Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

Kopi

By Wednesday, May 16, 2012


Meskipun saat ini kopi sudah disajikan dalam berbagai jenis, dicampur susu lah, dicampur krim lah, disajikan panas-panas dengan uap mengepul-ngepul, bahkan disajikan dengan es krim dan belakangan camilan pun memiliki rasa kopi – betapa manusia begitu kreatif mengutak-atik minuman suci oleh para sultan itu – bagiku hanya ada satu kopi di dunia ini. Biji-biji kopi yang berasal dari Sumatra yang kemudian akan dihancurkan dengan mesin di depan mataku, kemudian diseduh dengan gula secukupnya, bagiku itulah kopi yang sejati. Wanginya memesonaku, juga kepulan kecil uap di atasnya. Warnanya hitam, sedikit kental tapi manisnya pas. Cukup secangkir setiap sore di sebuah kafe dekat kantor. Maka soreku pun selalu sempurna.

Kalau saja dari dulu aku tau betapa nyamannya setiap sore duduk di tempat ini, dengan cangkir berisi kopi tradisional ini, mungkin sudah sejak dulu aku melakukannya. Keberadaanku di tempat ini adalah sebuah ketidak sengajaan ketika sebulan lalu desakan itu terus datang dari berbagai arah. Aku berjalan gontai sepulang dari kantor entah mengarah kemana dan sampailah di depan kafe bergaya vintage ini. Aku masuk dan langsung memesan segelas kopi. Anehnya si pelayan tidak bertanya kopi apa tapi langsung menyajikan padaku secangkir kopi tradisional dengan aroma luar biasa wangi. Sejak saat itu aku menjadi pendatang tetap kafe mungil di ujung jalan bernama Retro Coffee.


Interior kafe didesain persis dengan namanya, retro. Ada banyak pajangan yang berasal dari tahun-tahun dimana kakek dan nenekku untuk pertama kalinya bertemu. Meja dan kursinya dari kayu hitam berukir persis seperti meja kursi di rumah kakek dan nenekku. Jangan tanya lampu yang tergantung di langit-langit kafe. Sebuah kandelar indah yang dipasangi bola lampu. Masuk ke tempat ini membuatku terasa seperti berada di jaman kebangkitan nasional. Apalagi di sana sini dipajang foto-foto berbagai pose yang aku duga adalah buyut pemilik kafe bersama teman-temannya sedang berkumpul seperti tengah merencanakan pemberontakan terhadap kolonialisme di tanah air.

Di kafe itulah pada suatu sore pertama kali aku melihatnya. Dan sejak saat itu dia menjadi pendatang tetap Retro Coffee. Pukul lima lebih sepuluh menit tepat dia akan datang, lima menit lebih lambat dariku yang selalu datang pukul lima lebih lima menit. Dia juga pasti berjalan dari kantornya ke kafe ini, mengambil tempat di pojok dekat bar, menunggu sejenak sampai sepotong kecil tiramisu dan secangkir kopi tubruk terhidang di depannya. Pukul enam kurang 15 menit dia akan beranjak pulang, naik angkot ke arah pinggiran kota.

Baiklah, langsung saja akan aku ceritakan kenapa gadis ini menjadi tokoh utama dalam ceritaku. Karena memang cerita ini ada disebabkan gadis itu. Di sebuah sore yang ramai ketika entah kenapa Retro Coffee menjadi sangat penuh dan dengan sangat terpaksa kami berdua harus saling berbagi meja jika masih ingin mencium wangi kopi buatan barista kafe ini. Dia duduk di depanku, tersenyum ceria dan menyapaku seolah kami teman lama.

“Maaf aku mengganggu kenyamananmu. Tidak ada lagi tempat kosong dan aku sangat ingin mencoba brownies almond kafe ini. Kata temanku rasanya enak sekali dan…murah”

Aku hanya mengangguk, sedikit kaget ternyata dia sangat supel. Penampilannya yang selalu duduk diam di pojok kafe sendirian benar-benar mengecohku. Aku pikir dia adalah gadis pendiam dan tak begitu suka berbicara dengan orang asing. Tapi ternyata dia sangat cerewet dan 45 menit kebersamaan pertama kami diisi oleh monolognya.

Dia suka membaca, sering menghabiskan waktunya di sudut kamar untuk membaca buku-buku yang dibelinya secara teratur setiap bulan. Dia juga suka es krim dan paling tidak melahap satu cup es krim setiap harinya. Aneh kan dia memberitahukan semua hal itu kepadaku?

Dan keesokan harinya dia kembali duduk di mejaku meski masih banyak meja kosong di sekelilingnya. “Aku boleh kan duduk di sini lagi?” pintanya penuh harap tapi dengan ekspresi nyengir. Aku hanya mengangguk pelan tanpa minat. Gadis ini tidak kelihatan misterius lagi bagiku tapi kelihatannya dia cukup asyik sebagai teman bicara.

