Dia, Keajaiban


“Apa yang kau pikirkan?” mataku mengerjap-ngerjap mencari tahu dari sudut-sudut matanya yang berusaha dia sembunyikan dariku.

“Tidak ada” kilahnya, memandang ke arah lain.

“Ada. Pasti ada” desakku “ayolah, cerita padaku.” Aku mengguncang-guncang bahunya.

“Aku hanya sedang berpikir” dia akhirnya menyerah “tentang kamu”

“Aku?” wajahku merona merah “apa yang kau pikirkan tentang aku?”

“Berpikir kenapa kau mau menikah denganku” jawabnya sembari tersenyum “kau pasti punya banyak pilihan tentu saja. Wanita sepertimu selalu punya banyak pilihan”

“Ih, siapa bilang?” aku cemberut “aku tidak punya banyak pilihan. Aku benci memilih, dan aku tidak suka merasa telah memilih salah satu dari sekian banyak. Hanya kau pilihanku saat itu, dan aku senang karena aku tidak perlu berpikir lebih lama untuk memilihmu.”

Dia tertawa “tapi kau bisa menunggu seseorang yang lebih baik dariku. Kau cukup bersabar sebentar dan seseorang yang lebih baik itu mungkin akan muncul tiba-tiba di hadapanmu”

“Hey Tuan” aku menjawil kupingnya yang lebar “apa kau tidak pernah mendengar sebuah kalimat bijak? Jika kau terus menunggu yang terbaik, kau bisa menunggu selamanya. Dan aku memilihmu bukan karena kaulah orang yang terbaik itu atau aku tidak cukup sabaran untuk menanti seseorang yang lebih baik darimu. Aku memilihmu karena aku tau kau bukan orang yang terbaik dan masih banyak hal darimu, dariku juga, yang bisa kita perbaiki bersama-sama. Aku tidak menginginkan seseorang yang telah menjadi orang hebat di awal tanpa campur tanganku, istrinya. Aku ingin seseorang yang menjadi hebat karena aku, karena kita berdua”

Dia tampak sedikit terpana dan memandangku lama.

“Apa liat-liat?” seruku berpura-pura marah.

“Aku tidak menyangka kau bisa secerewet ini, bicara sebanyak itu...”

Kali ini aku menjewer kupingnya yang lebar.

“Apa kau yakin aku bisa menjadi orang yang hebat kelak?”

“Tentu saja! aku cukup percaya diri untuk menjadikanmu seseorang yang hebat.” Ucapku berlagak jumawa.

Dia tertawa, menyandarkan bahunya ke bahuku. Kami terdiam untuk beberapa saat, sama-sama menatap hamparan sawah luas di depan mata kami. Berlibur di kampung halamannya benar-benar pengalaman yang luar biasa bagiku. Menemani orang tuanya menggarap sawah, berjalan-jalan ke hutan mencari damar dan kulit kayu, memberi makan kambing-kambing peliharaan, berkeliling desa naik sepeda, dan bermain layangan di tanah lapang dengan beberapa anak-anak kampung. Semuanya terasa sangat menyenangkan.

Aku tidak pernah percaya dengan keajaiban sebelumnya. Tapi kali ini aku harus mengakui, kehadirannya di hidupku adalah sebuah keajaiban bagiku. Aku tidak menyangka akan sejatuh cinta ini pada seseorang, menceritakan semua mimpi-mimpiku padanya, menggantung begitu banyak harapan dengannya, aku bahkan tidak percaya akan ada seseorang yang benar-benar menjadi bagian dari hidupku, yang akan aku pandangi dengan bahagia saat dia tertidur lelap. Dia adalah keajaiban yang Allah berikan padaku. Pada hidupku yang apatis, pada diriku yang kadang masih hedonis, penuh pikiran yang meloncat-loncat, hidup penuh hal-hal yang terjadwal...aku adalah salah satu dari sekian banyak perempuan-perempuan urban yang merasa setara dengan pria dan bahkan lebih.

Sampai aku mengenalnya tanpa sengaja di sebuah kegiatan amal perusahaan tempatku bekerja. Kami mengundang ratusan anak yatim piatu dari berbagai panti asuhan dan mengadakan panggung hiburan untuk mereka. Dia adalah salah seorang staf di sebuah yayasan. Pertama melihatnya aku seperti ingin menertawai penampilannya yang benar-benar old-fashion. Kemeja yang dikancing hingga ke kerah leher, celana kain panjang, sepatu pantofel mengkilap dan sebuah tas cangklong lusuh berwarna hitam. Dia persis kakekku saat masih muda dulu. Dia benar-benar seperti manusia dari tahun 60-an yang tanpa sengaja terseret mesin waktu dan tiba-tiba berada di tahun 2012.

“Selamat datang” sapaku padanya sambil menahan tawa. Dia tersenyum.

“Saya dari...”

“Yayasan Cahaya kan?” potongku, masih menahan tawa.

“Benar” dia masih tetap tersenyum.

