Posts

Cangkir kopi dan Mangkuk Gula

Image
Kau tahu Arya? Seberapa kerasnya pun aku mencoba melupakanmu Semua cerita tentangmu tak pernah bisa habis... Bandara Soekarno Hatta, Pagi yang mendung di bulan Nopember, pukul 7 lewat 30 menit. Seperti biasa, bandara Seokarno Hatta selalu ramai entah di jam berapapun. Papan pengumuman digital tak henti-hentinya memberikan informasi penerbangan, manusia dari berbagai daerah dan negara bercampur baur, lalu lalang dengan barang bawaan masing-masing. Ada sekelompok turis wanita dengan tas ransel besar-besar lewat di depanku, salah satu dari mereka tersenyum yang kubalas dengan senyum juga. Mereka adalah backpacker , berjalan-jalan dari satu negara ke negara lain hanya dengan modal keberanian, melihat dunia hanya dengan modal mimpi-mimpi. Setelah para gadis-gadis pirang itu berlalu, aku melanjutkan jalanku menuju loket check-in.

Menikah, Pilihan Atau Keharusan?

Menikah, sebuah pilihan atau keharusan? Apa yang diharapkan setiap wanita selepas sekolah? Rata-rata jawaban mereka adalah bekerja. Kenapa bekerja? Agar bisa segera menikah. Ya,menikah! Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran setiap gadis mengapa mereka begitu berkeinginan untuk menikah. Seolah-olah menikah adalah satu-satunya tujuan hidup mereka. Tidak adakah seorang wanita yang berpikir bagaimana jika nantinya pernikahan mereka bermasalah? Bagaimana jika ternyata mereka tak sepaham dengan suami-suami mereka kelak? Bagaimana jika ternyata pernikahan itu membelenggu mereka? Apakah mereka harus bercerai? Atau diam saja dengan ketidak sepahaman yang mereka alami? Harus bagaimana? Mereka tak punya alasan yang cukup kuat untuk mengajukan cerai tanpa dikatakan sebagai wanita durhaka. Tidak ada orang ketiga, suami mereka berlaku baik pada mereka, tapi mereka terpenjara oleh pola pikir suami mereka yang mungkin terlalu monoton, membosankan, tidak ada inovasi dan lain sebaga...

Matryoshka (Bag. 2)

Moskow, penghujung musim dingin Aku menangis. Seharusnya aku menangis. Tapi tidak di hadapan ‘wanita penting’ yang kini berdiri di depanku. Aku yang mengundangnya kemari, di depan Kathedral st. Basil. Sudah saatnya aku mengalah dan membuang sifat egoisku. Mrs. Petrovsky memang benar, jangan menghancurkan kebahagiaan wanita lain seperti sahabatnya sendiri yang menghancurkan kebahagiaannya. Tapi keputusanku ini bukan karena kisah Mrs. Petrovsky, bukan juga karena aku merasa bersalah atau karena aku tak ingin mengkhianati wanita yang belum sepenuhnya aku kenal ini. Juga bukan karena aku tak membutuhkan Pak Tegar lagi, karena ternyata saat aku mengambil keputusan ini justru rasa butuh itu semakin besar dan nyaris membuatku mengurungkan niatku untuk menyelesaikan semuanya sebelum aku kembali ke Indonesia. Semua itu lebih karena aku menyerah, aku putus asa. Aku tak punya energi lagi untuk mempertahankannya, aku lelah dan ingin berhenti saja.

