Kakak Jutek Dan Bocah Ileran


31 Desember 2013, jam 9 malam.
Penduduk di kota kecil ini menyebutnya ‘kapal kayu’. Secara harfiah, kapal yang sedang aku tumpangi ini memang terbuat dari kayu tapi dengan ukuran yang cukup besar dan terdiri dari 3 dek. Malam ini aku akan menyeberang ke sebuah pulau kecil nun di depan sana, pulau Salakan namanya, untuk menghabiskan liburan tahun baru yang hanya tiga hari. Meski telah lama menetap di sebuah kota kecil di ujung timur sulawesi bernama Luwuk ini karena alasan pekerjaan, ini pertama kalinya aku benar-benar bepergian keluar daerah – selain ke kampung halamanku tentu saja. Aku memberanikan diri pergi seorang diri, nekat saja. Tidak ada teman-temanku yang berminat menghabiskan liburan tahun baru mereka di sebuah pulau kecil yang terpencil. Mereka semua yang aku ajak mundur dengan teratur.

Kapal telah bergerak menjauhi dermaga tepat pukul 9 malam. Suasana kapal tampak lengang. Malam ini tidak begitu banyak penumpang yang ikut berlayar, mungkin mereka juga tak ingin menghabiskan malam tahun baru mereka di atas kapal dengan ombak yang lumayan mengocok isi perutku. Aku terus saja berbaring di atas kasur tipis yang disediakan untuk penumpang sejak aku naik ke atas kapal. Kepalaku terasa pening.

Tiba-tiba sebuah backpack besar berwarna biru terang dilemparkan di atas kasur di sebelahku, membuat aku tersentak kaget dan memaksaku membuka mata. Samar-samar aku melihat wajah seorang laki-laki yang sedang berdiri di ujung tempat tidurku.

“Hai! Menurut tiket, kau sedang tidur di tempat milikku” katanya.

Aku memfokuskan pandangan dan pikiranku. Dengan kapal yang sedang berguncang hebat, ditambah kepala yang pening dan perut yang serasa dikocok, sulit bagiku untuk bangun dan berpikir.

“Kau mabuk laut?” tiba-tiba saja dia sudah duduk di atas kasur di samping kananku “ah, istirahatlah. Lagipula penumpang malam ini sepi, masih banyak tempat yang kosong.” Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat tidur di dek 2 ini.

Aku tak mengangguk atau menggeleng atau berbicara sepatah kata pun. Begitu dia bilang aku bisa tidur di tempatnya, aku langsung kembali memeluk ranselku dan tertidur.

***
Lautan sudah jauh lebih tenang ketika aku terbangun. Jam yang melingkar di tanganku menunjukkan pukul 11.32 malam. Aku bangkit dan duduk lantas mengucek-ucek kedua mataku kemudian melirik laki-laki yang tertidur pulas sejarak dua kasur dari tempatku tidur. Kacamata berbingkai hitam yang dia kenakan tampak miring sebelah dan astaga, dia ileran! Aku tertawa sambil memegangi perutku yang mulai terasa lebih baik. Dia benar-benar pulas dan tertidur seperti bayi sambil bersedekap.

Tiba-tiba kapal berhenti. Kembali aku melirik jam tangan, masih jam 11.50 malam. Bukankah biasanya kapal tiba pukul 1 malam? Apa mereka kehabisan bahan bakar? Apa mesin mereka rusak? Apa mereka menabrak karang?

Pikiran yang tidak-tidak tiba-tiba menghantuiku. Bergegas aku turun dari tempat tidur dan langsung berlari ke arah luar untuk memastikan apa yang terjadi. Penumpang lain juga ikut melongok dari jendela kapal. Tidak ada apa-apa. Lautan tampak tenang tapi mesin kapal mati. Tiba-tiba dari pengeras suara terdengar seseorang berbicara.

