Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

I (Don't) Love My Boss (Part I)

By Monday, May 28, 2012


Aku tidak pernah suka dengan udara di bulan Desember seperti sekarang ini. Lihat saja, aku diserang flu, hidungku tersumbat, kepalaku pening, badan pun rasanya tak nyaman. Padahal di akhir tahun seperti ini selalu banyak pekerjaan kantor yang menumpuk. Entah itu laporan bulanan lah, laporan akhir tahun lah, belum lagi kalau masing-masing divisi meminta laporan khusus di akhir tahun. Telepon kantor tak pernah berhenti berdering dengan bunyinya yang monoton menyebalkan itu. Kalau saja itu bukan telepon dari kantor pusat yang kadang memberi instruksi khusus atau mengirim faks, sudah sejak pagi aku cabut kabel telepon yang melingkar pasrah di bawah meja.

Saat sedang asyik mengetikkan laporan untuk divisi keuangan kantor pusat, seseorang mengetuk-ngetuk kubikelku dengan agak keras sehingga bergetar. Aku menoleh malas-malasan. Pasti Dia lagi. Dan benar saja dugaanku, dia sudah berdiri di depan kubikelku sehingga hanya nampak kepala dan lehernya saja, tersenyum menyeringai sambil mengibas-ngibaskan setumpuk kertas yang ada di tangannya. Aku mendelik. “Ada apa?” tanyaku ketus. Tapi pertanyaan ketus itu hanya aku ucapkan dalam hati. Yang aku lakukan malah tersenyum hangat kepadanya dan bertanya ceria, “ada yang bisa aku bantu, pak?”

Dia meletakkan seluruh kertas yang dipegangnya ke atas mejaku. Kemudian dia berjalan memutar dan masuk ke dalam kubikelku sambil membungkukkan sedikit badannya memandangi monitor komputerku. 


“Sudah selesai belum?”

Aku menggeleng pasrah. Laporan yang sedang aku buat tiga puluh menit lagi harus dikirim via surel ke kantor pusat. Tapi karena aku sedang flu, aku terlambat masuk kantor 30 menit dan masih saja bermalas-malasan di kantin menyesap kopi pagiku.

Dia tak mengomentari gelengan kepalaku. Tangannya meraih mouse dan dia mulai menjelajahi laporan yang sedang aku buat. “Hmm…lumayan. Tinggal sedikit lagi, selesaikan saja dulu laporan yang ini. Biar aku minta tolong Bayu menyelesaikan yang satu ini” Dia mengambil kembali tumpukan kertas yang tadi diletakkannya di atas mejaku. Untuk pertama kalinya sejak dia menjabat sebagai atasanku, aku dibuatnya terperangah. Dia tak pernah se-baik hati ini sebelum-sebelumnya. Catat itu. Tidak pernah!

Jadi apa kira-kira yang membuatnya tiba-tiba berubah 180 derajat pagi ini? Dia bahkan tak memarahiku tadi pagi ketika melihatku hanya duduk saja di kantin sambil melamun memandangi rintik hujan dari jendela. Dan sekarang dia membebaskan aku dari pekerjaan yang memang sudah seharusnya menjadi tugasku di akhir tahun seperti ini. Ada apa dengannya? Apa karena hari ini ulang tahunnya? Tentu saja bukan. Aku tidak tahu persis kapan ulang tahunnya tapi aku yakin bukan di bulan Desember. Atau karena dia akan menikah? Aku memang sempat mendengar gosip kalau dia akan melamar seorang wanita yang direkomendasikan oleh keluarganya. Mengherankan bukan kenapa pria seperti dia, yang telah berhasil dengan karirnya di usia muda, belum juga menikah? Bahkan dia harus ‘dijodohkan’ oleh keluarganya dengan seorang wanita. Lihat? Karena dia payah dalam urusan ‘relationship’. Lihat saja betapa menyebalkannya dia padaku. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara berhubungan baik dengan bawahannya maupun dengan wanita-wanita yang mungkin akan dinikahinya. Padahal dia punya segalanya. Pendidikan tinggi, tampan, cerdas, semua yang ada padanya mampu membuat wanita manapun meleleh – dalam arti yang sebenarnya.