Matryoshka

Image
Moskow, awal musim gugur. Rusia, orang menyebutnya negeri beruang merah. Sebuah negara terluas di dunia yang dulunya adalah bagian dari negara blok timur, negara komunis yang menjadi musuh bebuyutan Amerika Serikat, yaitu Uni Soviet. Siapa yang tidak kenal dengan Rusia dan KGB mereka? Atau pemimpin mereka yang terkenal diktator, Josef Stalin? Aku sendiri mengenal Rusia dari sebuah film kartun berjudul Anastasia, dan dalam benakku orang-orang Rusia itu identik dengan Rasputin – tokoh antagonis dalam film itu. Ini merupakan tahun keempatku di Moskow, ibu kota Rusia. Sebuah kota terluas di Eropa yang didaulat menjadi kota termahal di dunia dua tahun berturut-turut. Sudah tiga tahun aku kuliah di Universitas Negeri Moskow dengan bantuan beasiswa yang kudapat dari sebuah badan amal. Aku yang sebenarnya bercita-cita untuk kuliah di Inggris atau Prancis, atau minimal Belanda kini harus terdampar di sebuah kota tua yang penuh dengan bangunan-bangunan berarsitektur klasik nan indah ini.

MY 2010 : BACK TO 60'S

Image
2010 – rasanya baru sebentar saya melewati tahun 2009 dan kini tahun 2010 pun telah beranjak. Tidak terlalu banyak hal yang menarik yang terjadi di tahun ini sehingga saya tidak begitu ingat hal-hal istimewa apa yang telah saya lewati sepanjang tahun 2010 kemarin. Hmm.. tidak juga. Enam bulan terakhir di tahun 2010 saya banyak mengenal hal-hal baru yang cukup merubah total pandangan hidup saya selama ini. John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, Ringo Starr Sedikit membahas hal yang ringan, di tahun 2010 kemarin untuk pertama kalinya saya nonton film hitam putih. Biasanya sih saya paling malaaaasss nonton film-film jadul, apalagi masih hitam putih. Kebetulan film yang saya nonton itu adalah film pertama The Beatles, tahun 1964 yang judulnya A Hard Day’s Night. Karena saya memang sudah suka The Beatles sejak SMP, makanya saya sengaja begadang nonton film itu di Metro TV. Dari dulu saya sukanya Paul McCartney, tapi begitu melihat John Lennon di film itu – saya suka gayan...

Jembatan Merah : Akan Kunanti Dia Di Sini Bertemu Lagi (Bagian 2)

Image
Dengan menumpang mobil Doni, Pramudya dan Firman dibawa ke jembatan merah. Sebuah jembatan besi bercat merah yang membentang di atas sungai kalimas, terletak di depan Jembatan Merah Plaza yang biasa disebut JMP dan senantiasa dipadati para tukang becak yang mangkal menutupi badan jembatan. Kekusaman telah menyelimuti jembatan bersejarah ini sehingga sama sekali tak nampak nilai historisnya, hanya terlihat seperti jembatan biasa. Doni memarkir mobilnya di area parkiran mobil JMP. Andin, Rain, Doni dan Firman telah turun dari dalam mobil, tapi Pramudya masih duduk diam di dalam dan sama sekali tak mau beranjak dari sana.

Jembatan Merah : Akan Kunanti Dia Di Sini Bertemu Lagi (Bagian 1)

Image
Tubuh Senja menggigil hebat, ketakutan. Seorang pria tegap nan tampan dengan selarik cahaya mata kecokelatan di seret di hadapannya, masih mengenakan baju militer lengkap berpangkat yang kini dipenuhi noda darah menghitam. Wajah eloknya tak lagi tampak di antara carut marut luka yang ditorehkan. Senja nyaris tak mengenali wajah kekasihnya itu kalau saja tak ada nama sang kekasih di baju militernya, tersulam dengan huruf-huruf emas : Pramudya. Nafas Senja seketika terhenti, dadanya serasa ingin meledak dan mulutnya ingin berteriak sekencang-kencangnya saat itu juga. Bagaimanalah mungkin seorang wanita, yang meskipun berdiri kokoh bak karang, dapat tegar menyaksikan kekasih hatinya disiksa di hadapannya. Sang kekasih sama sekali tak berteriak kesakitan atau mengeluh, atau berteriak ketakutan memohon pengampunan. Dia hanya diam bak arca, dipukul pun dia tak berkutik. Dia menatap Senja dengan pandangan yang paling menyakitkan yang belum pernah Senja temui, di balik kelopak matanya y...