“Selamat malam bapak-bapak dan ibu-ibu. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. saat ini kami memang sengaja mematikan mesin karena sepuluh menit lagi kita akan berpisah dengan tahun 2013 dan memasuki tahun 2014. Untuk itu kami ingin merayakannya sejenak bersama seluruh penumpang dengan menyalakan kembang api dari atas kapal. Silahkan keluar jika ingin menyaksikannya. Tidak akan lama, setengah jam saja. Setelah itu kita akan kembali berlayar menuju Salakan. Terima kasih.”

Aku menarik nafas lega. Sangat lega. Selain karena ini pengalaman pertamaku bepergian dengan kapal seorang diri, aku sama sekali tidak bisa berenang. Aku tidak mau kalau harus disuruh loncat dari atas kapal untuk menyelamatkan diri.

“Ada apa?” seseorang tiba-tiba bertanya dari arah punggungku.

Aku berbalik dan melihat pria ileran itu telah berdiri sambil memandang bingung ke arah luar.

Aku mengangkat bahu “tidak ada. Hanya mereka mau merayakan pergantian tahun sejenak. Jadi mesin kapalnya dimatikan dan pelayaran kita tertunda selama setengah jam dan kita akan terlambat sampai ke Salakan dan aku mengantuk. Sekian.” jawabku sambil berlalu di hadapannya.

“Itu bagus sekali” tiba-tiba dia sudah menahan lenganku “ayo kita lihat dari dek atas” ajaknya bersemangat. Tanpa menunggu persetujuanku, tau-tau dia sudah menarik tanganku naik ke dek paling atas dan berdiri di depan ruang kemudi.

Aku menatapnya dengan kesal tapi dia malah senyum-senyum sambil melihat lautan gelap di bawah sana.

“Aku mau turun!” kataku ketus.

“Sebentar saja, lima menit lagi jam 12” tahannya sambil memperlihatkan arlojinya kepadaku.

Belum sempat aku menyalak kesal lagi, tiba-tiba langit di atas kami memerah. Kemudian susul menyusul terdengar bunyi 'duarrr' yang berganti menjadi cahaya terang di atas langit malam, di tengah lautan pekat entah di titik koordinat yang mana.

Kami berdua menengadah, memandangi kembang api yang susul menyusul di atas kami. Dari atas ruang kemudi aku bisa melihat seorang bapak-bapak yang menyalakan kembang api-kembang api itu. Sepertinya mereka membawa cukup banyak kembang api untuk dibakar selama setengah jam.

“Sendirian saja?” tanyanya di antara suara letusan kembang api yang sahut menyahut.

Aku mengangguk.

“Aku juga” ucapnya tanpa ditanya. Aku hendak protes tapi sudahlah. Malam ini aku terlalu lelah untuk kesal pada seseorang yang baru aku kenal beberapa menit yang lalu.

“Maaf kalau aku tiba-tiba mengajakmu kesini. Aku pikir kau butuh udara segar. Tadi saat tidur wajahmu pucat sekali dan kau berkeringat. Aku ingin membangunkanmu, aku punya obat. Tapi aku pikir kau pasti lebih butuh tidur. Nih...” dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya “obat yang ingin aku berikan padamu tadi.” Sebuah botol mungil obat anti mabuk laut yang sering aku lihat di minimarket diserahkannya padaku.

“Tidak usah. Aku sudah merasa baikan. Terima kasih.” Tolakku.

“Tapi kau masih pucat” dia tetap menjulurkan botol mungil itu kepadaku. “Ah, jangan khawatir. Aku tak akan meracuni atau membiusmu kalau itu yang memang ada di pikiranmu. Nih, aku minum juga ya” dia membuka penutup botol itu dan menenggak setengahnya. “Tuh kan, ini obat sungguhan. Bukan racun atau obat bius.”

Aku meringis melihatnya. Laki-laki ileran ini benar-benar aneh dan kekanak-kanakan. Berapa usianya? Dia pasti masih anak kuliahan semester awal.

“Tidak, terima kasih. Aku tidak terbiasa minum obat” aku masih berusaha menolak dengan ramah.

