Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

I (Don't) Love My Boss (Part II)

By Monday, May 28, 2012


Pak Arya memang tidak berubah menjadi lebih manusiawi kepadaku sejak kejadian aku pingsan itu. Dia masih tetap menyebalkan dan selalu membuatku ingin melemparinya dengan keyboard di atas meja kerjaku. Tapi dia memang sedikit berbeda akhir-akhir ini. Aku rasa dia diserang sindrom pra nikah sehingga entah kenapa tanpa sengaja aku sering melihatnya sedang memperhatikan aku. Dan jika aku berhasil menangkap basah dirinya, dia langsung berjalan ke arahku dan sok menanyakan hasil kerjaku. Masalahnya dalam sehari bisa lebih dari 5 kali aku memergokinya tengah menatapku sehingga lebih dari 5 kali juga dia terus menerus mengecek pekerjaanku.

“Bagaimana kondisimu? Masih sakit?” tanya Pak Arya tiba-tiba saat aku sedang duduk di kantin sambil melamun. Desember baru saja dua pertiga lewat dan hujan sedang rajin menghampiri sudut jendela kantin.

Aku terkejut. Refleks aku melirik jam tanganku. Aman. Jam istirahat belum selesai sehingga dia tak punya alasan untuk memarahiku karena berlama-lama duduk di kantin. Lebih baik begini daripada aku harus duduk berlama-lama di dalam kubikel dan selalu mendapat tumpukan kertas yang dikirim dari ruangannya.

“Baik pak. Sudah mendingan, tidak demam lagi.” Lagian kalau demam aku pasti tidak akan masuk kantor.


“Baguslah” dia menarik kursi di depanku dan duduk di atasnya. Tiba-tiba saja selera minum kopiku hilang.

“Kau jangan terlalu banyak minum kopi. Ibu kantin bilang setiap hari kau selalu memesan kopi. Mirip bapak-bapak saja”

Aku menyeringai. Kenapa dia bahkan bertambah menyebalkan ketika sedang berada di kantin? Kenapa pula dia merasa perlu bertanya pada ibu kantin minuman apa yang aku pesan setiap harinya?

“Tania…” gumamnya

Oh tidak, jangan Tania lagi. Semoga jam istirahat segera berakhir.

“Tania…kami mungkin tidak jadi menikah”

Aku nyaris menyemburkan kopi yang tengah aku teguk ke wajah Pak Arya saat mendengar perkataannya barusan. Tapi untunglah aku dapat mengendalikannya sehingga tidak terjadi bencana besar di kantin. Aku pasti akan dipecatnya dengan segera meski laporanku belum selesai. “Kenapa?” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.

“Aku tidak suka wanita yang doyan belanja” jawabnya enteng “dan memang sejak awal aku tidak begitu tertarik padanya. Penampilannya memang mengingatkan aku dengan seseorang. Tapi ternyata mereka berbeda.”

“Lah, trus gaun pengantinnya? Cincin kawinnya?” seruku cemas “semua itu kan harganya mahal”.

Dia tersenyum “kamu itu aneh ya. Bukannya peduli dengan perasaanku dan Tania tapi malah lebih peduli dengan gaun pengantin dan cincinnya”

Aku cemberut “kalau perasaan bapak sama Tania sudah pasti kecewa kan? Tapi gaun pengantinnya yang seharga laptopku itu gimana? Cincin kawin yang seharga uang muka mobil itu gimana?”

Dia kembali tertawa. Akhir-akhir ini Pak Arya lebih banyak tertawa dengan segala hal yang aku katakan meskipun menurutku itu tidak lucu. Setiap kali kepalanya mulai sesak dengan pekerjaan dia selalu datang ke kubikelku dan mengajakku bicara hanya untuk menertawakan semua yang aku katakan. Dia pikir aku badut ulang tahun apa.

“Tania sudah punya pacar. Dia dipaksa orang tuanya untuk menikah denganku. Jadi aku pikir…yah, kau tau kan bagaimana perasaan seorang wanita? Kami laki-laki bisa menerima hal-hal seperti itu tapi sayangnya kalian tidak bisa. Jadi aku mengalah dan… begitulah. Selesai.”

“Bilang aja ditinggal Tania pak. Tidak usah sok bilang dia doyan belanja atau belum punya perasaan apa-apa sama dia” kataku asal tanpa sadar sambil mengaduk-aduk kopiku.

