Ordinary Man, Ordinary Me

Dan semua bla bla bla itu akan saya buang jika di hadapannya. Dia yang bahkan hanya kalian pandang dengan sebelah mata.

Saya terlalu banyak bicara ini itu, bilang ini itu, sana sini, kesana kemari, tapi ada satu sudut kosong di balik semua bla bla bla itu yang selalu saya sediakan untuk dia yang bahkan tak seorang pun memandangnya. Dia yang biasa-biasa saja, dia yang apa adanya. Bukan dia yang hebat, bukan dia yang pintar, bukan dia yang tahu segala hal, tapi dia yang akan melindungi keluarganya meski hanya sebatas kemampuan yang dimilikinya. Dia yang benar-benar sangat biasa.


Sudah saya katakan, kalian tak akan memandangnya. Dia mungkin hanya seorang pria yang kebetulan sedang antri di Bank bersama kalian, atau seorang pria yang sedang duduk di salah satu bangku putih panjang di ruang tunggu dokter, atau mungkin pria yang kalian temui di warung makan langganan kalian.

He's just an ordinary man

Kalian bahkan mungkin tak akan menyadari keberadaannya. Dan semoga saya menjadi orang pertama yang menyadari keberadaannya. Semoga dia nampak di mata saya saat orang lain tak bisa melihatnya. Semoga saja...

Tentang sebuah cinta yang diam dan menunggu, itu bukan kompromi. Tapi kompensasi.

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)