“Ah, baiklah” dia menyimpan kembali botol obat itu di saku celananya.

Kami berdua kembali memandangi kembang api yang pecah di depan sana, menerangi air laut yang pekat.

“Selamat tinggal tahun yang benar-benar berat” ucapku tanpa sadar.

“Tahun terberatku juga” ucapnya “orang tuaku bercerai tahun ini. Kakak perempuanku menikah dan merantau bersama suaminya tahun ini...” wajahnya tampak sedih “tapi tahun ini aku lulus kuliah” lanjutnya kemudian wajah sedih itu berganti dengan senyum lebar.

Aku menggedikkan bahuku. Laki-laki ileran ini benar-benar kekanak-kanakan. Benar dugaanku, dia pasti jauh lebih muda dariku. Baru lulus kuliah? Berapa usianya? Paling baru dua puluh satu atau dua puluh dua tahun. Sementara aku? Tahun ini usiaku dua puluh delapan tahun. Pantas saja dia membuatku kesal. Usianya sepantaran adik bungsuku yang sering membuat aku kesal di rumah.

“Kalau kamu, kenapa 2013 jadi tahun terberatmu?” tanyanya.

“Panggil aku kakak” kataku ketus “kau lebih muda dariku, jadi panggil aku kakak. Jangan panggil aku dengan ‘kamu’ atau ‘kau’. Itu tidak sopan”

“Ahya, kakak. Aku akan memanggilmu kakak dan kau akan memanggilku adik”

“Tidak. Aku akan memanggilmu bocah ileran. Tuh, ilernya belum bersih!” aku menunjuk pipinya.

Dia terperangah. Buru-buru tangannya melap kedua pipinya bergantian. Aku menertawai wajahnya yang memerah karena malu. “Eh, sudah bersih kan kak?” tanyanya.

Aku mengangguk, tapi masih terus tertawa.

“Jadi kenapa tahun 2013 jadi tahun terberat kakak?” tanyanya lagi.

“Err...itu...” aku berhenti tertawa, menengadah memandangi bocah ileran yang tingginya jauh melebihiku. Justru aku yang tampak seperti bocah ketika berdiri di sampingnya. “Tidak ada, hanya masalah...”

“Masalah pernikahan ya?” tanyanya spontan “biasanya sih di usia kakak ya pasti masalah pernikahan”

Aku meninju bahunya “enak saja. Aku belum menikah tau!” protesku. Lah, ini siapa yang anak kecil? “di usiaku? Memangnya kau tau berapa usiaku?”

Dia berpikir sejenak, memandangiku sebentar, berpikir, kemudian memandangiku lagi. “Hmm...tiga puluh lima tahun?” tebaknya tanpa rasa bersalah.

Aku menendang tulang keringnya.

“Aduh...aku salah ya kak?”

Aku memasang tampang kesal “salah! Aku tidak setua itu!”

“Oh...salah ya?” dia menggaruk kepalanya dan memandangiku dengan tampang polos. “Jadi masalahnya apa? Kalau bukan masalah pernikahan, jadi apa ya? Hmm...kakak batal menikah? Orang yang kakak cintai pergi dari kakak?”

Aku kembali menendang tulang keringnya. Sialan. Kali ini dia benar.

“Kenapa dia pergi?” tanyanya sambil mengusap tulang keringnya yang telah aku tendang sebanyak dua kali.

“Mungkin dia tak mencintaiku lagi” jawabku sekenanya sambil menikmati angin laut yang membelai wajahku dan membuat kuncir rambutku menari.

“Tidak mungkin. Tidak ada orang yang cintanya bisa habis. Kalau seperti itu, sejak awal dia memang tidak pernah mencintai kakak!”

Aku memandangnya kesal. Bocah ini, seharusnya dia menghiburku, bukan malah menambah sakit hatiku yang sedang berusaha aku pulihkan ini. Sepertinya aku telah memilih teman berbicara yang salah.

