Bromo. Aku. Dia



“Kau menyukainya?” tanyanya dari belakangku.
Aku mengangguk.
Kami bersama-sama mendaki puncak gunung penanjakan sejak tadi subuh demi untuk melihat keindahan matahari terbit di tempat ini. Indah, sangat indah. Beberapa turis bersorak ketika matahari perlahan-lahan menyembul dari awan putih yang melayang sebelum akhirnya cahaya keemasannya menimpa kami. Dadaku terasa sakit.

Dia merapikan topi rajut yang aku pakai kemudian merapatkan jaket tebalku. “Kau seharusnya mengancingkan jaketmu” katanya pelan, menarik resleting jaketku hingga ke arah leher kemudian menepuk pundakku “begini akan membuatmu lebih hangat” dia tersenyum.

Aku menggigit bibir, menahan rasa sakit yang aneh di dadaku. Untuk apa kami berdua berada di tempat ini? Untuk apa dia rela meninggalkan Surabaya di detik itu juga saat aku meneleponnya dari Probolinggo dan bilang aku ingin ke gunung Bromo sendirian? Untuk apa dia marah-marah kepadaku ketika sampai di Probolinggo dia tak menemukan aku karena aku bergegas ke Ngadisari, desa yang paling dekat di kaki gunung Bromo? Kenapa dia begitu mencemaskan aku yang bepergian sendiri padahal dia tau aku sudah sering melakukannya? Kabur ke Bali di akhir pekan, menghilang ke Karimun Jawa, tiba-tiba menelepon dari Lampung, kenapa kali ini dia begitu cemas? Bukankah dia tidak mencintai aku ketika aku bertanya bagaimana perasaannya padaku?

Sejak aku bilang aku mencintainya, dia selalu mencemaskan aku. Tapi tidak untuk menerima cintaku.

Aku menatap matahari di depan sana, di antara awan-awan putih yang melayang. Rasanya aku tengah berada sangat dekat dengan matahari. Diam-diam aku memandanginya yang telah berdiri di sisiku. Wajah yang ramah dan selalu tersenyum itu, bagaimana mungkin begitu berikeras untuk menolakku?

“Kenapa?” tanyaku lirih “kenapa kau tak mau mencintai aku?”

Aku meremas tanganku yang bersarung tebal, menunduk dalam dan memandangi tetes-tetes air yang jatuh dari ujung daguku. Dia tidak menjawab. Dia tidak akan pernah mau menjawab.

“Rasanya sakit...” lirihku “rasanya sakit karena itu kau, karena kaulah orangnya.” Aku cegukan, berusaha keras menahan isakku.

Dia menarik tanganku dan mengajakku duduk di atas tanah yang masih basah karena embun semalaman. Aku tak menolak. Kami duduk bersisian memandangi matahari yang telah terbit dengan sempurna.

“Maukah kau tetap berada di sisiku meski itu hanya sebuah kebohongan? Maukah kau membohongi hatimu dan berpura-pura mencintaiku? Sebentar saja, sampai aku bosan dan berhenti mencintaimu.”

Aku bisa merasakan dia menarik nafas panjang. Lagi-lagi dia hanya diam.

Puncak penanjakan berangsur-angsur sepi. Satu per satu turis telah kembali turun, meninggalkan kami berdua saja dan beberapa orang lain yang masih enggan turun dari puncak. Mungkin karena masih letih harus mendaki di pagi buta, mungkin juga mereka masih ingin melakukan hal lain.

“Aku...”

“Berhentilah bicara” dia memotong “kau tidak suka dengan matahari terbitnya?”

“Aku suka, tapi...”

Dia tersenyum “kau masih ingin disini atau kita pergi ke kawah?”

Aku menggeleng “di sini saja” ucapku.

Dia membuka sarung tangan yang dikenakannya, juga topi rajut miliknya. Rambutnya yang acak-acakan dan sedikit agak panjang dia ikat dengan karet gelang yang ada di tangannya.

“Aku ingin sekali berbohong seperti itu jika aku bisa” gumamnya “berpura-pura mencintaimu hanya untuk agar aku bisa berada di sisimu. Tapi aku tidak bisa...”

Aku memaksa diri untuk tertawa “tentu saja tidak bisa. Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku meminta kau melakukan hal sekonyol itu?”

“Aku tidak menganggap itu hal konyol”

Tawa di wajahku hilang seketika. “Aku selalu ingin menjauh darimu, tapi tidak bisa. Langkah kakiku selalu kembali padamu meski aku berusaha keras menolaknya. Kenapa di antara begitu banyak orang yang aku kenal, aku harus hanya jatuh cinta padamu?”

Tangannya terjulur. Dia menarik topi rajutku dan membukakan sarung tanganku “sudah lebih hangat disini. Kau tidak memerlukannya lagi...”

“Aku...rindu” bisikku “terlalu rindu. Itulah kenapa langkah kakiku ingin selalu kembali padamu. Setiap kali aku memandangi jejak kaki di pasir, aku selalu merindukanmu. Aku selalu berlari mencarimu, ke tempat itu. Tentu saja kau tak berada di sana. Aku hanya selalu ingin kembali ke tempat itu, melihatmu tertawa saat aku memercikimu dengan air. Aku ingin melihat rambutmu yang menari dipermainkan angin, aku ingin melihat kau mengikat rambutmu dengan karet gelang, aku ingin melihat kau berlari mengejarku kemudian mendorongku ke dalam air. Aku ingin berpegang di punggungmu ketika berenang, kau tau aku tidak pernah bisa berenang kan?”

