu aku meninggalkan kampung ini masih berusia balita.

Aku menghampiri Chen, sahabatku tersayang. Sepuluh tahun hanya mengenalnya dari telepon dan surat, dia tidak banyak berubah. Tubuhnya tetap kurus dengan jemari yang kurus dan panjang. Matanya tetap kecil, suaranya juga. Rambutnya lebih panjang sehingga gelungan rambutnya lebih tebal. Tubuhnya juga lebih tinggi dan...apa itu? Di pergelangan tangannya yang berkulit seputih susu aku melihat sebuah tato.

“Kau menato tanganmu, Chen?” tanyaku meraih tangannya untuk melihat lebih jelas tato miliknya. Gambar seekor burung kecil, entah apa. Tintanya yang berwarna hitam terlihat kontras dengan lengan Chen yang berkulit putih yang ditumbuhi bulu halus.

Chen menarik lengannya dan menyembunyikan tatonya “tradisi keluarga. Sudah lama, aku buat setelah kita lulus SMA.”

“Kamu tambah cantik” pujiku tulus. Kini aku suka melihat Chen meski tanpa wajah cemberut dan cheongsam biru itu. Bahkan hanya dengan kemeja lengan pendek lusuh yang warnanya telah pudar, rok panjang hingga ke mata kaki, rambut yang digelung asal-asalan sehingga beberapa helai rambutnya mencuat kemana-mana, dia terlihat luar biasa cantik.

Wajah Chen merona. Wajahnya yang pualam itu memang amat mudah merona. Wajah yang bulat dengan tulang pipi yang tinggi. Setiap kali dia tersenyum maka dua buah tonjolan di pipinya akan tampak, membuat senyumannya semakin manis. “Kenapa kau lama sekali? Tidak suka kau balik kesini?” ucap Chen ketus menyamarkan rona di wajahnya.

“Ayah memintaku melanjutkan S2. Setelah lulus malah disuruh kerja dulu.”

“Tapi paling tidak kau bisa kan balik kesini setahun sekali setiap lebaran. Ayahmu kesepian.”

“Yang penting sekarang kan aku sudah pulang. Ayo. Kau ikut aku pulang ke rumahku.”

Chen mengangguk. Kami berdua berjalan kaki pelan menuju rumahku.

“Kenapa kau belum menikah?” tanya Chen. Dia mengambil ransel milikku dan memeluknya “aku bantu bawa ya...”

“Aku mau menikah dengan gadis di kampung ini” kataku sambil memandanginya. Chen menyembunyikan wajahnya di balik ransel milikku.

“Dan kamu? Kenapa belum menikah?”

Chen menggeleng “orang itu baru balik hari ini. Bagaimana mungkin aku langsung membicarakan soal pernikahan dengannya?”

Aku tertawa, Chen juga ikut tertawa. Angin pantai membelai-belai kami sepanjang jalan berpasir menuju rumahku.

“Aku menunggu...” ucap Chen pelan. Dia tak memandangiku sama sekali.

“Terima kasih sudah menunggu...”
***
“Aku akan menyampaikan hal ini pada ayah. Kau tunggu aku di pasar malam. Segera setelah ayah memberi ijin, aku akan menjemputmu di pasar malam dan kita pergi ke rumahmu menemui ayahmu.”

Chen tersenyum. “Baiklah...jangan terlambat...”
***
Aku terlambat. Kukayuh sepeda secepat mungkin. Saat ini aku sama sekali tidak bisa berpikir apa-apa. Yang aku tau aku ingin bertemu Chen secepat mungkin, melihat matanya yang kecil, rambutnya yang digelung, rona wajahnya...aku sangat merindukan gadis itu. Lebih rindu lagi ketika aku tau, aku tidak bisa memilikinya. Ketika ayahku menggeleng tak memberi ijin, rasa rindu itu semakin besar.

Aku tidak tau harus apa, meminta Chen bersabar atau membiarkan dia pergi begitu saja. Ini bukan sesuatu yang bisa aku putuskan seorang diri. Aku ingin mengusap rajah di tangan Chen hingga gambar itu memudar. Aku ingin membasuh rambut Chen hingga bau asap hio tak lagi tercium darinya. Aku ingin membalut cheongsam biru milik gadis itu dengan sehelai kain. Aku ingin Chen menjadi milikku. Aku hanya butuh satu anggukan dari ayah, jika bukan hari ini, aku akan menunggunya besok, atau besoknya lagi, atau bertahun-tahun lagi. Tapi aku tetap harus membiarkan gadis itu pergi, aku tidak ingin menahannya tanpa kepastian.

Aku melangkah masuk ke pasar malam. Di sana, di depan karosel yang tengah berputar, gadis itu memunggungiku, mengenakan cheongsam biru kesayangannya.


11.32

Comments

  1. Cerpennya seru.
    Aku kira awalnya Chen Exo dan cowok -_-.Hehe maaf ya :). Kenalin aku Nurul. Oiya,aku juga termasuk pengagum Kapten Pierre Tendean. Sbnernya aku udah lumayan sering visit blog ini dan baca post-an kak Devi mengenai Kapt.Pierre dan itu sangat membantu *jadi ngelantur wkwk*. Salam kenal ya kak Devi :)

    ReplyDelete
  2. Hehe..saya malah tidak tau siapa Chen Exo :D
    Iya..salam kenal juga. Sama, saya juga suka sama Kapten :p
    Tulisan di blog ini sebenarnya dari berbagai sumber juga sih. Awal-awal suka sama Kapten saya ngumpulin semua info-info tentang beliau trus ditulis dalam blog. Makasih ya sudah baca cerpennya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)