“Kenapa tidak mungkin? kau masih muda, belum banyak yang kau tau tentang masalah ini. Tentang perasaan yang rumitnya jauh melebihi rumitnya rumus matematika. Kau pikir masalah perasaan akan berjalan sederhana seperti perasaan anak SMA?” aku tertawa “dunia orang dewasa jauh lebih rumit dari yang kau kira. Apa kau tidak pernah berpikir kenapa kedua orang tuamu bercerai?”

“Ibu dan Bapak masih saling mencintai” katanya cepat-cepat “hanya saja ada beberapa hal yang menurut mereka tidak bisa diakurkan lagi...”

“Masalah apa?” potongku.

“Aku tidak tau, mereka tidak mau cerita...”

“Tentu saja” potongku lagi “karena masalah itu terlalu rumit bahkan untuk mereka pikirkan sendiri. Menjadi dewasa berarti kau harus siap kehilangan cara berpikir yang sederhana. Orang dewasa suka sekali mencampur adukkan banyak hal dalam satu ide dan itu membuat mereka kesulitan untuk keluar dari masalah yang mereka buat sendiri.”

“Jadi kenapa dia meninggalkan kakak?”

“Kami tidak mencapai sebuah kesepakatan” kataku setengah tercekat “dan itu berakibat fatal. Dia memutuskan pergi tapi aku tidak punya kemampuan untuk menahannya...”

“Kemampuan atau kemauan?”

“Kemampuan” aku mengoreksi “aku mau, tapi aku tidak mampu. Tidak ada yang bisa menahannya supaya tidak pergi, bahkan aku sendiri pun tidak bisa.”

“Kenapa tidak?”

“Karena kami sudah sama-sama dewasa.”

“Itu bukan jawaban” desaknya “kakak masih mencintainya?”

“Masih” aku menarik nafas panjang. Dadaku tiba-tiba terasa sesak “kau sendiri yang bilang kan? Tidak ada cinta yang bisa habis” aku tersenyum “tapi itu tidak berlaku untuknya. Ketidak kesepakatan kami dijadikannya alasan untuk pergi. Tapi aku tau bukan itu alasannya. Aku pasti akan menahannya kalau saja aku tau dia masih mencintaiku. Tapi...”

“Darimana kakak yakin dia tidak mencintai kakak lagi?”

“Semua berubah. Kami berubah ke arah yang berbeda. Semuanya tidak seperti dulu lagi. Tiba-tiba setiap kalimat darinya terdengar hambar di telingaku. Dia tidak lagi mengatakannya dengan penuh semangat seperti sebelumnya. Aku bisa merasakannya. Dia hanya ingin pergi dariku tapi sungkan. Itu saja.”

“Sejak awal dia memang tidak pernah mencintai kakak” bocah ileran itu masih bersikeras “ibu dan bapak masih saling mencintai. Mereka saling meyakinkan kalau cinta mereka masih ada, tidak habis seperti yang semua orang kira. Jika dia mencintai kakak, sekalipun dia pergi, dia tetap tidak akan meninggalkan kakak dengan kesalah pahaman. Tapi nyatanya dia tetap pergi dan tidak peduli dengan apa yang kakak pikirkan tentang dirinya.”

“Karena memang dia sudah tidak mencintaiku. Selesai. Tidak ada yang perlu diperdebatkan disini. Kau hanya bertanya kenapa tahun 2013 jadi tahun terberatku kan? Jawabannya adalah karena aku baru saja belajar kehilangan orang yang tak pernah aku sangka akan meninggalkan aku. Sangat berat, karena bahkan untuk menghabiskan akhir pekanku aku selalu meminta pendapatnya. Aku hanya belajar memasak makanan yang dia sukai. Aku hanya membaca buku yang dia sarankan. Aku hanya mendengarkan musik dari band yang dia kagumi. Dan sekarang setelah dia pergi, aku bahkan tidak tau harus kemana di akhir pekan. Aku tidak tahu harus membaca buku yang mana karena aku hanya jatuh cinta pada buku-buku yang dia sarankan. Aku juga benci mendengar musik apapun karena tidak ada musik yang aku sukai selain musik dari band favoritnya itu. Tapi jika aku mendengarkan musik yang sama, itu hanya akan mengingatkan aku padanya dan membuatku tidak bisa berhenti menangis. Aku benci diriku sendiri. Aku benci begitu bergantung padanya. Aku benci karena hanya dia yang mau mendengar semua ceritaku, bahkan cerita paling tidak penting yang aku alami setiap hari. Aku benci karena...hanya dia orang yang membuatku nyaman...” tanpa sadar aku mulai terisak. Satu dua bulir air mata buncah dari ujung mataku dan mengalir jatuh ke atas pipi.

