Biru



"Biru, adalah sebuah keinginan dan mimpi."

Serupa cita-cita yang sering aku gantungkan di langit-langit kamar, memandanginya sebelum aku terlelap dan berharap esoknya segala yang menggantung itu telah menjadi nyata. Dia, Biru, adalah selalu yang aku cintai. Sejak pandangannya selalu dia lemparkan ke langit luas, sejak rambutnya yang menjuntai di dahi menari dipermainkan angin, sejak bibirnya selalu terkatup rapat di tengah-tengah riuhnya kami, dan sejak aku mengenal namanya. Biru.


Pahatan wajahnya itu, aku tidak pernah melihat mata semenawan itu. Aku suka pandangan matanya yang kosong ketika dia sedang melangkah. Aku juga menyukai bahunya yang simetris, membuat pakaian apapun yang dikenakannnya tampak indah. Biru, adalah yang selalu aku cintai.
Setiap kali dia akan lewat di depan rumahku, melintasi jalanan yg berdebu saat musim kemarau dan becek saat musim penghujan, yang di sisi-sisinya berebutan rumput liar tumbuh, aku akan bersembunyi di balik tirai lusuh dan menatapnya diam-diam dari sana. Hanya beberapa saat saja, melihatnya menghabiskan tujuh langkah yang dia perlukan untuk melewati depan rumahku yang mungil. Setelah itu aku akan berlari ke halaman rumah, menyembunyikan diriku di balik satu-satunya pohon mangga yang tumbuh lebat di depan rumah kemudian takut-takut mengintip untuk memandangi bahunya yang simetris dan rambutnya yang dipermainkan angin. Begitu saja, selama delapan tahun.


Kadang aku mendapati Biru sedang duduk di pematang sawah miliknya, melamun - entah apa yg dia lamunkan. Aku sangat ingin menyelam di benaknya, mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang terlintas di kepalaku tentang dirinya. Biru. Selalu yang aku cintai. Hanya.


Mendengar kabar kalau Biru akan pergi, pergi dari kampung ini untuk bersekolah di Hegarmanah sana, tubuhku bergetar. Tidak bisa! Dia tidak bisa pergi karena aku masih ingin melihatnya lewat di depan rumahku. Hegarmanah itu jauh, jauh. Biru tidak bisa pergi jauh. Dia hanya akan menjadi Biru di sini, di kampung ini, di dekatku. Aku memohon pada Tuhan, biarkanlah Biru tetap berada di dalam pelukan lembah ini. Aku memohon, memohon, memohon tanpa henti. Dan aku bisu. Biru, dia tetap harus pergi.


Aku mengantarnya menghilang di ujung kelokan jalan. Aku mengantarnya di balik pohon kersen yang tumbuh liar di tepi jalan. Aku mengucapkan selamat tinggal padanya, di dalam hati. Biru tidak boleh pergi. Biru tidak seharusnya pergi. Aku benci Hegarmanah. Aku benci sekolah militer itu, yang memaksa Biru harus pergi dari dekatku. Pasti akan lama sebelum aku bisa melihat Biru lagi. Melihat bahu simetris itu, melihat rambut yang menjuntai itu.


Biru, empat tahun kemudian ketika kau kembali, kau akan tetap menemuiku di tempat yang sama. Tempat pertama kali aku melihatmu dan kau melihatku, sekolah tempat kita merasakan segalanya. Sebelas tahun yang lalu. Kau akan selalu menemukanku di sini. Aku tidak akan kemana-mana. Bukankah di sini kampung kita? Muasal seluruh hidupmu? Kau pasti akan kembali bukan?


Waktu bertiup, membawa musim demi musim, menerbangkan asa demi asa. Benih berubah padi, padi berubah nasi. Bertahun-tahun siklus yang sama berulang, dan aku, aku masih merindukan derap langkah kakimu di depan rumahku. Aku masih merindukan kebisuanmu. Masih. Dua puluh dua tahun. Aku tak berpindah sedikit pun dari balik tirai rumahku, atau dari balik pohon mangga besar di halaman rumahku.

Biru, selalu yang aku cintai.

Aku bisu. Aku bisu tentang sensasi indah di dadaku setiap kali berpapasan denganmu. Aku bisu tentang rasa gugup, tentang rona merah di pipiku, tentang cintaku. Tentang bahu simetris itu. Aku bahkan mencintai bayangan tubuhmu, sisa jejak langkah kakimu, aroma mint yang menguar dari rambutmu, bibir yang terkatup itu. Biru, lembah ini menunggumu. Juga aku.


Hegarmanah, tidak akan ada gadis cantik dari sana bukan yang akan menarik perhatianmu meskipun mereka ingin? Bukankah kau hanya akan mencintai gadis yang berasal dari lembah yang sama denganmu? Aku yakin, kau tidak akan memandangi gadis-gadis Hegarmanah itu meski mereka lalu lalang di hadapanmu. Ada aku, ada aku di lembah kita. Aku lebih pantas untuk itu. Aku hanya perlu menunggu.

"Kau tidak lelah?"
"Lelah untuk apa?"
"Lelah menungguku"
"Siapa bilang aku akan lelah?"
"Bagaimana jika aku tak kembali?"
"Kau pasti akan kembali!"

Aku berseru gugup, mengacak bayang-bayang Biru yang menjawab semua pertanyaanku. Kau pasti kembali Biru. Kau akan kembali. Biruku. Biru lembah ini.

***

Berita di televisi itu pasti salah. Pasti. Pria gemuk botak yang menjadi berita utama karena kasus korupsi yang dilakukannya pasti bukan Biru. Pasti. Biru tidak akan seperti itu. Bahkan bahunya tidak lagi simetris. Dia bukan Biru yang aku kenal. Pria di televisi itu adalah pejabat keji, bukan Biru. Biruku adalah seorang lelaki baik. Dia hanyalah lelaki lembah. Biru, Biru, Biru, adalah yang aku cintai. Bukan penjahat di televisi itu. Biruku pasti akan kembali, di ujung stasiun, dari dalam gerbong kereta yang penuh sesak. Pasti. Biruku, pria sederhana dengan bahunya yang simetris.

***

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)