Bangkok Traffic Love Story



Ini salah satu film favorit saya dan sebenarnya resensi ini sudah lama saya tulis, sekitar setahun yang lalu. Tapi hingga saat ini, film ini masih tetap menjadi salah satu film favorit saya.

Bangkok Traffic (Love) Story
Kisah tentang komet McBright

Paman itu seperti komet McBright yang lewat di kehidupan Li, begitupun Li bagi Paman. Komet itu hanya akan lewat sekali di bumi dan hanya akan kita jumpai sekali dalam seumur hidup kita. Menghadirkan rasa yang berbeda saat kita melihatnya, penuh kejutan, bercahaya, namun jika sedikit saja kita melewatkannya, maka kita tak akan pernah dapat menjumpainya lagi.


Mungkin itu pesan dari film Bangkok Traffic Love Story, film yang baru beberapa hari lalu saya tonton. Memang agak sedikit terlambat mengingat film ini telah keluar sejak tahun lalu. Tapi pengorbanan untuk mendapatkan DVD-nya terbayar dengan sebuah tayangan sederhana yang mengangkat kehidupan urban di Thailand dan kisah cinta wanita lajang di usia 30-an.

Sebagai seorang wanita karir, Mei Li terbilang cukup mapan. Usianya pun sudah tak bisa dibilang muda lagi, 30 tahun dan single, available, jomblo, atau apalah sebutan mereka untuk wanita seperti Li. Perawan tua? Ah, itu terlalu kejam :p

Li merasa sedih saat seharusnya dia berbahagia karena sahabatnya, Ped, baru saja menikah. Siapa sih yang tidak sedih jika sahabat yang selalu bersama dengan kita tiba-tiba diambil oleh orang lain, dalam hal ini suami Ped yang bernama Tor.

Pulang dari pernikahan Ped, Li menyetir mobil sambil menangis dan menabrak beton pembatas jalan. Di sinilah dia bertemu Paman, seorang pria tampan dengan pembawaan yang cool. Tenang, kalem dan dewasa. Li bagai melihat seorang malaikat saat Paman mengetuk kaca mobil dan tersenyum padanya. Ah, Li jatuh cinta. Tapi saya sebagai penonton tidak jatuh cinta pada Paman. Belum.

Pertemuan kedua mereka terjadi di rumah Li. Paman datang menjemput pembantu pemilik rumah yang Paman sewa karena telah berbuat 'kekacauan' di rumah Li pada pagi hari buta. Disinilah Li mengetahui kalau nama pria itu adalah Loong yang dalam bahasa Thailand berarti Paman. Kita panggil saja dia Paman, bukan Loong. Saya lebih suka memanggil dia dengan nama seperti itu.

Ternyata Paman adalah seorang insinyur. Dia seorang teknisi di BTS yang bekerja di malam hari. Li bertemu dengannya saat pulang kantor di stasiun BTS, pertemuan ketiga mereka dan Li merusak kacamatanya.

Selanjutnya kita akan disuguhkan cerita-cerita konyol Li saat dia berusaha mendekati Paman. Dia meminta saran kepada Plern, anak SMU imut tetangganya yang punya banyak pacar. Mulai dari menuliskan nomor teleponnya di kotak kacamata yang dibelikan Li untuk mengganti kacamata Paman yang telah dirusaknya, pura-pura mampir di tempat penyewaan DVD yang sering didatangi Paman, sampai dengan mengambil tas Paman yang telah dibuangnya di tong sampah.

Li hampir selalu merusak benda-benda milik Paman setiap kali mereka berdua bertemu.

Suatu hari Li mengajak Paman ke planetarium dan melihat pengumuman di layar monitor kalau pada tanggal 6 April 2010 akan lewat komet McBrigth yang hanya melintasi bumi sekali saja. Li ingin melihat komet itu bersama Paman, tapi Paman hanya diam dan berkata 'kalau kita memiliki kesempatan itu'.

Tapi semuanya tak berakhir seperti yang penonton inginkan. Paman ternyata akan ke Jerman melanjutkan kuliah selama 2 tahun, karena itulah Paman tidak bisa bilang 'iya' ketika Li mengajaknya melihat McBright's comet. Dan Li baru tahu kabar itu saat Paman akan berangkat keesokan harinya. Li marah, dia kecewa kenapa Paman sama sekali tak memberitahunya, paling tidak dia tak akan memaksa kisah mereka berdua harus terus berlanjut sampai sejauh itu, dan Li sudah merasa kesepian bahkan sebelum Paman pergi.

Ah, Paman tetap pergi juga, tak membatalkan keberangkatannya seperti di film-film komedi romantis lainnya. Bahkan tak ada kata-kata perpisahan berurai air mata dengan setting bandara. Paman pergi dengan diam.

Li menerima sebuah kotak titipan dari Paman sebelum dia pergi. Ternyata isinya semua barang-barang yang telah 'dihancurkan' Li disertai sebuah catatan-catatatan kecil yang ditempelkan pada setiap barang. Kaca spion mobil Li yang terlempar saat pertemuan pertama mereka (“Untung benda ini tidak terjatuh di kepalaku. Kalau tidak, aku pasti sudah berada di RS dan tidak akan pernah bertemu denganmu”), Kacamata Paman yang dirusaknya dan kotak kacamata yang Li tulisi nomor teleponnya (“aku tidak punya alasan untuk meneleponmu saat itu”), Laptop yang juga dirusak Li, sampai kamera digital saat terakhir kali mereka pergi bersama-sama. Li menangis dan memutuskan mengejar Paman ke bandara.

Sayangnya, seperti yang sudah saya katakan, ini bukan seperti film komedi romantis pada umumnya. Li terlambat datang ke bandara. Paman telah berangkat sejak pukul 8 pagi tapi Li baru datang ke bandara pukul 5 sore. Petugas bandara saja sampai tidak tega bilang ke Li kalau dia sebaiknya tidak usah datang ke bandara saja.

Yang pasti endingnya bisa kita tebak, tapi tidak bisa kita duga seperti apa sutradaranya menutup menit terakhir di filmnya. You must be surprised!

Catatan Kaki :
Belakangan saya baru tahu kalau ternyata McBright's comet tidak nyata dan hanya komet fiksi saja. Menurut film itu dia hanya akan lewat sekali melintasi bumi pada bulan April 2010 yang lalu. Setelah saya mencari informasinya di internet saya sama sekali tidak menemukan data apapun tentang McBright's comet -- sebuah komet yang menjadi sebutan saya untuk future lifetime partner saya :D

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)