Bocah ileran itu tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia membiarkan aku terisak di sampingnya, menenggelamkan wajahku di antara kedua lenganku yang mencengkeram erat pagar besi di depanku. Aku tidak ingin menangis, apalagi di hadapan orang yang baru aku kenal. Tapi semua sedih yang hanya aku pendam itu akhirnya keluar juga. Aku tidak bisa menahannya, sudah terlalu lama aku menyimpannya seorang diri. Tidak ada yang tau. Bahkan dia yang pergi pun tidak pernah tau kalau masih ada begitu banyak ruang yang aku sediakan untuknya jika dia ingin kembali.

“Ah, maaf...kau pasti menganggapku aneh tiba-tiba menangis seperti ini” kataku setelah tangisku reda.

“Tidak apa-apa kak. Aku juga sudah sering melihat kakakku menangis setiap kali dia putus dengan pacarnya. Haha...” dia tertawa lepas.

Kapal mulai kembali berjalan perlahan kemudian semakin melaju membelah lautan. Angin menerpa semakin kencang dan bocah ileran itu mulai mengantuk. Tahun terberatku baru saja berlalu.

“Kak, aku turun duluan ya. Ngantuk”

Aku mengangguk. Bocah ileran itu berjalan sempoyongan ke arah tangga. Sepertinya dia benar-benar mengantuk. Aku memandangi punggungnya hingga menghilang di balik tangga kemudian geleng-geleng kepala. Kenapa aku bisa bercerita panjang lebar dengan anak itu?

Aku merapatkan jaket yang aku kenakan. Angin bertiup semakin kencang, membuat rambutku berantakan. Aku memutuskan untuk turun ke bawah dan berbaring sebentar. Masih satu jam lagi sebelum kapal benar-benar akan bersandar di dermaga pelabuhan Salakan.

***

Pukul 2 pagi, kami sampai di pelabuhan Salakan. Seluruh penumpang bersiap-siap untuk turun, juga aku. Tapi bocah ileran itu masih tetap tertidur pulas. Aku menggoyang lengannya tapi dia hanya menggeliat sebentar sebelum kembali tidur. Sambil mendengus kesal aku meninju lengannya dan kembali dia hanya menggeliat sedikit kemudian melanjutkan tidur.

Aku teringat sesuatu. Tadi di dek atas dia meminum nyaris separuh isi botol obat anti mabuk laut. Pasti gara-gara itu dia tertidur pulas padahal perjalanan tinggal sejam lagi. Aku menggoyangkan lengannya lebih keras, meninju lebih kuat dan dia sama sekali tidak mau terbangun. Arrgghh...terpaksa aku meletakkan kembali ranselku ke atas tempat tidur dan merebahkan badan tak jauh dari tempatnya. Mau tidak mau aku harus menunggui bocah itu sampai dia terbangun. Mana mungkin aku membiarkannya tidur sendirian di atas kapal sampai pagi.

***

Lenganku digoyangkan oleh seseorang. Si Bocah ileran sudah duduk di sampingku. Backpack warna biru terang miliknya sudah tersampir di punggung.

“Bangun kak. Turun yuk” ajaknya sambil meraih tas ranselku “biar aku bawakan.”