“Pak” panggilku padanya buru-buru “tumben bapak baik banget hari ini. Apa karena Bapak mau nikah ya?” tanyaku asal. Aku memang senang membuatnya kesal dengan pertanyaan-pertanyaan spontanku. Ruang kerja yang awalnya gaduh tiba-tiba hening. Semua orang berusaha menyimak jawaban dari dia.

Awalnya dia hanya memandangiku, tersenyum, kemudian menahan tawa, dan tertawa. Dia menepuk-nepuk tumpukan kertas di tangannya. “Ada yang salah dengan hal itu?” jawabnya santai. Dia kemudian berlalu dari depanku. Setelah dia menghilang di balik ruangannya, suasana ruang kerja riuh kembali. Lebih riuh dari sebelumnya.

“Jadi Pak Arya mau nikah???” pekik Nadia, ketua Komunitas Penggemar Pak Arya. KPPA. Dia mengkoordinir seluruh karyawati dari semua divisi yang ada di kantor ini yang sama-sama menyukai Pak Arya. Dia menjadi ketua lebih karena dia adalah sekretaris Pak Arya, sehingga mudah untuk mengumpulkan informasi apapun tentang si pria menyebalkan itu. “Ini berita! Aku harus menyebarkannya sekarang juga!” serta merta Nadia meraih Blackberry miliknya dan mengetikkan kata-kata yang entah apa. Satu menit kemudian hampir semua Blackberry karyawati yang ada di ruangan ini berbunyi. Pasti Nadia mengirimkannya langsung ke grup BBM.

Kantor berlantai 5 ini heboh seketika hanya karena sebuah pertanyaan asal dariku. Pertanyaan yang bahkan tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Aku juga heran kenapa aku bisa menjadi begitu berani menanyakan hal seperti itu di depan dia yang jutek, yang pemarah itu (tapi kata Nadia dan teman-temannya itu keren) dan di depan banyak orang.

Menjelang jam istirahat makan siang, Pak Arya kembali mendekatiku. “Sab, aku bisa minta tolong?”

Tumben pakai minta tolong. Biasanya sih langsung nyuruh. Aku mengangguk. “Bantuin apa ya Pak?”

“Malam ini aku mau lembur. Bisa tidak temani calon istriku pergi belanja? Dia belum hafal benar jalanan di kota ini. Aku takut dia nyasar. Bisa kan? Kamu kan sering jadi supir buat teman-teman kamu” dia menepuk pundakku dengan wajah penuh kekaguman. Aku mendelik padanya.

“Bisa kan? Kamu tidak perlu lembur malam ini, cukup temani Tania jalan-jalan di mall berbelanja. Menyenangkan bukan? Biasanya wanita suka sekali berbelanja”

“Jadi namanya Tania ya Pak? Betul bapak akan menikah?” kasihan sekali Tania, harus hidup dengan pria seperti bapak yang menyebalkan minta ampun.

Pak Arya mengangguk. “Raden Ayu Tania, wanita jawa asli yang lembut. Tidak seperti kamu yang grasak-grusuk berisik.”

Begitu dia berbalik pergi, aku nyaris melemparinya dengan tong sampah yang ada di sisi kursiku.

Baguslah akhirnya dia akan menikah. Mungkin setelah menikah sikap menyebalkannya itu akan hilang. Usianya sudah 35 tahun, wajar kalau ibunya cemas minta ampun anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu belum juga menikah. Anak bungsu lagi. Sudah jadi rahasia umum di kantor – lewat KPPA – kalau Pak Arya sudah berkali-kali dikenalkan dengan berbagai macam wanita mulai dari artis, dokter, pengacara, konsultan, bahkan pramugari, tapi semua ditolaknya. Dan Tania? Siapa Tania ini? Seorang Raden Ayu? Apa hebatnya dia sampai Pak Arya akhirnya luluh juga dan bersedia dijodohkan dengannya?

***

Jam 7 malam aku masih duduk asyik di dalam kubikel mengetik laporanku. Lupa kalau ada tugas khusus dari Dia.