Pak Arya mengoleskan selai kacang yang ada di atas roti di depannya ke dahiku dengan sendok.

“Hwaaa…Pak. Itu roti saya!” seruku kesal melihat roti selai kacang milikku dan dahiku sudah tak karuan bentuknya.

***

“Baiklah….aku tau ini terdengar gila buatmu. Sebetulnya juga buatku. Tapi aku tak ingin membuang waktu lagi lebih lama melemparimu kertas, tissu, mengoleskan selai kacang…” kata Pak Arya sore itu, seminggu setelah insiden selai kacang yang melekat di dahiku ketika aku sedang bersiap-siap pulang kantor. Dia tiba-tiba sudah berdiri di sisiku dan raut wajahnya terlihat dia memang benar-benar berniat merusak akhir tahunku.

Aku sudah bersiap dengan gelengan kalau-kalau dia memaksaku untuk lembur.

“Menikahlahdenganku” katanya buru-buru.

“Apa?” keningku berkerut karena kalimatnya barusan tidak bisa aku cerna.

“Err…menikahlahdenganku” ulangnya, masih tetap buru-buru.

“Bapak ngomong apa sih?”

Pak Arya menarik nafas panjang. Tangannya dia kepalkan dan mendelik kepadaku. “Masa tidak ngerti juga sih?” ketusnya.

Lah, kok jadi aku yang salah?

“Gimana mau ngerti pak? Bapak ngomongnya kaya lagi dikejar massa gitu.”

“Huh” serunya kesal. Dia mengacak rambutnya dan memandang ke arah teman-teman lain yang belum juga beranjak pulang dari kantor karena penasaran dengan apa yang kami berdua bicarakan.

“Kenapa kalian belum pulang?” tegurnya kesal “giliran lembur pada pulang semua.”

Serta merta seluruh teman-teman kantorku grasak-grusuk merapikan barang-barang mereka. Ada yang langsung angkat kaki, tidak sudi melewati malam tahun baru di dalam kubikel sempit mereka. Tapi lebih banyak lagi yang memilih tetap bertahan dan berpura-pura masih sibuk mengerjakan sesuatu. Rasa ingin tau mereka ternyata jauh lebih besar dari rasa ingin segera beristirahat dengan nyaman di rumah.

“Kau mau menikah denganku?” ulang Pak Arya. Kali ini lebih pelan sehingga aku bisa mendengar setiap kata yang dia ucapkan.

Aku terpana.

Teman-temanku yang masih di kantor juga terpana.

Semua mata memandang Pak Arya.

“Eh, bapak tidak salah ngomong kan?” aku memastikan.

“Memangnya aku keliatan tidak sedang ngomong dengan kamu ya?” tanyanya ketus.

“Keliatan sih Pak. Tapi…” aku berusaha berbicara senormal dan setenang mungkin.

“Tapi apa?” potongnya.

“Eh…aku pulang dulu ya pak” seruku buru-buru. Serta merta aku langsung mengambil tas dan berlari keluar ruangan sebelum Pak Arya sempat meneriakiku agar tidak lari pulang. Aku akui aku memang pengecut dalam hal ini.

***

Pak Arya bersikap biasa-biasa saja seolah tidak ada apa-apa pada suatu sore dua hari yang lalu. Tapi dia jadi lebih pendiam dan tidak lagi bicara denganku kalau tidak benar-benar perlu. Dia berubah total dari seseorang yang otoriter menjadi seseorang yang seolah tidak peduli dengan apapun. Nadia protes kepadaku ketika Pak Arya yang dikaguminya sekarang menjadi agak pendiam dan pemurung.

“Ini kan gara-gara kamu, Sab” protesnya “mending sekarang kamu minta maaf sama Pak Arya dan bilang kalau kamu itu tidak pantas buat dia. Biar Pak Arya tidak terlalu kecewa karena kamu sudah menolaknya”

“Memangnya yang mau nolak Pak Arya siapa?” tanyaku jahil.

Nadia mencubit lenganku “Ih, kamu harus nolak! Awas kalo sampai kamu nikah sama Pak Arya!”

Mendengar ancaman Nadia, aku Cuma bisa tertawa. “Iya…iya…bu” jawabku asal. Nadia masih kesal.

Aku mengetuk pintu ruangan Pak Arya kemudian membukanya dan masuk.