Aku menggaruk kepalaku. Seharusnya aku yang menjaga dia di atas kapal tapi aku malah ikut tertidur. Kami berdua turun ke dek bawah dan ‘melompat’ keluar ke dermaga. Maksudku, kami benar-benar harus melompat untuk turun dari kapal yang sudah sejajar dengan dermaga. Mereka tidak menyediakan jembatan.

“Kakak mau kemana?”

Aku melihat sekeliling “ke penginapan sih. Tapi aku tidak tau letaknya dimana. Menurut temanku penginapannya dekat dengan pelabuhan” kataku masih sambil celingak-celinguk.

“Trus kakak sekarang nyariin apa?”

“Tukang ojek!” jawabku ketus.

Bocah ileran itu tertawa. “kalau tukang ojek, tuh banyak” pandangannya diarahkan pada sebaris motor yang diparkir di dekat pintu keluar pelabuhan “tapi kalau penginapannya dekat ya kita jalan kaki aja. Disini itu kecil, kemana-mana pasti dekat. Apa nama penginapannya?”

“Penginapan Bharata. Tapi...hey...aku tidak mau jalan kaki!” lagi-lagi bocah ileran itu sudah menarik tanganku dan mengajakku berjalan.

“Penginapan yang kakak maksud itu memang dekat banget. Lima menit jalan kaki juga sampe kak. Ayo, ikut aku aja. Aku tau jalan disini kok.”

“Kamu sering kesini?”

“Iya, hampir setiap liburan. Pantainya keren-keren” dia tersenyum, memperbaiki letak backpack di punggungnya dan ranselku yang ada di dadanya.

“Kamu punya keluarga disini?”

“Punya. Tuh” dia menunjuk dengan santai sebuah rumah yang hanya sepelemparan batu dari pelabuhan. “Aku antar dulu kakak ke penginapan baru aku ke rumah tanteku.” Katanya.

Aku memperhatikan jalanan yang lengang di sekitarku. Sedikit tandus dan berdebu, tapi aku suka dengan suasa tenangnya. Hanya ada satu dua sepeda motor yang lalu lalang sehingga meskipun jalannya sempit, aku tidak terlalu takut untuk berjalan sedikit ke tengah. Bocah ileran itu sampai harus menarik tanganku berkali-kali agar kembali berjalan di pinggir.

Dia benar, hanya lima menit jalan kaki kami sudah sampai di depan penginapan.

“Setelah ini rencananya kakak mau kemana?” tanyanya sambil menyerahkan kepadaku ransel milikku yang sejak tadi dia bawa.

Aku mengangkat bahu “tidak tau. Mungkin berjalan-jalan di sekitar...”

“Nanti aku jemput. Kita pergi ke pantai yang aku bilang keren itu. Agak jauh sih, sekitar sejam dari sini. Naik sepeda motor. Kakak mau?”

Tanpa pikir panjang aku langsung mengangguk. Aku baru saja mau bilang berniat mencari guide di sekitar sini. Tapi ternyata dia sudah menawarkan diri lebih dulu.

“Baiklah. Kalau begitu setengah jam lagi aku kembali kesini. Kakak check-in saja dulu. Tuh, resepsionisnya” dia menunjuk ke sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan utama penginapan di depan kami. Aku mengangkat jempolku dan dia kemudian pergi.

***

Angin sejuk menerpa wajahku.

Bocah ileran mengemudikan sepeda motornya dengan kecepatan sedang sehingga aku bisa menikmati setiap pemandangan yang kami lewati. Setelah beberapa jalan yang menanjak dan menurun, melewati banyak desa-desa di tepi pantai, disapa anak-anak kecil yang sedang bermain di pinggir jalan, dia akhirnya menghentikan sepeda motornya di tepi jalan.

“Eh, sudah sampai ya? Mana pantainya?” aku celingak-celinguk dari punggungnya.

“Tuh” bocah ileran menunjuk sebuah jalan setapak di sisi kiri kami. “kakak jalan kaki saja dulu ke dalam. Aku mau cari tempat buat parkir motor.”