“Terima kasih!” serunya senang, langsung menarik kursi di depannya dan duduk. “Aku suka ngobrol denganmu” katanya terus terang “jujur saja, aku tidak pernah menemukan pria yang tahan duduk diam selama 45 menit hanya untuk mendengar cerita tentang buku-bukuku, es krimku, kucing-kucing peliharaanku, hanya kau satu-satunya” matanya berbinar, aku rasa selain dia orang yang lugas dan terbuka, dia juga jujur dan tulus. “Kau sama sekali tidak memotong pembicaraanku dan menanggapinya dengan beradab”

Aku tersedak. Beradab? Aku memang tak memotong perkataannya karena aku sama sekali tidak tertarik dengan segala hal yang dia bicarakan itu. Dan tanggapanku hanyalah berupa anggukan dan gelengan, itu pun kalau perlu. Begitukah yang dia maksud dengan beradab? Gadis ini aneh. Batinku.

“Aku akan dinikahkan dengan seseorang yang tidak aku inginkan” katanya tiba-tiba. Sepertinya kisahnya sore ini akan lebih menarik. “Kau tau kan? Kita memang selalu berbeda pendapat dengan orang tua kita. Selera kita berbeda, jaman apalagi. Tentu saja apa yang aku inginkan berbeda dengan apa yang mereka inginkan” lanjutnya berapi-api.

“Mereka selalu memaksakan hal yang mereka sukai agar aku menyukainya! Bayangkan! Setiap hari mereka menyetel lagu-lagu kuno kesukaan mereka hanya agar aku juga menyukai lagu-lagu itu! Lagu-lagu mengerikan itu! Oh, tapi tidak semuanya mengerikan. The Beatles adalah pengecualian. Empat orang pria itu akan jadi calon menantu yang cocok di segala jaman. Maksudku lagu-lagu yang aneh itu, yang suara biduanitanya menjerit-jerit berusaha mencapai nada tinggi dan membuat telingaku sakit…”

“Kau ingin bercerita soal perjodohanmu atau soal lagu-lagu kuno itu?” potongku.

“Ah, iya. Aku lupa. Maaf” katanya buru-buru. Bola matanya yang kecil mengerjap-ngerjap dan dia menyesap kopi tubruk kesukaannya. “Aku sebenarnya tidak ingin terlalu banyak minum kopi. Kau tau kan? Kafein dan segala efek sampingnya itu. Aku tak mau gigiku menjadi kuning dan orang-orang mengira aku seorang perokok…”

“Tak masalah jika hanya segelas sehari” sahutku.

“Orang tuaku tak menyukai pria itu. Pria sempurna itu! Mereka bersikeras kalau pria pilihan mereka, sesuai selera mereka yang kuno itu adalah orang yang tepat untukku” dia menekankan suaranya pada kata selera.

“Mungkin memang pria pilihan orang tuamu jauh lebih baik” aku berceletuk.

“Hey! Diamlah! Aku ingin bicara denganmu karena kamu tak suka memotong pembicaraanku” protesnya “kenapa sekarang kau jadi sangat cerewet?”

“Iya…aku minta maaf. Kerjaan di kantor tadi membuatku sedikit stres. Lepas maghrib aku harus kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaan yang tertunda”

Dia mendengus marah. Gadis yang benar-benar aneh. Tapi aku suka mendengar cerita-ceritanya karena saat bercerita mimik wajahnya benar-benar ekspresif.

Pada akhirnya dia tak jadi bercerita soal perjodohan itu dan mulai sibuk bicara soal kafein, coffee shop yang mulai menjamur dan berakhir dengan pertanyaan kenapa aku juga sering sekali duduk sendirian melamun di dalam kafe?

Aku tak menjawabnya. Sudah jam enam kurang lima belas menit. Dia harus pulang.

***

“Gadis itu ingin agar aku segera menikahinya. Dia sudah mendesakku sejak dua bulan yang lalu dan kedua orang tuaku ikut-ikutan mendesak agar aku segera menikah sebulan yang lalu. Jika aku tak segera menikahi gadis itu, mereka akan memaksaku menikahi gadis lain”

Gadis itu terkesima mendengar sederet kalimat yang menjadi alasanku kenapa aku sering sekali berkunjung ke kafe ini sendirian dan duduk melamun sejak sebulan terakhir. Jawaban yang aku berikan keesokan harinya pada gadis itu.

“Yang kau maksud gadis itu…pacarmu?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk (lagi-lagi).

“Kenapa kau tak mau menikah dengan pacarmu? Bukankah kau mencintainya?”

Aku menghela nafas berat “aku masih tak yakin kalau dia adalah perempuan yang tepat untukku”

Dia mendengus, terdengar sangat tersinggung dengan kalimatku barusan. Dan benar saja, setelah itu dia menyerangku dengan sederet kalimat panjang lebar soal perasaan perempuan.