“Ada apa?” tanya Pak Arya datar. Suaranya tidak lagi terdengar menyebalkan. Tiba-tiba aku rindu sosok Pak Arya yang dahulu.

“Begini pak, soal dua hari yang lalu. Aku…”

“Lupakan saja” potong Pak Arya tanpa semangat. “Anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu.”

Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa. Tapi aku mengangguk dan meninggalkannya sendirian di dalam ruang kerjanya yang luas dan nyaman itu.

Pak Arya tidak lagi menyuruhku ini itu dengan suaranya yang fals itu. Dia meminta Nadia yang menyampaikannya jika ada yang harus aku kerjakan. Sebenarnya sih hierarkinya memang seperti itu. Tapi selama ini Pak Arya selalu menemui langsung karyawan yang dibutuhkannya. Tiba-tiba suasana kantor jadi terasa sepi.

Kadang aku rindu cara Pak Arya mengomeliku, atau caranya tertawa ketika mendengar kalimatku. Aku bahkan ingin dia kembali mengolesi selai kacang ke dahiku. Aku rindu dilempar gumpalan kertas darinya atau ditepuk bahuku dengan setumpuk berkas. Baru sekarang aku sadar kalau ternyata saat mengobrol denganku Pak Arya lebih terlihat santai dan banyak sekali tertawa.

Sebuah kertas memo mendarat di mejaku. Panggilan dinas luar dari divisi operasional selama sebulan. Aku menarik nafas dalam-dalam. Kenapa aku sekarang merasa berat untuk meninggalkan Pak Arya meski hanya selama sebulan? Padahal dulu aku mau melakukan apa saja asal dijauhkan dari Pak Arya.

Sebulan itu terlalu lama, dengan tanpa omelan dari Pak Arya.

Dinas luarnya ke luar pulau ternyata. Aku baru tau saat mendapatkan surat panggilan resmi dari divisi operasional. Namaku sudah tercantum di daftar pegawai yang ikut, jadi mau tidak mau aku harus pergi juga.

Aku mengetuk pintu ruang kerja Pak Arya yang kini selalu tertutup rapat.

“Masuk” seru Pak Arya dari dalam.

Melihat aku masuk, Pak Arya hanya memandangku sebentar kemudian dia kembali memandangi monitor di depannya. “Ada apa?” tanyanya tanpa memandangiku.

“Err…aku pamit Pak. Sore ini berangkat. Sebulan lagi baru balik”

Aku menunggu respon darinya. Tapi ternyata dia tidak ingin mengatakan apapun sehingga dengan kecewa aku berjalan keluar dari ruangannya.

“Orang itu kau" katanya tiba-tiba. langkahku terhenti.

"Orang yang aku kira Tania akan mirip dengannya. Ternyata tidak” kata Pak Arya ketika aku telah memunggunginya. Aku menoleh sedikit dan melihat Pak Arya masih memandangi layar komputer.

“Oh” reaksiku yang aku usahakan sedatar mungkin. Kemudian aku kembali berjalan keluar ruangannya.

***

Jadi akan aku ceritakan kronologis kejadian yang Pak Arya ceritakan padaku.

Pak Arya melihatku masuk ke dalam mobil perusahaan dari jendela ruang kerjanya. Dia tau pesawatku berangkat dua jam lagi dan sudah ada beberapa orang teman yang lebih dulu menunggu di bandara. Setelah aku pergi, dia tampak gelisah dan terus menerus mengecek jam dinding setiap lima menit.

Pak Arya akhirnya menyerah. Menjelang satu jam keberangkatan, dia langsung berlari keluar kantor meninggalkan pekerjaannya, masuk ke dalam mobil dan menyetir gila-gilaan menuju bandara yang hanya berjarak lima belas menit dari kantor. Sepuluh menit kurang dia sudah sampai di bandara.

Tidak sia-sia memang Pak Arya menyetir gila-gilaan karena sampai di bandara dia langsung meneleponku dan meminta aku agar keluar sebentar menemuinya di luar. Aku menolak, merasa waktunya terlalu singkat untuk kami berdua berbicara karena begitu banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya dan meminta dia untuk menunggu sebulan saja. Dia bersikeras dan langsung membeli tiket pesawat kemana saja agar bisa masuk ke dalam bandara.