Aku turun dari atas motor dan berjalan pelan-pelan agak takut-takut ke jalan setapak yang dipagari semak-semak tinggi. Bagaimana kalau ada apa-apa? Bagaimana kalau ternyata si bocah ileran berniat jahat? Bagaimana kalau pantainya tidak keren? Bagaimana kalau dia berbohong....

Belum sempat aku melanjutkan dugaanku yang tidak-tidak, tiba-tiba saja kedua mataku menangkap pemandangan yang luar biasa indah di depan sana. Tanpa sadar aku sudah berlari, melempar sandalku ke sembarang tempat dan menjejakkan kakiku ke atas pasir putih yang lembut hingga kakiku terasa seperti melesak ke dalam pasir. Di depan sana, pemandangan yang tak kalah luar biasanya dari pasir putih yang tengah aku injak adalah pantai yang benar-benar biru dikelilingi karang dengan ombak tinggi yang mencapai puncak karang.

Ini serius?

Bocah ileran sudah berdiri di belakangku “bagaimana pantainya kak?” tanyanya.

Aku mencengkeram kedua bahunya “kenapa tidak ada yang bilang kalau selama bertahun-tahun ini aku tinggal di dekat pantai yang keren ini?” tanyaku dengan mata melotot.

Dia tertawa “Ini tempat favoritku kalau liburan.”

Aku berlari-lari masuk ke dalam air, berteriak-teriak minta difoto. Tapi kemudian segulung ombak besar menerpaku dan aku terjatuh. Dan bodohnya aku lupa kalau aku tidak bisa berenang.

***

Bocah ileran itu memakaikan aku jaketnya. Aku duduk lemas di atas pasir sambil sesekali menggenggam pasir-pasir lembut itu kemudian menerbangkannya. Aku nyaris saja terseret ombak ke tengah lautan. Untunglah bocah ileran itu langsung berlari menolongku.

“Aku baik-baik saja” kataku ketus ketika melihat wajahnya yang cemas “benar kok. Aku baik-baik saja. Ayo kita naik ke atas karang itu” aku menunjuk karang di depan kami. Dia tidak protes tapi langsung meraih tanganku dan mengajakku berdiri. Kami berdua naik ke atas karang dan menyaksikan pemandangan yang tak kalah indahnya dari atas sini. Ombak tinggi pecah tepat di depan kami.

“Terima kasih” bisikku “sudah membawaku kesini.”

***

“Aku tidak bisa membencinya” kataku di antara deburan ombak tinggi yang pecah di depan kami “tapi aku tidak ingin lagi bersamanya. Aku masih mencintainya, tapi entah kenapa aku tiba-tiba berpikir tidak ingin bersamanya lagi. Perasaan macam apa itu? Aku takut dia meninggalkan aku lagi. Tadi pagi dia mengirimiku pesan, ingin kembali. Ingin berbicara banyak denganku setelah berbulan-bulan kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Aku belum menjawabnya...”

“Kenapa tidak dicoba saja dulu?”

“Kau pikir perasaan itu sesuatu yang harus dicoba? Kau sama tak dewasanya dengan dia. Dengar kata-kataku ini baik-baik,  bocah ileran. Jangan pernah main-main dengan perasaan jika kau tidak ingin terluka seumur hidupmu. Sekali kau berani berkomitmen dengan perasaan seseorang, maka kau harus menepatinya apapun yang terjadi. Bahkan ketika kau tidak lagi mencintainya. Itulah rasa hormat. Dan itulah yang seharusnya dimiliki oleh dua orang yang saling mencintai. Menghormati.”

“Tapi...”

Aku menepuk bahunya “sudahlah. Ayo, kita pulang. Sudah siang.”

“Jika cinta adalah rasa hormat, maka kakak tidak mungkin akan mencintai aku bukan? Sejak semalam bertemu kakak hanya menganggap aku anak kecil. Jadi tidak mungkin kakak akan menghormatiku kan?”