“Jadi selama kau memacarinya, kau tidak pernah yakin dengannya? Untuk apa kau menyia-nyiakan waktu gadis itu hanya untuk menemani orang yang bahkan tidak yakin apa dia harus pergi kerja hari ini atau tidak? Kenapa mudah sekali kau bilang kalau dia belum tentu orang yang tepat untukmu? Tidakkkah kau berpikir dia juga akan berpikiran seperti itu? Mungkin saja dia butuh waktu yang lama untuk merenungi apa kau memang tepat untuknya atau tidak. Dan setelah dia menemukan jawabannya, dia langsung mengajakmu untuk menikah. Dia tidak ingin kehilangan kamu, dan kamu malah sama sekali tidak mencintainya!”

“Aku mencintainya” protesku “sangat. Kalau tidak untuk apa kami berdua berpacaran?”

“Lantas kenapa kau tak berani berkomitmen dengannya?”

“Aku memang mencintainya, tapi aku tidak terlalu ingin memilikinya…”

Dia tertawa. “Apa maksudmu? Kau mencintainya tapi tak ingin memilikinya? Itu bukan cinta namanya!”

“Aku punya definisi cinta sendiri” tukasku. Pembicaraan mulai memanas. Aku tak suka diserang seperti ini. Apa dia pikir aku tidak jungkir balik jatuh bangun untuk menemukan definisi cintaku sendiri? kenapa dia seenaknya memvonis kalau definisi cintaku itu salah?

“Definisi seperti apa yang kau punya?” tantangnya.

“Err…aku pikir cinta tidak harus selalu bersama, orang yang kita cintai tidak harus diberi label milik siapa dia. Dia bukan barang atau tanah yang harus bersertifikat. Jika ada rasa ingin memiliki, itu berarti lebih dari sekedar cinta.”

“Apakah ada rasa yang dapat melebihi dari cinta?”

“Ada” jawabku mantap “sebenarnya aku belum menemukan kata yang tepat untuknya, tapi aku yakin rasa itu ada.”

“Kau orang yang aneh!” tukasnya.

Hhh…bukankah dia yang selama ini aku anggap gadis aneh? Kenapa dia sekarang menuduhku sebagai orang yang aneh?

Aku tertawa.

“Kenapa tertawa?” semprotnya.

Kembali aku tertawa dan dia bertambah kesal.

***

Dia mengaduk-aduk kopi di hadapannya, memasukkan beberapa butir gula batu lantas meminum kopinya hingga tandas tanpa jeda.

“Aku sudah memutuskan” katanya “mungkin pilihan orang tuaku tidak buruk. Paling tidak aku akan melihatnya dulu dan membandingkannya dengan pilihanku”

“Kau menyerah juga akhirnya?” godaku. Wajahnya cemberut.

“Tapi aku pikir…kau itu tipe calon menantu yang akan disukai oleh calon mertua di jaman mana pun” lanjutnya “aku tidak akan heran jika seandainya kau yang aku perkenalkan kepada orang tuaku dan mereka akan langsung menggelar pernikahanku keesokan harinya”

Aku tertawa geli.

“Hey! Berhentilah tertawa. Kau belum mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Apanya yang lucu? Aku hanya sedang memberi nilai kepadamu. Jadi kusarankan segeralah menikahi gadismu itu. Aku jamin, setelah menikah nanti, kau akan merasakan rasa tak bernama yang sangat kau yakini itu. Sebuah rasa yang lebih dari sekedar cinta”

Tawaku terhenti. “Aku juga sudah memutuskan untuk mengikuti saran kedua orang tuaku. Yah, aku rasa aku akan menikah dengan gadis pilihan mereka. Tidak…jangan protes dulu. Aku tidak bermaksud mencampakkan pacarku – aku rasa kata mencampakkan terlalu berlebihan dan menggelikan. Tapi hingga saat ini aku sama sekali tidak punya keinginan untuk menikah dengannya dan kedua orang tuaku terus mendesakku. Jadi aku pikir aku akan melihat dahulu gadis itu, mungkin dialah orang yang tepat untukku…”

Sepotong kecil roti dia lemparkan ke wajahku. “Pria memang selalu punya banyak pilihan dan cadangan. Aku benci kalian! Kamilah yang harus selalu menunggu dan dipilih. Apa kalian tidak bisa sedikit bersyukur dengan keistimewaan itu? huh!”

Aku tersenyum penuh kemenangan.

Empat puluh lima menit selalu cukup untuk kami berdua. Saat dia berjalan keluar kafe hendak pulang ke rumahnya, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Buru-buru aku berlari keluar untuk mengejarnya.

“Hey! Tunggu!” teriakku, mengatasi suara kendaraan yang lalu lalang. “Siapa namamu?”

Sayang dia tak mendengarkannya sama sekali.

***

“Namanya Ariana, kau bisa memanggilnya Ari” kata ibu, ketika kami berdua sedang berjalan masuk ke rumah perempuan yang mungkin akan menjadi calon istriku kelak.

“Dan ingat Tegar, berbicaralah yang sopan dan terpelajar” ibu kembali memperingatkan. Aku hanya mengangguk pura-pura paham.

Pintu depan rumah terbuka. Dibuka oleh seorang gadis yang paling aneh yang pernah aku temui. Jadi namanya Ariana?

7.55 PM
16 Mei 2012
Lagi-lagi kantor – rumah

You Might Also Like

0 komentar