“Plakk” tiba-tiba ada yang menyambit kepalaku dengan kertas. Aku memungut kertas itu dan bersiap melempar kembali kepada orang yang telah usil padaku. Tapi ternyata yang melempar itu Pak Arya. Dia menunjuk jam tangan mahalnya dan berbicara setengah berbisik kepadaku, “Tania sudah menunggu di bawah! Kamu pakai saja mobil punyaku. Dan ingat, ini rahasia! Jangan bilang siapa-siapa kalau kau pergi dengan calon istriku. Bilang saja dia temanmu”

Aku mengangguk patuh. Pak Arya meletakkan kunci mobilnya di mejaku dan berlalu pergi. Aku merapikan barang-barangku dan segera pergi sebelum Pak Arya menyambitku dengan kertas untuk yang kedua kalinya.

Di lobi, aku melihat wanita itu. Sama persis sesuai dengan gambaran Pak Arya. Baru melihat sosoknya saja aku bisa menebak kalau dia seorang Raden Ayu yang kalem dan lembut. Bahkan tersenyum pun dia butuh waktu selama dua detik untuk menarik sudut-sudut bibirnya. Kulitnya kuning langsat khas wanita Indonesia. Rambutnya hitam panjang berombak dan diikat. Dia mengenakan kemeja batik warna coklat, senada dengan tas yang dipakainya dan rok panjang berwarna krem. Dari ujung rambut sampai ujung kaki penampilannya benar-benar tradisional. Aku sedikit berpikir, kukira selera Pak Arya adalah seorang wanita modern dengan dandanan ala Eropa. Ternyata seleranya malah seorang wanita yang kalau diliat-liat kok mirip aku ya? Wanita lajang tradisional yang tinggal di kota metropolitan.

Tania melambai ke arahku. Aku terkejut dia sudah mengenalku lebih dulu. Apa karena potonganku memang sudah mirip seorang supir atau bagaimana, aku kurang jelas. Langsung saja aku mendekat padanya. “Kok tahu sih kalau aku yang disuruh Pak Arya nganterin kamu belanja?” tanyaku. Dia tampak salah tingkah.

“Tidak kok” jawabnya halus dan pelan “barusan Kak Arya nelpon, katanya kamu lagi dalam perjalanan ke bawah. Makanya waktu aku lihat kamu keluar dari lift, aku langsung menduga itu kamu”

“Ooh…kalo gitu tunggu bentar ya! Aku mau ngambil mobil di parkiran. Kamu tunggu disini aja, jangan kemana-mana!”

Tania mengangguk. Sementara aku berjalan menuju parkiran yang ada di samping gedung. Sampai di parkiran, aku menepuk jidat. Lupa bertanya pada Pak Arya dimana mobilnya di parkir. Akhirnya aku harus memutari seluruh parkiran demi menemukan sebuah mobil Pajero Sport warna putih yang ternyata diparkir paling dalam karena Pak Arya selalu datang paling pagi. Sambil mendengus kesal karena kelelahan mengelilingi seluruh area parkir, aku naik ke atas mobil dan menyalakan mesinnya.

Keluar dari area gedung kantor, gerimis mulai menyelimuti kota ini. Aku menaikkan suhu di dalam mobil yang entah kenapa tiba-tiba terasa dingin. Aku bahkan merasa tubuhku sedikit menggigil. Tapi selama perjalanan Tania terus-terusan mengipas wajahnya dengan majalah yang tergeletak di dashboard mobil. Dia kepanasan rupanya. Padahal di luar hujan mulai deras mengguyur. Karena merasa tak enak melihat Tania yang kepanasan, aku terpaksa menurunkan suhu di dalam mobil dan kemudian aku menyetir sambil menahan rasa dingin.

Dua puluh menit kemudian kami sampai di sebuah mall dimana Tania telah membuat janji lebih dulu dengan sebuah butik yang khusus menjahit gaun pengantin. Tertatih-tatih aku berjalanan kedinginan di sisi Tania yang tampak begitu bersemangat mempersiapkan pernikahannya. Sampai di butik tersebut dia langsung diajak menuju sisi lain butik, di balik sebuah pintu kaca. Disanalah tergantung dengan anggun dan cantik sebuah gaun pengantin panjang berwarna coklat keemasan yang membuatku nyaris meleleh melihat keindahannya. Aku berjalan pelan mendekati gaun itu dan menyentuh kainnya yang lembut, mengamati setiap renda dan ornamen-ornamen yang melekat pada gaun itu, membayangkan kira-kira bagaimana jadinya jika aku yang mengenakan gaun ini. Maksudku, aku juga ingin menikah dengan gaun seindah ini. Aku yakin harganya jutaan rupiah.