Sampai di dalam bandara dia ditahan petugas keamanan karena memaksa masuk ke dalam ruang tunggu yang bukan menjadi tujuan di tiket pesawat yang dibelinya hingga terjadi adu mulut. Untunglah setelah menjelaskan kejadian yang sebenarnya, petugas keamanan bandara itu mau mengerti. Dia mempersilahkan Pak Arya masuk meski di bawah pengawasan untuk menemuiku.

Dan kini dia berdiri di hadapanku, berantakan tapi tetap terlihat tampan, dan wajah menyebalkannya telah kembali seperti sedia kala. Dia menyeringai.

“Kau pikir aku bisa menunggu sebulan lagi dan membiarkanmu sendirian di luar sana?” katanya ketus.

Para penumpang telah dipersilahkan naik ke dalam pesawat.

“Aku harus pergi pak. Kita bicarakan ini nanti saja…”

“Tidak. jangan pergi” cegahnya. Pak Arya menahan tanganku. “Sudah kukatakan aku tidak ingin membuang waktuku lagi. Menikahlah denganku”

Aku tertegun. Pandanganku menatap lekat pria yang sedang berdiri di depanku ini, yang sedang menahan erat tanganku agar aku tidak pergi. Seluruh penumpang yang hendak masuk ke garbarata terhenti dan memandangi kami berdua. Penumpang lain yang masih menunggu panggilan boarding malah sengaja pindah tempat duduk  agar lebih dekat dengan tempat kami. Pak Arya dan aku benar-benar menjadi pusat perhatian ruang tunggu bandara sore ini.

“Sebenarnya aku selalu kesal setiap kali melihatmu yang telmi itu sedang bekerja” lanjut Pak Arya

Apa? Telmi? Jadi selama ini dia menganggap aku telmi? Huh, enak saja aku mau menikah dengan orang seperti dia. Galak, arogan, diktator…

“Aku tidak suka melihatmu yang selalu mengangguk setiap kali teman-temanmu meminta kamu mengerjakan pekerjaan mereka. Karena itu aku sengaja memberi kau pekerjaan yang banyak”

Ah, bilang saja bapak tidak suka liat aku nganggur

“Kamu itu aneh! Bisa-bisanya kamu tahan dengan sikapku yang seperti itu kepadamu selama ini. Dan tanpa sadar setiap harinya aku selalu memperhatikan kamu…”

What? Jangan lanjutkan! Wajahku akan bersemu merah...

“Sampai saat kau jatuh sakit kemarin. Saat itu aku sangat mencemaskanmu dan sangat ingin mengurusmu sampai sembuh. Entah karena apa. Padahal aku orang yang tidak pernah peduli dengan keadaan orang lain tapi tiba-tiba aku jadi sangat mempedulikanmu. Dan hal itu membuatku stres. Kenyataan kalau kita berdua adalah musuh – tidak dalam arti yang sebenarnya memang – dan aku tau kau sangat membenciku, sikapku yang semena-mena ini padamu. Dan…”

“Pak” potongku lembut. “sudah, aku mengerti”

“Mengerti apa?” buru Pak Arya

“Pokoknya aku mengerti!” seruku. Mataku melotot.

“Jadi kau mau menikah denganku?”

Anggukan kepalaku terasa ringan saja. Keyakinan itu tiba-tiba merasuk dengan sangat cepat kalau Pak Arya adalah orang yang tepat untukku. Meski dia menyebalkan, arogan, dan diktator. Dulu aku mengasihani Tania yang akan menikah dengannya, tapi kini aku harus mengasihani diriku sendiri yang selalu tidak bisa menggeleng di depan Pak Arya meski (sekali lagi) dia menyebalkan.

8.33 AM
24 Mei 2012
Kantor-kantor-kantor
Setelah sekian lama mengendap di dalam laptop

You Might Also Like

2 komentar

  1. Yah...
    Tk ada info lanjut kemana mereka bulan madu, berapa jumlah generasi yg akan lahir, tanggapan tante Tania, Nadia, dll. Tp intinya, keren laaaaaaaaah...
    *standing applause

    ReplyDelete
  2. Dijawab satu-satu ya
    Pertama, bulan madunya itu klo bukan ke Ubud, ke Moskow, Praha, ya ke Maladewa (ini mah ambisi pribadi penulis. Bukan ambisi Sabrina :p)

    Err...jawaban selanjutnya saya juga tidak tau. Terserahlah mereka bagaimana nantinya. Ya kan Pak Arya?

    ReplyDelete