Dia membuka karet gelang yang mengikat rambutnya, kemudian meraih rambut panjangku yang tergerai dan mengikatnya “angin disini sangat kencang”.

Aku bahkan bisa menghitung langkah kakimu di atas rumput basah itu, atau berapa kali kau tersenyum dan melambai kepadaku yang sedang duduk termenung di balkon rumah peristirahatan orang tuamu. Aku terbiasa menghitung berapa suapan yang kau perlukan untuk menghabiskan sepiring nasi goreng buatan ibumu di pagi hari, berapa tegukan air dalam setiap jeda. Tapi waktu tak pernah mau menjadi beku untukku.

“Kau tidak memotong rambutmu? Sudah sepanjang itu...”

“Tidak” ucapku kelu “sejak dua tahun lalu, tidak lagi pernah”

“Kenapa kau memotong rambut sependek itu?” omelmu. Dua tahun lewat.
Aku memegangi rambutku yang kini sama panjangnya dengan rambutmu. “Aku suka” jawabku, memegangi ujung rambutku yang hanya mencapai telinga. Dia mendekatiku dan mengacaknya. “Kau lebih cantik dengan rambut panjang itu”.

“Besok aku harus kembali kerja. Sore ini aku antar kau ke bandara”

Aku menggeleng “aku akan pulang besok. Aku sudah membeli tiket pesawat untuk besok. Kau pulannglah siang ini”

“Aku akan memesankan tiket pulang untukmu sore ini setelah kita kembali ke hotel”

“Aku tidak mau”

“Jangan membantah! Aku tidak bisa menemanimu sehari lagi, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di Surabaya”

“Kau tidak perlu menemaniku, aku tidak memintanya!” seruku kesal “aku akan pulang besok, titik!”

“Sore ini” katanya tetap tenang menghadapi aku yang mulai emosi.

“Kenapa? Kau tidak ingin aku berada di dekatmu? Kau tidak suka? Ahya, tentu saja kau tidak suka. Kau tak pernah mau mencintai aku bukan?”

Dia hanya diam, lantas berdiri dari tempatmu duduk dan berjalan meninggalkan aku.

***

“Kau tak perlu mengantar aku ke bandara. Aku bisa naik taksi”

“Aku sudah menyewa mobil untuk kita. Kita akan naik mobil ke Surabaya dan aku akan menurunkanmu di bandara”

Dia melajukan mobilnya melintasi jalan tol, tak sedikit pun berbicara kepadaku. Pandangannya terarah lulus ke jalanan di depan kami.

“Tak perlu terburu-buru” ucapku “aku ingin lebih lama duduk di sampingmu seperti ini, bahkan meski kau tak mau memandang kepadaku”

Dia tak menjawab, tetap saja menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.

“Kau terburu-buru karena pekerjaanmu?”

“Kau akan ketinggalan pesawat”

“Aku masih punya tiket untuk besok”

“Kau harus pulang hari ini. Bukankah aku sudah bilang aku tidak bisa menemanimu...”

“Tidak perlu” potongku “aku juga sudah bilang kan, kau tidak perlu menemaniku?”

“Aku tidak akan membiarkanmu sendirian”

“Tanpa cinta, kau masih berpikir untuk tidak meninggalkan aku sendirian?”

“Aku tidak ingin membahasnya...”

“Kau tidak mencintaiku, tapi kenapa kau begitu peduli padaku? Kenapa kau bahkan mau berbohong hanya untuk menemaniku ke Bromo? Aku tau kau meninggalkan semua pekerjaan pentingmu di Surabaya saat kau marah-marah padaku di Probolinggo. Tapi kenapa sekarang kau bahkan tak mau berada di sisiku sejam lebih lama? Ada apa denganmu?”

Dia menginjak pedal gas lebih dalam, mobil melaju semakin kencang.

***

“Jika aku terlahir sebagai orang yang berbeda, maukah kau mencintaiku?” aku memegang bahunya saat dia menunduk mengangkatkan ransel milikku ke atas troli. “Apakah jika sekarang orang yang berada di hadapanmu adalah orang yang berbeda, maukah kau mencintainya ketika dia mengatakan dia mencintaimu? Apa karena orang itu adalah aku, kau tidak bisa mencintainya? Apa karena orang itu adalah aku, semuanya menjadi terasa berat untukmu?”

“Waktumu tinggal sedikit sebelum check-in ditutup” dia menurunkan tanganku dari bahunya.

“Kenapa kau tak pernah menjawab semua pertanyaanku? Apa jika aku adalah orang yang berbeda...”

“Melati, dengarkan aku” dia meletakkan kedua tangannya di kepalaku “aku tidak akan pernah mau menggantimu dengan siapapun”

“Tapi kenapa kau masih tak mau mencintaiku?”

“Pertanyaan itu, lupakanlah” dia membelai rambutku “dan ngomong-ngomong, aku berbohong saat aku bilang kalau kau lebih cantik dengan rambut panjangmu. Karena kau selalu cantik dengan rambut apapun. Jangan terlalu mempedulikan kalimatku.”

Sekali lagi dia mengacak rambutku kemudian menyerahkan troli kepadaku. Setelah itu dia melangkah pergi dan berhenti sejenak setelah beberapa langkah untuk melambai kepadaku.

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)