“Cantik kan?” Tanya Tania yang telah berdiri di sampingku “coba dipakai deh” katanya. Aku serta merta menoleh padanya dengan wajah antusias. Tania menyuruhku mencoba gaun ini? Alamak, mimpi apa aku semalam sehingga hari ini aku bisa mencoba sebuah gaun cantik yang harganya mungkin sama dengan harga laptop canggih milikku yang kubeli dengan  susah payah hasil dari menabung selama 3 bulan. Tentu saja aku mengangguk dengan antusias tanpa berpikir panjang.

Seorang gadis, karyawan di butik itu mengajakku masuk ke dalam ruang pas. Di dalam, di depan sebuah cermin besar dia membantu aku mengenakan gaun yang ternyata amat pas dengan ukuranku. Setelah gaun itu terpasang, aku mematut-matut bayanganku sendiri di dalam cermin. Cantik luar biasa! Buru-buru ku keluarkan handphone dari dalam tas dan meminta gadis itu untuk mengambil gambarku sebelum Tania melihatnya dan mungkin dia akan menertawaiku. Setelah beberapa kali pengambilan gambar, aku berjalan keluar dari ruangan.

“Wah, cantiiikkk” puji Tania. Dia berjalan mendekatiku dan mengamati penampilanku “kamu cocok banget pakai gaun ini. Nanti kalau kamu nikah pakai gaun ini aja ya! Ih, kamu cantik banget sih”

Setelah Tania puas memuji-muji penampilanku, barulah gilirannya mencoba gaun itu. Dia tampak seperti seorang Putri Indonesia yang sedang berjalan mondar mandir di atas panggung menunjukkan mahkota kemenangannya. Tania benar-benar seorang wanita Indonesia tulen, dengan kulit eksotis dan pandangan mata malu-malu khas wanita Indonesia. Pantas saja Pak Arya jatuh cinta padanya dan ingin menikahinya. Dia sosok yang tepat untuk menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu.

“Kita ke toko perhiasan ya? Ada di mall ini juga kok. Mau lihat pesanan cincinnya” pinta Tania. Aku mengangguk, tentu saja. Mana mungkin aku menolak meskipun tubuhku telah kembali menggigil setelah gaun pengantin itu dilepas.

Setelah Tania puas mendengar penjelasan dari karyawan toko perhiasan kalau model cincin pernikahannya yang diinginkannya agak sedikit rumit dan mereka meminta waktu dua hari lagi, Tania kemudian mengajakku berbelanja. “Waktunya belanja!” serunya senang. Setengah berlari aku mengejar Tania yang begitu bersemangat keluar masuk butik, memborong berbagai macam gaun, memaksaku untuk ikut memilih – yang kemudian ku tolak karena aku ngeri membayangkan berapa besar tagihan di kartu kreditnya nanti. Akhirnya menjelang tutup mall barulah kami berjalan tertatih-tatih kelelahan menuju tempat parkir.

Aku mengantarkan Tania ke rumah pamannya yang – untunglah – dekat dari kantor. Aku harus kembali ke kantor mengembalikan mobil milik Pak Arya yang pasti sudah menunggu sejak tadi di ruangannya. Peduli amat. Dia seharusnya tidak memilih seorang istri bak putri tapi doyan belanja sampai lupa waktu. Kakiku gemetaran saat turun dari mobil dan tubuhku menggigil hebat. Sepertinya aku terserang demam. Aku bersingut pelan menuju lift dan jatuh terduduk di lantai lift saat mulai bergerak ke atas. Astaga, aku sakit!

Ruangan kantor telah sepi saat aku masuk dan hanya melihat seberkas cahaya yang berasal dari ruang kerja Pak Arya. Kakiku terasa berat saat aku masuk ke dalam ruang kerja pak Arya yang tak terkunci.