Aku memadangnya tak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Aku sudah kenal kakak sejak lama. Kakak saja yang tidak mengenalku. Aku tidak percaya akan bertemu dengan kakak tadi malam dan berbagi cerita dengan kakak....”

“Ayo kita pulang” potongku dan langsung pergi begitu saja, tidak peduli dengan apa yang dia katakan.

Kami tidak saling bicara apapun dalam perjalanan pulang. Aku sedikit menggigil dan merapatkan jaketnya yang aku pinjam. Selama satu jam kami hanya saling diam hingga dia menghentikan sepeda motornya di depan penginapan.

Dia tidak pamit, pergi begitu saja setelah aku turun dari sepeda motor. Dasar bocah.

***

Besoknya dan besoknya lagi dia tidak datang menemuiku. Aku memutuskan berkeliling sendiri dengan sepeda motor yang aku sewa. Menghabiskan sisa dua hari liburanku dengan duduk di tepi pantai setiap senja atau bepergian ke desa-desa terdekat. Sebenarnya aku ingin sekali datang kepadanya dan meminta maaf. Mungkin dia tersinggung karena aku tidak mempedulikan ucapannya tempo hari. Tapi rasa gengsi terlanjur menggerogotiku. Hingga akhirnya aku kembali naik ke atas kapal untuk pulang, aku tidak bertemu dengannya lagi.

Aku duduk di anjungan kapal, memandangi lautan yang mulai berwarna kemerahan. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Di depan sana tampak pulau-pulau kecil berbaris tak beraturan dan sesekali ada ikan terbang yang melintas di depan kapal melawan arah. Ah, kenapa aku malah memikirkan bocah itu? Apa dia begitu marah sampai-sampai tak mau menemuiku lagi?

“Kakak pulang juga hari ini?”

Tiba-tiba bocah yang sedang ada di dalam pikiranku sudah berdiri di depan, tersenyum seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

“Boleh aku duduk?” dia menunjuk bagian kursi yang kosong di sampingku. Aku mengangguk.

“Kau kemana saja dua hari ini?”

“Tidak kemana-mana. Aku hanya berpikir, mungkin kakak marah padaku jadi aku tidak mengunjungi kakak. Kata ibuku, jangan mendekati orang dewasa yang sedang marah.”

Aku tertawa “aku tidak marah. Aku pikir kau yang marah padaku.”

“Hey, aku tidak sekanak-kanak itu kak!” protesnya. “Jadi kakak mau menerima aku?”

“Apa maksudmu? Menerima apa?”

“Orang dewasa memang selalu rumit” katanya “yang kemarin itu, aku sudah menyatakannya pada kakak...”

“Menyatakan apa?” aku pura-pura bingung.

“Sudahlah...” wajahnya tampak kesal.

Kembali aku tertawa senang telah membuat wajahnya cemberut. Dasar bocah. “Hmm...kau tau kan kalau aku jah lebih tua darimu? Aku sudah dewasa sementara kau masih bocah yang ileran...”

“Dewasa bukan soal usia” potongnya.

“Baiklah...baiklah. Dewasa bukan soal usia. Tapi aku ingin mencobanya dengan sederhana...”

“Kakak bilang urusan perasaan jangan dicoba”

“Dengarkan dulu aku. Hih!” aku menjewer kupingnya “maksudku, aku ingin mencoba mencintai sesuai usiamu. Cinta yang sederhana dan tidak rumit seperti cinta orang dewasa...”

“Jadi kakak menerimaku?” dia tersenyum senang.

“Belum.”

Wajahnya kembali kecewa.

“Tapi kau harus mengajariku bagaimana caranya mencintai sesederhana itu. Mungkin aku terlalu lama menjadi dewasa hingga aku lupa kalau dulu aku juga pernah jatuh cinta dengan cara yang sederhana. Dan setelah itu kita lihat saja nanti apa semuanya akan berjalan lancar.”

Kami berdua tertawa bersama-sama sementara di ujung sana, langit semakin memerah.

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)