Sebenarnya aku sedikit terkejut dengan senyumnya yang penuh percaya diri dan jujur saja, menawan. Aku juga tak percaya dia punya pandangan mata yang cerdas dan sikap tubuh yang terpelajar. Aku mempersilahkan dia dan rombongannya untuk duduk sementara aku kembali ke bagian penerimaan tamu.

Sekilas-sekilas aku mencuri pandang padanya, melihatnya bermain dengan beberapa anak kecil dan tertawa bersama sampai kemudian tanpa sadar setiap kali ada kesempatan, aku berusaha mencarinya melalui pandanganku. Melihatnya aku merasa seperti mendapatkan rasa nyaman, rasa tentram yang tak bisa aku definisikan. Aku merasa waktu jadi melambat dengan kehadirannya, aku tidak merasakan lagi hiruk pikuk pekerjaan, setumpuk keluhan di jalanan perkotaan yang sering aku lalui ketika berangkat dan pulang kerja, semuanya seperti mendadak hening, seolah-olah ada seseorang yang telah menekan tombol mute dan membuatku merasa damai. Dia seperti berada di dimensi yang berbeda denganku. Dimensinya yang penuh kedamaian dan ketentraman.

“Tapi kau meninggalkan semuanya hanya demi aku” dia memecah lamunanku “pekerjaanmu, kota besar itu...”

Aku mendelik “aku justru sangat ingin berhenti bekerja. Terlalu banyak prinsip-prinsip dalam hidupku yang harus aku langgar karena aku selalu berusaha keras untuk membuktikan diri. Aku lelah hidup di tengah hiruk pikuk kota, aku bosan dengan tumpukan kendaraan di jalanan. Aku ingin hidup sepertimu, menikmati setiap detik hidup yang aku punya. Aku merasa telah melewatkan banyak hal dalam hidupku.”

Dia meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Dadaku berdebar. Aku masih belum terbiasa menjadi sedekat ini dengan seseorang, dengannya. bertahun-tahun hidup dengan penuh kesibukan yang sama dan ambisi yang sama membuatku menjadi tidak peka dengan kehadiran orang lain dalam hidupku. Tidak pernah ada seorang pun yang menggenggam tanganku seerat ini sebelumnya.

“Aku tidak bilang aku mencintaimu” kataku sengit, ketus, penuh emosi yang siap meledak “tapi jika ada seorang laki-laki yang harus aku nikahi, maka aku ingin orang itu adalah kau! Aku tidak percaya dengan pernikahan dan aku tidak pernah berpikir untuk menghambakan diriku pada seorang laki-laki. Mereka hanya makhluk yang tidak pernah senang jika ada perempuan yang lebih hebat dari mereka.”

“Kau salah tentang kami” katanya dengan nada suara yang tetap tenang dan teratur.

“Mungkin aku memang salah tentang kalian, tapi itu sebelum aku mengenalmu”

“Aku tidak pernah berpikir untuk menikah dengan seorang perempuan yang keras kepala sepertimu. Perempuan yang selalu merasa dirinya lebih baik dari laki-laki, perempuan mandiri yang tak merasa membutuhkan laki-laki, bossy, menyebalkan, sombong...”

Aku tidak bisa membantah, dia sempurna menggambarkan karakterku. “aku benci jika ada yang menganggap aku tak bisa melakukan apapun hanya karena aku perempuan. Kau benar, aku sombong, aku bossy...jadi itu yang membuatmu tak menyukaiku?”

“Siapa bilang aku tak menyukaimu?” dia balas bertanya.

Aku terdiam.

“Tadi kau bilang tidak pernah berpikir...”

“Aku memang tidak pernah berpikir seperti itu. Tadinya aku pikir aku akan menikahi seorang perempuan yang biasa saja, penurut, tidak punya pikiran macam-macam...”

“Huh, ternyata kau sama saja seperti yang lain” potongku, mendengus kesal.

“Tapi ternyata ada seseorang yang jauh lebih menarik dengan kekeras kepalaannya itu. Aku suka dengan gayanya yang bossy, merasa lebih hebat dari laki-laki manapun, aku bahkan menyukai kesombongannya itu. Aku ingin lihat, sampai berapa lama dia akan bertahan dengan semua karakter menyebalkan itu setelah hidup denganku nanti.”

“Kau tidak akan bisa mengubahku. Kita lihat saja nanti”

“Baiklah, kita lihat saja nanti.”

Lamunanku kembali buyar ketika dia menarik tanganku untuk beranjak dari tempat duduk. “Kita main layangan” ajaknya “tadi pagi aku membeli layangan di pasar. Kau mau?”

Aku mengangguk, merapikan jilbabku yang berkibar ditiup angin. Bukankah aku bilang kehadirannya adalah keajaiban buatku? Dulu aku sama sekali tak berpikir untuk mengenakan jilbab, berpikir bahwa perempuan yang berjilbab adalah perempuan kuno yang tak bisa menjaga dirinya dan berlindung dibalik berhelai-helai kain.

Aku berjalan di sisinya, memandanginya sekali lagi dan tersenyum. Bahkan meskipun pilihanku salah, aku tetap bahagia telah memilihnya.

10.02PM

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)