“Lama sekali kalian?” katanya dengan nada suara tinggi “sekarang sudah hampir jam 11….”

Brukkk….

Aku terjatuh tepat di depan meja Pak Arya. Pingsan.

***

Yang pertama aku lihat adalah wajah menyebalkannya itu. Pandanganku masih samar-samar. Barulah setelah pandanganku mulai jelas, aku bisa melihat wajahnya yang ternyata cemas luar biasa. Dia tampak pucat, berkeringat dingin dan berantakan. Aku memandang sekeliling, ternyata aku berada di sebuah ruangan bercat hijau dengan lantai ubin yang mengkilap. Biar aku tebak, aku pasti berada di rang rawat rumah sakit paling mahal karena aku yakin aku sedang tidak berada di kamar hotel bintang lima.

“Aku tadi pingsan?” tanyaku pada Pak Arya yang kini telah duduk di sisiku. Dia mengangguk sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau tiba-tiba terjatuh di ruanganku tadi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, jadi aku langsung membawamu kemari. Ternyata kau hanya demam. Membuatku cemas saja. kenapa kau tidak bilang kalau kau sedang sakit? Aku kan bisa meminta Tania menunda rencana belanjanya?”

Aku melongo. Tidak salah nih? Meminta Tania menundanya? Harusnya kan cari orang lain saja. batinku.

“Pak, bisa aku pulang sekarang?” tanyaku seraya berusaha bangkit dari tempat tidur.

“Jangan dulu” cegahnya “istirahatlah disini sampai besok pagi, biar aku yang jaga dan mengantarmu pulang besok”

Kembali aku melongo. Dia benar-benar aneh hari ini!

Esoknya Pak Arya menyupiriku. Dalam hati aku tertawa penuh kemenangan, karena aku tahu seumur hidupnya Pak Arya tidak pernah menyupiri bawahannya, apalagi aku yang sering sekali dibuat kesal oleh tingkahnya. Masih pagi sekali, jalanan cukup lengang sehingga mobil Pak Arya dapat meluncur mulus.

“Kata dokter kau hanya perlu istirahat di rumah. Kau tidak perlu masuk kantor dulu.”

Aku hanya manggut-manggut sambil memandangi suasana kota di pagi hari yang ternyata cukup menyenangkan melihatnya tanpa kemacetan yang sudah menjadi rutinitas kota ini.

“Kita sarapan dulu. Gimana?”

“Iya Pak, lapar nih” kataku mengeluh sambil memegangi perutku yang keroncongan karena sejak semalam belum makan apapun.

“Biasanya tuh orang sakit malas makannya. Kamu kok lain?”

Aku cemberut. Pak Arya tertawa lepas. Saat tertawa seperti itu dia terlihat lebih manusiawi.

Pak Arya mengajakku makan di sebuah restoran di pinggiran kota dengan nuansa tradisional. Restoran lesehan. Pak Arya sepertinya sering makan disini karena dia langsung mengambil tempat duduk favoritnya di bagian belakang, dekat taman dan air mancur. Restoran ini buka 24 jam.

“Bagaimana menurutmu dengan Tania?” tanya Pak Arya. Aku yang sedang bersemangat melahap sarapanku mau tidak mau harus berhenti mengunyah demi menjawab pertanyaan penting dari dia pagi ini.

“Hmm…” aku minum segelas air. “Tania baik kok. Contoh istri dan ibu idaman semua pria. Orangnya lembut, cantik, doyan belanja….”

“Apa menurutmu aku terlihat cocok dengannya?” potong Pak Arya.

Nanyanya kok tidak etis gitu sih? “Iya…cocok kok Pak. Serasi, selaras, seimbang”

Pak Arya melempariku dengan gulungan tissu yang baru saja dia pakai membersihkan tangannya.

“Ihh…jorok” aku berjengit. Dia kembali tertawa lepas.

-Bersambung dulu-

You Might Also Like

3 komentar

  1. Iyahhh...ini baru mau di post episode selanjutnya.
    *peluk ketjup Reski pembaca setia blog saya :p

    ReplyDelete
  2. Ah iya. Keren kak. Sealau keren. :')

    ReplyDelete