Alidya dan Tegar

Jika ada satu nama yang dapat mengahancurkan semua rencana pernikahan yang sedang aku susun ini, kebahagiaan yang sedang aku upayakan ini, maka satu nama itu hanyalah namamu…Tegar.

Aku terlalu mencintainya. Bahkan hingga pada akhirnya aku akan menikah dengan seorang pria sempurna yang berkali-kali lipat jauh lebih baik dari Tegar. Tapi meskipun aku sangat mencintai Tegar, ada bagian hatiku yang menolak untuk menikah dengannya. Aku tak mau menjadi seorang istri yang terlalu bergantung kepada suaminya atau menjadi seorang istri yang terlalu mencintai suaminya. Karena jika suatu saat suamiku harus pergi meninggalkan aku, maka aku tak punya pegangan hidup apapun lagi. Karena itulah aku menolak ketika Tegar datang ke rumahku dan menyatakan keinginannya untuk menikahiku. Empat tahun yang lalu.


Tegar tersenyum masam di depanku saat terakhir kali kami bertemu di bandara beberapa bulan yang lalu. Diantara kerumunan calon penumpang aku melihatnya menyeret koper besar menuju loket check-in. Penerbangan terakhir ke Singapura. Kami terlanjur saling melihat sehingga mau tak mau kami harus berbasa-basi menanyakan kabar. Hal teraneh yang pernah aku lakukan dalam hidupku, berusaha keras tersenyum dan santai padahal di dalam hati ingin teriak-teriak memanggil namanya agar jangan pergi.

Siapa sangka dia kini datang lagi ke dalam kehidupanku di saat yang tidak tepat seperti sekarang ini? Saat aku sedang sangat sibuk mengurusi pernikahanku sebulan lagi.

Kau menghancurkan segalanya, Tegar. Kau menghancurkan hati keluarga besarku dan calon keluarga besarku.

Aku duduk memunggunginya, memandangi kendaraan yang lalu lalang di atas jalanan beraspal yang menguarkan debu dan bau hasil pembakaran bahan bakar yang sangat tidak sedap. Mau tak mau aku terbatuk-batuk kecil. Sementara Tegar masih berdiri di depan rumahku, kaku dan menunduk sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Kami berdua perlu berbicara serius setelah kedatangannya yang amat tiba-tiba ke rumahku dan merusak segalanya.

“Kau terlalu banyak bermain-main dengan takdir, Al” sahutnya “kau tahu, kau sangat tahu akan kemana kau bawa hidupmu. Kau tahu pada akhirnya akulah yang akan kau cintai. kenapa kau masih juga menghindar? Kenapa kau tak mau menyerah dan membiarkan takdir membawa kita kemanapun sekehendakNya?”

“Takdir juga yang mempertemukan aku dengan Anjar” balasku ketus, masih memunggunginya “dan kau hanya datang untuk merusak semuanya. Iya, kau benar aku masih mencintaimu. Itu bukan hal yang mudah hilang dalam setahun atau bahkan sepuluh tahun. Tapi bukan berarti aku harus menikah denganmu. Tidak mungkin. Kau lihat? Berapa banyak pasangan yang saling mencintai yang tidak menikah? Berapa banyak pasangan yang dipisahkan oleh berbagai hal padahal cinta mereka cukup besar untuk mengatasi itu semua? Kau tahu kenapa? Karena Tuhan egois! Tuhan tidak menginginkan dua orang yang saling mencintai untuk bersama-sama. Karena dia tak mau kita jauh lebih mencintai pasangan kita daripada mencintaiNya. Dia ingin kita hanya mencintaiNya!”

“Kau salah!” bentak Tegar mulai tak mengerti dengan apa yang dipikirkan olehku “jangan menyalahkan Tuhan semua yang kau katakan itu. tuhan maha adil dan Dia tahu kau seharusnya berpasangan dengan siapa. Tidak ada dua orang yang benar-benar sama atau benar-benar berjodoh. Tapi dua orang yang saling mencintai sudah lebih dari cukup untuk mempertahankan semuanya. Alidya, dengarkan aku! Aku mencintaimu dan aku ingin menikahimu. Tapi jika kau memang lebih memilih Anjar, jangan pernah salahkan aku untuk tak pernah kembali ke hidupmu yang penuh dengan rasa cintamu kepadaku”

Aku menggeleng keras. Air mataku jatuh bercucuran. Aku tetap pada pendirianku bahwa aku takut Tuhan akan memisahkan aku dengannya jika aku bersikeras untuk tetap bersamanya. Tidak ada cinta yang dapat menyatu selamanya, seperti halnya tidak ada air yang akan mengalir selamanya. Ternyata rasa cintaku tak sebesar rasa takutku akan kehilangannya. Lebih baik aku kehilangan Tegar di awal daripada harus kehilangan Tegar ketika seluruh kebahagiaanku telah kuserahkan padanya.

Maafkan aku Tuhan. Aku harus membawa-bawa namaMu dan mengatakan Kau egois. Tapi begitulah hal yang aku rasakan saat ini.

***

Tegar mengirimiku sepucuk surat sebelum dia pergi kembali ke Singapura tepat di hari pernikahanku dengan Anjar akan berlangsung.

Tuhan tidak egois, sayang
Cinta pun tak pernah egois
Hanya kita berdua yang terlalu saling mencintai yang pada akhirnya mendatangkan ketakutan bagimu.
Yang egois itu adalah kau.

Aku meremas surat dari Tegar dan melemparkannya ke dalam tong sampah. Riasan di wajahku sedang dirapikan sementara para wanita lalu lalang di belakangku sibuk mempersiapkan pernikahanku yang akan berlangsung dua jam lagi.

Aku tidak egois, Tegar.

Perlahan aku beranjak dari depan cermin saat riasanku telah selesai. Keputusanku telah bulat. Maka aku berjalan dengan cepat keluar dari rumah, berlari melintasi halaman rumah dan menyetop taksi yang kebetulan melintas. ”Ke bandara pak” pintaku pada supir taksi itu.

Aku baru saja merusak kebahagiaanku sendiri karena dia. Apa ini yang dia sebut egois? Dialah yang sesungguhnya sangat egois. Merasa kalau hanyalah dia satu-satunya orang yang dapat membahagiakan aku. Dan dia memang benar….

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)