Posts

Autumn, Dia Tidak Kembali Untukku

Image
Aku tak percaya dengan pandangan mataku sendiri ketika melihat sosok itu disana, berdiri tak jauh dariku dan sedang menengadahkan pandangannya ke dedaunan rimbun pepohonan yang sedang berguguran. Musim gugur membuat daun-daun pohon maple berubah menjadi berwarna merah kecoklatan, seperti hujan yang jatuh sehelai demi sehelai ke permukaan tanah, menutupi jalanan dengan warna merah kecoklatannya. Dia yang aku kira tak akan pernah kulihat lagi benar-benar berdiri di sana. Nyata. Seseorang yang telah berbelas-belas tahun lalu pergi dari kehidupanku kini tiba-tiba kembali dan memaksaku menggali semua kenangan tentangnya yang telah aku kubur dalam-dalam. Kenangan yang enggan aku usik lagi sejak dia benar-benar telah berlalu begitu saja.

Maaf Aku Terlambat

Maaf aku terlambat Ketika kemuning itu telah menjadi gulita Aku tahu kau masih akan berdiri di sana Memunggungi masa lalu, Dan membiarkannya tersapu bersama debu di jalanan Jika memang aku punya kesempatan itu Hanya satu hal yg menggelayut di puncakku Adakah rasa itu masih sama? Adakah rasa itu masih kau simpan dgn baik? Adakah kau merawatnya? Karena aku pun begitu, selalu begitu

Sebuah Surat (Yang Terlambat) Untuknya

Image
Setiap orang berubah, aku berubah, dia berubah, kau berubah…semuanya butuh perubahan untuk menyesuaikan diri. Tapi bukan berarti perubahan itu membuat kita saling menjauh bukan? Perubahan tidak akan mengubah bagaimana rasanya tersenyum ketika kamu menceritakan hal lucu. Dan perubahan juga tidak akan membuat aku merubah caraku marah ketika dirimu lupa memberi kabar kalau hari itu kau harus pulang larut. Tidak akan ada yang dapat merubah itu semua sayang. Meski pada akhirnya kehidupan kita berubah, tapi yakinlah apa yang ada di dalam hati ini tidak berubah. Aku tetap akan selalu membuatkan masakan yang enak buatmu ketika kamu kembali ke rumah kita meski itu harus melalui berkali-kali percobaan dengan hasil masakan yang mengenaskan di percobaan awal, aku akan tetap menyiapkan baju kerjamu setiap pagi, menyetrikanya dan memberikan sedikit pewangi di bajumu agar kau selalu ingat kalau kau punya seorang istri di rumah yang selalu cemas menanti kepulanganmu. Aku juga akan tetap mengir...

Curhatan Abad Ini

Allah, apa yang sedang dia lakukan disana? Pertanyaan seperti itu selalu terbersit di benak saya jika saya memikirkan seperti apa rupa suami saya kelak. Apa dia akan berdoa sama seperti yang saya minta kepadaMu? Apa dia juga sangat berharap agar segera dipertemukan dengan saya? Apa dia juga berdoa dengan penuh harap sama seperti ketika saya berdoa padaMu? Allah, kadang di hati ini timbul rindu yang teramat sangat pada sosok seseorang yang entah siapa Bisakah hamba memprediksi seperti apa dia? Apa dia akan sejalan dengan hamba nanti? Apa dia cerdas dan humoris? Mampu membuat hamba tertawa dan kagum dengan wawasannya? Apa dia punya visi dan misi yang jelas dalam hidupnya? Apa dia punya target-target yang jelas untuk hidupnya?

Third Step : Kota Pahlawan, Kota Kembang, Ibu Kota

Image
Akhirnyaaa…. Setelah berjuang selama 18 hari di diklat Pengelolaan Gadai Syariah di Surabaya dan deg-degan menunggu ijin cuti yang belum keluar, saya dapat bernafas lega. Rencana perjalanan Suarayaba – Bandung – Jakarta terlaksana juga. Dan untuk pertama kalinya saya akan naik kereta api! Yay! *ndeso Selesai penutupan diklat, saya dan dua orang teman berangkat ke stasiun Gubeng dengan taksi. Kalau dilihat sih suasana stasiun KA itu standar saja. Banyak porter lalu lalang, petugas keamanan, calon penumpang…tapi setidaknya tidak ada desak-desakan seperti yang sering saya lihat di berita di TV-TV. Mungkin karena arus balik hari raya idul adha telah selesai. Dengan menyeret koper besar dan bawaan seabrek, plus dua buah dus yang dibantu dibawakan sama Mas Arif (terima kasih Mas Arif, udah mau jadi porter untuk saya dan Ibu Ida :p) kami bertiga menunggu kereta di ruang tunggu sambil melihat pengamen elit di dalam stasiun. Kenapa saya bilang pengamen elit? Karena para pengamen itu mengg...

Flying Alone

Menepuh perjalanan jauh sendirian ternyata seru juga. Serunya itu kalau lagi bengong di bandara nunggu boarding. Atau pas dapat kabar bahagia kalau penerbangan delay sampai hampir 3 jam. Seru juga waktu harus ke kamar kecil sendirian dengan barang bawaan sekampung atau kalau mau sholat dan mau pergi makan. Seru…seru… saking serunya saya mau sewa pesawat jet pribadi buat kemana-mana biar tidak usah berjelaga di bandara sambil melihat orang lalu lalang di depan saya. Mulai dari mbak-mbak bule yang cantik, suami istri yang romantis, pasangan muda yang heboh… semuanya ada di bandara dan bisa dijadikan bahan observasi perilaku penumpang maksapai penerbangan di Indonesia yang terkenal dengan kekaretan jadwal penerbangannya. Jadi bisa saya simpulkan, bepergian sendiri itu tidak seru kalau harus transit dan delay berjam-jam.

Alidya dan Tegar

Jika ada satu nama yang dapat mengahancurkan semua rencana pernikahan yang sedang aku susun ini, kebahagiaan yang sedang aku upayakan ini, maka satu nama itu hanyalah namamu…Tegar. Aku terlalu mencintainya. Bahkan hingga pada akhirnya aku akan menikah dengan seorang pria sempurna yang berkali-kali lipat jauh lebih baik dari Tegar. Tapi meskipun aku sangat mencintai Tegar, ada bagian hatiku yang menolak untuk menikah dengannya. Aku tak mau menjadi seorang istri yang terlalu bergantung kepada suaminya atau menjadi seorang istri yang terlalu mencintai suaminya. Karena jika suatu saat suamiku harus pergi meninggalkan aku, maka aku tak punya pegangan hidup apapun lagi. Karena itulah aku menolak ketika Tegar datang ke rumahku dan menyatakan keinginannya untuk menikahiku. Empat tahun yang lalu.